Aline dan Alex saling percaya bahwa mereka akan selalu bersama. Namun, keyakinan itu memudar seiring lebarnya jarak yang memisahkan mereka. Alex pergi ke Kota Terik demi mengejar kesempatan sebagai dokter yang sesuai standard keluarga besarnya. Aline mempertahankan ambisi untuk mengurus Panti Jompo J&J di Kota Teduh.
Saat mendapatkan promosi, Alex mengajak Aline untuk menikah dan pindah ke Kota Terik. Aline menolak. Sejak awal, gadis itu sudah menegaskan tak akan meninggalkan panti. Mimpi-mimpi mereka tidak lagi bertemu di satu tujuan. Setelah empat tahun menjalani hubungan jarak jauh, mereka berpisah.
Mereka pun berusaha menjalin kehidupan baru bersama orang lain. Alex merasa Vanesa jawaban dari kemapanan yang ia perjuangkan. Sementara Aline merasa Rama akan mengerti keterikatan batinnya dengan panti.
Tiba-tiba Aline dan Alex harus bertemu kembali. Meski berhadap-hadapan, jarak antara mereka terasa tak kunjung menyempit.
Perasaan saya campur aduk saat membaca buku ini, begitu juga dengan penilaian saya. Ide cerita yang diusung penulis sangatlah menarik: bercerita tentang Aline yang gigih mengejar cita-citanya dan memperjuangkan prinsipnya di tengah kemelut hubungan percintaannya dengan sang pacar, Alex, yang berada dalam status LDR. Keduanya bersikeras mempertahankan opini masing-masing dan memperjuangkan cita-cita mereka. Salah satu harus mengalah. Karena tak ada yang mau mengalah, kandaslah hubungan mereka yang berlangsung sudah cukup lama.
Di buku ini ada nilai-nilai sedikit tabu yang sudah mendarah daging di masyarakat kita yang diselipkan penulis dengan apik. Misalnya saja tentang perempuan yang harus selalu mengalah, harus selalu ikut suami, harus menjaga anak, harus lembut dan lain sebagainya. Intinya ada banyak isu sosial yang dibahas di buku ini dan saya suka.
Tetapi ada bagian-bagian yang sedikit mengganggu saya, misalnya saja tentang tokoh yang hitam dan putih. Vanesa digambarkan manja, tidak sabaran, dsb, sementara Aline di sini sangat malaikat, sangat baik. Cacatnya nyaris tidak ada. Padahal, andai saja ditonjolkan lebih banyak lagi tentang Vanesa berikut masa lalunya yang membuat dia jadi seperti itu, pasti lebih greget. Begitu juga tentang tokoh Rama yang muncul cuma sekilas dan sepertinya asal saja, mau nikah tapi pemikirannya masih sangat dangkal. Nggak cocok dengan satu hal, langsung minta putus. Percakapan di sini masih agak kaku untuk novel bergaya Indonesia (bukan bergaya terjemahan).
Beberapa tokoh minta dijitak seperti Alex sendiri dan keluarganya. Beberapa orang yang memang saya rasa ada di dunia nyata, yang seakan minta dibalas budinya oleh si anak yang notabene tidak minta dilahirkan di dunia. Pendapat saya memang tajaaam ya, ini opini saya sih. Saya sendiri memutuskan punya anak bukan buat sandaran hari tua. Meski saya belum tua, saya ingin nantinya nggak menyusahkan anak, apalagi menyalahkan kalau mereka nanti nggak bisa urus saya dan merawat saya seperti saya merawat mereka (dengan ala kadarnya) XD
Buku ini bagus, tapi akan pakai banget andai saja tokohnya nggak terbagi dua dengan begitu gamblang hitam dan putihnya. Ada banyak orang abu-abu di dunia ini, termasuk saya. Plus dibuat lebih tebal lagi biar lebih mantap nih.
Menjadi orang pertam yang rate dan review novel ini adalah kebanggaan tersendiri.
Novel ini dengan mudahnya membuat saya memberikan bintang lima. Dari segi cerita dan penulis meramu ceritanya benar-benar tepat. Belum lagi dibungkus sampul yang cantik banget.
