Jun ingin mengubah nasib. Gadis pujaannya tak mungkin mau menerimanya jika ia hanya orang biasa saja. Oleh karena itu, ia nekad keluar dari pekerjaannya dan memulai bisnisnya sendiri supaya kaya-raya. Namun, usahanya gagal dan justru mengantarkannya pada masalah besar.
Sekarang Jun terjebak pada konflik antara dua kelompok mafia. Agar selamat, ia harus setuju terlibat dalam pencurian berlian di sebuah bank. Akan tetapi, tidak ada yang bisa menjamin ia takkan celaka walaupun berhasil melakukan misi berbahaya ini.
Uwoooh, ini mah bkalan jdi universe. Junardi ini mungkin bkalan jadi Robin Hood-nya kali yak? Wkwk.
• Pros:
Selalu menegangkan, hectic critanya juga selalu dapet, dan tokohnya yang selalu lovable juga cerdas. Build up di ceritanya dan latar belakang tokohnya dijelaskan dengan jelas, jadi kita juga tahu semua motivasi di balik karakternya.
Ceritanya juga selalu page turning karena di tiap scene-nya emang selalu bikin penasaran.
•Cons:
Saking jelasnya semua latar belakang tokoh di beberapa penjelasan dragging aja menurtku, jafi ada off-nya di beberapa bagian.
Untuk tema pencurian, scene nyuri berliannya malah terlalu mudah dan nggak ada hambatan sama sekali. Apalagi ini pencurian pertama Jun (Kedua, sih, ekwk). . . .
Cerita2nya Mas Tsugaeda emang nggak pernah mengecewakan sejauh ini. Ditunggu buku2 selanjutnya dan ngumpulnya semua "Hero" di sini. 😀😀😀
Novel ini berkisah tentang Jun yang ingin mengubah nasib, kalau dia masih menjadi manusia yang biasa saja bisa-bisa cewek yang dia taksir engga bakal ngelirik dia. akhirnya dia nekat mengundurkan diri dari pekerjaannya dan memutuskan untuk membuka usaha, sialnya ia malah bangkrut dalam waktu singkat dan terjebak kedalam pertikaian atar geng sampai paling parah ia terlibat dalam pencurian sebuah berlian di sebuah bank.
Pertama aku suka sama cara kak Ade bercerita di sini, apalgai pas di plorog di buka sama Jun yang mau kisahnya di jadikan novel jadi aku merasa selama membaca ladi di dongengi akan petualangan seseorang. terus dilengkapi ilustrasi yang apik banget aku sukka
Setiap baca buku Tsugaeda itu emang harus siap dengan segala macam plot twist sih. Jadi, ya, gitu. Ketika ketemu plot twist, aku hanya bisa tertawa ngakak.
Sempat rada heran sama sikap Flo saat dikejar rombongan Yasuo. Tapi setelah tahu maksudnya, ternyata Flo ini memang cerdas. Yaah ... walaupun award-nya tetap harus dikasih ke Junaedi. That makian "anak setan!" dari bapaknya Jun bener-bener epic! 🤣
Tsugaeda menjadi salah satu must-buy dan must-read author buatku. Mendengar ia akan menerbitkan karya keempatnya secara indie, aku tentu mengantisipasinya. Segera setelah mendapatkan kopinya, aku melepas segel plastik si buku dan langsung membacanya.
Bercerita tentang seorang laki-laki "biasa" bernama Junaedi yang masuk perangkap hidup-mati yang tak pernah terbayangkan olehnya. Ia terombang-ambing di antara dua komplotan mafia yang semuanya berurusan dengan ayah kandung yang tak pernah ditemuinya. Wajar saja bila ia begitu marah pada sang ayah. Namun, bagaimana ia menyelamatkan diri dari perangkap komplotan mafia itu? Apakah dia bisa menyelamatkan dirinya sendiri atau ada orang lain yang membantunya selamat?
Buku ini terasa kurang "nendang" ketimbang buku-buku lain sang pengarang. Malah, premis tokoh utamanya mirip dengan karya ketiganya, "Efek Jera": laki-laki, seorang lugu yang tak tahu apa-apa, tapi memiliki keahlian tertentu yang mendukung rencana "keseruan" dalam cerita. Bisa dibilang, formula yang dipakai itu sama.
Mungkin karena hanya ada embel-embel "kriminal" pada sampulnya, buku ini tidak memberikan unsur suspense yang kucari-cari. Bukan salah pengarang juga, tapi aku benar-benar berekspektasi unsur itu muncul dalam buku ini.
Terlepas dari kesemua ceracauanku yang mungkin sudah paham betul karya-karya pengarang, aku masih menikmati kisah kisruh Jun. Terutama bagaimana ia bisa "menempatkan diri" di antara dua himpitan komplotan mafia yang menekannya. Bila jadi Jun, aku mungkin sudah mati tertebas pedang.
Hubungan ayah dan anak di dalam buku ini juga sedikit menghangatkan kekisruhan yang terjadi pada buku ini. Hanya saja, porsinya tidak banyak.
Untuk yang satu ini, tiga dulu ya. Selamat atas karya terbarunya, Bang Ade!
Buku kedua Mas Ade yang saya baca (sksd krn follower di IG juga 😁). Cerita kriminal yang bagus, rapi, gak ada loophole dan konsepnya gak "cringey". Saya penikmat novel kriminal, setelah baca novel ini rasanya senang sekali ada novel kriminal berkualitas bagus di Indonesia.
