Valerie ingin cepat mati. Hidupnya kehilangan arti. Setelah ibunya bunuh diri, Valerie dituduh membunuh 3 orang, termasuk ayah kandungnya sendiri.
Hingga Valerie bertemu Haezel, mahasiswa hukum yang berkeras memfilmkan kisah hidupnya demi menuntut keadilan. Menurut Haezel, sosok di balik kamera lebih berkuasa daripada mereka yang memegang senjata.
Haezel memberi Valerie satu tujuan hidup baru; membalaskan dendam!
Crime-thriller lokal yang membangkitkan semangatku untuk eksplor lebih banyak genre ini lagi. Crime dan actionnya nendang, romancenya dapat porsi pas.
#VioReads2023
Valerie menjadi napi selama 7 tahun karena membunuh 3 orang dan atas tuduhan membunuh ayahnya sendiri. Ie kembali menapaki kehidupan nyata dan berusaha mencari kebenarannya bersama Haezel yang mengajaknya untuk membuat project film berisikan kisah hidup Valerie. Valerie juga mendapatkan teman baru, yaitu Retha.
Om Nando, teman ayahnya Valerie, dan yang menjagainya sekarang memperingkatkan bahwa bahaya masih ada dan mungkin saja mengincar Valerie. Namun, pada akhirnya om Nando juga yang memberi clue pertama untuk memulai pencarian kebenaran dari kematian orangtua Valerie dan orang-orang di belakangnya.
Aku ngefans sama Valerie 😭, soalnya dia cool, tangguh, tak gentar, apapun lah 🤣. Walaupun look luarnya dia bad ass dan akurat dalam menembak, tapi keliatan kok kalau Valerie merindukan orang tuanya, pengen ketemu mereka. Motifnya Valerie kuat, adrenalin pembaca jadi ikut juga.
Di sisi lain ada Haezel yang gak kalah keren, dia otaknya jalan dan selalu dokumentasiin segala hal untuk bukti! Setiap mereka ke lokasi kejadian dan berusaha mencari informasi, nereka klop banget, deskripsi aksi mereka juga jelas. Dan kalian taulah.. ada percikan asmara antara mereka 🤧💕. Tipikal romance yang aku suka.
Alur ceirtanya cepat, sat set sat set langsung muncul berbagai clue dan potongan kebenaran. Untuk plot twistnya juga gak ketebak kok, malah ga kepikiran sama sekalii! Cuma yang aku sayangkan adalah plot twist agak bergeser dari tujuan utamanya, yaitu balas dendam. Malahan balas dendam ini kurang nendang 😭🙏, lebih fokus ke plot twist latar belakang karakternya. Yang lagi-lagi juga agak nanggung, karena gak dapat gambaran utuhnya. Gak puas.
Rate: 4/5🌟 Ide ceritanya memproyeksikan isu yang sering terjadi di Indonesia, ketidakadilan dan orang dalam. Namun dikemas dengan cerita yang keren!
Mixed feeling baca ini. Aku sampai baca dua kali demi bisa kasih penilaian yang lebih adil. Soalnya waktu baca pertama kali, something happened IRL while I was reaching the middle part of this book. Konsen langsung buyar dan cuma baca sambil skimming. Tapi rasanya gak lega, jadi kubaca ulang. Hasilnya? Aku tetap merasa ada yang mengganjal di bagian-bagian yang sama. Sialnya pula, something happened again IRL, jadi proses membacaku yang kedua pun terputus cukup lama dan baru kulanjutkan tadi malam karena aku ingin mengurangi buku di rak "currently reading".
Sebenarnya buku ini dibuka dan dilanjutkan dengan cara yang menarik sekali.
Valerie sebagai tokoh utama adalah gadis yang ditimpa dengan kemalangan bertubi-tubi sejak dia remaja. Ayahnya, Fredy, adalah mantan orang yang cukup berpengaruh dalam dunia hitam. Ayahnya akhirnya memilih untuk meninggalkan dunia kriminal, tapi orang-orang organisasi tidak membiarkannya begitu saja. Fredy dijebak dan masuk penjara (tidak dijelaskan bagaimana cara Reaper, sang pemimpin organisasi menjebak ayah Valerie). Selama ayahnya di penjara, Valerie hidup berdua bersama Aster, ibunya. Tapi di hari ultahnya, Valerie menemukan ibunya bunuh diri.