Saya selalu lemah dengan sebuah novel yang memberikan sudut pandang baru dan membuat aware akan sesuatu. Saya sangat menikmati segala isi ceritanya. Dialog dan suasana hangat dalam cerita. Semuanya saya suka.
Penokohannya juga sempurna karena ketidaksempurnaan para tokoh. Sekilas mungkin Aline terasa seperti malaikat, tetapi segala keraguan yang dimiliki membuatnya manusiawi. Begitu juga Alex yang mungkin terlihat sebagai suami idaman, tetapi ada hal-hal yang membuatnya tidak sempurna. Tidak hanya tokoh utamanya, saya bisa menyelami tokoh-tokoh sekitarnya. Vanesa, saya bisa merasa simpati terhadap dia.
Suka. Suka sekali. Penulis bisa menyampaikan pesan ke pembaca dengan baik tanpa terkesan menggurui. Lebih seperti mendengar kawan terdekat bercerita.
Terutama, bagian akhirnya. Saya suka sekali. Saya bisa menutup buku novel ini dengan perasaan yang puas.
Hal pertama yang pengin kubahas tuh premisnya. Aku suka banget sama premisnya. Sebuah ide sederhana yang dikembangkan jadi ide yang bagus banget. Aku juga suka sama konsep dongeng yang ada di novel ini. Karakternya juga aku suka. Latarnya juga aku suka. Konflik dan plotnya juga aku suka. Iya, aku suka semuaaa.
Aku nggak mau reviu panjang-panjang, tapi yang jelas novel ini bikin aku berempati. Aku suka sama perjuangan Aline, tekadnya yang kuat bikin karakter dia tergambarkan dengan jelas. Aku kurang suka sama karakter Alex, tapi kuakui pengambarannya bagus dan aku paham sama tindakan-tindakan yang dia ambil karena ada alasan jelasnya, karena ada sesuatu dalam dirinya, karena ada latar belakang yang kuat.
Aku suka juga sama interaksi para tokohnya. Solid banget. Aku ngerasa ada kehangatan yang keluar dari interaksi-interaksi tokohnya pas di panti. Entah kenapa kejadian-kejadian gokil dan sedih di sana tuh tergambarkan dengan jelas di kepalaku. Aku suka juga sama karakter kakek-kakek dan nenek-nenek di sana. Suka sama adegan pas mereka berantem wkwk. Dan, yang bikin terharu tuh keputusan-keputusan para relawan panti. Jadi berasa lihat mereka langsung.
Di novel ini juga ada banyak banget amanatnya. Dan kalau ada yang ngomong novel tuh cuma bacaan yang nggak ada pelajarannya, omongan itu langsung bisa dipatahin banget sama novel ini. Terus meski akhir cerita novel ini tuh open ending, aku tetep suka karena aku merasa hal-hal yang udah terjadi di novel ini udah bisa kita simpulin secara pribadi, dan ini juga ada hubungannya sama amanat ceritanya.
Yang jelas aku suka banget sama novel ini. Mataku sampe berkaca-kaca wkwk. Dan kalau kalian mau baca novel ini, kusaranin baca pas lagi kondisi tenang. Baca aja di kamar pas lagi sendirian, jangan di tempat rame karena sensasinya bakal berkurang.
Aku sangat merekomendasikan novel ini untuk kalian baca. Sebenernya ada hal-hal yang pengin kujelasin lagi, tapi kayaknya nggak bakal cukup dan mending kalian baca sendiri. Aku juga belajar banyak dari novel ini buat revisi naskah TVW.
Aline harus berpisah dengan Alex karena prinsip mereka mendadak berbeda. Keteguhan Aline mengurus Panti Jompo J&J di Kota Teduh membuatnya tidak bisa lagi berhubungan dengan Alex yang memilih bertahan di Kota Terik sebagai dokter. Saat keduanya berjauhan, di situlah keteguhan hati masing2 diuji.