Plotnya bagus banget dan masuk akal. Itu mungkin nilai utama kalau misalnya kita baca novel kriminal. Banyak penulis novel yg mencoba genre atau cerita tipe ini, tapi problem solving di akhir kesannya "ujug ujug", jadi kesannya malah kayak novel horor bukan kriminal karena banyak hal yang belum dijelaskan. "Muslihat Berlian" ini gak kayak gitu, semua jelas, masuk akal tanpa mengilangkan efek "WOW" dari cerita.
"Muslihat Berlian" ini plotnya tidak ribet, tapi asik untuk dibaca dan teka-tekinya di akhir novel membuat orang kaget. Gak akan ngasih spoiler, karena lebih asik untuk baca langsung.
Secara keseluruhan, saya suka plot cerita Muslihat Berlian. Keputusan atau pilihan yang dibuat Jun menghasilkan petualangan baru dan kerumitannya tersendiri. Saya pikir "kuatnya karya-karya Tsugaeda memang pada plot" dan Muslihat Berlian ini menjadi salah satunya. Saya beri skor 4.3/5
Setelah lama gak baca bukunya Tsugaeda (biasanya minjem punya Ayu Yudha) hehehe, kali ini beli buku ini. Baca karena bulan ini masih sampul cokelat yang dibaca.
Suka aja walopun udah kebayang licinnya Jun dalam cerita tipu muslihat ini. Seru juga pasti pencurian berlian ini dibikin film, atau bisa juga jadi cerita sekuel tim pencuri raden saleh 😃
Setelah seminggu terlalu banyak jeda, akhirnya buku ini selesai juga dibaca. Kali ini Tsugaeda muncul dengan subgenre baru lagi, caper story atau heist (pencurian), setelah sebelum-sebelumnya berkutat di subgenre white collar crime.
Jun yang adalah seorang pegawai bank, jatuh hati sama cewe yang beda level dengannya. Demi bisa menaikkan levelnya, akhirnya Jun resign dari pekerjaannya dan mulai berbisnis dengan harapan menjadi kaya secara instan. Dan dia sukses membangkrutkan dirinya dengan sempurna. Kebangkrutannya membuatnya berurusan dengan mafia Jepang dan mafia lokal, dan terjepit dalam konflik yang terjadi di antara kedua kelompok ini.
kalo ngomongin heist, film yang muncul pertama kali di kepala saya adalah Italian Job dan Ocean's Eleven Trilogy. Untuk novel luar, yang klasik ada kisah-kisahnya Arsen Lupin. Kalo yang modern ada Great Train Robbery, trilogy dari Heist Society, The Lies of Locke Lamora, dan lain sebagainya.
Sedangkan untuk novel lokal, buku yang bertema heist sepertinya masih sangat jarang ya. novel lokal yang bertema heist yang baru saya baca paling hanya Orang-orang Biasa-nya Andrea Hirata.
Cerita-cerita bertema heist, sependek yang saya tahu, biasanya adalah cerita yang penuh dengan muslihat dan trik cerdas. Dan ini disuguhkan di novel Muslihat Berlian ini. Jun yang berlatar belakang pegawai bank dan hobi bermain sulap, diimbangi dengan kesan lugunya yang membuatnya gampang diremehkan menjadikan cerita ini mengalir dengan asik. Semua tidak seperti yang terlihat.
Saya pertama kali "berkenalan" dengan karya Tsugaeda justru dari buku ketiganya yang terbit tahun lalu, Efek Jera. Sebuah novel investigasi yang sangat menarik dan fast-paced. Lalu membaca buku pertamanya, Rencana Besar, di aplikasi ipusnas (saat itu belum diterbitkan ulang). Dan berburu Sudut Mati di marketplace karena ga terbiasa aja baca buku-e (ebook).
Dalam keterangan resminya, Tsugaeda menyatakan bahwa kasus pencurian dalam novel ini adalah instrumen untuk mengungkap sesuatu yang lebih mendasar tentang tokoh-tokohnya, dan tentang realita kehidupan yang ada di sekeliling mereka. Makanya saya ga heran kalo porsi cerita kegiatan perencanaan hingga eksekusi pencuriannya tidak terlalu panjang dan detail, malah cenderung seperti dipadatkan. Mungkin karena ini adalah semacam set-up untuk perkenalan Jun ke dalam universenya Tsugaeda.
Sejauh ini, ketiga novelnya Tsugaeda selalu berada dalam universe yang sama. Begitu pula Muslihat Berlian, ternyata ada salah satu tokoh dari novel Efek Jera yang muncul secara sekilas di sini. Wah, saya sangat menantikan kolaborasi antara Makarim, Dio, dan Jun kalo udah begini. Pasti bakalan menarik banget.
Selamat, mas Tsugaeda. Sekali lagi bisa memberikan warna di kancah novel thriller-criminal lokal. Sangat menantikan karya berikutnya.
Junaedi memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya sebagai pegawai bank. Dia patah hati, karena nasabah yang diam-diam disukainya pergi ke Australia. Berbekal semua tabungan dan depositonya, Jun mencoba berbisnis. Harapannya dia bisa melipatgandakan uangnya untuk menyusul Alisa, si nasabah itu. Tapi naas bagi Jun, semua bisnisnya gagal. Seakan tidak cukup sial, dia ditangkap oleh mafia Jepang, Yasuo. Yasuo mengetahui Jun adalah anak dari Rudi Rojas, seorang pencuri ulung yang masih menjadi buronan polisi.
