Saya terlambat memahami bahwa rumah tak seharusnya hanya dibayangkan sebagai salah satu di antara kemarin dan besok. Gagasan tentang rumah semestinya mengatasi dulu, kini, dan nanti, sebab ia terus bergerak bersama diri saya dan orang-orang yang saya anggap sebagai bagiannya.
Saya merasa beruntung karena menyadari itu sekarang. Beruntung sekali. Nanti siang, ketika tulisan ini terbit, barangkali saya sedang meletakkan oleh-oleh titipan pacar di meja makan, lalu memeluk kedua orangtua saya sambil berbisik, "Buenas tardes, Mama."
Dia mungkin akan menjawab, "Guatemala", dan saya akan mensyukuri semua yang saya miliki hari ini, merayakan yang lengkap dan yang tidak dalam hidup, dengan kegembiraan tak terkira.
("Rumah = Nostalgi + Fantasi")
***
Berbeda dari buku kumpulan tulisan nonfiksi sebelumnya, Kenapa Kita Tidak Berdansa? memuat lebih banyak esai personal. Dea Anugrah membicarakan sejarah, politik, kota, dan lain-lain sebagai perkara-perkara menarik yang dekat dan sehari-hari. Ia seperti teman lama yang kita undang ke rumah malam-malam untuk bercerita. Kisah-kisahnya memikat dan kita ingin terus mendengarkan sampai terang, baik di luar rumah maupun di dalam diri kita.
Dea Anugrah is a writer based in Jakarta, Indonesia. His most recent poetry collection Misa Arwah (2015) was longlisted in 2016 Khatulistiwa Literary Award. His collection of short stories Bakat Menggonggong (2016) was recognized by Rolling Stone Indonesia magazine as one of the best Indonesian books of 2016; it was also shortlisted in 2017 Khatulistiwa Literary Award. He regularly writes essays and journalistic reports for Tirto.id.
Agak berbeda dengan "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya", kumpulan esai Dea Anugrah yang kubaca sebelumnya, buku ini terasa jauh lebih personal. Bahkan terasa seperti blog pribadi milik penulis.
Dalam buku ini, Dea membicarakan banyak hal mulai dari pengalaman ayahnya semasa hidup di bui, kehidupan kampus dan bagaimana ia sempat menjadi pemuda rasis, pekerjaannya sebagai jurnalis media, ketekunannya dalam seni karaoke, nostalgia dengan rumah masa kecil, membahas nasibnya sebagai keturunan Cina, perihal kritik sastra yang membawanya ke panggung festival kepenulisan, hingga tumpahan perasaannya saat menyandang status sebagai seorang ayah.
Pada salah satu esai, ia juga membahas tentang urgensi membaca karya para penulis perempuan. Meski pada tulisan lain, ia malah menyindir cuitan salah seorang penulis perempuan—Ika Natassa—tentang penghasilan minimum tinggal di Jakarta. Ya, sebetulnya itu lain hal.
Terus terang saja, tulisan nonfiksi dari tangan Dea Anugrah memang selalu menarik. Saking menariknya, aku hanya perlu dua kali menyelipkan kertas pembatas saat membaca buku ini. Pertama, saat mengambil piring nasi untuk makan malam. Kedua, ketika mendengar suara Tiara Andini di televisi saat tampil jadi bintang tamu sebuah acara pencarian bakat.
Aku lebih menikmati esai-esai di buku ini; terasa lebih personal, reflektif, dan hangat. Layaknya yang tertulis di blurb-nya, aku seperti mendengarkan teman yang umurnya lebih tua menceritakan kisah-kisah hidupnya di masa lalu, yang penuh penyesalan dan kekurangan, tapi menguatkan dan membuatnya lebih bijak. Dan setelah mendengar (membaca) cerita-ceritanya, membuat kita, para pembaca, bisa belajar darinya.