Setelah ayahnya bebas dari penjara, mereka kembali hidup berdua. Ayahnya mengajari Valerie keterampilan berkelahi dan menembak seolah punya firasat gadis itu akan membutuhkan keterampilan itu suatu saat. Suatu malam, rumah mereka diserang oleh gerombolan bersenjata api yang dipimpin Reaper. Terjadi tembak-menembak. Ayah Valerie menjadi korban bersama dua anggota komplotan yang lain. Satu orang anggota komplotan lolos, dan Valerie akhirnya malah ditangkap dan dijatuhi hukuman 7 tahun penjara atas pembunuhan tiga orang.
Setelah bebas, Valerie hidup sendiri dan mencari nafkah dengan membantu pamannya yang juga mantan preman, Nando. Ia juga membantu Tyas, istri pamannya, membuka warung makanan di Fakultas Hukum Universitas Paramartha. Suatu hari, dosen sedang mencari narasumber berupa mantan narapidana untuk mengisahkan jalan hidupnya di depan para mahasiswa. Tyas mengajukan Valerie. Meski enggan, akhirnya Valerie pun datang ke kelas dan bercerita. Dia bahkan menolak memakai topeng untuk menyembunyikan identitasnya. Aku sendiri nggak ngerti apa motivasi Valerie mau membongkar kisah hidupnya yang kelam di depan begitu banyak orang asing.
Setelah sesi berakhir, ia didatangi dua mahasiswa yang jadi audiensnya. Yang pertama adalah Retha, gadis penyuka warna ungu yang merasa bersalah karena sudah bertanya soal ibu Valerie yang sudah meninggal dan berusaha bersahabat dengan gadis itu karena empati (ibu Retha juga sudah meninggal). Yang kedua adalah Haezel, penggila film yang ingin mengangkat kisah hidup Valerie menjadi film demi membongkar fakta dibalik ketidakadilan hukum yang sudah menimpa gadis itu.
Haezel yang menggebu-gebu punya prinsip menarik. Menurutnya, di zaman sekarang, orang lebih takut pada kamera daripada senjata dan film punya pengaruh yang besar untuk memengaruhi opini publik dan mengubah keadaan. Ia berusaha memengaruhi Valerie bahwa balas dendam terbaik saat ini adalah dengan membongkar fakta.
Valerie awalnya tak tertarik meski Haezel terus menempel padanya seperti lintah. Namun, kejadian tak terduga dengan nenek tetangganya mengubah pendirian Valerie. Nenek Maida adalah wanita tua yang sering merawat Valerie dengan penuh kasih sayang sejak ia kecil. Namun, rasa sayang itu berubah jadi kebencian sejak Valerie ditangkap karena dituduh membunuh ayahnya dan dua orang lagi. Nenek Maida ini penglihatan dan pendengarannya sudah tidak awas lagi. Sayangnya ia tidak akur dengan Martha, anaknya sendiri. Di depan Nenek Maida, Valerie lalu mengaku sebagai "Keana", cucu sang nenek demi membahagiakannya. Namun, suatu ketika Nenek Maida sakit dan harus dirawat di RS. Valerie akhirnya meminta Haezel menanggung biaya pengobatan sang Nenek. Sebagai gantinya, ia setuju kisahnya difilmkan Haezel, juga setuju untuk ikut dalam proses pembuatannya. Dari sini udah bagus banget set-up-nya.
Cerita pun terus bergulir. Valerie akhirnya tahu siapa pembunuh ayahnya dan berhadapan dengannya. Bahkan fakta kasus bunuh diri ibunya pun berbeda dengan apa yang ia ketahui selama ini. Haezel dan Valerie kemudian nyaris celaka ketika berusaha merekam transaksi jual beli senjata ilegal yang dilakukan oleh Reaper. Retha dan almarhum ibunya ternyata berkaitan dengan kemelut yang menjerat Valerie. Satu demi satu misteri dibuka. Sebenarnya dibilang misteri juga enggak terasa tepat sih, soalnya Retha dengan sangat gamblang sudah memberikan clue yang kelewat jelas soal latar belakang keluarganya.
