Kucing, Lelaki Tua, dan Penulis yang Keliru, jadi buku kelima dari Abinaya. Buat bocoran, buku ini terdiri dari tujuh belas (17) esai yang ditulis Naya sebagai respon terhadap buku yang telah dia baca, film yang dia tonton, atau isu-isu yang menarik hatinya selama pandemi Covid-19. . . Buku ini, seperti tulisan Naya biasanya, tentu saja bisa dibaca oleh segala rentang usia, mulai dari pembaca muda hingga pembaca dewasa. Dan sudah pasti bakal nyentil plus sedikit nyeleneh buat anak seusianya. Kamu bakal menemukan keseruan sekaligus referensi dari kacamata seorang Naya, mulai perkara celana kulot hingga sampar hitam, soal bauksit hingga kekaisaran, dari masalah sembelit hingga hak perempuan.
Sukaaaaa sekali!!!! Terima kasih Naya sudah beri reflektif tiap bacaannya. Mulai dari bacaan anak-anak hingga yang berbau unsur dewasa. Mulai dari Asian Literature hingga pelosok Latino America. Yassss!!!! Yok!!! Semoga Indonesia bisa jadi salah satu kota Literasi Impian dan tidak hanya tertera Jakarta Smart City di tiap berita~
Aku membaca buku ini untuk Kebab Reading Club bulan Maret dan karena love is blind (LOL) aku nggak cari tahu dulu sebetulnya bukunya tentang apa. Entah aku lihat di mana, kukira buku ini kumpulan cerita pendek, tapi ternyata esai atau mungkin lebih tepat disebut reading journal ya kecuali untuk di dua esai terakhir.
Jadi dalam buku ini, bisa dibilang Naya menuliskan ulasan buku yang sudah dibacanya termasuk kesan-kesan yang didapatnya setelah membaca. Buku-buku yang dibacanya diantaranya karya Arthur Golden, Louisa May Alcott, Jane Austen, Isabel Allende, sampai Gabriel Garcia Marquez (iya Naya ini usianya baru 12 tahun. Cung yang autominder!) Berdasarkan topik yang dibacanya, Naya juga membahas topik feminisme, rasisme, perbudakan, patriarki, pelecehan seksual, perkawinan anak, dan lain-lain isu kehidupan sosial pada umumnya.
Dari isinya sebetulnya tidak ada hal baru yang kudapat dari membaca buku ini. Kebetulan beberapa buku yang Naya baca akupun sudah membacanya dan kesan-kesan yang ditulis Naya tidak banyak jauh berbeda dari kesan para pembaca dewasa lain pada umumnya. Untuk gaya menulisnya, jujur aku tidak tahu harus mengharapkan apa dari esai yang ditulis anak praremaja. Yang jelas, tulisan Naya ini nuansanya dewasa, paling sedikit remaja SMA barangkali ya, sehingga aku tidak memperoleh kesan bahwa aku sedang membaca tulisan anak-anak.
"..buku ini bisa dibaca anak-anak mulai dari kelas lima sekolah dasar. Mungkin beberapa anak akan bilang kalau buku ini terlalu berat. Apalagi tebal dan tanpa ilustrasi. Tapi itu tergantung seberapa luas pengetahuan pembacanya sih!" -kesan Naya terhadap buku Tahun Penuh Gulma karya Siddharta Sarma.
Kucing, Lelaki Tua, dan Penulis yang Keliru • Abinaya Ghina Jamela • Gorga • 2021 • 162 hlm.
Apa yang terlintas dalam benakmu ketika membaca judul buku ini? Lalu, apa yang terbayang olehmu saat melihat gambar sampul buku ini? Desain sampul yang unik--selain nama penulis, tentunya--telah menggodaku untuk memiliki dan membaca buku ini. Sepintas melihat ilustrasi pada sampul buku ini, kukira ini merupakan novel. Ternyata, aku terkecoh olehnya.
Aku mengenal Naya lewat buku-buku yang dituliskannya sewaktu cilik. Jatuh cinta akan kepolosan dan kelugasan tiap tulisannya, membuatku mengoleksi buku hasil karyanya. Sungguh keren anak gadis ini! Sampai saat ini, ia telah menerbitkan lima buah buku dengan genre dan bentuk yang berbeda: kumpus, kumcer, novel, dan esai.
