Jump to ratings and reviews
Rate this book

Yang Menguar di Gang Mawar

Rate this book
Gang Mawar adalah gang yang menguarkan kemiskinan nan apak, kenakalan nan anyir, dan rahasia nan amis yang diam-diam dihirup sedap oleh semua penduduknya. Rahasia itu bermula dari kematian seorang gadis kecil tak berdosa—kematian yang tumbuh subur di setiap rumah dalam wujud tanaman berduri dengan mekar serupa mawar; alasan mengapa gang tersebut dinamakan demikian.

Dalam debutnya ini, Asri Pratiwi Wulandari menyajikan 11 cerita tentang para penghuni Gang Mawar yang misterius dan kelam, dengan sisa-sisa harapan yang terus bertumbuh. Sebuah semesta kecil yang begitu kompleks. Kompleksitas ceritanya menusuk persis di jantung tatanan hidup yang sudah sangat cis-heteropatriarkis.

103 pages, Paperback

First published October 1, 2021

1 person is currently reading
183 people want to read

About the author

Asri Pratiwi Wulandari

13 books1 follower

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
32 (21%)
4 stars
72 (48%)
3 stars
41 (27%)
2 stars
3 (2%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 30 of 50 reviews
Profile Image for ikram.
241 reviews642 followers
December 14, 2021
Yang Menguar di Gang Mawar adalah buku debut Kak Ulan yang berisikan 11 cerita pendek tentang penghuni Gang Mawar. Buku ini meninggalkan kesan tersendiri buatku. Cerita-cerita dalam buku ini terbilang sederhana, tanpa menambahkan ini-itu untuk menjadikan cerita yang unik. The rawness makes them beautiful.

Membaca kumcer ini seperti membaca kritik terhadap tradisi yang justru merugikan, namun masih dinormalisasi hingga kini. Kumcer ini mengangkat tema perempuan, seksualitas, kemarjinalan, serta kemiskinan. Kak Ulan menceritakan kisah-kisah yang beberapa diantaranya masih dianggap "tabu" oleh sebagian orang dengan sangat apik.

Cerita favoritku berjudul 'Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus', dimana cerita ini berupa sindiran tajam tentang ekosistem sastra saat ini.

Selesai membaca buku ini, lagi-lagi aku merasa bahwa tulisan dapat menjadi suara kencang untuk melawan. Terima kasih sudah membawa penghuni Gang Mawar ke dalam hidupku Kak Ulan!
Profile Image for raafi.
933 reviews452 followers
November 15, 2021
This book bombs!

Membaca ini tidak perlu waktu lama: selesai dalam 1-2 kali duduk. Ceritanya mengalun sendu dengan diksi bikin kagum. Aku merasa penulis tidak membuatnya jadi berbunga-bunga tapi entah bagaimana jadi terkesan poetic.

Aku dibuai oleh cara penyampaian penulis yang begitu detail pada isu yang diangkat tapi tidak terlalu detail pada penokohan, latar tempat, dan waktu. Ini membuat pembaca seakan-akan fokus saja pada isu-isu tersebut bersamaan dengan unsur kerumitan hubungan antarmanusia (perempuan dan laki-laki lebih tepatnya) di dalamnya.

Meski memang kebanyakan berlatar di gang itu, tidak semua cerita mengambil tempat yang berbeda. Namun, memang benang merahnya adalah "mawar" baik itu sebagai nama bunga maupun nama orang.

Tragis, kritis, dan bikin menangis.
Profile Image for Wardah.
954 reviews173 followers
March 19, 2022
Kumpulan cerpen ini mayoritas berkisah tentang perempuan, seksualitas, kemiskinan, hubungan antar manusia, dan lebih banyak lagi tentang perempuan. Isu yang dibawa cukup jelas dan dekat banget, meski nggak sedikit kisahnya nggak sepenuhnya aku pahami sih. Tapi tetap apa yang coba disampaikan penulis, bisa aku mengerti.

Cerpen paling berkesan "Buku Bagus adalah Buku Bagus adalah Buku Bagus" yang mengkritik ekosistem sastra dan ditulis dengan lugas. Ada "Siang Bolong yang Beku" yang mencampurkan aspek horor dalam kehidupan perempuan (yang juga seorang ibu dan wanita karir). Juga "Menguasai Malam" yang bingung aku terjemahkan seperti apa, tapi bikin bergidik saat selesai kubaca.

Cerpen lain yang membekas ada "Pernahkah Kau Mencecap Mawar?" dan "Percaya". Tapi mayoritas ceritanya memang membekas dan bikin mikir.
Profile Image for Grisselda.
124 reviews248 followers
November 26, 2021
Berkawan dengan beberapa teman penggemar karya terjemahan membuat saya jadi menambah satu rutinitas tiap kali membuka buku: Melihat siapa sosok penerjemah yang menjembatani karya asing sehingga mudah dinikmati dalam bahasa ibu.

Sudah ada beberapa buku yang Ulan terjemahkan, dan Yang Menguar di Gang Mawar ini adalah buku debutnya. Berisi sebelas cerita pendek yang bagi saya tiap cerita unggul dengan caranya masing-masing. Membaca cerita yang Ulan tulis rasanya seperti kritik tajam untuk tradisi, budaya, dan kebiasaan busuk yang masih dilanggengkan sampai saat ini.

Nggak susah untuk menamatkan bukunya, dengan total 103 halaman, cerita yang Ulan usung menyentil isu-isu yang saya rasa akrab untuk kita yang tinggal di Indonesia.

Dari sebelas, ada tiga erita yang untuk saya pribadi terasa paling menonjol.

1. Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus.
Ini cerita yang bikin saya tersenyum pahit. Cerita yang menyindir kencangnya sistem patriarki yang masih menyelimuti kesusastraan negeri.