Nah, bagian yang buatku mengganjal adalah bagian ketika proses pembuatan film mulai diperlihatkan. Tadinya kukira Haezel mau membuat film dokumenter. Ternyata filmnya berupa reka ulang adegan kehidupan Valerie yang diperankan oleh orang lain. Tiba-tiba saja muncul banyak tambahan karakter para kru. Tapi nggak jelas apakah mereka sesama mahasiswa hukum? Dari klub film? Atau apa motivasi mereka mau membantu Haezel membuat film yang risikonya bisa mengancam nyawa mereka ini. Buatku para krunya ini jadi semacam para tokoh tempelan aja akhirnya. Kecuali Ariana, sang produser yang ternyata mengemban misi tertentu bersama Haezel. Ancaman Reaper untuk membuat para kru membayar perbuatan Haezel dan Valerie yang mengacaukan transaksinya pun tidak terlaksana sehingga tingkat kegawatan dan pertaruhan dalam cerita ini kurang.
Lalu bagian yang kedua adalah soal Ghost Shadow. Organisasi pemberantas kejahatan independen yang kebal hukum ini hanya disebut sekilas di pertengahan, lalu dijejalkan secara bertubi-tubi untuk menutup cerita. Kesannya kayak... ujug-ujug muncul begitu saja demi menjelaskan pertanyaan-pertanyaan besar dalam cerita. Novel yang tadinya sudah berusaha cukup sabar dalam menggiring pembacanya ikut terlibat dalam setiap adegannya, mendadak jadi seperti dosen yang memberikan ceramah satu arah.
Mungkin karena hal-hal mengganjal di atas, aku merasa terdiskoneksi dengan chemistry antara Haezel dan Valerie. Gak tahu kenapa, buatku begitu hubungan kedua tokoh ini beranjak ke urusan debaran hati, kesan yang kudapat malah cheesy. Padahal, novel ini jelas nggak bermaksud begitu. Aku sampai bingung, apa masalah IRL-ku bikin aku nggak bisa menikmati cerita novel ini secara full atau gimana.
Pada akhirnya untuk saat ini, baru bintang tiga dulu yang bisa kuberikan. Karena berbagai serba-serbi dunia syuting, film, dan senjata api yang dibuat begitu meyakinkan itu membuat novel ini nggak pantas untuk diberi bintang di bawah tiga. I wonder apa Aya Widjaja beneran kursus menembakkan senjata api dalam mendalami risetnya karena detail yang dia tulis tentang senjata api terdengar semeyakinkan itu. Aku punya dugaan bahwa Aya pernah bekerja di bidang yang menyangkut stasiun TV atau dunia perfilman. Karena itu dia bisa menjelaskan serba-serbi tentang syuting film baik di Starstruck Syndrome maupun di novel ini. Tapi kursus menembak? Apa iya? Wow.
"Ya, dendam seperti bara rokok yang hidup karena disulut. Membakarnya enggak mendatangkan apa-apa, kecuali penyakit yang disimpan dalam dada." (p.116)
Di usianya yang ke 20 tahun, Valerie sudah mengalami pengalaman di penjara selama 7 tahun saat usianya 13 tahun karena dianggap telah menembak sampai mati tiga orang—termasuk ayahnya sendiri. Haezel, seorang mahasiswa salah jurusan tertarik dengan kisah Valerie dan ingin memfilmkannya. Valerie yang sudah muak dengan hidupnya, merasa hal itu percuma. Dia masih bertahan karena diselubungi oleh dendam, dendam ingin mencari kebenaran apa yang terjadi malam itu. Haezel pun memberikan penawaran. Melalui pistol dan kamera, apakah dendam Valerie akan terbalaskan?
Biasanya membaca karya penulis yang cerita-cerita romansa seperti Monster Minister, Dewa Angkara Murka dan setelah membaca Alegori Valerie, aku mempercayai bahwa penulis sungguh serba bisa. Bikin romansa yang cowoknya menteri, bisa. Bikin romansa komedi yang cowoknya tetiba jadi panitia konser dewa, bisa. Dan ini bikin cerita misteri-thriller yang cowoknya [redacted] pun bisa lhooooo. Keren.
