Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bukannya Aku Nggak Mau Menikah

Rate this book
Besok lusa Ayah sudah tujuh puluh tahun. Lihat uban Ayah. Makanya, selama Ayah masih ada tenaga, walaupun tinggal sedikit, kamu harus menikah.

272 pages, Paperback

Published November 1, 2021

5 people are currently reading
149 people want to read

About the author

Lee Joo Yoon

1 book5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (18%)
4 stars
41 (42%)
3 stars
32 (32%)
2 stars
6 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 29 of 29 reviews
Profile Image for Utha.
825 reviews402 followers
December 22, 2021
"Hidup dengan mimpi tak tergapai yang tersimpan di dalam hati tidaklah buruk." - halaman 258

Aku suka sama sarkasme yang disuarakan penulis. Beberapa hal, meski ditulis pakai sudut pandang perempuan, juga cukup bisa dipahami sama laki-laki. Duh, soal "harus menikah" ini memang menyebalkan ya.

Ada beberapa bagian yang bikin angguk-angguk. Apalagi pas bagian unjuk bakat di kantor, haha. Itu jadi kilas balik banget soal kantor lama. Terus, bagian nggak mau punya anak... wah.

Bacaan yang cocok dibaca saat leha-leha, juga buat yang sepemikiran sama penulisnya.
Profile Image for Windyza.
9 reviews
December 12, 2021
"Kapan nikah?"
"Udah usia segini kok belum nikah, teman-temanmu udah pada punya anak, loh."
"Si A kemarin nikah, selanjutnya kamu ya, cepet nikah!"

Terdengar akrab dan kadang bisa bikin muak dan cape sendiri menanggapi pertanyaan-pertanyaan dan sindiran macam itu.

Dalam buku ini, penulis menceritakan kisah hidupnya yg sudah berkepala tiga tapi belum kunjung menikah. Berbagai pertanyaan, sindiran, bahkan omelan sudah akrab ia temui dari orang-orang sekitar, terutama ayah dan ibunya. Dia skeptis soal cinta dan pernikahan. Berbagai pertanyaan sering dia lontarkan pada dirinya sendiri, misalnya, "Apakah menikah membuat seseorang bahagia?"
Meski begitu, dia sangat menikmati hidupnya dan kebebasannya.

Esai ini ditulis dengan gaya santai, lucu, apa adanya, dan blak-blakan. Humornya segar, ada part-part yg membuatku tertawa ngakak dan tentu saja banyak yg aku bilang "Wah, ini gue banget!" Haha.

Aku juga skeptis soal cinta dan pernikahan. Jadi, ketika baca buku ini jadi berasa kaya ngobrol dan curhat sama temen yg sepemikiran.
Profile Image for Lelita P..
633 reviews58 followers
April 24, 2022
So relatable :')))

Di banyak bagian. Sekitar 85% kali ya saya merasa relate banget sama cerita-cerita Lee Joo-yoon jagganim ini dan setuju sama pemikiran-pemikirannya.

Betapa sedihnya aku pada saat-saat itu. Kalau Tuhan menampakkan diri dan menyuruhku untuk memilih hidup pada hari ini atau pada hari-hari tersebut, dengan yakin aku akan memilih hari ini yang biasa-biasa saja. Hari yang membosankan seperti biasa. Walaupun aku bosan sampai badanku terasa lunglai, tapi karena aku tidak menumpahkan air mata setetes pun, ini adalah hari yang cukup baik. Hari ini benar-benar hari yang membosankan. Aku sungguh mengapresiasi hari yang membosankan ini. (hal. 56)


Sebenarnya, seperti kata Ibu, aku juga berharap menghasilkan uang yang banyak. Bayar cicilan laptop secepatnya, dengan sengaja beli rumah di dekat Toko Buku Kyobo dan bebas keluar-masuk sana siang dan malam. ... Sayangnya semua ini terasa jauh sekali untukku, yang kerennya disebut pekerja lepas, tapi kenyataannya lebih ke arah pengangguran. Apa itu keliling dunia? Bisa bayar tagihan kartu kredit tepat waktu saja aku sudah bersyukur. ... Lucunya, ketika tagihanku melonjak, aku teringat masa-masa menjadi pekerja kantoran yang menerima gaji secara teratur. (hal. 74)