“Sudah kuduga kau tidak akan memahaminya. Karena itulah, kubilang sebaiknya perempuan menjadi penerjemah saja. Kalian tidak akan pernah mengerti bahwa sastra bagus adalah sastra bagus adalah sastra bagus.”


(makin menjadi-jadi karena saat membacaya saya membayangkan karakter ini pakai intonasi maha agung dan maha tinggi)

2. Siang Bolong yang Beku.
Cerita yang saat pertama dibaca kok kayak cerita horor, dan ternyata horornya memang ada, hanya saja berbeda dari apa yang semula saya duga.

“Putriku suka sekali menggambar dan kurasa cukup pandai untuk anak seumurnya. Ada dua hal yang ia gambar: apa yang ia imajinasikan sendiri dan apa yang ia lihat.”


3. Seandainya Anakku.
Cerita pendek yang dengan apiknya memuat fase demi fase seorang ibu dengan perandai-andaianya. Suka sekali dengan cara Ulan menjahit cerita yang bisa mewakili beragam kondisi perempuan di sini.

“Kala anakku masih balita, aku sering memarahinya untuk hal-hal kecil yang padahal belum ia mengerti letak kesalahannya.”


Selesai membaca Yang Menguar di Gang Mawar, saya seperti diingatkan seberapa kuatnya cerita pendek untuk ikut bersuara ❤️

Profile Image for Shabrina.
32 reviews67 followers
November 15, 2021
"Aku harus memikirkan diriku sendiri yang sejak saat itu harus berdiri sendiri untuk pertama kalinya seumur hidup. Memasuki dunia yang tidak akan ramah terhadap orang sepertiku, yang tidak tahu apa-apa, tidak bisa apa-apa, dan bukan siapa-siapa.."

Marah dan getir. Itulah perasaanku sehabis membaca Yang Menguar di Gang Mawar. Marah akan ketidakadilan dan kekejaman yang menimpa para perempuan dan transpuan penghuni Gang Mawar. Getir karena betapa dekatnya cerita-cerita ini dalam kehidupan. Betapa sering aku mendengar kisah-kisah serupa terjadi di dunia nyata.

Yang Menguar di Gang Mawar berisi 11 cerita pendek tentang para penghuninya. Ada gadis kecil bernama Mawar yang namanya kemudian menjadi nama gang itu, Tante Mawar, Paman Penulis, dan 'aku' sang narator cerita.

Cerita pendek dalam kumcer ini mengangkat tema perempuan, seksualitas, kemiskinan, dan pengalaman kaum marjinal. Semuanya ditulis dengan apik dan terasa sangat personal.

Dari 11 cerpen, cerpen yang paling membekas dalam hati dan ingatanku adalah 'Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus'. Cerpen ini sungguh tajam dan menohok, menyoroti realita dunia sastra di Indonesia.

Selain Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus, aku juga suka 'Aku dan Tante'. Membacanya membuatku merasa pilu karena mengangkat kisah kekerasan dalam hubungan.

Terakhir, ada 'Percaya' yang menurutku sangat relatable. Banyak kisah tentang ketidakadilan yang kita saksikan ketika jari jemari kita men-scroll sosial media. Saat hal tersebut terjadi, terkadang muncul dilema, kepada siapa kita harus berpihak? Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus ikut bersuara untuk melawan ketidakadilan tersebut?

Overall, I think Yang Menguar di Gang Mawar is thought provoking and a must read. Buku ini tipis, hanya 103 halaman, bisa dibaca dalam sekali duduk, bisa juga tidak—karena buku ini memang tipis, tetapi menimbulkan banyak pemikiran yang berkecamuk dalam kepala.
Profile Image for Ayu Ratna Angela.
215 reviews11 followers
November 21, 2021
Buku tipis yang sangat menarik. Habis dibaca dalam sekali duduk. Yang Menguar di Gang Mawar terdiri atas 11 cerita tentang para penghuni gang mawar yang kadangkala saling berkaitan, sehingga menambah daya tarik ceritanya.

Mungkin ceritanya bisa digolongkan realisme magis. Ulan mengangkat banyak isu2 tentang perempuan dan menyajikannya dengan sentuhan magis yang kelam.

Saya sangat menikmati membaca buku debut Ulan ini.
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
June 13, 2023
Banyak yang bilang buku ini sebagus itu, bahkan buku ini menjadi favorit banyak orang, tapi sayangnya saat saya membacanya (dan memaksakan diri untuk menghabiskannya), saya harus bilang kalau buku ini bukan untuk saya. Ya, buku ini tidak meninggalkan kesan untuk saya, begitu saja saya membalikkan halaman tanpa benar-benar memahami apa yang saya baca. Mungkinkah daya imajinasi saya sangat lemah, atau kemampuan intelektual saya yang sangat minim? Entahlah, tapi saya hanya merasa bahwa saya lelah berpikir dan merenungi setiap kisah yang saya baca di buku ini.

Memang, buku ini tipis - habis sekali duduk, hanya 104 halaman. Saya memang menghabiskannya sekali duduk, apakah itu penyebab mengapa saya tidak memahami buku ini - karena saya menghabiskannya dalam waktu singkat? Tapi saya rasa tidak juga, saya baca kembali hal-hal yang saya garisi di buku ini, tetap juga tidak bisa benar-benar merasa tersentuh dengan apa yang berusaha disampaikan penulis.