Yasuo berkonflik dengan Jim Sanjaya, pengusaha dari Surabaya. Jim ditembak oleh orang-nya Yasuo, tapi dia masih bisa diselamatkan. Selama Jim dirawat, Flo cucu kesayangannya mengambil alih urusan bisnis. Flo sedang berusaha menggolkan bisnis power plant dengan pengusaha dari luar negeri. Pengusaha itu meminta syarat yang cukup sulit, berlian Celine yang diincar oleh banyak orang. Konon berlian itu disimpan di sebuah safe deposite box di salah satu bank di Jakarta.
Jun diselundupkan oleh orangnya Yasuo ke rumah peristirahatan Jim Sanjaya di Rancamaya. Tugas Jun adalah mencuri kuda kesayangan Jim. Saat Jun sedang merencanakan pelariannya, dia mendengar tentang berlian itu. Jun akhirnya tertangkap oleh anak buah Flo. Untuk menyelamatkan dirinya, dia menawarkan bantuan membobol berlian itu dari bank.
Tsugaeda kembali lagi dengan fiksi kriminal, setelah buku Efek Jera terbit di tahun 2020. Kali ini melibatkan mafia, buronan pencuri dan berlian ternama. Tokoh utamanya Jun, pemuda lugu yang pandai bermain sulap. Meski pencurian berliannya tidak begitu spektakuler sesuai ekspektasi saya, tapi plot twist yang disajikan di akhir cukup mencengangkan.
Pfffffttt ngakak ngakak aku baca ini. Apes banget kayaknya nasib Jun di awal. Udahlah keluar sarang harimau masuk sarang buaya terus masuk sarang godzilla. Semua gara-gara ditinggal gadis pujaannya nikah.
Tokoh kesukaanku Flo. Entah kenapa aku tiap baca dialog dia selalu dengan logat jawa timuran ibuku 🤣🤣🤣
Dan dialog-dialognya emang lucu banget! Ada yang satire, ada yang sat-set-sat-set-smesh! Paling lucu-lucu itu dialog Flo sama Jun waktu ngancem Jun deh. Ada juga ini:
Widodo: Lha, dia dulu lihat kamu kegiatannya enggak jelas, pergi sana pergi sini, tapi duitnya banyak, memangnya kamu ngakunya kerja apa?
Rudi Rojas: Anggota DPR.
Widodo: Bajingan!!!
Terus plot twistnya!!!!! Mengingatkanku pada Now You See Me tapi gak mirip juga sih. Kerennn pokoknya. Jun meskipun gayanya kayak tokoh utama anime shounen Jepang yang pengecut gitu sebenarnya panjang akal dan sadis perencanaannya.
Yang ganjel cuma bagian Budiman sih. Setahuku kuda tidurnya sambil berdiri.
Rate: 4.3/5⭐
This entire review has been hidden because of spoilers.
Mengikuti kata hatinya, demi sang gadis pujaan, Jun memilih mengundurkan diri dari bank tempatnya bekerja. Dia memang hanya mengagumi gadis itu dari jauh. Tapi keputusan gadis itu untuk pergi ke luar negeri, membuat satu tombol on dalam diri Jun pun menjadi aktif.
Dengan menguras seluruh tabungan dan deposito yang dimilikinya, Jun memulai kemandiriannya untuk ‘berkontribusi dalam perekonomian nasional’ (halaman 34). Investasi kripto, saham dan usaha bandeng jadi pilihan Jun. Sayangnya, hidup Jun berubah seratus delapan puluh derajat saat semua usahanya berakhir kosong melompong.
Belum cukup dengan kegagalah usahanya, kecerobohan Jun mencairkan deposito rahasianya ternyata membawa Jun ditangkap oleh kelompok mafia pimpinan Yasuo. Dan di sinilah, Jun terperangkap dalam konflik antara dua kelompok mafia besar.
Yang paling awal yang harus kukatakan adalah, novel ini page turning sekali. Yak kalik, dari 3 buku Tsugaeda sebelumnya, semuanya juga gitu. Jadi ya gak heran. Lebih² lagi, temanya tentang heist permata bonus perseteruan mafia. My cup of tea.
Tokoh utama di cerita ini adalah Junaedi (bukan nama sebenarnya) yang lagi kasmaran tapi gak kesampaian, yang adalah anak dari Rudi Rojas, pencuri ternama yang "memiliki" berlian Celine. Kisahnya berputar di seputar berlian ini, si Jun dan dua kelompok besar: yakuza pinggiran dan grup konglomerat.
Kisahnya mengalir cepat, dengqn banyak belokan dan puntiran. Twist akhirnya oke, dengan penyelesaian yang oke juga.
