Saenggang menjalani hidup menurut standar: belajar giat di sekolah, masuk universitas top, lulus dengan selamat, bergabung dengan perusahaan besar, lalu berharap bisa hidup bahagia selamanya. Tapi ternyata budaya perusahaan yang tidak masuk akal, bos resek, dan pekerjaan yang tidak sesuai minat membuatnya tidak betah menjadi pegawai kantoran. Pikirannya pun berputar: Apa yang mesti dia lakukan supaya bisa keluar dari situasi menyesakkan itu? Pindah kantor? Melanjutkan pendidikan pascasarjana seperti teman-temannya? Atau cari pekerjaan lain yang sesuai minat? Tapi ternyata ada masalah yang lebih besar. Karena selama ini hanya mengikuti jalan yang telah ditentukan, Saenggang tidak tahu apa minatnya atau apa yang ingin dia lakukan. Dikisahkan dengan kocak lewat gambar lucu, perjalanan Saenggang mencari minat dan pekerjaan yang disukai menjadi amat menarik untuk disimak. Buku ini dapat membantu kita lebih memahami diri serta menjalani hidup lebih bahagia.
Sebuah illustrated book tentang pencarian nilai hidup dari seorang pegawai kantoran yang penuh bimbang. Dibawakan dengan medium ilustrasi yang tersusun rapi sehingga terkesan seperti komik, penulis menceritakan kisah hidupnya menjadi seorang pekerja kantoran yang kemudian memutuskan untuk keluar dan berlibur ke Bali. Di akhir, ia menjabarkan bagaimana ia menikmati kehidupan barunya dengan mengerjakan apa yang disukainya.
Pola cerita yang dibawakan di buku ini terkesan sebagaimana kisah-kisah inspiratif lainnya: jenuh dengan kehidupan sebelumnya -> berproses untuk mencari jalan keluar -> mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Lumayan lumrah dan kurang wah. Untungnya, ilustrasi berwarna yang menemani sepanjang cerita menjadi nilai tawar tersendiri.
Terlepas dari itu, pembaca seperti diingatkan lagi tentang beberapa tips hidup (yang sebenarnya juga tipikal tips hidup pada umumnya) yakni: mencari ruang di mana kita dapat belajar sesuatu tapi dengan kesalahan yang dapat ditoleransi, jalan kaki berkeliling agar lebih segar, mencatat kegiatan yang dilakukan di buku harian, dan (ini yang menarik buatku) mencari siapa panutan yang bisa disimak jalan hidupnya agar kita dapat termotivasi.
"Alangkah baiknya kalau kita hidup dengan satu saja orang seperti itu di dalam pikiran kita." (hlm. 296)
secara pribadi aku relate banget dengan author. tipsnya menurutku cukup umum, bahkan ga langsung dikasih kayak tips gitu. cuma diberi tahu apa yang author lakukan untuk menemukan pekerjaan yang disukainya. tapi karena aku terhibur dan kemiripan antara author dan aku, jadi kukasih 4.5 ⭐
Perjalanan mencintai dan menerima diri sendiri bukanlah perjalanan yang mudah. Nggak jarang juga kita merasa bahwa diri ini banyaaak kurangnya.
Lewat buku ini, Saenggang menceritakan perjalanannya. Perjalanan yang mengantarkannya menerima bahwa dirinya nggak cocok bekerja kantoran.
Banyaaak banget bagian yang relate, khususnya di awal. Meski aku sejak awal udah tau sih kalo aku nggak cocok bekerja kantoran, nggak kayak Saenggang yang merasakannya dulu. Syukurlah. Tapi mungkin kalau aku terjebak dalam jurusan yang sama dengannya, aku bakal kayak dia juga (kemungkinan besarnya 😅).
Paruh bagian akhir, Saenggang mengisakan proses healing yang dia lakukan. Banyak hal yang aku catat, seperti tentang kebiasaan makan, mengobrol dengan diri sendiri, me time, dan menikmati hobi.