Hal yang aku suka bagaimana penulis membuat build up action yang panas sampai akhir. Detail soal persenjataan dan peralkoholan pun menambah variasi dalam cerita ini. Tahu banget gitu soal jenis-jenis senjata dan campuran miras ini dan itu. Riset tentang permafiaan dan film-film pun ciamik banget. Clap untuk risetnya.
Namun, ada beberapa catatan dariku yaitu mengenai terlalu banyak subplot-nya hingga jadi foreshadowing terhadap konflik utama dalam cerita ini. Mulai dari subplot tentang lingkaran dendam, organisasi A dan ternyata ada organisasi B juga, kisah nenek Maida dan anak-cucunya, kisah Haezel, kisah paman Daniel-istrinya, kisah Rheta-keluarganya, semua memang berkelindan tapi juga njelimet dan beberapa subplot akhirnya penyelesaiannya hanya gitu aja atau bahkan hanya yang sekadar lewat saja. Kurang fokus. Dan ini berdampak ke kisah Valerie yang harusnya sebagai utamanya, tapi ya di akhir dibuat dragging penyelesaiannya. Kisah romansanya pun dibuat escalated quickly.
Meski demikian, buku ini sangat segar bagiku. Banyak intrik dan dinamika organisasi yang ditampilkan. Sarat akan satir tentang penanganan hukum dan pidana pada kasus kejahatan. Apalagi kalau punya uang dan kuasa, akan mudah sekali “membeli” hukum.
Rekomendasi untuk kamu yang ingin menggenapi karya-karya Urban Thriller-nya Noura Books, suka cerita thriller-mystery yang dibalut dengan pembalasan dendam—ada bumbu-bumbu romansanya.
🌹 3.75 bintang untuk hindari merokok kalau tidak mau terkena kanker paru-paru.
Akhirnya, tamat juga pembacaan yang satu ini. Sejujurnya aku mengambil masa yang lama juga untuk habiskan novel yang satu ni. Alasannya tidak lain tidak bukan: hectic life.
Alegori Valerie merupakan salah satu novel bergenrekan crime-thriller yang aku beli semasa berada di Indonesia bulan Ogos lepas. Aku beli novel ni pun disebabkan blurbnya yang menarik minat aku.
Ringkasan: Alegori Valerie mengisahkan tentang Valerie yang dituduh membunuh ayahnya semasa dia masih berusia 13 tahun. Sehinggalah dia bertemu dengan Haezel, seorang pelajar lelaki jurusan hukum yang menawarkan untuk membuat kisah hidupnya sebagai sebuah filem sebagai pembalasan dendam.
Apa yang menarik tentang novel ni: –Jalan cerita and plot yang menarik. Also fast-paced one lah.
–Semua karakter saling berkait dan ada kisah masing-masing. Daripada watak Valerie sendiri ke Nando ke Reaper ke Retha hinggalah ke Dr. Ilma Ilyasa sekalipun. Siapa watak yang paling aku suka? Mestilah Haezel. Even though he sounds kinda childish and peminat die-hard action and thriller movies, he's himself a mysterious person. So masa part reveal Haezel tu aku macam, "Pergh!!!". Valerie pula beri vibes 'Don't mess with me!' and cold gitu. So, saling melengkapi. Seorang grumpy, seorang lagi sunshine.
–Action-packed scenes yang mendebarkan yang asyik buat aku rasa takut nak baca apa jadi selepas itu. Malah ada juga romantic scenes between Valerie and Haezel. Aku bergedik time baca scenes Haezel pergi kucup kening Haezel. Comel je.
–Banyak info-info menarik tentang filem yang dikongsikan penulis yang aku sendiri pun tak tahu.
–Idea yang menarik di mana penulis mempertengahkan kamera sebagai senjata utama yang lebih berbahaya berbanding senjata fizikal: pistol, etc dalam dunia gelap dan zaman sekarang ni (viral).
Latar belakang novel ni menggunakan latar belakang Jakarta (and this make me miss my moment di Jakarta back two years ago) jadi memang feeling habislah aku baca novel ni.
Selain itu, penulis juga menggunakan latar masyarakat sekeliling Valerie dan Haezel yang penuh dengan korupsi dan dunia hitam mafia dan seangkatan dengannya. Yang paling buat aku impress bila aku dapat tahu ni karya sulung crime-thriller daripada penulisnya sendiri and she really written it well! Kudos to the author!