Maaf, tapi buku ini bikin saya mengernyit berulang kali. Saya akui banyak pemilihan diksi yang indah, perumpamaan yang digunakan penulis untuk menggambarkan karakter dan latar belakang cerita juga bagus - tapi sering kali perumpamaan ini membuat saya pening. Saya jadi berpikir, apakah memang sesulit ini untuk mencintai karya sastra? Apakah karya sastra lebih mementingkan keindahan diksi dibandingkan tujuan utamanya, yaitu memberikan inspirasi dan sarat makna yang penulis inginkan pembaca untuk mengerti? Karya sastra bukan saja untuk dinikmati karena keindahan nilai-nilainya atau pemilihan diksinya, tapi menurut saya juga penting untuk bisa diresapi dan dipahami siapapun yang menyelami karya tersebut. Saya harap penilaian saya ini tidak membuat kecewa atau menyinggung siapa pun, saya hanya menyampaikan apa yang benar-benar saya rasakan.

Buku tipis ini, seperti judulnya, menceritakan beragam kehidupan orang-orang yang tinggal di gang mawar. Alasan mengapa gang tersebut dinamakan "gang mawar" dikisahkan di kisah pertama. Mengapa sampul buku ini adalah perpaduan bunga mawar dan kecoak, juga akan dijelaskan pada kisah pertama.

Dalam buku ini, ada 11 kisah tentang para penghuni gang mawar: dan tidak seperti kumpulan cerpen seperti biasanya, berbagai karakter di dalam setiap cerpen di sini berkaitan satu sama lain. Masalahnya, kerap kali karakter utama tidak disebutkan namanya. Penulis hanya menggunakan jenis kelamin seperti "Perempuan ini" atau "Lelaki itu", atau profesinya atau statusnya "Si Tante" atau "Si Koko" untuk merujuk kepada si karakter utama, atau bahkan karakter lainnya dalam cerita - yang membuat saya jadi bingung sendiri. Untungnya saya tidak harus menggelar kertas HVS lebar-lebar dan menggambarkan hubungan tiap karakter dengan benang merah. Mungkin saya kurang menelaah makna tiap kisah ini, entahlah, saya hanya merasa kecewa mengapa saya tidak bisa seperti orang lain yang memuji dan merasa puas dengan buku ini.

Dalam buku ini, melalui 11 cerita yang disampaikan, penulis tidak jauh-jauh dari tema seksualitas (nafsu dan birahi, pelecehan dan kekerasan seksual, orientasi seksual yang menyimpang), perempuan dan konflik terkait (kekerasan terhadap perempuan, ketidakadilan terhadap perempuan dan ketimpangan gender), pernikahan, kemiskinan - berbagai hal yang sering kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Berbagai cerita ini menurut saya jauh dari kata "ceria". Dibalut dengan begitu kelam, gelap, seperti tidak menyenangkan untuk digeluti di bawah banyak hal tak menyenangkan yang menyelimuti.

Di antara 11 cerita, ada beberapa yang berhasil saya "tangkap" - tapi kalau harus dikatakan favorit saya, tidak juga. Karena saya terlalu sibuk memahami dan mencerna, saya lupa untuk menikmati dan mencintai tulisan ini.

"Sebuah Gang pada Mulanya" adalah kisah yang mengawali buku ini, menjadi latar belakang mengapa gang tersebut dinamai gang mawar dan apa hubungan bunga mawar dan kecoak. Menurut saya, kisah ini seakan menjadi "kunci" dari kisah-kisah yang lainnya, karena di sini kita tidak hanya mengenal sejarah "gang yang biasa saja" menjadi "gang mawar", atau diperkenalkan dengan berbagai karakter yang tinggal di gang mawar yang akan menjadi karakter utama di kisah-kisah selanjutnya, tapi juga diselipkan tanda demi tanda yang akan diangkat di kisah lain. Seperti, mimpi si karakter "Aku" di mana ia melihat 'tenda biru' dengan penyanyi yang menyanyikan lagu 'sekuntum mawar merah....'.

"Turut Berduka Cita?" adalah kisah yang mungkin akan saya pilih kalau harus menyebutkan mana yang saya sukai. Kisah ini berhubungan dengan kisah"Koko". Sungguh signifikan sebuah sisipan tanda tanya di belakang "Turut Berduka Cita": menyuarakan perbedaan antara "Turut Berduka Cita?" dan "Turut Berduka Cita". Yang memiliki tanda tanya menyiratkan keragu-raguan, ketidak-tulusan perasaan akan merasa kehilangan. Dan sesungguhnya itulah yang dirasakan oleh tiap karakter di kisah ini, terhadap si 'Koko' yang tidak diinginkan kehadirannya pada akhirnya meninggal dunia. "Turut Berduka Cita?" yang diungkapan di dialog antar karakternya bagaikan menyuarakan kelegaan mereka akan karakter 'koko' yang meninggal, dan lebih terdengar seperti rasa tenang dibandingkan kehilangan. Tak hanya itu, di sini juga karakter si 'Aku' adalah karakter 'Si Tante' di kisah lainnya (kalau saya tidak salah menginterpretasikan) dan ia berjuang dengan masalah orientasi seksual dan gendernya - dan kata-kata yang membuat saya sedikit 'terhenyak' adalah: "Kilatan di kedua bola matanya seolah berbisik bahwa ia ingin menelanku kembali ke dalam rahimnya jika ia bisa."

Ada kalimat yang saya sukai dari kisah "Aku dan Tante", yang belakangan baru saya resapi kalau karakter si 'Tante' adalah waria (kalau saya tidak salah): "Rasa sakit ini adalah bukti bahwa aku perempuan." lalu, "Karena telah menerima pukulan dari kekasih lekakiku, berarti aku perempuan sejati."

"Siang Bolong yang Beku" bagi saya adalah gambaran seorang perempuan yang 'lelah' dengan kehidupan yang dipilihnya, dan ia tidak sadar dengan kelelahannya ini: menjadi ibu dan seorang istri, dengan kewajiban melayani suami yang sama sekali tidak membantunya merawat anak dan dalam pekerjaan rumah tangga, serta sebagai seorang wanita karir yang juga bekerja. Sosok perempuan yang dilihat anaknya duduk meringkuk di bawah meja bak cuci dengan mata kosong, adalah gambaran dirinya yang seakan kehilangan gairah hidup.

