"Kenapa yang gue lakuin selalu salah? Apa gue dilahirin cuma untuk jadi orang yang gagal? Kenapa gue sering ngerasa cemas? Kayaknya, gue enggak punya alasan lagi untuk ngelanjutin hidup. Gue ngerasa kayak nggak punya teman. Keluarga ngga pernah ngedukung, nggak pernah paham perasaan gue. Nggak memaklumi posisi gue. Nggak ada yang bisa ngertiin. Gue sering banget ngerasa nggak guna. Kenapa sih gue selalu butuh reassurance dari orang lain? Kenapa gue selalu butuh penerimaan dari orang lain? Kenapa kesedihan gue nggak pernah berakhir?
Gue udah melakukan berbagai cara untuk self-healing, tapi apa yang salah dari self-healing gue sampai gue merasa makin jauh dari diri gue sendiri?"
Buku non fiksi? Gua merasa buku ini lebih ttg opini penulis dan ajakan keagamaan. Pertama liat covernya, bahkan dari marketing di sosial media, gua punya ekspektasi yang cukup besar tentang buku ini. Gua berharap buku ini punya banyak penjelasan psikologi, tapi ternyata buku ini lebih tentang agama, dia setiap bab diakhiri dgn ajakan untuk mendekatkan diri ke Tuhan. Ya tentu aja kita semua tau pentingnya iman. But, ini cukup mengecewakan kalo butuh penilaian dari sisi psikologi.
“What’s So Wrong About Your Self Healing” By Ardhi Mohamad
Kategori: Novel
“You can deny as much as you want, but the truth will always be the truth”, Hal: 274.
Buku ini terdapat 10 Bab yang membahas tentang keresahan atau permasalahan yang selama ini kita rasakan dari saat kita kecil hingga menginjak dewasa.
Bab yang paling membuat saya ikut banyak merasakan keresahan saya di masa lalu adalah pada Bab 1: Feels Like I Have The Worst Parents. “Keluarga nggak pernah ngedukung, nggak pernah paham perasaan gue. Nggak memaklumi posisi gue”.
Penggunaan bahasa penulis ringan dan gaul, membuat buku ini jadi mudah dipahami. Bahkan banyak part penting yang sudah diberi tanda dan juga Role Map pada setiap akhir bab yang menggambarkan secara keseluruhan inti dari setiap babnya. Dan juga tersedia baris-baris kosong untuk di isi, sesuai dengan keresahan yang kita rasakan selama ini.
Penilaian: 3/5
Kesimpulan: Isi buku ini sangat “relatable” dengan kehidupan banyak orang, membuat buku ini bisa dibaca berbagai kalangan. Hal yang bisa kita ambil dari buku ini adalah selama ini setiap orang pasti memiliki permasalahan hidup masing-masing, entah dari pola yang terbentuk dari parenting yang kita dapat sewaktu kita kecil hingga membentuk “Self-Esteem” kita, ataun faktor dari luar. Hal yang perlu kita tahu adalah bahwa kita harus menerima kenyataan bahwa dalam hidup ini banyak hal yang tidak sesuai keinginan atau kehendak kita. Dan kita harus menerima itu. Karena yang kita butuhkan hanyalah Allah, sebagai penolong, pemberi jalan keluar dan rezeki dari arah yang tak disangka-sangka.