Akhir kata, novel ni memang worth every single penny yang aku laburkan. Kalau boleh aku nak baca lebih banyak lagi crime-thriller novel daripada Aya Widjaja lagi!
"𝙄𝙣𝙞 𝙚𝙧𝙖 𝙨𝙖𝙖𝙩 𝙤𝙧𝙖𝙣𝙜 𝙡𝙚𝙗𝙞𝙝 𝙩𝙖𝙠𝙪𝙩 𝙨𝙖𝙢𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙚𝙧𝙖 𝙙𝙖𝙧𝙞𝙥𝙖𝙙𝙖 𝙨𝙚𝙣𝙟𝙖𝙩𝙖." 𝙃𝙖𝙯𝙚𝙡 𝙗𝙚𝙧𝙝𝙚𝙣𝙩𝙞 𝙪𝙣𝙩𝙪𝙠 𝙢𝙞𝙣𝙪𝙢. 𝙃𝙖𝙡: 46 . Ada yg suka film action tp tokoh utamanya wanita??? Bisa bgt nih dibaca kisah Valerie. Buku bergenre Chrime-thriller ini berhasil buat aku takjub. Kereeen euy actionnya. Banyak aksi yang menegangkan. Tembak2, berkejaran dan berkelahi di gang sempit, menyusup, membebaskan sandera, memata-matai. Trus apalagi yg bagian diakhir itu, antara Valerie-Haezel melawan Reaper. Wiiih mantap. . Tp sblom sampai kesana, kita akan disuguhkan cerita hidup Valerie yg agak memilukan. Kehilangan kedua orangtua ketika masih umur belasan tahun. Ibunya dianggap bunuh diri. Masuk penjara diumur 13 tahun dan dikurung 7 tahun krn dituduh membunuh 3 org, termasuk ayahnya. Setelah Valerie bebas, ia bertemu dgn Haezel, seorang pria yg ingin membuat film dari kisah hidupnya. Lalu perlahan terungkap fakta2 yg mengejutkan. Apalagi setelah tau apa yg menyebabkan orangtua Valerie dibunuh. Ya ampuuuun. Itu cinta apa obsesi sih? Serem amat 🥺 . Aku suka karakter Valerie. Luar dalam tangguh amat!! Gak peduli udh dicaci maki tetangga, diabaikan nenek Maida, ttep aja hatinya bak malaikat walaupun sudah dicap sebagai “pembunuh bergelar bocah setan berdarah panas”. . “𝙆𝙞𝙩𝙖 𝙗𝙪𝙠𝙖𝙣 𝙗𝙖𝙡𝙖𝙨 𝙙𝙚𝙣𝙙𝙖𝙢, 𝙩𝙖𝙥𝙞 𝙣𝙜𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙥 𝙠𝙚𝙗𝙚𝙣𝙖𝙧𝙖𝙣. 𝘼𝙠𝙪 𝙠𝙞𝙧𝙖 𝙠𝙖𝙢𝙪 𝙨𝙚𝙩𝙪𝙟𝙪 𝙨𝙤𝙖𝙡 𝙞𝙩𝙪." 𝙃𝙖𝙡: 116 . Oh tentunya jangan lewatkan cerita romance antara Valerie & Haezel. Chemestrinya sangat cukup, cukup hingga buat aku ikutan bullshing membayangkan interaksi mereka 🤭. Jadi jangan sampai melewatkan buku kak @ayawidjaja yg satu ini wee!!! Beneraan keren. Apalagi dengan cerita yg fast pace gini. Tau2 udh beres. Truss ada plot twist yaaa buaaaaat berdebar 🙃.
📸"Ini era saat orang lebih takut sama kamera daripada senjata". Hlm 46.
🖇"Tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Kehidupan tidak lepas dari tangan-tangan tak kasatmata yang mengatur. Entah sengaja atau tidak, pada akhirnya aturan-aturan itu membuat kehidupan serupa jaring. Terhubung satu sama lain, saling terkait." Hlm 201.