Yang menarik rik rik, adalah epilognya. Siapakah wanita wartawan itu? Apakah ini kemudian berbenang merah ke organisasi bayangannya Makarim di Efek Jera? Nah itu bakal menarik sekali :)
Akhirnya setelah sekian purnama bisa baca buku ini. Ada beberapa yang aku highlight 1. Openingnya unik. Dari yang aku kira blurbnya apa openingnya diluar ekepektasi jalan ceritanya seperti apa. 2.start awalnya terasa lambat, jujur ini hampir di semua buku Tsugaeda, tapi mungkin ini bagian dari usahanya menbangun cerita. Karena seringnya penutup kasusnya cepat. Jd ketegangan di awalnya harus dibangun perlahan agar lebih joss di konflik dan endingnya 3.saya suka liat Jun cari mati, yang bikin ceritanya njlimet tambah ruwet. 4. Meski begitu. saya menikmati membalik tiap halamannya. Pengalaman membaca action thriller ditambah ilustrasinya mendukung imajinasi adegan yang ditulis. Cant wait for next project ya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Novel keempat dari Tsugaeda yang emang sejak karya pertamanya tidak pernah membuatku kecewa. Mungkin dibanding karya2 sebelumnya, novel ini yg tergolong paling sedikit halamannya. Jadi bisa dibaca selesai dalam sehari.
Novel ini bercerita tentang Junaedi a.k.a Jun, mantan pegawai bank yg memutuskan resign untuk dapat membangun bisnis sehingga cepat kaya dan ingin mengejar cintanya, Alisa, yg dia anggap status ekonominya di atas Jun. Namun bisnis yg coba ia bangun gagal semua dan menjerumuskan dia dalam komplotan Yasuo Kodama. Jun akhirnya ditugaskan untuk mencuri kuda (sebagai barang paling berharga dari rival bisnis Yasuo, Jim Sanjaya). Dari tugas itu lah dia akhirnya gagal dan malah membantu keluarga dari Jim untuk mencuri berlian glimpse of paradise bernama celine. Berlian itu dijadikan syarat untuk memenuhi goals bisnis dari keluarga Jim dengan Ruspow Energy besutan Aleksei Durov. Singkat cerita, berlian tersebut berhasil diambil dan mengantarkan pada peperangan antar kubu Jim dan Yasuo untuk kemudian 2 kubu tersebut berhasil diringkus polisi.
Di akhir cerita, ternyata di balik kepolosan dan stigma masyarakat awam yg disematkan pada Jun sepanjang novel ini justru malah dibalikkan di akhir novel. Ternyata semua skenario tersebut sudah dirancang oleh Jun. Dimana memang tujuan utamanya adalah mencuri berlian untuk meningkatkan kekayaannya, mengambil perhatian bapaknya yg terkenal sebagai pencuri paling lihai, Rudi Rojas, menyingkirkan komplotan yg berpeluang bikin rusuh yaitu Yasuo, dan melibatkan polisi dalam hal ini Bimi dan Martin. Ternyata Jun memang otak dibalik skenario yg dijalankannya dengan apik sepanjang cerita. Bisa dibilang itu plot twit yg didapatkan saat akhir novel ini. Pantes dengan kecerdikannya itu, ia mau direkrut oleh Makarim melalui Dinta. Sayang Iwan belum mengungkapkan identitas dari Jun kepada Dinta. Mungkin di karya2 selanjutnya, Jun ini dapat menjadi rekanan dari Makarim untuk mengusut kasus2 lain? who knows. Sepertinya Tsugaeda mau membuat universenya dengan karakter Jun ini. Dan mungkin di karya2 selanjutnya bisa ada crossover juga dengan Dio. Menarik ditunggu.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Sungguh sial memang nasib Junaedi, gara-gara merasa minder cintanya bakalan ditolak gadis pujaan, padahal pendekatan saja tidak, ia nekat berhenti kerja dan memulai usaha. Ia bahkan nekat pencairan deposito darurat warisan sang ibu.
Alih-alih kaya, ia justru terlibat dalam konflik 2 kelompok mafia. Jika ingin selamat maka ia harus pandai bersikap.
Namun semua perasaan kasian berubah begitu selesai membaca apa yang ada di bab-28. Semprul tenan! Penulis sukses membuat saya terpukau pada nasib Jun hingga tidak melihat hal-hal lain.
Dibandingkan karya yang lain, bagi saya selaku pembaca, buku ini merupakan karya terbaik seorang Tsugaeda. Dimulai dari prolog yang berbeda dengan kisah2 lain, dan ditutup dengan epilog yang cantik. Tentunya juga dengan kisah yang tak biasa.
Ilustrasi yang ada juga menawan. Sindiran halus tentang kondisi sosial juga diselipkan dengan elegan. Misalnya saja tentang aparat yang tak membaca buku namun kadang-kadang mereka memberedel buku yang dianggap mengandung muatan berbahaya.
Semoga Jun juga mendapat peranan tersendiri lagi kelak dalam Tim Om J 🤩.
enak banget narasinya broooow, kalo bukan karena kerjaan numpuk dan dikejar deadline mah ini buku bakal selesai dalam sekali duduk 😅😅😅
aku suka cara penulis bercerita di buku ini, banyak informasi yang aku dapetin termasuk cara bobol safe deposit box huehehehhe tapi ga bakal aku praktikkin juga sih. buat apa jadi kriminal 😬
cepet banget lho pace nya, satsetsatset dah langsung banyak kejadian yang terjadi. di saat yang bersamaan ada begini begitu begini begitu. lumayan mendebarkan apalagi menjelang ending sihh
keren! btw ini adalah karya taugaeda pertama yang kubaca dan aku lagi mempertimbangkan baca karyanya yang lain.