Bab "Percaya" menyinggung kegalauan kita sebagai individu dalam memercayai suatu hal; karena tidak ada yang bisa benar-benar kita percayai, karena tidak ada yang benar-benar kita ketahui. Kutipan yang saya garis-bawahi:
-> "Sebab memercayai sama dengan memilih, dan itu sering terasa seperti menganggap sesuatu lebih penting, benar, baik, dari yang tak dipilih, secara mutlak, padahal pada praktik sehari-harinya pilihan sering kali lebih tentang mana yang tepat saat itu saja."
-> "Dunia dan manusia begitu kompleks dan kian berubah, sementara percaya sering kali menuntut ketetapan, kemutlakan, nirmala - maka dari itu, percaya sering butuh kambing hitam."
-> "Memang lebih mudah menganggap tragedi disebabkan oleh sesuatu yang di luar kita, ketimbang menyadari, menerima, dan menghadapi kenyataan bahwa kita memiliki sifat mengerikan."
-> "Ketika kau adalah yang lain, semua mata akan tertuju padamu, melakukan sesuatu yang dapat dijadikan alasan untuk menandaimu, membakarmu, dan mengenyahkan kelompokmu. Ketika kau adalah orang yang diutamakan, kau tinggal meminta maaf, dan orang akan bersimpati.
Kisah ini menyorot karakter yang sedang menimbang-nimbang mana yang harus ia percayai, dari sebuah konflik yang melibatkan 2 orang penyanyi. Ia "bingung juga kapan boleh percaya" sehingga ia memilih untuk menjadi pecundang, tidak memihak siapapun.

"Menguasai Malam" juga banyak saya garis-bawahi. Yang saya ambil, adalah kisah ini menyorot pernikahan yang lebih banyak menjadi beban di pundak istri (tanpa maksud saya meremehkan pihak suami).
-> "Para Mawar beraroma mawar ketika bersama para istri, sementara beraroma kecoak ketika bersama para suami."
-> "Sesungguhnya Mawar pertama berkata hanya mereka yang belum menikah yang bisa senantiasa menari, tetapi pernikahan dengan suami kalian jatuh lebih pantas disebut kemalangan..."
adalah gambaran tentang para istri yang sudah mengalami kejemuan dengan pernikahan dan lelah hati dengan suaminya, sehingga memilih untuk membiarkan suaminya lenyap dan menari menguasai malam dalam keabadian - sebagai bentuk pembebasan dirinya.
Kisah ini juga berhubungan dengan kisah pertama, di mana disebut ada tenda biru setinggi jantung orang dewasa, sesuatu yang dilihat karakter utama dalam mimpinya pada kisah di bagian awal buku.

"Yang Menguar di Gang Mawar" kaya akan isu dan lekat dengan kehidupan sehari-hari, indah dalam diksi dan perumpamaan penuh metafora, yang sayangnya tidak dapat meninggalkan kesan dalam bagi saya. Di lain waktu, saya berharap akan bisa membacanya ulang agar dapat kembali meresapi makna di balik ceritanya.
Profile Image for Yoyovochka.
313 reviews7 followers
September 26, 2022
Aku suka banget sama gaya penceritaan kak Asri yang menyentuh dan banyak metaforanya. Cerpen-cerpennya juga saling berkaitan, menyangkut kehidupan sosial, perempuan, dan keseharian. Biasanya aku nggak terlalu suka buku cerpen, tapi kali ini beda. Dalam beberapa jam aja buku ini berhasil kubaca sampai tamat karena cerita-ceritanya benar-benar asyik.
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
December 28, 2021
"Buku Bagus adalah Buku Bagus adalah Buku Bagus" adalah cerpen favoritku dalam buku ini 👍
Profile Image for Tirani Membaca.
126 reviews1 follower
November 28, 2023
Buku bagus adalah buku bagus adalah buku bagus.

Buku Kak Ulan ini bagus dan kritis. Terlebih ia ditulis oleh perempuan. Aku suka sekali.
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,404 followers
January 2, 2022
Buku ini berisi 11 cerita pendek yang dimuat dalam 103 halaman. Saya tertarik karena sempat membaca buku Jepang yang diterjemahkan oleh penulis dan terkesan dengan diksi-diksi yang digunakannya.

'Yang Menguar di Gang Mawar' sebagai karya pertamanya sebagai penulis menjawab tuntas ekspektasi saya. Asri Pratiwi Wulandari memang piawai memilih kata-kata dan metafora. Mawar, sebagai benang merah yang menghubungkan ke-11 cerita, adalah simbol perempuan yang kerap mengingatkan kita pada cara media menyamarkan nama perempuan. Ini tersirat dalam cerita pembuka,

"'Halo, sebut saja aku Mawar.' Sebab itulah namanya."

Semua cerita memang menggambarkan berbagai isu dan derita perempuan dengan latar belakang yang beragam; ras, agama, orientasi seksual, usia, status dan pekerjaan. Mungkin saya bias, namun di beberapa cerpen terasa pengaruh gaya realisme magis ala Jepang yang menciptakan makna yang berlapis, membuka ruang multi-interpretasi dan diskusi. Saya pribadinya menikmatinya 😊
Profile Image for Haris Quds.
52 reviews55 followers
November 29, 2021
Buku ini ditulis dengan indah baik itu dari pemilihan kata, cara tutur, dan nada penceritaan.
Uniknya, yang diceritakan si buku ini sama sekali bukan hal-hal indah.
Saya kayak lagi melihat kecoak tapi bau mawar, atau melihat mawar tapi bau kecoak. Persis seperti di sampul!
Beberapa cerita di buku ini membuat saya speechless sambil senyum, tapi juga mau nangis.