💁🏻♀️"Untuk jadi wanita dewasa, seorang gadis harus bisa bertanggung jawab dan ngambil keputusan sendiri. Kalau enggak, seumur hidup dia bakal nyesal dan sibuk menyalahkan segala hal." Hlm 75.
🚬"Ya, dendam seperti bara rokok yang hidup karena disulut. Membakarnya enggak mendatangkan apa- apa, kecuali penyakit yang disimpan dalam dada." Hlm 116.
Sudah rahasia umum kalau aku suka tulisan Kak Aya sampai masuk daftar penulis yang bukunya autobuy. Aku sendiri sempat ngedit 2 naskah Kak Aya di platform online. Nah, kisah Valerie jelas beda dari segi genre dan karakter. Suaranya pun terasa lebih dewasa. Tapi diksinya tetap khas Kak Aya, kok.
Alegori Valerie menceritakan tentang kehidupan Valerie yang "kelam" karena dituduh membunuh 3 orang termasuk sang ayah, apalagi ibunya meninggal bunuh diri. Makanya Valerie jadi pengin cepat mati. Tapi sebebasnya dari penjara, Valerie justru bertemu Haezel yang terobsesi membuat film. Bersama, mereka menyusun rencana balas dendam untuk orang yang sudah menghancurkan hidup Valerie.
Aku suka banget deskripsi di adegan kejar-kejaran. Thrilling. Nggak sulit dibayangkan dan yang paling penting, nggak membosankan. Biarpun bagian awal terasa agak lambat, tapi secara keseluruhan alur novel ini terjaga baik. Karakter-karakternya menarik. Nggak ada yang sia-sia karena semua punya porsi masing-masing. Selipan mengenai karakter sampingan pun terasa unik, bahkan bisa kupahami. Dari substansi nggak ada yang ingin kuedit, jadi baca ini berasa piknik. Senang sekali 🥰
Secara keseluruhan, Alegori Valerie ini terasa "matang" dan berhasil mengobati kerinduanku terhadap buku Kak Aya yang bikin jatuh cinta (yup, aku membicarakan Rigel wkwkwk). Haezel memang hampir menggeser Rigel, tapi karena buku ini thriller ya, gengs, wajar berhenti di hampir doang. Rigel masih betah di singgasananya 🤣🤣🤣
Buku ini aku tamatkan ga lebih dari sehari ternyata. Ini pertama kalinya aku membaca kisah urban thriller dipadu dengan sub romance dari Indonesia dan wow.. aku menyukainya! Memang sih, di awal aku sempat bisa menebak kenapa Haezel juga kenal dengan Reaper. Tapi it's not a big deal karena aku menikmati mulai dari bagian pertengahan sampai ending.
Kehidupan Valerie terbilang kelam karena gadis itu dituduh membunuh tiga orang termasuk ayahnya pada saat dirinya menginjak usia 13 tahun, yang mana di usia itu masih terlalu dini untuk urusan tembak-menembak. Dari situ masalah terus mengalir hingga akhirnya dia dibebaskan dari penjara setelah mendekam selama tujuh tahun.
Dia menanggung bebannya sendirian. Mulai dari gunjingan para tetangga yang harus dihadapi. Meski begitu dia masih memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya. Termasuk ketika dia bertemu seorang laki-laki bernama Haezel. Kehadiran lelaki itu membantunya untuk menuntaskan dendam Valerie. Tidak dengan jalur keadilan, tapi melalui film yang dibuat Haezel tentang kehidupan gadis itu.
Di sini saya suka dengan sentuhan romance yang terbilang manis dalam genre crime thriller. Dalam adegan kejar-kejaran membuat aku seperti sedang menonton film action. Apalagi di novel ini juga dibicarakan mengenai dunia film dari sisi Haezel dan juga bartender dari sisi Gavin. Penjelasan itu sangat menarik tentunya. Aku juga suka dengan diksinya dan buku ini termasuk fast pace.