Nb: Ada beberapa hal yang menurutku bisa jadi kelemahan dari buku ini. - Isi tulisan buku membahas self-dev. Tetapi masuk kategori novel - Tidak ada daftar pustaka untuk melihat literatur penulis - Terlalu banyak opini yang dituangkan oleh penulis
Bagus banget bukunya! bener bener bacaan yg aku butuhkan saat ini, sesuai sama keadaan aku sekarang jadi banyak yg relate huhu
Dari buku ini aku banyak belajar berbagai hal contohnya mengenai luka masa kecil, parenting style, tujuan hidup, insecurity, anxiety, kegagalan, depresi etc
Setelah baca buku ini juga jd makin mengenal diri sendiri, makin mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Highly recommended!
meski nggak seagama, aku ikut tertampar juga sih. gabisa emang healing” sendiri tanpa bantuan sang pencipta krn kosong bgt kalau jauh dari Dia :)) thanks bgt buat penulisnya, aku jd balik rutin baca bible lagi hehe.. ohya rangkuman di akhir part berguna+cakep bgt, trus grgr baca ini jd langsung checkout buku sebelumnya wkwk
Buku ini menyadarkanku banyak hal yang paling mendasar diantaranya adalah the way our parents treated us when we were kids. Pola asuh orang tua terhadap kita berpengaruh besar terhadap diri kita hari ini.
“Semua relationship dalam hidup kita adalah hasil dari kita mencoba untuk mencari apa yang hilang dari relationship kita dengan orangtua kita.” -P.143
Kemudian tentang the other side of hoplessness and a failure, dalam keputusasaan kita belajar berharap lagi. Berharap hanya kepada-Nya. The real failure bukan ketika kita gagal setelah mencoba, but when we stop trying.
FYI, ternyata bukan cuma virus yang menular loneliness juga, lo!
Buku ini juga menegaskan kalau selama ini, kita insecure oleh hal2 yang sebenarnya nggak terlalu berarti. Seperti mengingatkan kita mana yang harus diminderin mana yang nggak terlalu berarti. Jadi, ya choose your reference point carefully, kita yang menentukan mau insecure tentang apa ‘cause we’re the ones who create our own insecurity.
Bab yang paling relate denganku feel like I worry all the time. Pesannya mantul banget satu yang pasti apa2 yang ditakdirkan pasti terjadi & yang nggak ditakdirkan maka nggak terjadi. Whether we like it or not.
Semua ada 10 bab & cara penyampaian juga penulisan masih sama nuansanya dengan buku yang sebelumnya ada coretan2 notes hand writingnya dan kutipan2 ayat Al-Qur’an. Yang bikin kita tambah adem saat self healing.
Beberapa point menarik yang bisa dijadikan pembelajaran dari buku ini :
- Secara tidak sadar pola asuh orang tua sangat berpengaruh terhadap perilaku dan pola pikir kita saat ini. Jika kita merasa mendapat pola asuh yang kurang baik semasa kecil, mulailah untuk berdamai dengan diri sendiri, memaafkan dan mulai berbenah diri. Karena tidak ada orang tua yang sempurna, mereka juga manusia.
- Mempunyai harapan adalah hal yang baik, harapan adalah salah satu hal yang membuat kita bisa bertahan hidup hingga detik ini. Namun perlu diingat, semua harapan kita bisa menjadi hal yang berbahaya jika kita terlalu banyak mengharapkan hal yang sifatnya sementara.
- Sering kali kita merasa insecure oleh hal-hal yang sebenarnya kurang berarti, maka mulailah untuk fokus pada diri sendiri, jangan sering membandingkan hidup kita dengan orang lain dan perbanyak bersyukur.
- Semua orang pasti pernah mengalami kegagalan. Tidak apa-apa jika kita mengalami kegagalan karena kegagalan bisa membuat kita lebih kuat, mengembangkan pikiran kita dan mendewasakan kita.
Buku ini merupakan buku self help dengan perpaduan basis psikologi dan agama. Kalo kalian suka dan cocok dengan buku-buku lainnya dari penerbit, aku cukup yakin kalian akan cocok juga dengan buku yang ini. Soalnya setipe. Gaya bahasanya juga sama-sama santai.