Tulisan ini bukan review kayaknya, karena cuma berupa ekspresi2 abstrak, tapi itu sensasi yg mungkin akan kamu rasakan saat baca buku ini.

Tapi yg jelas, this debut book is lit!
Profile Image for Kaytalist.
348 reviews26 followers
December 28, 2021
Lewat kumpulan cerpen ini mbak Asri secara subtle meng-cover banyak isu sosial , terutama di kalangan menengah. Plg suka ya buku bagus adalah buku bagus adalah buku bagus. Lewat cerpen tersebut, mbak Asri mengritik 4 hal yang sayang mewarnai wajah negara kita : patrialisme yg kental termasuk di dunia kepenulisan (didominasi penulis pria), kekerasan seksual terhadap anak dan wanita, literatur snob, dan sexism. Truly mindblowing
Profile Image for Fian.
46 reviews
July 19, 2022
Berisi kumpulan cerita pendek tentang Mawar. Nama Mawar disini dalam setiap cerita bisa menjadi sebuah nama Gang, tokoh, ataupun nama bunga itu sendiri dan hampir semua cerita dalam buku ini berlatar belekang di gang mawar.

Sebagian besar cerita mengangkat tema tentang feminisme, kekerasan pada perempuan, pelecehan, dan segala hal yg melibatkan perempuan.

Beberapa kata yg digunakan cukup asing di telinga saya, dan saya harus bolak-balik membuka KKBI. Meskipun disisi lain hal itu bisa meningkatkan penguasaan kosa kata baru.
Profile Image for Steven S.
705 reviews66 followers
November 21, 2021
Aku menyukai cara Wulan menulis ceritanya, terasa intim dan menendang di ulu hati di saat bersamaan.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
245 reviews40 followers
January 10, 2022
Judul favorit saya: Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus. Saya seperti suporter yang meneriaki penulisnya "Hajar terus, jangan kasih ampun!"
Profile Image for Soeti.
76 reviews
March 7, 2022
Puitis, tapi tragis. Seperti roti yg terlihat sedap dan legit, tur jebul pas dimaem marai seret.


Nb. Ngakak bgt pas baca cerpen 'Buku bagus adalah buku bagus adalah buku bagus' hahahaha ayo mbak hajar terus!!
Profile Image for Rei.
366 reviews43 followers
March 28, 2022
"'Halo, sebut saja aku Mawar.' Sebab itulah namanya."

Paman Penulis, pemilik Toko Buku Mawar, bercerita bahwa ia menulis sebuah mahakarya tentang seorang gadis bernama Mawar, Sang Lolita. Ia diasuh oleh Paman Guru, dan Mawar sangat menyukai pekerjaan seperti memasak dan mengurus rumah. Ia bahkan sering berpura-pura bahwa Paman Guru bukanlah pamannya melainkan suaminya. Mereka kemudian terlibat cinta terlarang, namun Paman Guru ingin menikah untuk menghentikan desas-desus tentang dirinya. Cemburu, Mawar pun nekat meminum obat nyamuk.

Yang Menguar di Gang Mawar memuat 11 cerita pendek tentang kehidupan warga Gang Mawar, yang semua kisahnya bertautan melalui si gadis Mawar. Namanya yang indah tidak berhasil menyembunyikan kebusukan yang terjadi di gang tersebut; kemiskinan, diskriminasi ras, kekerasan terhadap anak-anak, perempuan, dan transpuan. Cerpen-cerpennya singkat namun ditulis dengan metafora yang ciamik, tidak berlebihan, dan yang terpenting, langsung menusuk jantung hati. Kutipan cerita di atas merupakan salah satu cerpen favoritku; Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus, dengan banyak kutipan patriarkis yang jumawa dan menjengkelkan but sadly true, tentang dunia sastra yang selalu didominasi oleh kaum lelaki.

“Sudah kuduga kau tidak akan memahaminya. Karena itulah, kubilang sebaiknya perempuan menjadi penerjemah saja. Kalian tidak akan pernah mengerti bahwa sastra bagus adalah sastra bagus adalah sastra bagus.”

Salah satu kutipan favoritku (yang provokatif juga mengundang tawa ngakak):
"Aku lebih suka jika hantunya perempuan. Sebab bagiku yang perempuan, ada banyak luka yang tak terucapkan, dan melihat mereka mewujudkan diri sebagai hantu yang berdarah, marah, merambah ruang, memberiku suatu kedamaian. Aku hampir saja tertidur ditimang adegan sang Perempuan Hantu membunuh lelaki satu demi satu."
Profile Image for Faisal Chairul.
269 reviews16 followers
January 16, 2023
Beberapa kali diadakannya diskusi sebuah karya sastra terjemahan yang mengundang penerjemahnya sebagai narasumber membuat nama Asri Pratiwi Wulandari, atau Ulan, tidak asing lagi di telinga. Salah satu terjemahan Ulan yang saya pernah baca adalah Gagal Menjadi Manusia. Beberapa terjemahan lainnya di antaranya Susu dan Telur, Funiculi Funicula: Kisah-Kisah Yang Baru Terungkap, dan Pasta Kacang Merah. Betul, Ulan adalah penerjemah sastra-sastra Jepang.

Ketika karya debutnya sebagai penulis terbit, tentu muncul rasa penasaran untuk membacanya. Sebelas cerita pendek yang disusun dalam 103 halaman. Di beberapa cerpen, kita diajak ke dunia surealis-nya Ulan/yang Ulan ingin kita imajinasikan. Kita dikenalkan dengan "Mawar", yang maknanya multidimensi. Di suatu waktu, ia bisa diartikan sebagai sebuah nama gang, atau nama bunga, dan di waktu yang lain ia bisa juga diartikan sebagai nama tokoh (Lolita/gadis kecil dan Tante Mawar).