Meski hal yang disampaikan nggak baru, tapi aku suka banget sentuhan personal di buku ini. Lebih lagi penyajiannya sangat menyenangkan dan penuh warna. 👍
Suka banget sama bukunya. Walaupun tebal tapi selesai hanya dalam beberapa hari aja karena emang banyak ilustrasinya. Semacam baca komik, tapi lebih rapi. Pesan yang diceritakan juga sangat relate ke budak perkantoran seperti aku. Mungkin aku nggak dari awal buta tentang apa yang aku mau, tapi perasaan terjebak, lelah fisik dan mental sampai rasanya pekerjaan hanya sekedar rutinitas itu sama banget. Aku sampai berpikir haruskah mengikuti jejak penulis?
Sepertinya harus. Hahaha cocok untuk pegawai kantoran yang juga merasa hidupnya kurang harmoni dan seimbang ya teman-teman.
Ternyata isinya seperti komik full ilustrasi tapi bergenre self improvement. Kalo konten nya sih sebenarnya bukan hal baru ya..
Berisi kisah penulis dalam mencari pekerjaan yg cocok untuk dirinya sendiri dan bisa membuat hidupnya itu berasa work life balance. Dari lulus kuliah lalu kerja kantoran dg gaji tinggi tapi lingkungan kerjanya berasa toxic dan dia gak nyaman akhirnya pindah ke kantor lain namun gajinya lebih sedikit dari kantor pertama tapi lingkungannya oke gak toxic. Namun dia masih merasa gak cocok dan akhirnya liburan ke Bali dan mencari tabib lokal lalu belajar menentukan jalan hidup sendiri yg mungkin berbeda dg orang lain namun dia bagaimana bisa merasakan kebahagiaan dan kenikmatan hidup dari hal itu.
Dalam beberapa hal aku berasa related dg kehidupan penulis disini seperti merasa bingung karena dari awal gak punya cita2 harus jadi ini itu. Hidup cuma ngikuti arus tapi kemudian dipaksa untuk jadi dewasa setelah lulus kuliah, dsb...
Terjemahannya lumayan bagus juga dan ada nama2 dibuat selokal mungkin seperti di halaman pertama yg aku sematkan di slide ke 2 yaitu kata "nama yg umum seperti WATI". Jadi berasa bukan baca buku terjemahan Korea..
Buku ini kurekomendasikan buat yg pengen nambah koleksi buku self improvement Korea 😆 dan juga yg mungkin merasakan hal yg sama seperti penulisnya dan membutuhkan inspirasi untuk memikirkan ulang bertahan di pekerjaan lama atau memilih pekerjaan lain.
Aku baru aja nyelesein baca satu buku yang aku beli minggu lalu. Selain ilustrasi covernya yang imut dan khas banget ilustrasi ala Korea, judul dari buku ini juga bikin aku tertarik buat baca dan tau tentang apa yang ada dalam buku ini. Terlebih, aku merasa kayaknya aku bakalan dapet sesuatu yang ngasih aku inspirasi, hahaha.
Nyimak cerita yang berisi pengalaman di buku ini menurutku sangat menarik. Terutama ketika si penulis menceritakan pengalamannya bekerja di perusahaan besar dengan budaya yang gak masuk akal, bos yang rese, dan pekerjaan yang ternyata gak sesuai minatnya. Sampe akhirnya dia gak betah untuk jadi pegawai kantoran.
Cerita di buku ini makin menarik ketika si penulis udah bener-bener gak betah, lalu resign dari kerjaannya dan pergi ke Bali. Meskipun di sisi lain, dia belum tau minatnya apa dan hal apa yang bener-bener pengen dia lakuin. Tapi pengalaman dia di Bali bikin aku makin asik baca buku ini. Ditambah, adanya penuturan dan gambar yang kocak disajiin dengan pas di buku ini.