Oke, pertama bahas isinya dulu kali yaa. Bahasannya luas. Mulai dari gimana parenting style ortu kita tuh akan mempengaruhi diri kita. Ini aku setuju sihh, karena ada banyak perilaku dan sifatku (baik positif maupun negatif) yang dipengaruhi oleh cara orangtuaku mendidik & memperlakukanku dulu (sampai sekarang). Tapi, aku juga percaya bahwa kita tetap bisa berusaha utk mengubah sifat buruk kita, kok. Makanya, aku juga setuju dengan pernyataan buku ini bahwa ga ada gunanya kita menyalahkan orangtua. Deal with it, dan coba utk memperbaiki hal itu supaya diri kita bisa lebih baik lagi. Aku juga pernah baca bahwa apa yang ada di diri kita merupakan akumulasi dari orang-orang yang kita kenal/dekat. Makanya, selain orangtua, kita juga bisa terpengaruh lingkungan pergaulan kita sendiri. Hal yang aku coba sampaikan disini adalah, jangan melulu nyalahin ortu, bisa jadi sifat jelek kita ini pengaruh dari lingkungan kita juga. Selain itu, orangtua kita kan juga baru pertama kali jadi orangtua, jadi tentunya mereka masih belajar dan ada trial & error juga.
Next, dibahas juga mengenai hal-hal yang umum dibicarakan. Misalnya tentang insecurity, kecemasan (anxiety), kegagalan (failure). Masih ada banyak lagi pembahasannya. Emang sih karena cakupannya luas, pembahasannya jadi kurang mendalam. Namun, sisi positifnya adalah buku ini jadi relate dengan lebih banyak orang.
Dalam menjelaskan di tiap bab, penulis menggunakan skenario yang umum terjadi di kehidupan supaya bisa dimengerti. Penulis juga menambahkan teori-teori psikologi. Sayangnya, gak dilampirkan daftar pustakanya:( Menurutku, next time (di buku selanjutnya mungkin) lebih baik dicantumkan daftar pustakanya, ga hanya "menurut A (19xx) blablabla terbagi menjadi 2 jenis". Daftar pustaka ini juga penting buat mendukung hal-hal yang disampaikan penulis, supaya kesannya ga hanya sekadar opini. Kalo bikin paper kuliahan aja mesti pake dafpus, masa ini nggak?
Nah, di tiap bahasan tadi, tidak lupa penulis menyelipkan bahwa pada akhirnya kita jangan lupa untuk bergantung pada Allah Swt. serta jangan hanya berharap pada makhluknya atau hal keduniawian lainnya yang sifatnya sementara. Ini bagus, a good reminder. Pada akhirnya, kesimpulan yang aku dapat dari baca buku ini adalah: yang salah dari self-healing kita adalah kita tidak melibatkan Allah. Gitusih kira-kira. Sebenernya menurutku sayang aja sih teori-teori psikologi yang udah dipaparkan di tiap bab ga dimasukkan ke dalam kesimpulan ini supaya lebih berimbang—dari sisi agama, ohiya self healing kita kurang melibatkan Sang Pencipta. Dari sisi psikologi, kurangnya di mana nih?
Oiya di akhir juga ada peta konsep (yang tampilannya estetik! Aku suka) berisi summary bab sebelumnya jadi kita bisa mengingat-ingat lagi mengenai apa yang udah disampaikan. Kalo dari segi tampilan, buku ini memang oke. Instagrammable lah istilahnya.
Menurutku, buku self-help itu cocok-cocokan yaa. Aku bilang buku A oke dan nampol banget di aku, bisajadi menurut beberapa orang penyampaiannya terlalu bertele-tele. Sama seperti buku ini. Aku liat buku ini dimana-mana dan banyak yang rekomendasiin juga. Pendapatku soal buku ini: hal yang disampaikan bagus, tapi yaa yaudah aja gitu buatku. Makanya aku rate segini. Sekali lagi, buku self-help cocok-cocokan dan setiap orang punya preferensi masing-masing.
menurutku buku ini bagus banget untuk mendekatkan diri pada Allah SWT dan memperkuat tauhid kita, karena si penulis bener-bener mengajak kita untuk mengingat dan berserah diri pada Allah SWT apapun yang terjadi pada diri kita.