Let's say, Kota Terik ini seperti metropolitan yang banyak menawarkan berbagai pilihan karier serta bayaran yang tinggi. Alex jelas merasa hidupnya lebih terjamin di sana, ketimbang saat ia berpraktik di Kota Teduh. Apalagi karena tuntutan keluarga, mau tidak mau harus menurut. Sempat kesal dengan keputusan Alex yang bisa dibilang ingkar janji sama Aline. Dia nggak tegas memutuskan pilihannya sendiri dan ketika menjalin hubungan baru malah menimbulkan luka bagi pasangan barunya.
Bukunya banyak berisi kalimat2 cantik dan mengena yang bakal bikin pembaca pencinta mark langsung rela menghabiskan mark warna tertentunya. Nama2 babnya cantik, banget. Nggak biasanya nemu nama bab satu kalimat begitu, bukan satu atau dua kata.
Menurutku buku ini heartwarming. Fokusnya pun ke makna (baik tersirat maupun tersurat) LDR, jauh, dan pulang. "Semoga semua yang pergi selalu menemukan jalan pulangnya kembali" yah, kira2 pas banget kutipan kalimat terakhirnya.
Agak jengkel dengan Aline dan prinsip kerasnya. Aku tahu, dia tegas, tau mana yang dia mau dan enggak, mana yang mau dia perjuangkan serta apa yang akan dia lakukan di masa depan, tapi dia juga keras kepala dan egois. Ada satu kalimat yang langsung menohok dan bikin penilaianku padanya menurun. Waktu dia bilang ke Rama dia nggak mau jadi pihak yang mengalah dengan meninggalkan panti jompo. Yeah, aku nggak bisa spill kalimatnya terlalu banyak, tapi ngerasa dia ini agak2 egois. Lalu, ketika ditanya apa dia lebih milih keluarga daripada panti jompo ketika sudah menikah nanti, jawabannya lagi2 enggak. Dia tetap milih panti. I know, tujuannya mulia, tapi kenapa jawabannya seolah dia udah terobsesi sama panti, ya?
Banyak isu yang disisipkan di sini, soal inner child yang terluka, tuntutan orang tua, belum bisa move on, orang tua yang banyak ditelantarkan anak, dan lain2. Bahasanya pun campuran antara baku dan enggak. Jujur, di poin ini agak kurang nyaman karena kesannya aneh aja. Latarnya pun sepertinya bikinan karena aku nggak bisa nebak di mana letak Kota Terik dan Kota Teduh.
Buat yang suka novel romansa dengan tema hubungan jarak jauh dan urusan hati yang belum selesai, bisa coba baca ini.
Ps: Terima kasin untuk penulis atas kesempatannya. Glad to read and knew kisah Aline & Alex.
Aline dan Panti Jompo J&J bagaikan dua hal yang tak dapat dipisahkan. Aline rela menunggu Alex mengejar impiannya menjadi dokter di Kota Terik, sementara dirinya tetap pada impiannya untuk mengabdi di panti tersebut. Bahkan ketika Alex memilih menetap di Kota Terik, berharap Aline akan mengikuti dirinya, Aline memilih melepaskan Alex. Panti Jompo J&J adalah harga mati bagi Aline yang tak dapat ditawar oleh siapapun.
Banyak yang menganggap Aline tidak waras, karena berusaha mati-matian merawat para lansia yang bukan keluarganya. Aline bahkan bersusah payah mencari donatur untuk panti. Sementara itu, di Kota Terik Alex mencoba membuka hatinya kepada wanita lain. Meski Alex sebenarnya masih menyimpan bayangan Aline di sudut hatinya.
Ada banyak hal yang menarik dalam novel ini. Pemilihan tema panti jompo saja sudah unik, ditambah keteguhan hati Aline. Suasana ddi dalam panti jompo, keakraban para relawan juga menjadi cerita yang menarik.