Buku yang langsung saya PO sesaat setelah diumumkan oleh penulisnya di twitter. Dan saya sama sekali tidak menyesal dengan keputusan itu. Pa Dea ini salah satu penulis favorit saya karena gaya tulisannya yang begitu mengalir dan "kaya" tanpa terkesan sedang pamer "kekayaan". Saya betul-betul menikmati setiap esai dalam buku ini sampai-sampai saya pirit-pirit dan hemat membacanya agar tidak lekas selesai.
Tulisan favorit saya di sini yang pertama adalah "Keberanian Menghadapi Kebaruan". Selain tentu karena amat enak dibaca, agaknya juga disebabkan oleh kondisi saya sekarang yang bisa relate dengan isinya. Padea seakan sedang ngrobol dengan saya seputar kebaruan-kebaruan dalam hidup yang begitu menjengkelkan. Tulisan ini ditutup dengan sebuah paragraf yang amat cantik dan sekarang menjadi mantra yang terus-menerus saya rapalkan di tengah perjalanan menghadapi kebaruan.
Favorit saya yang lain, tentunya adalah "Mari Bung, Nak, Rebut Kembali". Tulisan ini sebetulnya pernah saya baca di Kumparan Plus. Saya langganan lo, Padea! Hehe. Tulisan ini mengalir dengan begitu enak. Sangat enak dibaca dengan berbagai kisah hidup Padea yang diceritakan di sana. Saya jadi kepingin berdiri tegak di depan bendera merah putih sambil dengan lantang melantunkan Halo Halo Bandung. Tentunya dengan suara saya yang nggak enak-enak amat.
Saya lebih suka kumpulan esai pertama Dea Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya. Memang seperti yang Dea bilang sendiri ketika launching bahwa Kenapa Kita Tidak berdansa? lebih personal. Namun, bagi saya cerita personal Dea di dua judul terakhir terlalu personal layaknya diari. Lalu, resensi tentang novel Pulang yang dimasukkan ke dalam buku ini yang terbit di tahun 2021 menurut saya sudah out of date. Hal terakhir dalam catatan saya adalah sarakasme-sarkasme yang membuat kening saya mengerut. Saya harus membaca berulang untuk dapat mengerti jokesnya.
Saya menyukai hampir semua judul. Selalu menarik bagaimana Dea melihat fenomena dan menghubungkan dengan bacaan-bacaannya. Saya seperti memiliki teman cerita dengan referensi buku yang banyak. Dalam keseharian saya mencoba begitu juga, tapi malah tak dianggap oleh teman-teman saya.
Menyelesaikan buku ini dalam satu sore setelah jaga malam dengan kesempatan tidur yang minim. Ternyata aku merindukan membaca buku berbahasa Indonesia. Setelah SMP dan SMA lumayan rajin membaca Sastra Indonesia, beberapa tahun terakhir vakum membaca Sastra Indonesia dan seringkali lupa bagaimana menulis kalimat dan paragraf dalam Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Bukan bermaksud menjadi snob tapi memang aku saja yang payah dalam berbahasa.
Dea Anugrah, mengetahui penulis ini tentu saja dari pacarku yang sepertinya lebih banyak membaca Sastra Indonesia dibandingku. Aku malah lebih dulu tahu Nadya Noor, istrinya, karena beliau seorang ilustrator yang aku gemari karyanya.
Esai personal yang ditulis Dea penuh dengan kejujuran meskipun sesekali mungkin terasa arogan tetapi tidak menyinggung. Judul terakhir di esai ini singkat tapi secara diam-diam membuatku menitikkan air mata.
Sepertinya di sisa akhir tahun ini akan lebih banyak lagi membaca buku berbahasa Indonesia, setelah beberapa waktu kemarin sempat membaca buku Sabda Armandio dan Raisa Kamila.
Buku kumpulan esai kedua dari Dea Anugrah yang saya baca. Di sini, ia lebih memfokuskan perjalanan hidupnya dan hal-hal yang ia miliki saat ini, seperti anak pertamanya yang lahir pada 2021. Selain itu, ia juga menceritakan tentang makna rumah di judul "Rumah = Nostalgi + Fantasi". Ia memaknai rumah sebagai tempat berisi kenangan-kenangan yang pernah ia lalui dan saat ini ia memiliki tempatnya tersendiri untuk menjalani hidup. Secara keseluruhan, saya bisa menikmati tulisan-tulisan di dalam buku ini.