Baca buku ini beneran serasa lagi terjun di film ala heist gitu. Cara penulisannya juga nggak bikin bingung, terlihat santai jadinya bisa membayangkan kayak gimana adegan kejadiannya. Terus tiap bab juga terkadang ada perpindahan POV menceritakan karakter lain, tapi juga nggak bikin bingung, kesannya halus banget perpindahannya penulisan karakter lainnya. Suka bangeettt sama buku ini!<33
Demi bisa menggaet hati wanita pujaannya, Jun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya sebagai teller bank dan mencari jalan lain agar mampu meninggalkan identitasnya sebagai manusia berkelas sosial biasa-biasa saja. Namun, usahanya untuk menjadi kaya raya dengan instan justru membuatnya terjebak di dalam permainan antara keluarga konglomerat, bos mafia Jepang, dan seorang pencuri legendaris yang sama-sama menginginkan satu hal: sebuah batu mulia biru muda yang diberi nama Céline.
Waktu aku mencari-cari bacaan novel misteri/thriller yang benar-benar asli Indonesia, buku ini muncul dalam daftar rekomendasi. Aku sudah pernah membaca karya penulis yang berjudul 'Sudut Mati' dan lumayan suka, maka jadilah aku memberi buku ini kesempatan. Hasilnya sama sekali tidak mengecewakan.
Sama dengan di buku yang sebelumnya kubaca, tulisan Mas Ade selalu simpel, ringan, dan cepat. Tidak ada detail-detail superpanjang yang membosankan dan sulit diingat, semuanya sekilas saja, tetapi mengena. Informasi tentang dunia perbankan yang disampaikan pun ditulis dengan sangat baik sehingga tidak membuat bosan. Ditambah dengan pemenggalan tiap bab yang pendek-pendek, buku ini cocok dijadikan hiburan setelah seharian mengendapkan diri di kantor, meski pokok bahasannya cukup serius.
Muslihat Berlian bukan tipe misteri pembunuhan berdarah-darah nan keji yang membuat pembaca ketar-ketir menanti bagaimana nasib si tokoh utama di bab selanjutnya. Meski begitu, tetap saja adrenalin ini terpacu ketika menebak-nebak apa yang akan dilakukan Jun ke depannya. Cowok yang kelihatannya geblek dan letoy itu ternyata selicin belut—makin keras digenggam, makin mudah buatnya untuk kabur. Sebagian dari diriku kepengin dia tertangkap lalu digebuki Kenichi, tetapi sebagian yang lain ingin dia bisa bebas dengan selamat sentosa dan hidup bahagia bersama dirinya sendiri. Jun bukan tipe-tipe hero yang bakal digandrungi banyak orang, tetapi tingkahnya cukup mengocok perut.
Pesan yang bisa diambil: jangan sekali-kali meremehkan orang yang kelihatannya lemah.
Sepertinya aku bakal mengoleksi buku-buku Mas Ade. :)
Asli skali duduk iniii bacanya saking seru nya, hahahahahah, dan LUCU pulakk, kayak yang dibilang sama pengarangnya, kalo “mau yang lucu baca yang ini mbak”, bahhahahahahhaha… mang beneran kocak si. Alurnya cepet, udah gitu nyolong sekelas berlian yang diincer seantero dunia kok gampang banget ya gak ada hambatannya, hahahahahhaha… seruuu lah pokoknyaaaaa. Cuss lah lanjut lagi baca karya karyanya ka Tsugaeda yang lain lagiiii..
This entire review has been hidden because of spoilers.
Ending-nya astagaaa. Alih-alih kasihan malah kepengin ngakak, sih. Kali ini pakai alur yang diceritakan orang ketiga. Karakter Junaedi ini kuat, kok, sebenarnya, tapi sayang kurang panjang xD
Ada beberapa hal yang masih mengganjal bahkan sampai akhir masih menimbulkan pertanyaan. Apakah bau-bau bakal ada lanjutannya? Atau Jun gabung ke universe pertama? Hmmm ....
Hello, Indonesia has its own Lupin named Junaidi!!
Seperti biasa ya mas Tsugaeda itu kalau nulis pasti ngalir dan mengalir dengan cepat. Saking cepatnya saya sampai gak percaya pembobolan bank bisa semudah itu. Anyway, tetap deh ini ceritanya seru banget dan Junaidi lovable banget!
Junaedi alias Jun tidak pernah menyangka jika kehidupannya akan berubah drastis setelah dirinya memutuskan untuk 𝘳𝘦𝘴𝘪𝘨𝘯 dari pekerjaannya sebagai seorang 𝘵𝘦𝘭𝘭𝘦𝘳 bank. Ini semua gara-gara pesona Alisa, wanita pujaan hatinya yang akan menikah bersama tunangannya di Australia. Dibutakan oleh cinta, Jun memilih mencoba untuk memulai investasi saham dan berternak ikan bandeng agar dapat kaya mendadak supaya bisa mendapatkan hati Alisa. Namun, tak dinyana, semua usahanya tersebut gagal total dan menyeretnya pada seorang mafia Jepang bernama Yasuo Kodama.
Yasuo mendapatkan informasi jika Jun merupakan anak dari Rudi Rojas, seorang pencuri yang telah mengkhianati Yasuo. Untuk membalaskan dendam, Yasuo berniat membunuh Jun saat itu juga. Akan tetapi, takdir berkata lain. Jun malah dijadikan senjata oleh Yasuo untuk mencuri kuda kesayangan Jim Sanjaya, seorang pengusaha kaya raya yang terlibat masalah dengan mafia Jepang tersebut.