Dia ini kelihatannya sarkas dan bitter memandang dunia, lelah karena berusaha-menolak-tapi-mau-nggak-mau-tetap-harus-fit-in dalam kehidupan bermasyarakat dengan segala tuntutannya, tapi di balik itu semua ada sensitivitas dan keinginan untuk menjalani hidup yang baik, bahagia, dan memuaskan hati--kehidupan yang nyaman tanpa mengganggu orang lain. Kurang relatable apa coba? Bukankah kita semua seperti itu?



Profile Image for Nur Reti Jiwani.
111 reviews27 followers
March 22, 2024
Ocehan-ocehan soal pernikahan..

Kenapa aku bilang ocehan? soalnya buku ini terlalu nyeleneh untuk dikategorikan sebagai esai serius atau sebagai buku self-improvement seperti yang tertera di bagian belakang bukunya.

Bahkan, sepertinya kategori self-improvement 'keberatan' deh buat buku ini. Ya abis gimana ya, buku ini ditulis terlalu ugal-ugalan sekali menurutku. Tapi untungnya, ugal-ugalan yang aku maksud konotasinya positif. Buku ini ditulis dengan saaangaaaaat jujur! Dialognya, latar keadaannya, suara hati penulisnya, yah.. sampai-sampai seperti mendengar sendiri penulisnya ngedumel di depan kita. Asik, kan?

Buku ini sendiri secara keseluruhan membicakan soal gap (jarak) antara pemikiran anak dan orangtua perkara pernikahan. Sounds interesting huh?

Menurutku buku ini beda banget!

Instead of kalimat super panjang yang menjelaskan tentang perbedaan pemikiran tersebut, pembaca ditawari cerita keseharian seorang perempuan (penulis) yang sudah masuk usia >30 tahun tapi belum menikah. Cerita soal malas dan sebalnya penulis diminta ikut kencan buta tanpa jeda oleh orangtuanya, kesalnya mendengar keluhan ayah dan ibunya tentang "kenapa sih anak perempuan ini nggak nikah-nikah?" sampai pengalamannya mendapat julukan 'wanita tua temperamental' dari teman sekantor (saat penulis masih kerja kantoran).

Lalu apa yang membuat buku ini menarik?

Buku ini jadi menarik karena kita tidak seperti membaca buku. Alih-alih membaca, kita seperti mendengar dumelan seorang wanita yang nggak ada habisnya selama 275 halaman. Ocehan soal hidupnya, keluarganya, dan betapa sebenarnya dia enggan menikah.

Menurutnya, terlalu banyak yang mesti diurusi dalam sebuah pernikahan. Sedangkan, dia merasa terlalu malas untuk itu semua. Buatnya, ide membagi waktu kepada orang lain seperti membagi kue potong tidak bisa dia terima. Dan kenyataan bahwa jika punya bayi maka akan ada manusia yang 24/7 menempel dan membutuhkan bantuannya, membuat dia merinding!

Untukku, aku sih sungguh relate dengan pemikiran-pemikiran abstrak yang penulis sampaikan tentang pernikahan. Bahkan beberapa kata-kata (yang dia sampaikan dalam hati) kepada orangtuanya. Seringkali membuatku berpikir: "Bener banget siiihhh!!!!!"

Tapi, ada satu nih yang aku kurang sepakat dengan yang penulis sampaikan (curcolkan) di buku ini. Yaitu tentang fakta bahwa penulisnya oooh sungguh malaaas dengan hidup. Bahkan sampai berjalan dengan rambut kotor dan lepek pun tidak masalah. Tidak ada keinginan untuk melihat indahnya dunia, dan lebih suka menghabiskan waktu di kamar seharian dengan berbagai alasan yang menurutku pribadi, meh.

Nggak salah sih, cuma aku tidak relate aja secara personal begitu.