Tulisan Dea selalu membuat hati senang, sangat sastrawi. Di buku kali ini nampaknya Dea Anugrah lebih berani dalam menuangkan pikirannya, tentu dengan kalimat dan diksi-diksi yang memukau. Namun keterbatasan saya dalam mencerna beberapa kalimat nampaknya membuat saya mengurangi satu bintang pada review kali ini. Buku ini bagus, namun dibandingkan buku Hidup begitu indah, sedikit kurang bisa saya nikmati
Beberapa bulan lalu, Dea Anugrah hadir kembali dengan kumpulan esai, artikel, & tulisan fitur yang pernah dirilis di beberapa media. Setelah menikmati membaca "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya", ada rasa penasaran saat akan membuka buku ini. Kumpulan tulisan sebelumnya cukup hangat, enak dibaca, & memberikan insight tanpa terlalu berusaha sok tahu, walau terkadang terasa sisa2 arogansi yang di kemudian hari dia bertobat darinya.
"Kenapa Kita Tidak Berdansa?" hadir sebagai saudara kembar kumpulan esai sebelumnya. Atau sisi mata koin satunya. Terserah mana analogi yang lebih enak hahaha. 17 tulisan di sini memiliki kualitas yang serupa. Ringan namun berbobot, mudah dibaca, pun terselip di sana-sini kisah pribadinya.
Namun di sini, terasa ada kualitas personal yang lebih terasa. Tampaknya, menikah, memiliki anak, & dihempaskan beragam pergumulan hidup serta tantangan2 terhadap idealismenya sedikit demi sedikit meruntuhkan apapun kesombongan yang mungkin pernah dia miliki. Tentu ada selipan rasa percaya diri menyerempet ke arogan khas Dea. Namun sensor pribadinya pun hadir di sana sini, untuk alasan yang baik, saya rasa.
Dua tulisan yang saya cukup gemari: - "Arti Sebuah Nama" - tulisan yang membahas nama depannya yang lebih lekat ke perempuan, latar belakangnya yang cukup patriarkis secara pemikiran, maupun pengalamannya memahami perempuan dengan lebih serius, yang diperdalam dengan perbincangan2nya dengan (yang nantinya menjadi) istrinya. Kecurigaan saya di buku sebelumnya ternyata benar. Bahwa bangkit dari latar belakang yang misoginis itu mungkin. - "Curriculum Vitae" - mungkin akan jadi model "CV" yang ingin saya duplikasi untuk diri sendiri. Perpaduan apresiasi pribadi maupun pengingat untuk mawas diri. Naik daun, dihempas realitas, & berdamai. - "Mari Bung, Nak, Rebut Kembali" - tulisan penutup yang begitu hangat soal keluarga kecilnya. Mengajak untuk bangkit lewat hal sederhana.
Tidak ada yang benar2 spesial dibanding kumpulan tulisan sebelumnya. Hanya ada kecerdasan, keringanan, & "pertobatan" yang sama.
Seperti cuplikan di belakang buku, yang saya amini, esai-esai di buku Kenapa Kita Tidak Berdansa memuat pandangan yang lebih personal dari Dea Anugrah yang dipublikasi pada rentang 2012-2021.
Tidak seperti bukunya yang sebelumnya pernah saya review, esai di buku ini dikupas dan dibahas lewat sudut pandang yang lebih personal. Terlihat dari bagaimana Dea menyisipkan hasil pemikirannya (sementara di Hidup Begitu Indah, beliau lebih banyak menggunakan pendapat orang lain ketimbang memasukkan opini pribadi). Dea memulai tulisan di esai-esai ini berangkat dari apa yang dia dengar, apa yang dia lihat, dan apa yang dia alami. Bukan secara general seperti bagaimana dia memulai esai-esai di Hidup Begitu Indah.