"Unreasonable fear ketakutan-ketakutan yang tidak beralasan ini sering banget menimpa manusia, efeknya manusia jadi takut menghadapi resiko, mereka lebih memilih mundur dari pada menghadapi, kadang menimbulkan kecemasan dan kepanikan, akhirnya zona aman jadi tempat tujuan
Ternyata sikap ini juga ada kaitannya dengan self esteem, semakin rendah nilai self esteem seseorang semakin besar sikap unreasonable fear yang menghingapinya. Berikutnya akan memunculkan efek berkepanjangan seperti mudah merasa kesepian, sulit menerima diri, perasaan insecure, tidak percaya diri, merasa tidak berguna dan lain lain.
Nah buku ini ditulis @ardhimd untuk menjawab ketakutan itu semua, mengapa mereka takut ? Kenapa mereka benci terhadap diri sendiri ? Bagaimana kaitannya dengan pola asuh ? Bagaimana harusnya bersikap ? Dan bagaimanana cara mengatasinya ?
Alur pembahasan buku ini cukup sistematis dan tidak kaku, kita akan di ajak melihat fakta-fakta keluhannya terlebih dahulu kemudian memahaminya lewat opini-opini penulis dan sesekali di sodorkan teori-teori psikologi lalu diajak perlahan-lahan mengatasi dan menyandarkan segalanya kepada Allah SWT dengan hati yang usai
Terdiri dari sepuluh bab buku ini banyak menyuguhkan kejutan di setiap babnya, jadi semakin dalam kita baca maka terasa semakin menarik isinya, di tambah visual ilustrasi mirip tulisan tangan memberi kesan kedekatan kepada pembaca.
Menjelang akhir buku, ada point yang cukup penting disampaikan tentang mendekatkan diri pada yang memberi hidup. Mungkin kita sudah berusaha melakukan ini dan itu untuk healing namun ada treatment penyembuhan yang sering dilupakan yaitu mendekatkan diri kepada Allah SWT
Aku jadi teringat dengan nasehat ini "jangan katakan kepada Allah 'aku punya masalah besar tetapi katakan kepada masalah bahwa 'aku punya Allah yang Maha besar."
Baca buku self improvement pas lagi butuh-butuhnya emang ngena banget. Ada kalanya pikiran sama hati lagi penuh sama hal negatif. Salah satu solusinya selain melakukan amal shalih, bisa dibantu dengan membaca buku demikian.
Penulis membuat narasi yang santai dan tidak menggurui. Secara garis besar, emosi negatif yang dirasakan pribadi terbentuk dari self esteem yang tidak tercukupi oleh orang tua. Penulis mengajak kita untuk memahami bahwa tidak ada orang tua yang buruk, yang ada hanyalah orang tua menyayangi anaknya dengan versi terbaiknya walau penuh keterbatasan.
Aku suka sih bukunya, karena penulis selalu mengaitkan tujuan akhir atas segala kegalauan hidup dengan kembali kepada Sang Pencipta, yaitu Allah. Di setiap bab disuguhi teori, lalu mindmap, dan akhirnya keterlibatan Allah dalam menyembuhkan kita.
I know this book is not for everybody. Buku ini cocok untuk para muslim yang sedang mencari selingan diluar membaca kitab ulama. Setelah membaca buku ini, aku merasakan perubahan yang lebih baik sedikit demi sedikit.