Hal lain adalah tentang hubungan antara anak dan orang tua. Ada tiga keluarga dengan karakter berbeda. Ayah dan Ibunya Aline yang dengan ikhlas merawat kedua orangtuanya membuat Aline merasakan sendiri kehangatan dalam keluarga. Kedua orang tua Aline juga memberikan kebebasan kepada Aline untuk memilih jalan hidupnya. Lalu ada orang tua Alex (yang mewakili gambaran umum orang tua), ingin anaknya berhasil, mapan, meski harus pergi merantau jauh. Kesuksesan karir adalah citra baik untuk keluarga. Alex sebagai anak yang berbakti memilih membahagiakan orangtuanya dengan menuruti kemauan orangtuanya. Tidak salah, tapi Alex merasa ada yang kosong dalam perjalanan hidupnya. Terakhir ada Vanessa, yang merasa orangtuanya selalu membanding-bandingkannya dengan saudaranya. Ketika orangtuanya memilih menikmati menemani adiknya di luar negeri, Vanessa juga merasakan kekosongan.
Hubungan Aline dan batnya juga membuahkan pelajaran. Ada Ning, teman sesama perawat yang juga anak pemilik rumah sakit tempat Aline pernah bekerja. Kematangan cara berpikir serta latar belakang pendidikan Ning membantu Aline memutuskan masa depannya. Ada juga Tami, sahabat masa kecil Aline, yang lebih memilih menjalani hidup apa adanya, selama ada yang mencintai dirinya. Kedua sahabat Aline ini mengajarkan untuk tidak mengukurkan diri sendiri dalam hidup yang dijalani orang lain.
Sisipan dongeng pada akhir setiap musim juga menambah keseruan novel ini. Dongeng yang sarat makna, bikin mikir setelah membacanya.
Love it!!! Ceritanya cukup heartwarming dan banyak quotes yang bagus dan relate dengan kehidupan tapi menurutku banyak part yang terlalu cepat kayak hubungan Vanesa-Alex yang terlalu cepat taunya udah jadian aja terus hubungan Rama-Aline juga terlalu cepat dan penyelesaiannya juga gitu aja kayak emang Vanesa dan Rama ada di cerita ini tujuannya cuma buat bumbu drama aja antara Aline dan Alex.
Karakter Aline emang strong woman yah dibuku ini juga selipin some women's power and that's good tapi menurutku sometimes Aline juga lebih ke keras kepala dengan prinsipnya and i love the character development from Vanesa and she really deserve so much better tapi pilihan dia udah paling bagus bcs nobody want to comparing with someone else in her whole life.
Akhirnya open ending but i felt goosebumps waktu Alex bilang "aku mau pulang", "kerumah, ke Aline" and i believe they would end up together.
"Begitu banyak hal dalam hidup yang diinginkan terjadi pada suatu waktu yang kita prediksi, tapi nyatanya tidak terjadi. Kemudian hal itu tiba-tiba justru terjadi saat kita kira sudah tidak mungkin lagi."
Seperti judulnya, novel ini menceritakan tentang sepasang kekasih yang terpaksa harus berhubungan jarak jauh alias LDR.
Ada Aline, seorang perawat yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya dan berjiwa sosial tinggi. Ia menjalin LDR dengan Alex, dokter yang bekerja di sebuah RS internasional di luar kota. Meski terpisahkan jarak, komunikasi mereka tetap terjalin dengan baik. Di sela-sela kesibukan masing-masing, mereka tetap meluangkan waktu untuk saling bertanya kabar.
Saat hubungan mereka menginjak empat tahun, konflik pun muncul. Intinya, perbedaan mimpi dan rencana hidup mereka tak menemukan titik temu. Mereka terpaksa berpisah dan berusaha kembali menjalani kehidupan masing-masing.
Baik Aline maupun Alex, kemudian menemukan tambatan hati baru. Namun, masalah tak selesai di situ. Masing-masing mempertanyakan kembali pilihan yang tengah dijalani, apakah sudah sesuai kehendak hati?
Aku kagum dengan Aline yang berpegang teguh pada prinsipnya dan tak pantang menyerah mewujudkan mimpi. Setelah berjuang beberapa tahun, ia sukses mengembangkan panti J&J dengan lebih baik. Panti jompo tersebut semakin terkenal melalui kanal YouTube dan siaran televisi. Semakin banyak pula para pihak yang tergugah hati untuk memberikan bantuan.