Secara keseluruhan apakah aku merekomendasikan buku ini untuk dibaca orang lain? jawabanku IYA. Darisini kamu akan mendapat gambaran kalau perbedaan pola pikir, khususnya tentang pernikahan itu wajar. Dan ternyata, terjadi di belahan negara lain juga loh. Pertimbangan si anak benar. Tapi yah mungkin orangtua dengan prinsipnya 'aku ingin yang terbaik untuk anakku' nggak bisa dibilang salah-salah amat juga.

Jadi, baca deh bukunya! kamu bakal dibikim mesem-mesem sama betapa absurdnya si penulis ini dan betapa gigihnya orangtuanya untuk menyuruh 'AYOO KAMU BURUAN NIKAAAH!!!!'
Profile Image for summerreads ✨.
110 reviews
March 6, 2022
Setelah mengintip di beberapa akun ulasan buku, akhirnya aku membeli buku ini --masih dengan ekspektasi yang tidak bisa ditinggi-tinggikan. Sebab, sebelumnya aku punya beberapa pengalaman membaca buku terjemahan tapi terjemahannya mbulet, dan berakhir tak kuselesaikan karena semakin laju halamanannya, malah bikin aku tambah bingung.

Tapi ternyata buku ini agak beda. Menurutku sebagai buku non fiksi --terjemahan pula, tak ada salahnya aku memberikan bintang 5 ketika aku merasa terjemahannya oke. Terlebih, isinya pun oke. Jadi kombinasi keduanya menjadi bacaan yang cukup menyenangkan. Kuhabiskan dalam waktu 3 hari sambil menunggu ngantuk sebelum tidur malam.

Seperti judulnya, Bukannya Aku Nggak Mau Menikah ditulis oleh seorang ilustrator sekaligus penulis asal Korea bernama Lee Joo Yoon. Umurnya 34 tahun, dan tentu saja itu usia yang sudah terhitung telat nikah menurut kacamata banyak orang termasuk orangtuanya sendiri. Ayah dan ibu kerap menjodohkannya dengan putra-putra teman mereka yang mereka anggap baik dan mapan. Tapi si penulis ini kayaknya sedikit kepala batu dan di sanalah kocaknya. Ada berbagai macam cerita mengenai kencan buta yang ia jalani, sampai kisah yang ringan sehari-hari seperti menjadi pekerja paruh waktu di kafe milik kakak iparnya, kisah berkunjung ke rumah orangtua, kisah teman yang sudah menikah tapi menginginkan kembali kebebasannya, kisah tentang cinta masa remajanya, kisah tentang kakak perempuannya yang memilih tidak punya anak sama sekali sampai ia mati nanti, dan berbagai macam kisah lainnya yang tak kalah ringan dan mengalir.

Banyak hal yang mungkin related dengan banyak orang di luar sana. Ternyata tradisi orangtua di Korea Selatan sebelas dua belas dengan di sini, yang suka menjodohkan anaknya dengan anak lelaki lain yang mereka temui --bahkan sebenarnya mereka pun nggak kenal-kenal banget dengan si lelaki. Kadang hanya bermodalkan "Ibu/Ayah berteman baik dengan orangtuanya" maka dianggap sudah cukup untuk memberikan batas aman dalam perjodohan itu.

Bukannya Aku Nggak Mau Menikah seperti menyuarakan isi hati anak-anak perempuan yang punya latar belakang sama dengan Lee Joo Yoon. Kembali lagi kepada kesimpulan bahwa, tidak harus menikah untuk dapat bahagia.

Aku merekomendasikan ini untuk yang butuh bacaan ringan --atau yang udah suntuk mendengar tuntutan orangtua. Setidaknya, melalui buku esai ringan ini, kalian bisa sedikit terhibur dan tertawa.
2 reviews
November 27, 2023
GOOD TITLE

When I read the title I feel shock and interest at the same time. This is a translation book from Korean writer Lee Joo Yoon. Not the hard cover typical book but soft cover. So, the readers should be very careful about it.