Rencana Jun untuk mencuri kuda bernama Budiman tersebut hampir saja berhasil jika tidak digagalkan oleh cucu kesayangan Jim Sanjaya, Flo. Mengetahui kuda kesayangan kakeknya raib digondol maling, tanpa pikir panjang Flo langsung ikut rombongan anak buahnya untuk menangkap Jun. Lagi-lagi, saat nyawa Jun tengah di ujung tanduk saat tertangkap oleh Flo dan anak buahnya, Jun mendapatkan kesempatan untuk tetap hidup asalkan mau terlibat dalam pencurian berlian yang terdapat di sebuah bank.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu, Jun pun memberikan rencana dan taktik untuk membantu Flo mencuri berlian tersebut. Namun, untuk mendapatkan berlian tersebut banyak halangan dan rintangan yang harus mereka lewati, salah satunya adalah dari Rudi Rojas, sang pencuri terkenal yang tengah buron. Mampukah Jun dan Flo mencuri berlian tersebut? Apa hubungan Rudi Rojas, Jim Sanjaya, dan Yasuo Kodama dalam pertikaian ini semua?
Rasanya selalu 𝘦𝘹𝘤𝘪𝘵𝘦𝘥 saat akan membaca karya terbaru dari Tsugaeda karena jujur saja Tsugaeda mampu membawa cerita aksi, konspirasi, dan kriminal ke dalam level cerita yang memuaskan. Tidak jarang Tsugaeda juga kerap memasukkan isu-isu politik yang terjadi di Indonesia dalam jalan ceritanya. Kemampuan Tsugaeda dalam berimajinasi serta menangkap momen yang ada selalu menghasilkan karya yang memikat pembaca. Kali ini, Muslihat Berlian pun masih dapat menghipnotis saya dengan kisah aksi yang seru dan menarik melalui tindakan kriminal yang dilakukan.
Tidak hanya memikat dari segi cerita, Muslihat Berlian pun menyajikan kover buku yang tidak kalah menarik. Meskipun tampak sederhana, tapi kover bukunya mampu menarik manik mata untuk tak luput melewatkannya. Ilustrasi siluet kuda yang dibingkai dengan ornamen artistik mampu terlihat elegan sekaligus menjual saat dipadukan dengan tulisan judul buku dan nama penulis. Apalagi warna coklat yang dipilih semakin mempertegas betapa memikatnya kover buku ini.
Sesuai dengan 𝘵𝘢𝘨𝘭𝘪𝘯𝘦 bukunya, Muslihat Berlian memiliki tema cerita kriminal yang dibalut dengan adegan aksi dan konspirasi. Jun yang merupakan pria biasa pada umumnya dipaksa untuk turut serta dalam aksi kriminal yang mempertaruhkan nyawa. Keputusan Jun untuk hengkang dari pekerjaannya sebagai 𝘵𝘦𝘭𝘭𝘦𝘳 bank justru malah menjerumuskannya menjadi seorang kriminal akibat terlibat dalam perselisihan mafia. Jungkir baliknya kehidupan Jun ini memberikan euforia yang mengajak benak untuk berpetualang melihat aksi kejar-kejaran yang mengasyikan.
Bagi saya pribadi, Muslihat Berlian adalah sebuah angin segar yang memberikan sajian cerita yang unik dan berbeda. Tsugaeda lagi-lagi sukses menunjukkan taringnya dalam menulis cerita kriminal, konspirasi, dan aksi yang selalu bisa mengejutkan pembaca. Adegan aksi dan kejar-kejaran yang kerap muncul menjadikan Muslihat Berlian tampak mendebarkan sekaligus menarik.
Tokoh utama yang dihadirkan dalam Muslihat Berlian adalah Junaedi alias Jun yang sebelumnya berprofesi sebagai pegawai bank. Namun, akibat ingin mengejar pujaan hatinya, Jun memutuskan untuk keluar dari pekerjaannya dan malah terjebak menjadi seorang pelaku kriminal. Jun digambarkan sebagai sosok pria yang polos dan biasa-biasa saja. Tidak ada sesuatu yang menonjol ataupun spesial dari kepribadian Jun ini. Akan tetapi, seiring berjalannya cerita, sifat Jun yang lainnya mulai tampak, seperti kecerdikan dan keberaniannya saat melobi "hukuman" mati yang akan ia terima dari dua mafia yang berbeda.
Selain tokoh Jun, terdapat tokoh-tokoh lainnya yang tidak kalah menarik, seperti Yasuo Kodama, Jim Sanjaya, Flo, Rudi Rojas, dan masih banyak lagi. Namun, di antara bergelimangnya tokoh yang ada, sosok Rudi Rojas adalah yang paling menarik perhatian saya. Di mana tokoh Rudi Rojas ini ditampilkan sebagai seorang pencuri kelas kakap yang sudah merampok benda-benda berharga di berbagai negara. Bahkan, saking jagonya, Rudi Rojas tak mampu ditangkap dan menjadi buronan yang paling dicari.
Meskipun 𝘣𝘢𝘤𝘬𝘨𝘳𝘰𝘶𝘯𝘥 dari setiap tokoh terasa tanggung, tapi karakter yang diciptakan penulis terasa cukup kuat dan menjanjikan. Interaksinya terkadang mengundang sedikit gelak tawa, tapi tak jarang juga bikin bertanya-tanya. Tokoh-tokohnya akan dengan mudah mendapatkan tempat di pikiran pembaca karena memang masing-masing tokoh mempunyai ciri khas mereka sendiri.