"Saat-Saat Jauh" terbagi dalam empat bab, yakni: Summer, Autumn, Winter dan Spring. Menggunakan POV 3 dengan alur maju-mundur, gaya bahasanya ringan dan mudah dipahami. Suka banget dengan latar panti jompo dan kepedulian sosial yang diangkat penulis. Sayang, profesi Alex sebagai dokter menurutku kurang dieksplor.
Novel ini mengajarkanku tentang pentingnya menyamakan prinsip dengan pasangan, dan perlunya ketegasan dari diri sendiri untuk mengambil keputusan.
Aku seakan masuk ke dalam cerita ini, ngerasain sedih, kesel, bangga sama Aline. Penggambaran Aline yang bisa dibilang sempurna tapi juga ada sesuatu yang buktiin kalau Aline juga ngga sempurna, dia juga manusia. Di novel ini banyak banget pesan yang bisa diambil. Ketulusan para relawan, dan berbedanya isi pikiran manusia yang bisa timbul dari lingkungan, pola asuh, pendidikan, pengalaman dan masih banyak lainnya.
"Mau pergi sejauh manapun... pergilah. Bahkan jika harus mengelilingi seluruh alam semesta ini, pergilah. Tapi, jangan lupa pulang" -Aline
heart warming parah. bisa-bisanya novel sebagus ini jarang yang tau. alurnya maju mundur, dari awal baca udah dibikin berlarut sama situasinya. sayang endingnya digantung, tapi gue percaya Alex akhirnya sadar bahwa Aline satu-satunya arah untuk pulang.
“Satu-satunya yang konsisten adalah perubahan. Hari ini bisa aja kamu bilang A, tapi belum tahu esok hari masih sama. Bisa jadi kamu bilang D. Jadi jika suatu hari nanti kamu berubah pikiran bukan berarti kamu ‘menjilat ludah sendiri’ atau nggak konsisten. Seperti itulah pikiran manusia. Nggak ada yang tetap, berubah-ubah sesuai situasi, atau kondisi, dan pengetahuan.”
“Nggak ada anak yang harus balas jasa atau utang budi pada orang tua. Orang tua juga nggak bisa semena-mena minta balasan kasih sayang pada anak.”
“Masa lalu memang seperti itu. Sedikit kejam. Punya momen-momen tersendiri untuk membayangimu, lalu mengingatkanmu pada waktu yang kurang tepat.”
“Ada kalanya hidup memiliki irama sendiri yang tak beriringan dengan langkah kaki dan kehendak hati. Sehingga saat memilih rute perjalanan, kita hanya bisa berharap bahwa itu jalur yang benar. Begitu banyak hal dalam hidup yang diinginkan terjadi pada suatu waktu yang kita prediksi, tapi nyatanya tidak terjadi. Kemudian tiba-tiba hal itu justru terjadi saat kita kira sudah tidak mungkin lagi.”
Selesaiii dan suka. Walau di awal aku merasa datar banget ceritanya. Tapi lama-lama bikin aku terhanyut juga. Tema yang di pilih penulis cukup menarik. Tidak hanya kisah romansa, tapi ada juga tentang keluarga, pertemanan dan juga sosial. Konfliknya juga menarik, tidak terkesan menye-menye di romansanya. Konflik di kehidupan keluarga pun juga relate banget sama kehidupan nyata.
Untuk karakter tokohnya, aku suka dengan Aline. Mungkin bagi sebagian orang, Aline terlihat egois. Tapi bagiku pribadi, Aline orang yang mampu menentukan pilihan hidupnya sendiri. Aku juga suka dengan orang tua Aline, suka dengan cara berpikirnya.
Dan untuk karakter yang lain, aku juga suka. Mereka punya porsi yang pas sesuai dengan peran mereka. Terakhir yang paling aku suka dalam novel ini, banyak banget pelajaran/nasihat yang bisa diambil. Jujur aja, beberapa bagian ada yang relate banget sama kehidupanku.