Kerja Selain Kantoran bercerita mengenai pengalaman penulisnya dalam mencari pekerjaan yang membuat bahagia. Buku ini menyenangkan untuk dibaca, karena full gambar dan sungguh relate dengan yang dirasakan oleh banyak pekerja kantoran. Yang paling diingat sih part belanja online itu... Ironisnya, kita menghabiskan uang karena capek mencari uang... Meskipun banyak yang relate, sepertinya tidak banyak pekerja kantoran yang berani mengambil langkah seperti penulis sih :)
Sangat perlu dibaca pekerja kantoran yang letih, penat, frustasi. Ada banyak cara memulihkan diri, dan banyak pilihan (beserta konsekuensi nya) pekerjaan di luar sana. Buku ini lebih sesuai disebut komik overpriced yg menggambarkan kehidupan mbak mbak perkantoran metropolitan, dibanding buku pengembangan diri
It gave us the explaination how she find her thing (job), not instantly of course, when she didnt know what she likes and trying to find it. With some drawing it becomes more easy to understand and interesting. For someone who dont really like to read too many sentence, i mean prefer picture book than something like essay or novel, it goods for you
Sering kita temui temen-temen budak korporat disekitar kita. Mereka masuk ke lingkaran setan, setelah lelah bekerja -> hura-hura -> abis duitnya -> sadar dan kerja lagi. Begitu terus sampai meteor jatuh ke ladang gandum dan jadilah kokokranc. 🥣
Buku ini ringan dibaca karena full gambar kayak komik. Banyak hal yg relate untuk kalian yg masih jadi budak korporat. Kerja emang ga selalu kantoran, kalo harus dikantor apa kabar abang-abang ojol? Apa kabar pedagang di pasar sampai dg ibu rumah tangga yg cuma dibayar pahala dan I love you aja?
Baca ini sekali duduk. So cute! Illustrationsnya menarik, cerita-ceritanya sangat relatable! Terjemahannya ada yang disesuaikan dengan Indonesia, pula. (Contoh, nama yang umum: Wati).
Suka banget sama yang lucu-lucu dengan illustrasi gini. Sangat ringan dan menghibur;;
A quick read book, the illustration is simple but eye catching. The story somehow related to me, so i fall for this book. Definitely worth for re reading 😁.
Tebalnya 319 halaman dan terdiri dari 4 bab. Ini #BukuSelfImprovement yang berilustrasi gambar lucu dan berwarna. Kocak juga, terasa baca komik jadi gak ngebosenin.
Saenggang menceritakan perjalanan mencari pekerjaan yang bikin bahagia. Aku pribadi, merasa terwakili dengan problematika di kantor lewat pembahasan di buku ini.
Saenggang yang sejak dibangku sekolah anak yang biasa-biasa saja. Saat ia berkerja, walaupun ia tidak ingin mengerjakan sebagian besar hal yang harus ia lakukan untuk uang, ia bisa sedikit bertahan karena bayarannya. Ditengah sulitnya kehidupan kantor, ia cuma ingin kerja dengan tenang. Yang mereka harapkan dari Saenggang sebenarnya adalah hal-hal yang kurang bisa Saenggang lakukan, tetapi dipaksa harus bisa. Kalau perlu, jilat penanggungjawabnya. Hanya karena harus kompeten. Hingga dia mencari pekerjaan baru sesuai dengan minat dan bakat yang ternyata tidaklah mudah.
5 pesan yang aku dapat setelah membaca kisah Saenggang adalah:
Tentu saja pekerjaan bukanlah seluruh hidup kita karena kehidupan kita meliputi kantor, pulang kerja, akhir pekan dan liburan. P.59
Bekerja adalah hal yang sangat penting. Mencari nafkah tindakan mulia. Tapi itu tidak boleh menjadi keseluruhan hidupmu. Yang terpenting adalah keseimbangan. P. 186
Hal yang paling berharga untuk diri kita adalah diri kita sendiri. Oleh karena itu jangan biarkan waktu berlalu dengan sia-sia. P.192
Di hari ketika tidak ada hal yang membahagiakan atau hari ketika kita tidak berjuang keras pun pasti ada kejadian kecil yang tersimpan di dalam hati. P. 233
Kebiasaan sesederhana apa pun bila dilakukan terus-menerus akan mengakar di kehidupan sehari-hari. Tanpa perlu waktu lama ataupun usaha khusus. Secara alami kebiasaan itu dapat menyeimbangkan hidup. P.269
Setelah baca buku ini aku gak cuma dapat pencerahan tapi juga jadi bikin aku happy.