❀ Kalo kamu nyari buku yang serasa di nasehatin sama temen or sahabat kamu yang paling click di kamu dgn gaya tulisan engga menye-menye dan to the point, serius deh aku recommend bgt bgt bgt bgt bgt buku ini💗
❀ Apa yaa buku ini tuh bisa dibilang pas porsinya, tepat sasarannya, dan kalo mau di pikirkan pake logika 'Ohiya yaa bener juga' dan bener bener rightful gitu💯 dan kalian musti bgt dengerin deh podcast eksklusif di bagian bonus di buku ini..asliii sih moodbooster bgt dengerinnya🎧
Aku baca buku ini di Gramedia berharap isinya buat saya langsung beli dan baca di rumah karena emang masuk ke WL gara2 kontennya seliweran tapi drop di bab 1, tidak membuatku healing sama sekali, malah nambah kesel, karena aku merasa gak dimengerti dan tambah dituntut waktu bacanya, menurutku lebih ke kumpulan opini penulis dibandingkan self healing maaf banget malah tambah² stress aku 🥲 bab lain juga gak masuk pembawaannya di aku padahal judul bab nya oke, espektasiku kegedean karena aku suka buku² Alvi Syahrin which penerbitnya sama kan? Akhirnya gajadi beli, cukup baca sekali dan udah
Saat pertama kali baca, entah mengapa aku merasa tertuduh banget. Narasinya begitu blak-blakan, seolah ngobrol dengan seorang thinker yang tidak terlalu berempati. Apalagi di akhir bab diberikan nasehat yang menjurus ke arah muslim yang sangat tidak relate untuk aku yang katolik. Aku sempat berhenti baca di bab 2 dan tak menyentuhnya lagi untuk waktu yang lama.
Kemudian, saat pemikiranku telah terbuka bahwa memang Tuhan satu-satunya sosok yang untuk kita berserah, aku menjadi sedikit lebih nyaman saat membaca. Meski masih tidak relate dengan perbedaan agamanya, tapi aku lebih menerima oleh penjelasan psikologi yang dijelaskan. Aku jadi cukup paham mengenai mengapa aku begini dan begitu dari sisi psikologi yang dijelaskan dengan bahasa santai. Tak lagi merasa tertekan juga. Terus tahu-tahu sudah sampai halaman akhir.
Well, topik-topik buku ini cenderung luas dan umum sehingga penjelasannya tak terlalu mendalam. Terkesan opini karena tak ada daftar pustaka yang mendukung (tapi jika ada, aku tak akan mengeceknya juga haha). Yang jawaban penyelesaiannya selalu Tuhan dan pandangan islam. Jadi sepertinya buku ini cocok-cocokan untuk kalangan tertentu saja, tidak semua orang bisa menikmatinya.
Jujur aku terlalu menaruh banyak harap dengan buku ini, karena sering banget muncul di media sosial dan banyak yang merekomendasikan buku ini. Akhirnya sampailah aku menikmati buku ini setiap lembarnya. Overall buku ini bagus, hanya saja aku kurang setuju dengan plabelan pada buku ini. Rasanya buku ini lebih cocok masuk kedalam kategori "agama" dibandingkan dalam "psikologi/non fiksi". Ada beberapa part dari buku ini yang terdiri dari berbagai teori, namun tidak ada daftar pustakanya.
Buku ini disajikan dengan menggunakan bahasa sehari-hari sehingga mudah dipahami. Buku ini juga disertai dengan ilustrasi-ilustrasi yang menarik dan layout yang tak terlalu padat, sehingga memungkinkan untuk dibaca sekali duduk.
Buku ini cocok untuk pembaca yang menginginkan pengalaman sepiritual, karena berisi tentang bagaimana kita menyerahkan semua masalah kita pada Allah SWT. Dan semua kutipan-kutipan menarik tentang berserah diri ada di Part 10.
"Ketika kita memiliki keluarga yang nggak peduli dengan keadaan kita, ada Allah yang lebih menyayangi kita daripada seorang ibu yang menyayangi anaknya."
Buku ini berisi tentang apa-apa yang salah dari self healing kita. Ngebahas perasaan kita dan hubungan sosial kita dengan manusia lain, dengan teori psikologi yang mudah dipahami. Aku suka banget sama gambar mind map di tiap bab nya.