So, buat kalian yang penasaran dengan kisah Aline, kuy lah baca novel ‘Saat-saat jauh’ karya Mbak Seplia ini.
Cinta nggak selalu bisa menyelamatkan impian. Tapi sebaliknya, impian bisa membuat jalan untuk cinta itu sendiri.
"Jika suatu hari nanti kamu berubah pikiran bukan berarti kamu 'menjilat ludah sendiri' atau nggak konsisten. Seperti itulah pikiran manusia. Nggak ada yang tetap, berubah-ubah sesuai situasi, atau kondisi, dan pengetahuannya."
Di awal cerita disuguhkan dengan Aline yang menangis karena diputuskan Alex. Aku langsung oke, pasti 'life after break-up'. Tapi ternyata salah, bukan hanya itu saja.
Tadinya mereka memang menjalin hubungan jarak jauh. Namun, Alex merasa kota tempatnya bekerja jauh lebih baik dibanding kota kelahirannya maka dari itu dia mengajak Aline. Sedangkan, Aline tidak mau meninggalkan pekerjaannya mengurus panti.
Mereka berdua keras kepala. Namun, karena sesama perempuan pendapat Aline menurutku lebih masuk diakal dibanding Alex yang berpendapat kalau pihak perempuan lah yang harus mengalah. Jadi, Alex lebih memilih gengsi kedua orangtuanya. Tentang pacar baru mereka juga tak kalah bikin emosi.
Kesampingkan hubungan dua karakter utama. Aku salut banget dengan para pengurus Panti Jompo J&J. Apalagi ketika panti mengalami krisis keuangan. Mereka terus berusaha agar panti bisa tetap beroperasi. Buat para pengurus panti di luar sana, semangat ya!
Untuk ending, gantung sekali walaupun beberapa masalah sudah terselesaikan.
Suka dengan ide dan tema cerita yang diangkat. Tentang LDR, janji yang "seharusnya" ditepati, alasan terjadinya sebuah pernikahan dan masih banyak lagi isu yang di angkat dari novel. Untuk alurnya aku suka, walaupun ada beberapa bagian yang agak terasa lambat dan tiba-tiba uda gitu aja. Terus pada bagian pergantian dari masa lalu ke masa sekarang aku sedikit bingung pada awalnya. Karena pembedanya cuma di size hurufnya aja (ntah karena aku bacanya via GD makanya mungkin sizenya agak beda. Ntah deh kalau di buku gimana)
Dari kisah Alin dan Alex aku belajar tentang banyak hal perihal sebuah hubungan LDR dan janji2 yang sempat diucapkan. Dan dalam sebuah hubungan kita pun nggak bisa menjudge seseorang akan keputusannya ttg sebuah hubungan. Karna mereka yg jalanin, ya terserah mereka mau gimana. Seperti halnya pernikahan. Ada orang yang sebelum menikah sudah membahas perihal janji pranikah, dan ada yang tidak mempermasalahkan hal tersebut. Semuanya kembali ke mereka yg menjalani hubungan. Karena pikiran orang berbeda. Apalaagi cinta dan impian bukan sesuatu yang bisa disandingkan.
tw, aku baca buku ini cuma sehari doang, nggak nyampe seharipun dh kelar. Asli dibikin pensaran sih sama ending dan akan berakhir sama siapa kedua tokoh utamanya.
Kamu tidak ingin mengecewakan orang lain, tapi malah mengecewakan diri sendiri. Kamu ingin membahagiakan orang lain, tapi diri sendiri tidak bahagia. Itulah orang paling malang di dunia.
Jangan mati demi mematuhi aturan yang kata dunia harus kamu penuhi.
Setuju banget sama penggalan diatas. Saya g tau deh ada dihalaman berapa, baca di gradig kok g ada halaman.