I think it's such a self improvement book. But, no. When you read the book it feels like you read a girl "Diaries" in her 30 years old. This book is talking about being 30 years old with no dating in Asian. Also, this book give me a clear vision about single in 30 years old it's means nothing when you are have a good job and be rich. This book also give me a clear vision about marriage, that marriage is not just about you and your man. But, also about financial, mental and physical. Also, the writer give us a vision on how your environtment will judge you when you are not getting merried.

The writer also give inderectly Asian statement about girl or women that not marriage it's such a bad things. The writer want the readers to undertand that "No merried" it's not a sin. But, sometimes it's a good choice because men now is very "Wild" in a bad way just like what the writer tell in her book.

In this book, you will find a lot of picture about the object from that chapter that is unique and quirky at the same time.
Profile Image for insightcure.
56 reviews3 followers
December 17, 2022
"Bagaimana kamu bisa tahu akan berhasil atau nggak kalau belum ketemu orangnya? Memangnya kamu peramal? Kamu mau terus-terusan hidup begini, ya? Kamu senang, ya, melihat Ibu berdarah-darah sampai mati?" —hal 192

Ah, pasti menjemukan harus terus menerus bertengkar dengan orangtua perkara masa depan kita, terutama masalah pernikahan.

Padahal bukannya nggak mau menikah, tapi karena belum ketemu yang tepat atau udah ketemu tapi belum siap menempuh "hidup baru" aja.

Pernah ada yang bertanya soal ini kepadaku : Apalagi yang kutunggu? Kalau nunggu siap, siapa aja juga gak akan siap.

Aku mengerti, aku juga dengan senang hati menerima setumpuk nasihat pernikahan dari orang-orang, tapi sejauh ini yang bisa kukatakan dengan percaya diri hanyalah : "Siapkan aja amplopnya dari sekarang ya, karena aku maunya minimal mesin cuci."

Membaca buku ini jelas menghibur dan meninggalkan rasa menyenangkan setelah dibaca. Berisi sambatan-sambatan perempuan berkepala tiga yang dipusingkan desakan untuk menikah serta dijodohkan sana-sini.

Ada masa kita ngerasa biasa aja kalo ditanyain masalah nikah, tapi ada juga sesekali merasa rada "keki" karena tetiba di-judge, apalagi kalo nyinggung kata : terlalu pemilih, nanti perawan tua. Aww.

Menikah bagus. Belum menikah juga bagus. Aku selalu bahagia saat tahu bestie-bestie-ku menikah.

Kalimat di buku ini yang cukup ngena di aku :
🌻 Apakah suatu hari nanti aku akan bertemu laki-laki yang nilainya sepadan dengan kebebasanku?
🌻 Walaupun orang-orang di sekitar mengkritik kamu, JANGAN MENIKAH kalau cuma karena merasa TERBEBANI oleh perkataan itu. Luangkan waktu untuk memutuskan dengan lebih hati-hati. Ini masalah memilih orang yang akan menghabiskan waktu bersamamu seumur hidup, lho.

Kita akan bersama pasangan melebihi kebersamaan dengan orang tua di masa muda. Jadi, jangan sampai menikah sekadar batu loncatan untuk menjawab desakan, tapi karena kita tahu sudah bersama seseorang yang tepat. 💛
Profile Image for lipatanpojok.
95 reviews1 follower
June 10, 2023
" sesudah menghabiskan waktu setiap hari untuk melakukan hal-hal remeh, tanpa sadar aku sudah di penghujung tahun"

Membaca buku ini ibarat kita menemukan buku diary seorang wanita matang yang belum menikah. Kita akan menemukan ceirta-cerita tentang segala hal mulai dari uneg-uneg terhadap kehidupan, keluarga, teman, bahkan diri sendiri terutama berkaitan dengan pilihannya untuk menunda menikah.

Cerita tentang wanita yang "seharusnya" menikah melaui sudut padang dunianya ini sukses membuat aku ngakak-ngakak miris waktu membacanya. (mana ada part yang relate dengan yang kualami lagi wkwkwk) Cerita yang paling ku suka adalah cerita tentang drama dirinya dengan orang tuanya, bikin ngakak. Kek hubungan orang tua anak yang love-hate relationship.