Buat kamu yang nggak suka 'bawa2' agama dan Tuhan dalam ngejalanin hidup, kamu nggak akan suka buku ini. Karena walaupun ada solusi dari penulis secara universal, di tiap akhir bab, penulis akan mengajak kembali pembaca untuk kembali ke Allah, kembali ke jalan yang lurus dan memahami kembali hidup yang bener yang sesuai maunya Tuhan itu seperti apa.
Selama ini kita kira self Healing yang bener itu ketika keadaan berpihak ke kita, padahal ya yang harus di ubah diri sendiri dulu. Pola pikir kita dulu yang harus lurus dan benar. itu yang aku tangkap pas aku baca buku ini.
Kalo ada yang ngira ini baiknya masuk ke buku agama bukan ke self improvement ya mungkin ada benarnya, karena toh emang penulis kayak ngingetin pembaca banget buat kembali ke 'default' nya manusia di ciptakan. which is good menurutku
aku tunggu buku ke-3 nya ya.. mudah-mudahan ada, aku harap ada.
Dari buku ini aku belajar gimana sih jadi orang tua yg baik dari sisi lain (awal bab). Kita ngga bisa memilih punya orang tua seperti apa. Namun kita selalu ada kesempatan untuk jd orang tua yg baik dimasa depan. Buku ini hanya sedikit bahas soal parenting. Tapi cukup sedikit menyenggol gaya hidup peran keluarga masa kini. Memahami diri dengan baik, menerima masa lalu baik suka dan duka. Menghilangkan rasa dendam untuk memutus siklus tidak sehat pada generasi selanjutnya. Dibahas juga soal manajemen rahasia umum harapan. Yg mana kita ngga boleh terlalu bergantung pada harapan. Pandai-pandailah memilih prioritas. Membaca banyak buku self improvement tidak akan berdamage apa² kalo tidak ada aksi yang nyata dari diri kita sendiri dan tentunya kita ngga boleh berlepas diri dari pemilik alam dan seisinya.
Aku bisa selesein buku ini cuma semalem karena emang kecewa banget sama isinya. Waktu baca, aku ngerasa dihakimi dan 'dituduh' tidak bersyukur atas kehidupan dan apa-apa yang aku punyai sekarang. Ada benarnya, kita ngga boleh selalu ngerasa sedih atas hidup kita. Tapi cara penulis menyampaikan itu kurang tepat. Banyak hal yang disampaikan soal ranah psikologis, tapi aku ngga bisa nemuin sumber ilmiah yang terkait sama itu. Takutnya justru jadi bias. Reminder dengan ayat Allah memang baik banget, tapi mungkin kurang tepat meletakkannya. Lagi, banyak hal yang bisa me-trigger orang yang baca buku ini waktu lagi ngga baik-baik aja. Tapi balik lagi, buku ini mungkin cocok di orang lain, tapi sayangnya ngga cocok di aku.
Baca ini setelah datang ke fan meeting authorsnya dan pas saya tanya, beliau riset dulu kok sebelum nulis. Beliau bilang bahwa butuh 1 tahun buat ngumpulin bahan untuk tulisannya. Sayangnya, mungkin sumbernya tidak disertai ya jadinya terkesan banyak opini.
Overall buku ini menyadarkan saya bahwa sebenarnya yang bisa "mengobati" diri kita yaitu diri kita sendiri. Pada bab tentang orang tua, ketika kesalahan tersebut datangnya dari orang tua, terima kesalahan mereka dan berusaha untuk tetap memperbaiki diri dan jangan mengulangi kesalahan orang tua kita.