Rasanya agak aneh baca genre sama tema di luar kebiasaan Kak Aya. Eh, kalo kebiasaan nggak juga, sih, tapi karena kebanyakan novel cetaknya nggak jauh2 dari romance, baca yang banyak unsur crime thriller-nya gini jadi lain :d
Tujuh tahun Valerie habiskan di LPKA karena dituduh membunuh ayahnya sendiri. Otaknya menolak tuduhan itu, tetapi hatinya ragu; apa benar dia telah menembakkan Glock miliknya pada sang ayah saat itu? Ketika keluar dari penjara, hidup yang seharusnya suram karena statusnya sebagai mantan napi, malah menjadi serentetan adegan film drama crime berkat kehadiran mahasiswa salah jurusan dan terobsesi pada film, Haezel. Bersama teman barunya, Valerie menemukan serentetan fakta mengenai kematian orang tuanya.
Mungkin karena jarang baca thriller lokal, apalagi yang crime begini, rasanya menyenangkan, sekaligus agak ganjil. Bahasanya nggak ada yang salah, narasi dan susunan kalimatnya juga nggak nanggung. Malah ini buku favoritku dari Kak Aya (di luar karena genrenya berbeda).
Sigh, dunia bawah tuh, emang rumit banget. Latar belakang Valerie yang begitu juga nggak menguntungkan. Riset di sini nggak bisa disepelekan, sih, rasanya beneran lagi nonton series.
Pengin kasih empat bintang, cuman ada bagian yang harusnya nggak ada jadi ada. Kayak bab khusus buat Nenek Maida itu nggak perlu diperpanjang nggak masalah, sih. Soalnya agak aneh juga berasa di sepertiga bab terakhir mendadak ada. Mungkin maksudnya biar clear kali ya alasan2 kenapa si nenek bisa ngerasa sayang banget sama Valerie, tapi aku pribadi nggak sebegitu kepengin taunya sama hal itu.
Ada pula bagian keberadaan Retha nggak ada sama sekali. Idk, dia ini kan bisa jadi salah satu karakter penting, tapi kenapa kesannya kayak dimunculkan kalau ada perlunya aja. Nggak bisa blend sama kaitannya dengan konflik utama.
Oke, soal romansa tetap ada dan yah nggak seharusnya daku berharap banyak sama genre yang macam ini karena taulah ya bakalan salah jurusan banget. But still, Haezel-Valerie berhasil bikin gregetan, gemas, sekaligus haru.
Buat novel debut crime-thriller (cmiiw), cukup bagus dan bikin puas, sih. Bakal lebih kece lagi kalo diangkat jadi series 🙈
Ceritanya menarik, sayangnya saya kesulitan menyukai Valerie. Saya malah lebih menyukai Ariana. Saya juga bingung karena bisa-bisanya saya gagal bersimpati sama Valerie, padahal jelas-jelas dia jago nembak dan hidupnya penuh penderitaan.
Pengisahannya ringan sehingga tidak sulit menyelesaikan ceritanya dalam sekali duduk. Sayangnya, tidak sedikit bagian yang "too much telling" sehingga efek emosionalnya tidak tersampaikan dengan baik. Sayangnya lagi, cerita berakhir dengan "information dump" yang mengejutkan tetapi dengan cara yang tidak menyenangkan untuk saya. Kupikir, andai saja keseluruhan informasi itu ditebarkan sebagai foreshadow di sepanjang plot, tentu ceritanya akan jauh lebih menarik dan mengundang tanda tanya. Saya tentu akan terus membalik halamannya karena ingin tahu lebih banyak tentang Haezel, tentang Martha, tentang Ghost Shadow.
Organisasi Ghost Shadow memiliki latar belakang yang sangat menarik. Sayangnya (untuk kesekian kalinya), penulis tidak memberi clue apa-apa perihal itu sejak awal, sehingga ketika informasinya dibentangkan begitu saja di akhir dengan gaya reportase, saya cuma bisa menghela napas sambil bergumam, "Sayang sekali, bagian bagusnya ketinggalan!" Sungguh sayang sekali! Tapi tentu saja, karena judulnya "Alegori Valerie", penulis ingin bercerita tentang Valerie. Menurutku, andai tokoh utamanya adalah Haezel pun, dia tetap bisa bercerita tentang Valerie dan novelnya tetap bisa diberi judul " Alegori Valerie" alih-alih "Alegori Haezel" (lagi pula kata "alegori" rimanya tabrakan parah sama nama Haezel). Ketika latar belakang Haezel terungkap hanya sesaat sebelum cerita berakhir, saya pikir, ceritanya akan sangat menarik kalau saja Haezel-lah yang jadi tokoh utama karena dia akan menunjukkan transformasi yang lebih menarik.