Hal yang aku sukai juga dari buku ini adalah penulis tidak mencoba menggurui atau mengajak orang-orang agar seperti pemikirannya. Dia hanya "menulis" dan "menyampaikan" kepada pembaca, dah gitu aja. Dia jujur dengan terlihat dari tulisannya.

Melalui buku ini memberikan pandangan kepada kita untuk melihat sisi lain dari seseorang yang memilih "menunda" menikah. Mereka juga punya sebab musababnya sendiri mengapa memilih jalan itu. Setidaknya buku ini membantu membuatmu lebih arif dan bijak dalam melihat perbedaan.

cocok jadi bacaan ringan.

lantas apakah akhirnya dia menikah juga?

baca sendiri yak. hahaha
Profile Image for Icha.
55 reviews1 follower
June 25, 2024
Ulasan buku ini sudah diunggah di Instagram https://www.instagram.com/p/C8jh39Dxn...

Tertarik untuk baca buku ini karena judulnya, mengira buku ini isinya bakalan agak humor gitu. Turns out isinya seperti jurnal harian seorang perempuan.

Penulis membagikan pengalamannya yang secara garis besar terkait dengan pernikahan seperti yang disinggung dijudulnya. Banyak permbahasan yg relatable sama isu di masyarakat sekitarku, misalnya ditanyain kapan nikah sama orang tua, temen, sampe orang yg ga kenal deket. Terus ada juga bahasan soal hubungan sama temen, tentang pekerjaan freelance yg ga keliatan kerja (duh ini relate bgt deh), sama pengalaman ga enak penulis selama beberapa kali kencan dengan kenalan baru.

Penulis tanpa malu-malu menunjukkan perasaan tidak nyamannya menjadi seorang yang usianya dengan mudah dilabeli orang-orang tak bertanggung jawab sebagai 'perawan tua'. Belum lagi desakkan untuk menikah membuat hubungan percintaan seakan gak penting lagi bagi orang-orang yg sudah dianggap tidak muda. Pokoknya udah tua gak usah pilah-pilih, asal nikah dan punya anak, jalanilah kehidupan normal seperti kebanyakan orang. Duh, memangnya siapa sih yg bakalan menjalani kehidupan itu, Bisa-bisanya ngomong seenak jidat hhh.

Tapi untungnya konten buku ini gak keseluruhan misuh-misuh soal desakkan menikah. Ada juga yg heartwarming dan bikin merenung macem cerita pas sahabatnya mau nikah, cerita tentang author pas kerja di kafe, sama pas malam natal. 3 cerita itu paling berkesan buat aku.

Profile Image for Ega.
12 reviews
June 20, 2022
"Jangan berkelahi dengan suamimu, ya. Kalian harus hidup rukun. Aku ngga sanggup melakukan ini semua dua kali."

--

Bermula dari sekadar jalan-jalan singkat ke toko buku hingga akhirnya tercenung membaca judul buku ini. Yang membuatnya tambah menarik adalah latar belakang si penulis yang juga merupakan seorang ilustrator buku anak DAN dewasa.

One shall not underestimate the writing that comes from an illustrator. I have a lot of respect toward illustrators as the way they convey a certain message always hits the point...without being offensive. So, if an illustrator is also capable of writing, you can tell it must be serious. More serious than any for of illustration can represent 🤣.

Seperti judulnya, buku ini banyak membahas seputar permasalahan orang yang tidak menempatkan pernikahan sebagai prioritas dalam hidup dan bagaimana reaksi sekitarnya setelah mengetahui bahwa ADA orang yang masih betah melajang dan enggan menikah. Lucu, tajam, dan informatif karena hidup tidak selalu seindah drama Korea.

(Follow me on IG: katamisega for more books to read 💖)
Profile Image for Rusdha A.
8 reviews
February 25, 2022
Maaf aku sebenarnya sangat ingin memberi bintang lebih sebagai apresiasi hadirnya buku ini di kehidupanku. Judulnya bikin langsung beli tanpa tahu reviewnya kayak apa. Tapi entah kenapa sangat berat juga akhirnya aku mengurungkannya.