Walaupun harganya cukup mahal tapi worth it sih buat kamu yang suka baca buku terus di posting di media sosial ;)
Menurutku, banyak kalimat yang bisa menyadarkan aku tentang insecurity dan bagaimana harusnya aku bersikap. Di bukunya juga ada kayak semacam tipografi gitu, jadi lebih ngga ngebosenin dan ada beberapa halaman yang mengarahkan kita untuk menulis apa yang sedang kita rasakan. Tapiiii, buku ini juga banyak mengajak untuk memaksa diri kita juga untuk terus ikhlas dan terus bersyukur apapun kondisinya. Disisi lain, buku ini juga banyak diambil dari sisi agama Islam yang mana menurutku lebih baik dikasih warning aja disampupnya atau sinopsis.
Tertarik beli buku ini setelah baca beberapa halaman pertama di Gramedia karena merasa relate. Tapi gak expect kalau buku ini kebanyakan akan membahas tentang agama -mengajak untuk lebih dekat kepada Tuhan. Sebenarnya sih, gak ada yang salah. Aku pun cukup terbantu membaca ini di prosesku yang sedang mencoba memaafkan orang lain dan diri sendiri. Tapi alangkah lebih baik kalau penjelasan secara psikologi bisa lebih banyak.
Awalnya saya membeli buku ini karena sangat booming dan sering direkomendasikan, tetapi kembali lagi ke selera ternyata ekspektasi saya terlalu tinggi.
Sebenarnya alasan utama mengapa saya memutuskan membaca buku ini karena penasaran pada bagian konsep bukunya, seperti kita dapat bagian kertas untuk mencoret, tetapi ternyata lagi-lagi konsep buku seperti ini kurang cocok bagi saya.
lo pernah ga sih debat sama orang tapi orang ini nyerang opini dia terus sampe kita ga kebagian jeda untuk napas sekalipun? iya, ini yang gua rasain baca buku ini.
What's So Wrong About Your Self Healing by Indonesian author Ardhi Mohamad is a unique motivational book addressing the common self-healing theme. The book, released in 2021, is a 276-page book with a black cover and vague chapters. Mohamad's ideas relate to current readers, making it a valuable resource for those seeking self-love and self-improvement. Despite not being the first or only book on self-healing, the success of What's So Wrong About Your Self Healing demonstrates its credibility. The book is a must-read for those interested in self-healing and self-love.
We may have experienced disappointment, sadness, and a sense of failure throughout our lives due to our parents or ourselves. These emotional wounds may not be as noticeable during adulthood but become apparent when we become parents. As children, we often blame our parents for our past mistakes, which can be difficult for them. As parents, we may make the same mistakes as our parents, but we must understand the reasons behind their actions. There is no definitive image of what a good parent should be, and no book teaches how to be one. Despite our past mistakes, we grow up well because of our parents, and the parent-child relationship should be nurtured with care and harmony.
Ardhi Mohamad emphasizes the cycle of friendships, which can change over time. As we grow older, our circle of friends may shrink, leading to feelings of abandonment. However, it's important to remember that our former friends haven't entirely left us; some have taken different paths, status changes, or differences in character. Being alone and feeling like we have fewer friends is a life lesson, as they ultimately return to a family habitat. A few people can continue to be with their friends as they start families and grow old together.
What's So Wrong With Your Self Healing emphasizes the importance of past experiences in shaping our present characteristics and behavior. It encourages readers to avoid judgment and to understand others' experiences before making judgments. The book also emphasizes the importance of returning to the Creator for healing, as it simplifies problem-solving. Ardhi Mohamad emphasizes that only Allah can understand all troubles in the hearts of every human being. The book covers various topics related to mental health and provides detailed descriptions of personal growth and how to deal with problems through simple solutions. The book offers surprises in each chapter, making it more captivating and engaging. The book also includes illustrations and attractive images to engage readers and provide note columns for personal experiences.
What's So Wrong About Your Self Healing offers religious inspiration and encourages readers to focus on their strengths and experiences. The author emphasizes that life problems and attitudes result from childhood to adulthood, and we should not blame others for their struggles. Instead, we should remember our relationship with our parents and Allah and work towards improving our relationship with Allah.