Ketika dimaknai sebagai sebuah gang di sebuah pemukiman padat, "Mawar" merupakan personifikasi bagi keharuman yang setiap orang cari untuk menutupi "aroma-aroma busuk" (bukan makna literal) yang menguar di sana. Ketika dimaknai sebagai nama tokoh, "Mawar" merupakan simbol yang mewakili suara-suara perempuan yang jamak kita temukan dalam kehidupan sehari-hari namun sering diabaikan.

Selain surealisme, cerpen-cerpen realisme juga disajikan Ulan dalam buku ini. Di antaranya tentang kritik terhadap pola pikir patriarkisme dalam dunia sastra, horor, paradoks "memercayai" sebuah informasi di era derasnya arus informasi, dan proyeksi imajinatif seorang perempuan ketika ia mempunyai seorang anak.

Cerpen favorit di antaranya yang berjudul "Buku Bagus adalah Buku Bagus adalah Buku Bagus", yang seandainya "suara" yang dilantangkan ini mencerminkan realitas, berarti perlu adanya perubahan pola pikir di ekosistem sastra kita. Cerpen berjudul "Percaya" juga menjadi favorit, karena mengangkat poin 'paradoks dalam memercayai sebuah informasi'.
Profile Image for fara.
284 reviews43 followers
March 6, 2024
Sepertinya saya mau menulis surat cinta sebagai pengganti resensi kumpulan cerpen ini. Sebagai penafian, saya memang tahu kalau Kak Asri Pratiwi Wulandari atau Kak Ulan adalah seorang penerjemah—yang beberapa buku hasil terjemahannya sudah saya baca juga. Barangkali karena banyak bersentuhan langsung dengan sastra dari negeri sakura, kesebelas cerpen dalam Yang Menguar di Gang Mawar kerap kali dibalut dengan nuansa magis-surealis (saya masih agak ragu kalau mau menyebutnya realisme magis). Dengan metafora yang kaya, saya mengakui untuk ukuran kumcer debut, ini terlalu over power. Pemilihan diksinya cerdas dan kontradiktif; cantik dan hangat tetapi punya interpretasi yang berkebalikan—keras, dingin, mencekam, penuh ironi.

Secara garis besar isunya sama, yakni seputar seksualitas (termasuk orientasi seks dan praktik heteroseksisme), perlawanan perempuan, kemiskinan, konflik antarmasyarakat, male gaze, patriarki, pelecehan, KDRT, hingga kritik keras terhadap ekosistem sastra Indonesia yang masih didominasi oleh laki-laki. Semua cerpen dihubungkan dengan "mawar" sebagai benang merah. Setiap penghuni Gang Mawar yang menjadi tokoh dalam bagian cerpen di dalamnya memiliki kronik masing-masing yang mengantarkan pembaca pada kisah yang berbeda. Semesta kecil sebagai ruang lingkup pergerakan tokoh yang terbatas justru dimanfaatkan untuk memaksimalkan pendekatan yang mudah diingat. "Mawar" nggak hanya menjadi personifikasi tetapi juga simbol yang melambangkan kekuatan di tengah kegetiran.

Sangat sulit memilih cerpen favorit sebagai highlight bacaan tapi kali ini saya menetapkan Aku dan Tante dan Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus sebagai MVP karena terasa begitu membekas di ingatan. Aku dan Tante memotret hubungan platonik antara narator dengan seorang waria pemilik salon yang dipanggilnya 'Tante'. Deskripsi ciamik soal laki-laki anggun yang berdandan begitu kontras dengan perlakuan pengunjung warung (yang sepasang kekasih 'lelaki dan perempuan'; begitu narasi menegaskan) tertawa cekikikan dan geli tatkala melihat Tante. Aku tidak tahu, tetapi Tante memang anggun. Saat ia datang, aku merasa seolah kami menggantung lonceng angin di depan warung, dan ia merupakan angin timur yang berembus masuk mendentingkannya. Begitu pula saat ia pergi. (halaman 17).