Di awal dan akhir cerita pembaca akan bertemu dengan tokoh Iwan melalui sudut pandang orang pertama. Lalu, selanjutnya, sepanjang cerita berjalan pembaca akan disodorkan sudut pandang orang ketiga lewat beberapa tokoh yang terlibat, khususnya Jun. Penggunaan dua sudut pandang yang berbeda ini tergolong menarik, karena bisa memantik rasa penasaran pembaca. Gaya bahasa dan bercerita Tsugaeda tergolong ringkas, ringan dan 𝘵𝘰 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘰𝘪𝘯𝘵 sehingga akan dengan mudah dapat dinikmati.
Selain itu penggunaan logat bahasa Jawa dan Jepang yang diselipkan kepada tokoh Flo dan Kenichi semakin memperkuat dan mempertegas jalan ceritanya. Alur ceritanya bergulir dengan cukup cepat jadi pembaca tidak akan di suguhkan sesuatu yang bertele-tele, tapi sebaliknya akan diajak berpetualang dengan berbagai aksi dan intrik di dalamnya. Latar tempat yang coba dieksplorasi dalam Muslihat Berlian juga terasa sekali atmosfernya, contohnya seperti daerah perkotaan Jakarta.
Jika dilihat dari konflik yang berlangsung, sepertinya Muslihat Berlian berpotensi memiliki sekuel cerita. Di mana Jun yang harus terlibat dalam aksi perampokan, yaitu pertama merampok seekor kuda dan yang kedua merampok sebongkah berlian. Kedua aksi pencurian yang dilakukan oleh Jun ini mampu memicu sebuah prahara yang menimbulkan adegan kejar-kejaran dan tembak-tembakan. Adegan-adegan ini mampu menciptakan sebuah konflik yang terasa menantang dan memacu adrenalin ketika dibaca.
Sayangnya, ada satu adegan yang bagi saya masih terasa kurang, yaitu saat Jun akan merampok berlian. Di mana aksi perampokan Jun tersebut masih terasa terlalu mudah untuk dilakukan. Padahal saya berharap akan ada halangan serta rintangan yang cukup sulit sebelum Jun berhasil mengambil berlian tersebut. Namun, terlepas dari itu semua, Muslihat Berlian masih dapat memberikan sebuah konflik yang luar biasa menarik bagi pembaca tanpa perlu tampil secara berlebihan.
Mungkin sekilas Muslihat Berlian tampil mirip seperti Efek Jera, tapi jika dinikmati secara lebih mendalam, Muslihat Berlian mampu memberikan sesuatu yang berbeda. Di sini, saya bisa menangkap sedikit humor yang terselip walaupun tidak terlalu kentara. Selain itu, sindiran-sindiran halus akan isu yang terjadi pun menciptakan kesan realistis dari apa yang terjadi saat ini. Saya suka dengan cara Tsugaeda dalam menampilkan sang pelaku utama dari jalan ceritanya, yaitu Jun yang ditampilkan biasa saja. Namun, dibalik tingkah lugu Jun ada sesuatu yang dapat mengejutkan pembaca jika mau bersabar menyimak sampai akhir cerita.
Kehadiran beberapa ilustrasi yang menghiasi jalan ceritanya dapat membantu pembaca untuk memvisualisasikan beberapa adegan yang tengah berlangsung. Adegan aksi yang dipenuhi dengan kejar-kejaran serta tembak-tembakan pun tidak kalah menarik untuk disimak. Kekuarangan yang ada mungkin tidak banyak, yaitu hanya terletak di minimnya latar belakang para tokohnya. Tapi, secara keseluruhan, Muslihat Berlian adalah cerita kriminal yang mampu memberikan pengalaman membaca bak menonton film laga, mendebarkan sekaligus menyenangkan.
Buku keempat karya Tsugaeda aka Ade, tapi buku ketiga yang gue baca soalnya walau udah punya Efek Jera tapi bukunya di Depok sementara gue pas beli dan baca Muslihat Berlian ini pas masih di Tuban :P. Jumlah halamannya sendiri ga sebanyak buku - buku sebelumnya, bahkan bisa dibilang paling tipis dengan font huruf yang bagi gue mayan gede. Gue baca ini pas lagi di site office karena mumpung kerjaan udah berkurang (masih banyak sih, cuma gue agak males wkwk mengingat hawa - hawa libur), dan dilanjutkan di mess.
Overall gue cukup terhibur meskipun plot ceritanya rada outlandish. Like, emangnya ini bakal kejadian di dunia nyata, mengingat dua novel Ade sebelumnya cukup membumi. Tapi gue mikirnya, yaelah ini kan novel fiksi, apapun bisa terjadi lah X). Mengangkat tema "heist" atau tindakan pencurian, tokoh-tokohnya cukup "berwarna". Ada yakuza Jepang, ada crazy rich surabaya, ada pencuri kelas wahid, ada kombes polisi yang karirnya mandek, lalu ada Junaedi yang akrab dipanggil Jun. Jun yang awalnya hanya karyawan bank biasa yang patah hati karena cinta ditolak (padahal ngaku saja ngga =)) ), sehingga akhirnya kejebak momen bucin sesaat. Sayangnya bucinnya Jun ini malah bikin dia jadi terperangkap dalam usaha pencurian sebuah berlian untuk si crazy rich, sementara di sisi lain nyawanya terancam oleh si yakuza. Bagi gue ya...ini cukup outlandish emang.