Awal baca tertarik krn cerita nya ttg panti jompo. Suka dengan karakter Aline. Suka dgn suasana panti Jompo J&J.. Kehangatan para penghuni dan karyawan nya terasa banget. Saya memahami putusan pisah Aline dan Alex mgk krn sama2 masih muda sama2 masih butuh pengakuan dr lingkungan. Tapi setelah beberapa tahun berlalu Aline mengambil putusan yg sama pada Rama kok Saya jadi pengen ngejewer ginjalnya Aline. Masak iya setelah menikah akan tetap menomor satukan panti timbang suami dan anak2nya. Cerita ini selang seling beralur maju mundur. Saya hampir kecewa dgn Alex krn ngaku g punya pacar sama Vannes.. Eh ternyata alurnya udah maju lagi. Saya kok berharap endingnya Alex Vannes dan Aline Rama. Saya sependapat kalo udah putus ya putus aja deh, mulai dengan yg baru lebih bagus. Bulan Januari ini saya hanya membaca karya2 Lia Seplia saja, 😉
Cerita tentang panti jomponya bikin terharu banget. Aku juga tertarik sama nama kota di buku ini, kota teduh dan kota terik, lucu banget. Tapi sayangnya, bagiku beberapa bagian di cerita ini, tidak digali dengan baik, sehingga ketika aku baca, aku tidak mendapatkan feel yang (mungkin) diharapkan oleh penulis untuk sampai ke pembaca. Seperti misalnya kedekatan Alex sama Vanessa, kayak tiba-tiba aku sudah membaca bagian Vanessa menginap di rumah Alex, padahal aku belum merasakan momentum ketika mereka PDKT. Sama halnya dengan pendekatan Rama sama Aline, kayak belum dijelaskan detail bagaimana mereka PDKT, tiba-tiba sudah ditembak. Terus, masalahnya Linda yang sering diledek sama relawan lain karena mau pergi, aku sih merasa bagian itu juga kurang dijelaskan, sehingga agak aneh karena dia diledek seperti itu, sementara tidak ada scene yang menjelaskan detail kejadian itu. Sama penyebab Vanessa keras ke orang lain juga aku penasaran dengan alasannya.
Entah kenapa, saya merasa alur cerita ini seperti datar-datar saja. Seolah nggak ada klimaks. Percakapan yang terbentuk tak membuat karakter-karakter di dalamnya hidup, kayak lagi dengerin audio book dengan satu suara yang sama di semua dialog dan narasi.
Namun, ide dalam cerita ini sangat menarik. Beberapa bagian membuat saya mendung dan bergemuruh. Menyadarkan, menggugah, dan yang pasti bikin sedih.
Memang, jika berurusan dengan orang tua, saya nggak akan kuat. Pasti gerimis di mata.
Untuk kali ini, Metropop nggak membuatku halu. Kisah cintanya nggak berapi-api. Nggak ada adegan uwu dan manis-manis menggemaskan. Pun dengan akhir yang seolah dibiarkan terbuka, padahal ada jawaban pastinya. Alex kembali pada Aline. Tapi, ah, ini hanya masalah selera. Kali ini, Metropopnya tak seperti yang kuduga.
Suka banget 🤍. Romansa nya nggak terlalu pekat, tapi sangat menyentuh. Isinya tuh bukan cuma seputar hubungan Aline dan Alex doang, tapi juga hubungan orang orang di sekitar mereka. Harus aku akui, aku juga respek sama karakter Vanesa di sini, hehe. Kayaknya nggak ada karakter yang nggak aku suka, deh. Novel ini nih tipe aku banget. Konflik tetep ada, tapi bawaannya adem gitu. Sambil baca, kadang aku suka ikut bayangin suasana panti jompo J&J.
Endingnya juga aku demeenn banget. Bisa dibilang sebagai Open Ending, sih. Tapi, setiap pembaca pasti bisa menyimpulkan dengan sendirinya, kok, gimana kelanjutan dari hubungan Aline dan Alex setelah baca sampai akhir.
Bintang 5 untuk novel Kak Lia yang satu ini. Sederhana tapi buat siapapun yang baca ikut terenyuh 🥰
Bercerita tentang Alien dan Alex sepasang kekasih yang menjalani hubungan jarak jauh dan lebih memilih mempertahankan impian masing² dibandingkan hubungan mereka sendiri.
