Puisi-puisi dalam buku ini menjadi semacam percakapan puitik Rieke Diah Pitaloka dan Agus Noor. Dari satu puisi ke puisi lainnya, ada semacam tema yang membuat puisi-puisi itu saling terkait dan terikat. Puisi menjadi ruang untuk saling berbagi, juga menjadi semacam jeda, untuk menikmati kenangan dan hal-hal lainnya.
Maka, puisi-puisi dalam buku ini, seakan berada dalam ketegangan yang mengasyikkan antara mengingat dan membebaskan bermacam pengalaman hidup. Puisi menjadi ambang ketegangan antara menikmati, sekaligus juga berupaya melepas kenangan. Antara mengingat dan melupakan. Antara melupakan dan mengabadikan.
Itulah sebabnya puisi bisa menjadi cara untuk menikmati kenangan dengan baik. Seperti puisi-puisi dalam buku ini.
Rieke Diah Pitaloka Intan Permatasari (lahir di Garut, Jawa Barat, 8 Januari 1974) adalah seorang penulis buku, pembawa acara, pemain sinetron Indonesia, dan aktivis politik.
Setelah menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Sastra Belanda Universitas Indonesia dan S-1 Filsafat STF Driyakara, Jakarta , Rieke pun meneruskan pendidikannya. Meski sibuk dengan segala kegiatan 'keartisan', Rieke berhasil menyelesaikan pendidikan S-2nya di jurusan Filsafat Universitas Indonesia (UI). Bahkan tesisnya yang berjudul Banalitas Kejahatan: Aku yang tak Mengenal Diriku, Telaah Hannah Arendt Perihal Kekerasan Negara dijadikan buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat diterbitkan oleh Galang Press.
Rieke Dyah Pitaloka juga mendirikan sebuah yayasan yang diberi nama "Yayasan Pitaloka" yang bergerak di bidang sastra dan sosial kemasyarakatan.
Kolaborasi yang manis dari Agus Noor-Rieke. Puisi-puisi di buku ini lebih dari percakapan sepasang manusia yang berkelindan dengan wabah, jarak, dan waktu. Banyak bait yang bisa jadi bahan permenungan, atau bahkan obat penunda kesunyian. Dan, ya, ada puluhan ilustrasi yang cukup memikat dan mampu bersenyawa dengan puisi-puisi.
Buku puisi sekali duduk yg saya baca. Bagus bahasanya. Mengenai kenangan dan kehidupan juga kematian. Banyak makna dalam tulisan mereka berdua jika dikombinasikan.
Puisi-puisi dalam buku ini mengandung percakapan puitik antara Agus Noor dan Rieke Diah Pitaloka. Keduanya membicarakan wabah, jarak, cinta, dan waktu dengan intim sekaligus mengajak kita merenungkan kembali tahun-tahun penuh pandemi dan sunyi.
Hidup hanya sekali Sepi yang abadi (Adakah Yang Lebih Mengerikan dari Kematian - Agus Noor)
Aku tahu pasti Penulis tak bisa mati Meski beribukali patah hati Meski berkali dikhianati (Penulis Naskah - Rieke Diah Pitaloka)
Di buku ini juga menyoal tentang (sebenarnya) kematian (tidak seram-seram amat, maut bisa seperti dangdut yang dapat dinikmati meski dengan goyangan-goyangan lembut).
Kata-kata adalah pelukan lembut yang tak takut pada maut (Ninabobo Kata-kata - Agus Noor)
Dari kata ke doa Ada jalan sembuhkan luka (Seribu Tangan Seribu Mata - Rieke Diah Pitaloka)
Selain kata-kata yang manis, puluhan ilustrasi yang memikat dan memiliki keterampilan hidup berdampingan dengan puisi-puisi dalam buku ini juga patut dinikmati dengan baik.