Dalam buku-buku ini, Dea menyajikan tulisan-tulisan tempat dia mematahkan pemikirannya sendiri. Dea mengoreksi diri, dan kita membaca hasil perenungan dan perbaikan dirinya untuk belajar. Bersama esai-esai ini, tanpa sadar saya terbawa untuk ikut bercermin dan memperbaiki diri; entah dari perilaku maupun pola pikir. Begitulah kesan yang saya dapat sewaktu membaca. Tulisan-tulisan Dea selalu bisa membuat berpikir, dengan cara yang sangat halus dan mudah diterima.
Membaca esai berjudul Asal-Usul Penderitaan membuat saya kembali sepakat pada isi kepala Dea. Esai-esai yang Dea tulis mengenai pemilihan Gubernur Jakarta, contohnya, terasa dekat seolah saya sedang membaca catatan saya sendiri; hasil perenungan saya. Atau saat Dea menulis, yang saya kutip, “...tulisan tidak semestinya dibuat dengan tujuan mengubah orang...” yang lagi-lagi mengetuk nurani saya (mengingat saya juga menulis, meski masih amatir dan hanya jadi konsumsi segelintir orang saja). Atau seperti yang Dea tulis di Curriculum Vitae soal bagaimana prosesnya menulis dan berkecimpung di dunia sastra mengubah satu-dua bagian dari pemikirannya.
Adalah hal yang selalu menyenangkan bagi saya setiap kali membaca bagaimana seorang penulis menempuh proses kepenulisan yang tidak jarang sulit bahkan mampat sama sekali. Kalau Dea bilang tulisannya tidak merubah apa-apa, saya hendak memberi bantahan. Faktanya, bagi saya, tulisan Dea membuat saya menyematkan namanya sebagai penulis yang saya sukai, mengajak saya berpikir, dan berhasil membuat saya merenung. Memang bukan perkara dahsyat yang bisa mengubah dunia, tapi setidaknya tetap sesuatu yang layak saya rayakan.
Esai-esai dalam "Kenapa Kita Tidak Berdansa?" terasa lebih personal dari buku sebelumnya. Dea banyak bercerita tentang identitas dan keluarga, menjadi penulis dan seorang ayah, masa sekolah hingga pekerjaannya (kalau kamu menonton Distrik, akan lebih paham lagi), tentang kemiskinan yang membuat saya berpikir dan kota-kota (saya curiga Dea punya andil dalam akun twitter 'txtfromdepok'), tentang respons terhadap politik dan keadaan yang begitu ruwet. Bahkan Dea memberikan bocoran juga cara dia menulis.
"Setiap tulisan berangkat dari ikhtisar. Saya memecah pokok pembicaraan menjadi semacam bata-bata kecil, membayangkan pilar dan kamar, mengatur penempatan setiap bata, merekatkannya dengan cerita dan humor, agar kelak ia menjadi bangunan yang kokoh, molek, sekaligus nyaman ditinggali."
Buku ini terasa ditulis dengan perlahan (dan hati-hati?) yang membuatnya enak dinikmati secara pelan juga. Entah kenapa alur yang pelan ini bikin saya membayangkan Dea, di malam menjelang pagi, mengetik untuk mengisi blognya. Seperti sampulnya yang akan menjadi satu dengan sampul baru 'Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya', buku ini berisi kepingan yang sedikit demi sedikit melengkapi gambaran Dea sebagai manusia.
"Ikut dalam kelompok berarti menyediakan diri untuk membela anggota-anggota lain kelompok tersebut, dan pengalaman satu dekade lalu mengajarinya untuk tak membela atau mencela orang. Kalaupun perlu memprotes, sistemlah sasarannya."