Ada bagian yang relate banget sama aku, lucu parah, namun banyak sekali yang aku bacanya sampai bingung maksudnya apa. Apa karena terjemahan, atau karena humornya sarkas sampai aku tidak bisa membedakan ini serius atau sindiran. Ada beberapa bagian yang aku sampai mikir, kenapa ya penulis mememasukkan di dalam buku ini. Maksudnya apa?

Selain itu, mungkin karena ini penulis luar negeri--meski ini dari Korea yang aku menilainya dari Asia tapi idenya sangat "barat"--jadi banyak hal yang sangat sulit untukku merasa ingin menerima celetukan pemikirannya, karena memang banyak perbedaan latar belakang budaya, religiusitas, usia, dan aspek lain.

Sorry, it's just not my cup of tea.
Profile Image for Linn.
25 reviews
March 10, 2022
Awalnya sempet lucu, tapi lama-lama terlalu pesimis. Buku ini lebih seperti diary curhatan orang yang sangat ngalor-ngidul. Seperti mendengarkan teman yang ngoceh negatif nggak karuan sampai akhirnya agak bikin capek.

Memang benar ada beberapa komentar yang secara sarkas mengkiritisi tuntutan masyarakat terhadap wanita, bahkan aku sebagai wanita juga setuju banget di beberapa poin, tapi makin ke akhir makin sadar kalau si penulis juga terlalu pemalas dan pesimis melihat semuanya.

Alih-alih melawan balik, dia seperti pasrah dan nggak mau melakukan apapun sebagai bentuk perlawanan. Menurutku itu sia-sia sekali, tapi mungkin juga karena aku merasa masih ada upaya untuk at least memperbaiki diri buat jadi wanita yang sewajarnya (sesuai standar dan keinginan aku sendiri, bukan laki-laki dan orang tua). Bahkan aku nangkepnya si penulis nggak ada keinginan untuk melakukan apa-apa selain misuh-misuh nggak karuan.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nungki.
19 reviews
January 12, 2022
tadinya saya mengira buku ini lebih berbentuk self-help, tapi ternyata lebih seperti membaca diary seorang perempuan usia kepala 3 yang lagi lagi menghadapi problema yang mirip di seluruh penjuru dunia...
pertanyaan kapan nikah? dan bahkan nantinya pertanyaan-pertanyaan lain yang terus saja mengikuti...
kumpulan kisah-kisahnya sungguh mengena, dari rasa malas yang hinggap ketika harus pulang ke rumah orang tua atau ketika akan mengikuti acara keluarga besar, upaya pencarian jodoh, was was saat acara reuni, hingga ke keinginan si penulis untuk rebahan aja tiap harinya...
cerita pembuka di 2022 yang sangat bisa dinikmati....yakin sebagian besar orang mengalaminya dan terangguk-angguk setuju saat membaca curahan hati si Lee Joo Yoon...
Profile Image for Fataya.
Author 3 books17 followers
March 29, 2022
Judul: Bukannya Aku Nggak Mau Nikah
Penulis: Lee Joo Yoon
Penerbit: POP
Tahun terbit: 2021

"Aku harus membawa orang yang akan hidup denganku selamanya tahun ini."

Kebayang gak sihh kalo disuruh gitu tiba² sama ortu cuma gara² udah kepala 3? Panik gak tuhh? Sedangkan si cewek jarang keluar. Yaa gak beda sama aku 😂

Aku tertarik tentunya karena judulnya. Penasaran uyy 😆 Dan kupikir pasti ada jalan keluarnya dong karena buku setebal 272 halaman ini adl buku self improvement. Tapi ternyataaa si penulis Lee Joo Yoon ini hanya bercerita ttg pengalamannya sbg seorang penulis berusia 30-an yang hobinya rebahan 😌
Makanya kubilang baca ini bbrp tu emang relate gitu dg kehidupanku. Gak terkecuali ttg perjodohan 🤣

Well, agak sarkas sebenernya dalam gaya berceritanya. Mungkin karena perbedaan budaya. Tapi ya buatku ini pelajaran juga. Ambil positifnya, buang negatifnya. Gak beda kayak waktu nonton drakor 😂🌸💫🦋🍒✈