Buku ini sendiri merupakan kumpulan esai ulasan Naya akan buku yang dibaca atau film yang ia tonton. Resensi yang ditulis Naya bukan sembarang ulasan. Ulasan Naya selalu lebih dalam dibandingkan ulasan yang pernah kubaca. Ia tidak hanya mampu sekadar menceritakan kembali sinopsis buku atau pengalamannya usai membaca. Ia selalu melengkapinya dengan pemikiran dan pandangannya soal isi buku yang dikaitkan dengan kondisi di sekitarnya saat ini. Isu yang diangkatnya pun cukup variatif, mulai dari isu sosial, feminisme, politik, dsb.
Bisa kubilang, tiap judul tulisan Naya sarat akan argumentasi yang diselipi kritikan di sana-sini yang lugas. Memang begitulah ciri khas Naya: lugas dan bernas! Argumentasi yang ia sampaikan jua bukan sembarang ucap. Apa yang ia kemukakan merupakan hasil risetnya, entah riset soal karya lain sang penulis, karya penulis lain dengan tema yang sama dengan buku yang tengah dibacanya, atau karya penulis lain yang seera.
Aku dapat menangkap betapa cerdasnya anak ini hanya lewat rangkaian katanya. Dalam hati bertanya-tanya apa saja yang dilakukannya atau apa saja yang dilakukan orang tuanya selama membimbingnya. Sst, Naya membocorkan beberapa kegiatannya bersama Bunda dan Om di buku ini, lo. Terlepas dari beberapa saltik--terutama peletakan tanda hubung di tengah baris yang mengganggu keseruan membacaku--yang kutemukan, aku tetap merekomendasikan buku ini, terutama bagi kamu yang senang membaca dan meresensi buku.
Buku bisa menyesatkan dan membunuh jika kamu tidak berhati-hati. Buku-buku yang kamu baca bukan segala-galanya. Buku itu tidak selalu bisa menyelesaikan masalahmu. Kamu juga harus memperhatikan fenomena alam sekitarmu.
Literasi itu seharusnya bisa bikin anak-anak menjadi lebih kreatif, lebih berani, lebih kritis, bisa mandiri. Bukan cuma baca buku, baca buku lagi dan baca buku terus.
Membaca dua petikan di atas nukilan oleh penulis berusia 12 tahun ini sudah boleh memberikan gambaran bagaimana resensi buku, movie dan perkara yang berlaku sekitar penulis diabadikan di dalam 17 buah cerpen oleh penulis.
Membaca semua 17 cerita di dalam buku ini membuatkan den rasa resensi yang pernah den buat selama ini dalam kategori hmmmm😅.
Penulis juga membuat semakan dan rujukan silang dengan buku-buku dan sumber lain bagi mendapatkan maklumat yang lebih terperinci dan tepat bagi sesuatu perkara yang sedang beliau baca dan berhasrat untuk ulas.
Penulis mengaitkan intipati buku dengan keadaan yang berlaku di sekelilingnya atau perkara yang pernah beliau baca seperti: ✅kebobrokan ahli politik yang tidak pernah pedulikan nasib rakyat ✅sifat empati haiwan yang lebih tinggi daripada manusia ✅kenapa manusia suka 'menjadi Tuhan' menghakimi orang lain ✅perempuan yang masih dinilai melalui kecantikannya ✅hak-hak perempuan pada 1800an ketimbang sekarang ✅kelaparan menyebabkan manusia melakukan apa sahaja untuk bertahan hidup ✅kenapa Indonesia masih tidak memaafkan Jepun kerana jugun ianfu ✅penceritaan daripada sudut pandang berbeza ✅isu hamba di zaman dulu dan sekarang ✅tanah air dirampas dari pribumi orang asal di USA ✅rasis pada era Hitler vs apa yang berlaku di Papua ✅orang miskin tidak boleh jatuh sakit, tidak boleh berbuat salah, kadang-kadang tidak buat salah tetap ditangkap dan dihukum, dsb ✅persamaan dan perbezaan movie Finding Fanny dan Piku, dsb
Bukan sahaja buku-buku bacaan penulis cilik ini buku-buku klasik, berat, dsb. Kebanyakannya den tidak pernah tahu atau pernah dengar tapi tida pernah membacanya macam buku: ✅Kisah Seekor Camar dan Kucing yang Mengajarnya oleh Luis Sepúlveda ✅The Little Women oleh Louisa May Alcott ✅Snow Flower oleh Lisa Lee ✅The Big Breasts and Wide Hips oleh Mo Yan ✅House of Earth oleh Pearl S. Buck (menang hadiah Nobel dan Pulitzer) ✅East of Eden oleh John Steinbeck ✅City of the Beasts oleh Isabel Allende ✅Tahun Penuh Gulma ✅Uncle Tom's Cabin oleh Harriet Beecher Stowe ✅Fortunately The Milk oleh Neil Gaiman ✅Anne of Green Gables oleh Lucy Montgomery
Bagi buku yang nipis ini, pengolahan resensi setiap buku dan movie yang dipilih akan membuatkan sesetengah pembaca akan terasa seperti hendak membaca beberapa buku yang tersenarai untuk mengetahui adakah memang sebegitu jalan ceritanya, dsb.