❝Cinta nggak selalu bisa menyelamatkan impian. Tapi sebaliknya, impian bisa membuat jalan untuk cinta itu sendiri.❞ —hlm. 22
❝Ada yang bilang, kalau impianmu nggak membuatmu takut, itu berarti impianmu nggak cukup besar.❞ —hlm. 87
❝Kamu nggak bisa mengganti atau menggusur sosok lama dihati pasanganmu. Yang bisa kamu lakukan adalah membuat tempatmu sendiri sehingga tempat sosok lama hilang dengan sendiri.❞ —hlm. 250
"Hal tersulit dalam menjalin hubungan adalah komunikasi. Apalagi jika menjalaninya dalam jarak terpaut jauh."
This entire review has been hidden because of spoilers.
Banyak yang bilang tokoh Aline egois banget. Tapi jujur kepribadianku juga begitu, keras kepala dan modern banget. Jauh² semuanya harus di prepare semisal dilamar orang seperti dalam cerita (tapi sekarang belum dilamar karena ga punya pacar huhu). Ga bisa jauh dari orang tua karena aku anak satu² nya. Tapi ada beberapa hal yang menurutku kurang bijak sih. Seperti tokoh Aline yang bener² terlihat gigih dengan panti jompo walaupun diakhir dijelaskan alasannya kenapa. Ada plus minus nya sih, yah kita terlahir ga harus melulu menyenangkan semua orang. Selama kita bisa bertanggung jawab dengan pilihan kita, why not?
Tertarik baca ini karena latar tempatnya; Panti Jompo. Juga soal kota Terik dan Kota Teduh yang sejalan dengan hiruk pikuk dan mimpi masing masing tokoh, aku suka detailnya.
Untuk urusan romansanya aku nggak suka sama kedua tokoh utamanya hhhhhh tapi mungkin emang begitu adanya. Sama sama punya goals dan cita-cita yang bersinggungan sama hubungan mereka.
Aku juga suka dongeng dongeng yang ada di awal bagian cerita khususnya dongeng pangeran pengembara 💛
Di awal cerita, saya sempat berpikir ini bakalan tidak bisa saya siapkan sampai habis novelnya karena tidak menarik..Tetapi saya tetap paksakan dam ternyata semakin dibaca, semakin menarik cerita di novel ini..Bertemakan kemanusiaan..Cara berpikir kita yang senantiasa mengutamakan cara pandang orang sekitar kita..
Ini ceritanya realistis sih. Pacaran jarak jauh. Si cwo ke negeri sebrang, si cwe tetep di kampung halaman. Putus karena cwo ga mau balik, cwe ga mau nyusul.
Tapi jika sudah berjodoh kan tidak akan kemana-mana juga. 😄
This entire review has been hidden because of spoilers.
3.9 🌟 actuallly. Aku suka cara author bercerita, sangat ringan enak dibaca. cuman rasanya meskipun menceritakan penantian dan problematik kehidupan LDR dan 'cewe harus manut kemana suami pergi'. keknya buku ini lurus banget ceritanya gtiuloh.
Suka banget 😍😍 sejak baca "Insecure", Kak Lia masuk autoread sih. Ini keren banget temanya! Tapi tuh ya endingnya kok pendek banget, Kak :") overall tetap bikin mewek, dapat pencerahan juga
Lumayan ceritanya, tidak bertele-tele, dan kendati banyak yang dipersoalkan pada hakikatnya cinta memang butuh pengorbanan terutama bila harus ada yang mengalah. Aline takkan bersedia mengikuti Alex dan meninggalkan panti jompo yang dicintainya melebihi nyawanya. Kompromi akhir memang harus ditempuh dan putus jalan yang terbaik. Namun, sisa-sisa kenangan dan masa lalu yang indah itu ternyata lebih sulit pudar. Terbawa dan melekat terus dalam ingatan. Saya suka dengan karakter Aline dan Ning. Jadi perempuan itu harus realistis dengan masa depannya.