Sepertinya cukup banyak kesamaan saya dengan Dea (tanpa berusaha menyama-nyamakan karena tentu pengalaman dan kekerenan Dea lebih banyak. Hahaha.) Saya banyak setujunya dengan ulasan novel 'Pulang'-nya (Dea mengartikulasikan yang saya rasakan dengan sangat jelas), saya pun suka sekali mendendangkan Halo-Halo Bandung untuk menidurkan Saga saat dapat giliran jaga siang (sekarang sih Saga sudah ikutan nyanyi bukannya tidur.) Lagi, seperti yang saya tuliskan di ulasan bukunya sebelum ini, Dea sepertinya bisa menjadi teman bercerita yang asyik—saya lebih banyak mendengarkan tentunya.
Yang menyenangkan lagi, tercantum di halaman 'Tentang Penulis', novelnya akan terbit tahun depan! Asyik! Hahaha.
Sesap kehangatan bak meminum teh panas saat menggigil karena AC kantor terasa benar pada alinea-alinea ini:
"Kalau ada kesempatan, saya ingin mengatakan kepada teman saya bahwa tak peduli sukses atau tidak, menjadi besar atau tidak, dia tetaplah salah satu orang paling menyenangkan yang saya kenal. Dan atas dasar itu saja, hidupnya patut dirayakan.
"Jauh di dasar jiwamu bertumpuk satu dunia," kata Chairil dalam sebuah puisi untuk sahabatnya, penyair LK Bohang. Dan pada baris lain, ia memuji sepenuh hati, "Duka juga menengadah melihat gayamu melangkah."
Tak ada satu pun karya Bohang yang saya ingat. Mungkin karena memang tak ada yang istimewa. Bagi saya, ia cuma satu dari ribuan nama yang tenggelam dalam sejarah sastra Indonesia, tetapi Chairil Anwar merayakannya." -Hal. 42-43
Rasa haru alinea ini senada dengan film "It's a Wonderful Life", bahwa setiap kehidupan mengandung semestanya sendiri.
Dalam esai ringan nan asik ini, Dea mengajak kita menyelami brutalnya penjara, menghidupi kembali jiwa kanak dalam diri kita, hingga menggali realita ibu kota dari berbagai saksi mata. Beruntung saat membaca ini, saya sudah resmi merantau di Jakarta, rasa buku ini jadi sangat dekat dan makin nikmat. Keseluruhan buku ini ringan dan rasanya seperti diajak cerita sahabat lama, sembari ngopi hingga tengah malam, kita duduk manis, mendengarkan seuntai rajutan kehidupan Dea.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Pertama kali saya baca tulisan Dea di "Bakat Menggonggong", saya tidak begitu suka. Buku ini pun saya baca dengan persepsi yang hampir sama. Secara kebetulan saya menemukan buku ini di tumpukan buku diskon sebuah bazar buku. Karena agak malas, buku ini mengendap di atas meja makan tanpa saya sentuh selama beberapa hari.
Tetapi, ketika secara kebetulan saya mulai baca buku ini, saya merasa jatuh hati. Esai-esai yang ditulis mengingatkan saya akan pengalaman membaca "Bagaimana Si Miskin Mati" karya George Orwell. Saya ikut marah, sedih, juga tertawa dengan cerita-cerita yang ditawarkan Dea. Bagi saya Dea ahli sekali dalam merakit cerita, mencari potongan-potongan hidupnya lalu dikaitkan dengan topik besar yang ingin ia bawa.
Yang saya suka adalah cara Dea menggunakan kutipan dari penulis-tokoh-atau orang lain. Sejatinya Dea banyak sekali mengutip perkataan orang dalam buku ini, tetapi ia merangkainya sedemikian rupa sehingga tokoh yang dikenalkan tidak terasa asing, dan kutipan terasa sangat menggema sesuai dengan topik yang ditulis.
Lewat tulisan ini saya merasa diajak ngobrol sama Dea. Obrolan serius dibalut dengan gaya bahasa santai yang lugas, yang endingnya membuat kita sama-sama melenguskan napas, lalu tertawa sehabisnya, barangkali
Seperti yang tertulis di belakang buku, membaca kumpulan esai ini seperti sedang dicurhatin teman lama hanya saja dalam format bahasa yang lebih kaku.