Buat yg penasaran sama buku ini, baca deh. Ada sisi hiburannya kokk. Kamu bakal ketawa pas tau sisinya gak beda sama kita yg pernah ngalamin atau ngelihat 😆

#BukannyaAkuNggakMauMenikah #LeeJooYoon #PenerbitPOP
Profile Image for Maknunah.
100 reviews
September 5, 2023
Baca buku ini sampe 2x kali seruu
cerita tentang sudut pandang wanita korea yang didesak menikah oleh orang tua karena sudah berumur, bahasanya agak sarkas tapi serunya disitu, bahasanya ringan dan mudah dipahami. Penulis menceritakan pengalaman-pengalaman yang dilalui dan alasan kenapa dia belum menikah...

Buku ini bakal relate sama wanita yang sudah usia matang? dan didesak menikah oleh lingkungannya
Profile Image for Vinanuraa.
70 reviews
February 18, 2024
“Bukannya Aku Nggak Mau Menikah, Aku cuma kesal ditanya kapan nikah melulu”

Sama seperti apa yang tertulis di sampul buku ini, menggambarkan seluruh isinya. Baca buku ini benar-benar seperti baca buku diary seseorang tentang kehidupannya yang kesal di tanya kapan nikah melulu. Setiap aku baca lembar per lembar dari buku ini, aku mikir “aku baca buku ini buat apa ya?” haha, soalnya isinya kebanyakan keluh kesahnya doang. Wkwkwkwk, tapi cukup menghiburku ternyata hal kayak gini tu dirasain oleh kebanyakan wanita di atas 25 tahun. “Kesal ditanya kapan nikah” sama orang-orang disekitarnya.

Anyway terimakasih salah satu teman yang menghadiahi buku ini, mungkin dia tahu kalau aku kadang sudah mulai resah dan kesal dengan pertanyaan-pertanyaan itu. wkwkwk

Dari buku ini aku jadi sadar bahwa masalah ditanya kapan nikah melulu itu ada di budaya negara lain juga. Bukan cuma di Indonesia saja. Pun juga gambaran tentang betapa orang tua itu sangat menginginkan anaknya menikah dan khawatir jika belum menikah itu juga riil adanya. Wkwkwk

Meskipun berbeda latar belakang budaya (*ini buku korea selatan), tapi secara umum permasalahan wanita di atas 25 tahun yang ada di Indonesia itu sama. Resah terkait dengan jodoh. Resah ditanya kapan nikah mulu. Kesal dicari-carikan jodoh dan dipaksa-paksa menikah dengan laki-laki yang mungkin tidak sesuai dengan keinginannya.

Pokoknya, buku ini isinya kayak diary orang diatas 25 tahun deh, beneran, yang orangnya introvert, usianya 34 tahun, pekerja freelance, dan sedang kesal karena ditanyain nikah mulu sama orang-orang disekitarnya.

Profile Image for Mourning_elf.
587 reviews28 followers
November 23, 2021
The book is so good, it made me laugh and agree with the author most of the times. I am that skeptical with romance and have too much thinking about everything that not happen yet, no I won't marry because my age, and I dunno when I will meet the right one. I am not ready for this commitment.
Profile Image for Made By Isty.
71 reviews
April 3, 2022
Non fiksi dengan pembahasan yg ringan.
Lebih tepat catatan penulis di dalam buku ini.
Karena di bungkus dalam kejadian sehari-hari.

Romance tipis-tipis.

Ada begitu banyak pembahasan disini.
Padet tapi ringkas.
Profile Image for Ran.
12 reviews
May 16, 2022
Baca buku ini seperti ngaca diri sendiri.. sebagai seorang introvert benar-benar senyum sendiri deh. bahasanya juga santai dan mudah dipahami.
Profile Image for Nunik Kartikarini.
352 reviews3 followers
June 1, 2022
Kumpulan esai curhat
Sangat relatable dengan milenial/gen Z perkotaan yg pekerja lepas
Profile Image for Nabilah S.
174 reviews1 follower
January 3, 2024
Ada beberapa cerita yang bagus menurutku tapi selebihnya b aja, malah ada juga yang ga penting
Profile Image for Nanda Supriani.
43 reviews3 followers
July 16, 2023
"Apakah statistik menunjukkan bahwa dengan menikah seseorang pasti akan hidup bahagia?" (Hal. 237)

Esai karya Lee Joo Yoon ini lebih mirip seperti diary, rasanya personal sekali membacanya (mungkin juga karena saya baru menginjak usia 30).