Begitu pula dalam cerpen Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus, misalnya. Kalimat menjengkelkan dari Paman Penulis ketika 'aku' mengecam karya cabul dan amoralnya hingga menimbulkan perseteruan epik, “Sudah kuduga kau tidak akan memahaminya. Karena itulah, kubilang sebaiknya perempuan menjadi penerjemah saja. Kalian tidak akan pernah mengerti bahwa sastra bagus adalah sastra bagus adalah sastra bagus.” (halaman 47). Ah, ingin sekali saya mengumpat anjing keras-keras dan mengompori habis-habisan agar 'aku' dapat menang dalam argumentasinya dengan Paman Penulis. Bagaimanapun, kritik terhadap maskulinitas beracun dan masyarakat patriarkis dalam karya sastra perlu dirayakan, utamanya karena penulisnya adalah perempuan. Oleh karenanya, saya beri nilai sempurna.
Profile Image for fatru.
212 reviews
November 6, 2021
Saat membicarakan kumpulan cerpen ini dengan Ulan, saya bilang bahwa buku ini, jika punya 'rasa' , adalah lembaran buku tua yang menguning; ada rasa debu, namun juga sedikit pahit saat dikunyah. Saya sempat mengintip cerita-cerita di sini sebelum ia lahir, masih merupakan draf-draf kecil di dalam dokumen. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Kadang, cerita lahir dari hal-hal yang begitu nyata dan sederhana, hal-hal yang tanpa kesensitifan penulisnya terlewat begitu saja. Yang Menguar di Gang Mawar adalah kumpulan cerita sejenis ini--cerita yang jujur, namun juga indah, tetapi getir. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Kesebelas cerita ini berpusat pada Gang Mawar--sebuah gang padat yang berbau apak dan kemiskinan. Di dalam gang ini, yang dinamakan sebab seorang gadis kecil pernah ada di sana, ada toko Paman Penulis, salon Tante Mawar, rumah Paman Guru, dan juga rumah si narator sendiri. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Tema sentral dari cerita-cerita ini: keperempuanan, kemarjinalan, seksualitas; dibicarakan dengan kejujuran dan kesensitifan yang tinggi. Ada rasa getir dan masir saat membaca cerita-cerita ini, bahwa di luar ranah fiksi tempat ia berada, kejadian-kejadian seperti ini lumrah terjadi di dunia nyata, bahkan akhirnya tidak seindah di dalam cerita. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Agak sulit memilih cerita pendek yang jadi favorit di dalam buku ini, sebab setiap cerita rasanya membuat kita berhenti sejenak untuk memikirkan apa maknanya. Namun, ada beberapa cerita yang meninggalkan kesan lebih dibanding lainnya. ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Membaca 'Aku dan Tante', misalnya, rasanya pedih. Mengetahui bahwa hal ini memang terjadi. Mengetahui bahwa Tante Mawar adalah nama yang disandang banyak orang.⁣ 'Turut Berduka Cita?' , seperti judulnya yang bertanya--berkisah tentang duka dan kelahiran, serta pertanyaan: apa yang kita rasakan ketika ditinggal dengan memori yang tak sepenuhnya baik? ⁣'Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus' adalah sebuah kritik yang pedas dan tajam tentang kondisi sastra kita. Oh ya, jangan kaget dengan begitu tajamnya cerita ini. Selain karena kritik tersebut memang dibutuhkan, tulisan-tulisan di kumpulan cerita ini memang didasari oleh kemarahan. ⁣'Percaya' menohok sedikit ketika dibaca. Barangkali karena apanyang terjadi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika kita melihat perdebatan--yang sejujurnya berasal dari ketidakadilan--di sosial media, kepada siapa kita berpihak? Di mana suara kita? Apa kita mampu diam saja? Mana pilihan yang benar? ⁣'Siang Bolong yang Beku' yang saat dibaca memang menjadikan kita beku. Apakah ada hal yang kita rasakan, namun tidak bisa kita ungkapkan? Lalu, apa yang terjadi saat di luar kendali kita, tubuh kita bereaksi terhadap pikiran kita? ⁣⁣⁣
⁣⁣⁣
Berkenalan dengan penghuni-penghuni Gang Mawar, membaca cerita mereka, adalah keasyikan tersendiri. Apalagi ketika kita tahu aroma apa yang menguar dari dalamnya.⁣⁣⁣

Profile Image for Gita Swasti.
324 reviews40 followers
April 30, 2022
..."Aku tidak masalah jika kita berciuman untuk lucu-lucuan," dan kebisuan tercipta di antara kami sebelum ia berkata, "Aku tidak bisa. Rasanya kalau sekali melakukannya, akan ada hal yang tidak bisa ditarik kembali. Hal yang tidak bisa ditarik kembali itu bisa ditemukan oleh seseorang yang kemudiannya menjadikan alasan untuk menyiksa, menghukum, dan mengenyahkan kita. Aku tidak mau itu sampai terjadi padamu, pada kita."


Saya menemukan Asri Pratiwi Wulandari (Ulan) bertutur dingin ketika ia menyibak realitas masa kini. Gang Mawar sendiri memiliki lanskap surealis yang mengerikan. Ketika memasuki dunia surealisnya, kita dihantui kengerian. Kengerian-kengerian itu kian membesar sepanjang kumpulan cerpen ini karena terasa dekat dengan kenyataan sehari-hari. Bagaimana kekuasaan tumbuh subur dari penyalahgunaan. Lebih-lebih karena kumpulan cerpen ini menggunakan sudut pandang perempuan.

Saya menyukai Ulan ketika ia mencoba mengaitkan tatanan sosial patriarki dengan trauma. Ulan begitu cekatan berpindah dari cerita tentang kritik pedas terhadap ekosistem penulis (Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus) ke trauma masa kecil (Turut Berduka Cita).. Saya berpikir bahwa cerita-cerita ini akan lebih 'panjang' dari jumlah katanya. Namun, ternyata tidak juga. Sekali lagi, Ulan juga cukup tegas dan tandas mengakhiri cerita-ceritanya.

Saya ingin merekomendasikan kumcer-kumcer sejenis, diantaranya:
- Sambal dan Ranjang (Tenni Purwanti)
- Lebih Senyap dari Bisikan (Andina Dwifatma)
- Jangan Pulang Jika Kamu Perempuan (Riyana Rizki)
Profile Image for Hamima Nur Hanifah.
46 reviews10 followers
October 2, 2024
my all-time favorito book genre is a short story compilation. I can read them in one sitting and they always pack a powerful emotional punch. short stories typically delve deeply into a single theme, event or character, giving us a detailed glimpse into their lives and situations. and because they are short, authors often play with different writing styles and storytelling structures.

this concise book features 11 stories that explore social themes and highlight the lives of people living in Gang Mawar, a mysterious and dark alley. it focuses on issues such as sexual abuse, domestic violence, and critiques of patriarchy. the characters are quite diverse, from teenage girls, transgender, ex-convicts, and housewives.