Bagaimanapun, saya sangat menghargai usaha penulis meriset berbagai hal tentang senjata api dan teknik pembuatan film.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Overall, the premise is GOOD. Seorang bocah 13 tahun yang jago menembak dituduh membunuh 3 orang dewasa, padahal kenyataannya dia hanya mencoba menyelamatkan ayahnya dan dirinya sendiri. Setelah tujuh tahun masa kurungan, dia mencoba kembali ke dalam masyarakat dan bertemu dengan Haezel, pembuat film yang mencoba membantu Valerie menyuarakan kebenaran tragedi tujuh tahun lalu yang selama ini dipelintir.
Bagian pembukaannya juga menarik. Seorang gadis yang sedang enak-enak tidur siang, tiba-tiba saja terlibat baku hantam dengan empat orang dewasa misterius yang mendadak masuk ke rumahnya. Adegan tersebut langsung saja memunculkan pertanyaan, "Siapa orang-orang itu?", "Keluarga Valerie ini terlibat apa?", "Kenapa tiba-tiba tembak-tembakan?". Kukira kejadian itu jadi fokus utama ceritanya, tapi rupanya sampai akhir pun hanya dibahas sekilas saja.
Alurnya juga cepat, tapi bukan tipe cepat yang bikin deg-degan banget. Semua kejadian dibahas sekilas-sekilas, dan kadang perpindahan adegannya juga terlalu mendadak, sehingga kadang aku bingung kenapa tiba-tiba sudah ganti suasana. Adegan aksi di bagian-bagian akhir seru, cuma kurang mengigit karena terlalu sebentar.
Banyak sekali potensi di dalam cerita ini. Sayangnya, semuanya diceritakan terlalu terburu-buru.
Jujur, ini novel thriller pertama yang kubaca, menyalip novel-novel lain yang udah ketimbun di rak buku. Awalnya memang semata-mata karena ini bukunya Kak Aya, tapi setelah sampai di halaman pertama ... no, Valerie sendiri yang bikin aku nggak berani lirik buku lain dan fokus sama dia. (Takut ditembak, gengs!) Seperti biasanya, tulisan Kak Aya selalu mengalir dan page turner. Aku sempat kesulitan membayangkan adegan (terutama adegan tonjok-tonjokan) dengan hanya bermodalkan kalimat-kalimat, tapi akhirnya aku tetap bisa menikmati buku ini. Plot twist-nya nggak ketebak! Dan yang paling kusuka adalah karakter Valerie yang SEDAP banget. Iya, sedap. Galaknya tuh satisfying hahaha. Aku berkali-kali ikutan menyeringai setiap dia ngeluarin ancaman atau mengintimidasi orang. Keceee!
Alegori Valerie adalah novel thriller pertama Kak Aya, dan novel thriller pertama yang aku baca. Dari cover-nya sudah bikin deg-degan, takut ditembak. Begitu masuk cerita ... beuh, jangan ditanya. Tahan napas aku sepanjang baca cerita itu. Meski menegangkan, Kak Aya tetap menyelipkan sesuatu yang bikin baper. Nggak banyak, tapi cukup, cukup bikin aku kebawa perasaan juga hahaha. Seperti biasa, gaya bahasanya enak banget. Karakter tokohnya kuat banget. Aku suka sekali sama Valerie dan Heazel, ya ampun!
Alur ceritanya menarik apalagi diawali dengan prolog action yang menggetarkan. Tokoh Valerie yang gamang tapi pintar menembak namun masih bingung mau diarahkan ke mana karena karakternya yang rada abu-abu. Ide ceritanya lumayan oke tapi ada sesuatu yang belum diungkap yang membuat akhir kisahnya ditutup sedemikian rupa seolah menggantung terutama ketika harus mengetahui bahwa ada jaringan mata-mata Ghost Shadow yang memgerjakan semuanya. Terkesan seru tapi terasa nanggung di novel ini.
terlalu banyak time skip, ini sebenarnya ada genre romance atau engga? dari awal sampe pertengahan ga ada romance, pas udah mau akhir akhir baru ada romance nya, itupun cuma bumbu sedikit doang...