Pencurian berliannya sendiri sejujurnya cukup sederhana alurnya (atau entahlah, rasanya kayak gampang banget hahaha) dan sejatinya gue bisa membayangkan buku ini kalau diangkat jadi film pun cukup seru. Hanya rasanya seperti ada yang..apa yah, gue juga ga bisa menjelaskan dengan baik tapi gue merasa emang ada yang kurang dengan buku ini. Plot twistnya sendiri cukup oke, walau gue sendiri sudah cukup bisa menebak. Hanya rasanya ada yang sedikit mengganjal like . Sisanya menurut gue udah cukup oke. Gaya penulisan Ade seperti biasa enak dibaca dan mengalir apa adanya. Sarkasmenya terhadap kondisi saat ini, salah satunya dengan sinis menulis "karena aparat tidak membaca novel", cukup bikin tersenyum simpul. Too blatant for my taste, but hey, I agree. Ditambah dengan beberapa ilustrasi yang menjadi nilai tambah.
Karena gue baca Rencana Besar dan Sudut Mati juga udah lama, mungkin ini waktu yang tepat buat re-read. Plus gue juga belum baca Efek Jera :). Siapa tahu di re-read Muslihat Berlian, gue nemu hal - hal yang gue lewatkan. Maklum, pas baca Muslihat Berlian di kantor, gue dapat banyak gangguan, jadi kesel sendiri XD.
Aku mau bilang kalau Junaedi ini sial sekali. Namun, ternyata semuanya sudah dia antisipasi sejak awal. Gokil, sih. Benar-benar menegangkan.
Siapa sangka Junaedi, mantan teller bank ini ternyata anak dari Rudi Rojas, sang Robinhood Indonesia? Statusnya itu membuatnya jadi buruan mafia asal Jepang bernama Yasuo Kodama.Beberapa bulan setelah Junaedi mencairkan deposito dana darurat dari almarhum ibunya untuk berwirausaha setelah mengundurkan diri dari bank, dia langsung diculik anak buah Yasuo Kodama. Jun benar-benar sial. Sudah semua usahanya bangkrut, kini diculuk mafia pula.
Entah apa yang sudah dicuri Rudi Rojas darinya sehingga si mafia Jepang ini begitu murka. Untuk "membayar utang" Rudi Rojas, Jun disuruh menyamar menjadi pengurus kuda di kediaman Jim Sanjaya, seorang Chindo Crazy Rich yang bermasalah dengan Yasuo Kodama karena menghentikan suplai aluminium untuk perusahaan Yasuo.
Saat itu Jim sedang koma setelah ditembak anak buah Yasuo. Flo, cucu kesayangan Jim, merawat kakeknya di kediaman yang jauh dari jangkauan para kerabat yang sudah bersiap memperebutkan harta waris. Jun disuruh Yasuo untuk mencuri Budiman, kuda kesayangan Jim demi mempercepat kematian sang pengusaha.
Flo saat itu sedang mengurusi tender pembangkit listrik dengan seorang pengusaha kaya Rusia. Pengusaha itu bersedia kerja sama jika dia bisa mendapatkan berlian Celine atau The Glimpse of Paradise yang terkenal itu dan sudah menghilang sejak tahun 1970. Sean, sepupu Flo, merencanakan perampokan safe deposit box Bank Merkuri tempat berlian itu disimpan. Rencana itu kebetulan didengar oleh Jun.
Jun kemudian mencuri Budiman, tapi tertangkap. Untuk menyelamatkan diri, dia mengajukan diri pada Flo untuk membantu pencurian berlian. Statusnya sebagai mantan pegawai bank akhirnya meyakinkan gadis itu. Mereka pun berencana mengelabui para pegawai dengan berpura-pura menjadi mystery shopper. Namun, rencana itu kemudian diendus oleh Yasuo yang menginginkan berlian itu untuk dirinya sendiri.
Jun benar-benar terjepit! Selain itu, dua orang polisi membayangi mereka semua untuk menangkap Rudi Rojas, pemilik berlian, dan menggulung kelompok Yasuo Kodama.
Nama Jun, pertama saya baca dari novel Sisi Liar dari penulis yang sama, Tsugaeda, saat membantu Dio dan Dinta mencuri lukisan. Ternyata, kang penulis membuatkan novel khusus untuk Junaedi dengan label 'novel kriminal', ya sesuai dengan profesinya yang lihai memainkan tangan.
Tertangkap dalam jaringan mafia Yasuo Kodama, si Jun tergiring dalam konflik dengan cucu pengusaha besar, Jim Sanjaya. Semakin rumit ketika Jun harus membantu aksi perampokan berlian di sebuah bank, hingga mengantarkan pada sosok Ayahnya yang seorang pencuri ulung. Seru sih, karena ceritanya mengecoh sana-sini Balkan sampai ujung cerita tentang si Jun. Meski bagian polisinya, kayak cuman jadi "alat" pelengkap menurutku, tapi sepertinya sosok Bimi dan Martin akan muncul lagi membarengi seri Junaedi berikutnya. Ditunggu deh...