Keresahan-keresahan yang ditulis Lee Joon Yoon sangat mewakili kegundahan saya sebagai single woman di usia 30.

Di sisi lain Lee Joo Yoon dengan tegas menyatakan alasannya belum menikah dan mengapa tidak terburu-buru mengambil keputusan untuk menikah itu adalah tindakan yang benar. Hidup bukan perlombaan, mengapa ketika seseorang menikah maka kita juga harus menikah?

Namun di sisi lain penulis juga tidak ragu menunjukkan sisi "manusia" yang kadang lemah dan kesepian. Dalam beberapa chapter, kita diajak untuk bernostalgia pada masa-masa indah cinta masa lalu. Kita juga diajak berpikir dengan angan bagaimana bahagianya jika punya pasangan yang bisa diandalkan.

Membaca buku ini membuat saya seperti mengobrol dengan teman senasib sepenanggungan. Saya banyak tertawa, berpikir, sedih, maupun merasa getir.

Sekali lagi, mungkin karena cerita di dalamnya terasa personal buat saya yang semakin melankolis di usia sekarang.
Profile Image for Tristanti Tri Wahyuni.
194 reviews6 followers
October 18, 2024
"Siapa, sih, yang menciptakan rumus bahwa pernikahan sama dengan kebahagiaan? Siapa yang akan disalahkan kalau aku buru-buru menikah lalu bercerai?" -- hlm. 16

Buku ini menyajikan curahan hati seorang perempuan lajang berusia 30-an yang menghadapi tekanan sosial untuk segera menikah. Tokoh utamanya yang adalah perempuan berusia 30-an, single, berprofesi sebagai penulis, sehingga sangat relatable dengan diriku. Wkwk

Dengan gaya penulisan yang lugas dan kadang "ngegas", buku ini berisi kumpulan tulisan pendek yang menyuarakan betapa melelahkannya hidup di bawah ekspektasi sosial yang terus-menerus mempertanyakan status pernikahan. Lee Joo Yoon dengan berani mengungkapkan bagaimana tekanan dari keluarga, teman, dan lingkungan bisa begitu mengganggu.

Meski ada beberapa bagian yang mungkin kurang relevan dengan kultur Indonesia (mengingat penulisnya berasal dari Korea Selatan), buku ini sukses menyuarakan perasaan yang sering kali tak terucap dari mereka para perempuan lajang di usia yang sudah matang, menjadikannya bacaan yang ringan tetapi menguatkan.
Profile Image for Fadillah Maronie.
11 reviews
July 18, 2024
Bukan buku yg sesuai ekspetasi gue. Pada akhirnya gue memutuskan tidak melanjutkan buku ini di halaman 100an lebih. Sarkas frontal, gaya penulisan dan pemikirannya ga sesuai kepribadian gue. Jujurly, mungkin juga kepentok value, adat budaya ama pengaruh keyakinan yang menjadikan agak sulit aja gitu buat bisa mengAminkan pemikiran2 dan keputusan2 yang ada dalam buku tersebut, terlebih lagi karena alasannya yang kurang meyakinkan gue aja kali yah. Meskipun buku ini malah banyak pertentangan dengan gue. Overall jika diluar sana wanita2 lain memiliki keputusan yg serupa dengan beberapa wanita dalam buku ini. Namun, mereka memiliki alasan yang lebih meyakinkan. Tentu saja gue ga menentang. Kembali lagi, gaya pemikiran dan penulisan dari Lee Joo Yoon aja yang ga sesuai ama gue. Jadi sulit buat menikmati baca buku ini. Tp, mungkin sebagian org akan menyukai gaya sarkas frontal penulis.
Displaying 1 - 29 of 29 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.