Kak Dea bercerita mengenai pengalaman ayahnya di bui, masa kuliah di mana ia pernah menjadi seorang yang rasis, dirinya sebagai jurnalis media (yang sampai saat ini masih membuat saya terkagum-kagum dengan caranya menelisik permasalahan kota dari berbagai sudut pandang), soal nostalgia keluarga, awal mula namanya dikenal di dunia sastra, hingga perasaannya ketika menyandang status ayah.
Tiap babnya terasa dekat dan hangat. rasanya seperti menemukan harapan setelah menyelesaikan tiap babnya. Dalam banyak hal juga, saya menemukan Kak Dea sebagai sosok yang semena-mena, keras, dan rasis, tapi di satu sisi selalu ada hal manis yang bisa dia simpulkan sebagai pembelajaran dan itu menular ke pembacanya.
Ada satu kalimat favorit saya.
“Saya kira, satu-satunya cara untuk benar-benar menyingkap kebaruan adalah dengan mengalaminya secara langsung— sembari berharap hal-hal yang saya kerjakan, apa pun bentuknya, dapat menjadi kebaruan yang menggembirakan”
Ada 17 esai dalam buku ini, hanya 1 yang belum pernah terbit dimanapun. Sisanya bisa teman-teman jelajahi di berbagai media: Indoprogress, Kumparan +, Tirto.id, ataupun Asumsi.
Ternyata saya lebih siap dan bisa menikmati Dea sebagai penulis fiksi: cerpen dan puisi. Karya-karya yang terasa segar dan bernas sehingga Penulisnya patut dibebani sebagai masa depan sastra Indonesia.
Tapi dia gugup dalam menulis esai. Terkadang kita menemukan pikiran yang saling bertabrakan dalam satu tulisan. Terkadang kita merasakan kegugupannya dalam mengutip—sedangkan seringkali esai yang baik memang berisikan banyak kutipan orang lain yang tak sekedar mengutip kata-kata ala “quotes”, tetapi juga mesti sampai ke kedalaman konteks mengapa itu sampai penting untuk dikutip. Dea belum sampai di situ. Terasa benar Dea sedang berproses menyadari yang penting dan tidak penting dari sebuah esai.
Karena itu, saya akan lebih menunggu cerpen atau puisi dia berikutnya: yang berisi kejutan di sana sini. Eh tapi ada juga karya fiksi dia yang lain dalam bentuk novel dan baru terbit ya?
usai reading slump yang akut berbulan-bulan, akhirnya selama dua hari ini dapat menyelesaikan satu buku.
seperti catatan publikasi di empat halaman terakhir, beberapa tulisan memang sudah pernah saya baca sebelumnya lewat berbagai media. meskipun begitu, saya tetap antusias ketika membaca Harapan, dari Dekat Sekali. Keintiman dan sudut pandang alternatif terkait suatu peristiwa besar pasca pilpres 2019 masih sama rasanya. Detail-detail baru saya temukan saat mengulang Enam Menit untuk Selamanya. Curriculum Vitae, satu-satunya tulisan baru, cukup berbeda dan terbuka. Saya beruntung sekaligus tidak ketika sampai di Yang Menarik dan Tidak Menarik dari Pulang. Beruntung karena sedikit disinggung ketika Curriculum Vitae dipublikasi di laman pribadi penulisnya, sehingga tidak terlalu kaget dengan pukulan-pukulan di dalamnya. Tidak beruntung karena Pulang sudah lama saya miliki, tapi tak kunjung saya konsumsi.
Awalnya saya mau beri dua bintang, alasannya simpel, karena tidak semenarik "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya." Kumpulan esai ini terasa lebih pribadi dan erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari serta keluarga penulis.
Kurang lebih argumen saya jika dihadapkan dengan esai-esai semacam ini tetap sama: Jika bukan persoalan yang penting-penting banget menurut pribadi saya, seperti kiranya peristiwa 65, maka saya mudah bosan baca esai yang erat kaitannya dengan kehidupan pribadi seperti esai di dalam buku ini. Ini persoalan selera. Bahkan sebelum menuntaskan membaca buku ini, atau lebih tepatnya ketika bercokol di halaman 99, saya sudah memikirkan akan memberinya dua bintang. Tapi, persetan lah dengan rating.