I like the story titled "Siang Bolong yang Beku", written with a horror tone and spooky atmosphere like in ghost movies. it portrays the emotional burden and mental exhaustion experienced by a mother with one child. reading it filled me with fear and sympathy.

what a good and thought-provoking read! thanks Mbak @velosheraptor for writing this "buku bagus adalah buku bagus adalah buku bagus" 🥀
Profile Image for di.
65 reviews
March 4, 2022
Yang Menguar di Gang Mawar merupakan kumpulan 11 cerita pendek di mana mawar menjadi benang merah untuk setiap ceritanya. Buku ini wujudnya benar-benar menyerupai mawar. Aku dibuat terkagum-kagum oleh gaya penulisan kak Ulan yang penuh diksi nan indah, tapi juga sekaligus dibuat emosional oleh cerita-ceritanya yang lantang mewakilkan suara perempuan.

Walaupun sebagian cerita dibalut unsur realisme magis, isu-isu yang diangkat tetap terasa dekat dengan keseharian pembaca, mengingat kekerasan seksual, pelecehan, dan diskriminasi gender, nyatanya masih sering terjadi di tengah masyarakat kita.

Aku pribadi sangat menikmati buku ini, terutama bagian ‘Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus’ dan ‘Percaya’!
Profile Image for Avery.
17 reviews
May 26, 2023
i am so very lucky to be able to read this book (more later)
okay, let's do this!
sebelum mulai, reviewku ini personal, yang berarti mungkin hal yang aku sampaikan bakal sedikit berbeda yaa!!
aku sendiri udah denger tentang buku ini lumayan lama, tapi baru sempet beli akhir tahun lalu di post santa (signed juga!!), tapi baru akhir akhir ini sempat baca. dan ya tuhan coba aku langsung baca... setiap cerita di buku ini berkaitan dengan penduduk di gang mawar (atau tentang gang mawar sendiri). untuk first half lebih jelas kaitan antara tiap cerita, untuk second half lebih loose, yang aku sendiri awalnya ga terlalu suka (?) tapi salah satu cerita di second half menggabungkan ceritanya dengan cukup baik sih, sampe kepala aku langsung rame ngaitinnya~
cerita favoritku itu "Sebuah Gang pada Mulanya", "Aku dan Tante", "Pernahkah Kau Mencecap Mawar?", "Buku Bagus Adalah Buku Bagus Adalah Buku Bagus", "Seandainya Anakku".

Buku Bagus adalah Buku Bagus adalah Buku Bagus.
Tapi ini buku beneran bagus (⁠✯⁠ᴗ⁠✯⁠)
Profile Image for Randy Sofyan.
70 reviews6 followers
August 25, 2022
Kumpulan cerita yg saling bersenggolan di sebuah gang. Kesan yg didapat setelah melewati gang itu adalah miris, getir, dan anyir. Cerita-cerita yg berbisik dari satu mulut ke mulut lain, terbawa dari pengkolan satu ke pengkolan lain, dan akhirnya menjadi legenda urban di bawah gedung-gedung tinggi menjulang.
Gue suka dengan penulisan sebelas cerpen ini. Tokoh nya yg menyuarakan cerita masing-masing, namun masih mempunyai benang merah yg saling menghubungkan satu sama lain, yaitu Mawar. Tema yg diangkat pun beragam, mulai dari kekerasan seksual sampai identitas kelompok marjinal.
Profile Image for Almira.
78 reviews
April 4, 2023
Tema yang diangkat dalam 11 cerpen dalam buku ini adalah seputaran isu perempuan yang dibahas secara blak-blakan (pelecehan seksual anak, cinta sesama jenis, pernikahan usia dini, kekerasan dalam rumah tangga, kemiskinan) dan dibalut atau paling tidak disisipi dengan gaya realisme magis.

Di satu sisi saya menikmati keindahan tulisannya lewat kalimat-kalimatnya yang puitis dan penuh metafora namun di satu sisi saya juga bosan dengan kalimatnya yang bertele-tele. Rasanya seperti sedang asyik menikmati tapi tiba-tiba terserang ingin juga cepat-cepat menyudahi.
Profile Image for Meylan Hesti.
39 reviews
June 8, 2024
Rating : 4/5

Yang Menguar di Gang Mawar menceritakan kehidupan penghuni Gang Mawar. Aneka kisah ditulis & terkumpul menjadi kumcer. Masing-masing tulisan berbeda satu dengan yang lain. Namun memiliki benang merah yang sama. Yaitu Mawar. Mawar adalah seorang perempuan, Mawar adalah sekuntum bunga, dan Mawar adalah tempat dimana kejadian itu tercipta.

Membaca kumcer ini membuatku merasa nano-nano. Ada sedih, ngeri, dan takjub. Kumcer ini mengangkat isu-isu gender, seksualitas, dan ekonomi dengan cara satire. Untuk memahaminya, Kita harus berpikir, berpikir, dan merasa.
Profile Image for Nathania.
140 reviews3 followers
January 6, 2022
Buatku pribadi novel ini bisa diselesaikan dalam sekali-dua kali duduk, tapi aku memilih menunda-nunda membacanya karena tidak ikhlas novel ini akan cepat selesai. Diksi yang dipakai Kak Ulan cantik, bikin terbuai. Sederhana dan to the point. Jujur, aku membaca setiap kisahnya sambil meringis, cerita-cerita ini entah kenapa dekat sekali dengan keseharianku. Sebagai novel debut, 'Yang Menguar di Gang Mawar' menurutku menakjubkan!
Profile Image for stefiereads.
393 reviews120 followers
December 4, 2025
How I wish I had loved this book, because the summary really caught my attention.
This is a collection of short stories about the people who live in Gang Mawar. However, what made me give this book two stars is that I kept getting confused while reading each story. I often found myself questioning which character I was reading about at the time. Maybe it’s just me who was confused.
I really wish I had enjoyed it, but it’s not for me.
Displaying 1 - 30 of 50 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.