Den kena cari buku tentang Permaisuri Tzu Hsi (Yehonala) sebab hanya pernah membaca buku The Last Empress. Tetapi menurut penulis, novel Empress Orchid oleh Anchee Min dan Maharani oleh Pearl S. Buck menceritakan sisi yang berbeza tentang Permaisuri ini.
Sejujurnya selepas membaca buku ini, den terfikir bagaimana caranya hendak membuat resensi buku yang lebih kritis dan kreatif kalau bisa membaca pun udah mujur benar rasanya😅
This entire review has been hidden because of spoilers.
Tulisan Naya dalam buku ini membuka wawasan saya. Belajar itu gak hanya dari orang yang lebih tua atau rekan seusia ya. Saya belajar dari Naya yang lebih muda dari saya. Iri saya pada wawasan dan kebiasaan membacanya Naya. Saya saat seusia Naya masih ngawang-ngawang rasanya dan memiliki berbagai kedangkalan dalam berpikir yang saya sesalkan saat ini. Eh kenapa saya jadi curhat ya dan membandingkan pencapaian padahal tau tiap orang memiliki jalannya masing-masing dalam menempuh hidup menjadi apa yang dimaui. Buku-buku rekomendasi Naya yang belum saya baca cukup banyak ya dan ada yang membuat saya penasaran juga sudah tahu judul dan pengarangnya tapi belum meluangkan waktu untuk membacanya. Mungkin yang sama2 pernah dibaca hanya beberapa macam Matilda & Little Women. Coba buku lain juga ya nanti.
Buku ini bukan untukku. Kumpulan esai yang ditulis Naya sangat resourceful dengan mengambil banyak referensi untuk mem-back up argumennya. Sayangnya, Naya terlihat fokus pada upaya mengkritisi aspek-aspek sosial dan hanya memberikan sedikit solusi. Ini membuat esai-esainya memiliki kesan yang immature. Sesekali aku juga menemukan beberapa kalimat yang menyudutkan dengan nuansa judgmental yang ditujukan kepada beberapa pihak.
Meskipun demikian, pemikiran kritis Naya dan keberaniannya mengungkapkan pendapat perlu diacungi jempol, mengingat umurnya yang masih belia. Aku nggak sabar untuk melihat bagaimana Naya akan tumbuh ke depannya dan juga karya-karyanya yang, aku yakin, akan semakin matang!
Saya baca buku ini untuk ajaran bahasa Indonesia di sekolah saya dulu. Bukunya sangat bagus dan menurut saya buku ini memang pantas di baca bagi anak muda. Selain dari mendapat banyak ilmu baru sehabis membacanya, saya juga belajar beberapa kosa kata yang saya yakin anak-anak lain juga dapat. buku ini berbahasa ringan, jadi anak2 dapat memahaminya bersamaan dgn mendapat ilmu baru serta membaca isi pikiran kritis kak Abinaya.
Buku ini berisi kumpulan esai Naya tentang berbagai buku yang sudah dibaca olehnya. Setelah baca buku ini, saya jadi penasaran ingin baca buku-bukunya Isabel Allende dan Pearl S. Buck yang direview oleh Naya.