Setelah membaca esai "Kota Terbaik di Dunia," penilaian saya berubah. Boleh lah diberi tiga bintang, Dea sukses membuat hari Sabtu saya mengakak berjingkrak-jingkrak seharian.
"Sebagai sesama warga Depok, brengsek juga Dea," gumam saya :))
Membaca buku ini sekali lagi membuatku rindu menulis. Aku merasa tak asing saat memabaca keseluruhan esai yang cukup personal dan melalui proses berpikir dan perenungan yang mendalam. Aku pernah menuliskan hal yang serupa (walaupun tidak sebagus cara Dea Anugrah menulis) tentang apa yang kualami dalam keseharian, fenomena yang kutangkap lewat mata dan telinga sekaligus mengeluarkan apa yang membuat kepala pengar dan isi perut berputar-putar.
Buku ini adalah sebuah buku harian. Tidak kurang dan tidak lebih. Berisi bahasan yang beragam. Aku sedikit bertaruh bahwa Dea Anugrah menulis esai di buku ini bukan untuk menyebarkan pemikiran dan mengubah peradaban. Esai dan pemikiran di dalamnya hanya ditulis untuk mengeluarkan dan meluruskan keruwetan isi kepala.
Namun itu semua tidak penting, karena pada akhirnya tulisan akan menemukan pembacanya. Tulisan akan bergerak dan memberikan dampak tak terlihat yang terkadang penulisnya sendiri tak mengetahuinya.
Kadang bikin ketawa, kadang bikin sedih. Satu tulisan kasih harapan, tulisan lain cukup pesimistis. Ini buku kumpulan esai personal, semacam memoar, dari Dea Anugrah yang asyik dibaca kapan aja. Faktanya, selagi menyusun proposal skripsi, aku baca lima esai pertama. Apa efeknya? Pikiranku jadi lebih rileks!
Di buku ini, Dea Anugrah membagikan perjalanan hidupnya bersamaan dengan perubahan pemikiran seiring dia bertambah dewasa. Dari yang tadinya punya cita-cita besar di dunia kesusastraan, sampai akhirnya melihat hidup dari dekat dan menikmati hal-hal sederhana. Juga ada beberapa tulisan hasil dari pengamatannya terhadap apa yang dia liput selama bekerja sebagai jurnalis di salah satu media. Yang paling kusuka, Dea Anugrah bisa menempatkan dirinya dalam kacamata orang lain yang jadi bahan tulisannya seperti di esai tentang Manggarai dan kericuhan usai Pemilu 2019.
Beberapa esai di buku ini pernah kubaca dan, jujur saja, untuk tulisan-tulisan Dea Anugrah, rasanya aku tidak pernah keberatan untuk membacanya lebih dari sekali.
Seperti keterangan di sampul belakang, ini memang lebih personal dari "Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya; tulisan nonfiksi sebelumnya. Di buku ini, Dea bercerita banyak hal sebagai dirinya dan lingkup hidup yang dijangkaunya. Seolah mini-rekam-jejaknya bertumbuh menghadapi hidup sejak perannya sebagai anak hingga kini sebagai bapak. Ketakutan dan ketidaktahuan di masa kecilnya, sembrononya sebagai remaja dan kedewasaan yang berapi-api, hingga kini "lebih senang menilik sasaran yang dekat-dekat saja" (Curriculum Vitae, hlm. 117).
Alasanku menjadi fangirl Dea Anugrah tentu bukan semata karena kami satu kampung halaman, tapi karena tulisan-tulisan beliau memang enak banget dibaca. Penuturannya sedemikian luwes, sehingga pembaca bisa paham dan bahkan berempati sama keresahan yang pengen dia bagi.
Buku ini adalah kumpulan esainya yang hampir semuanya udah pernah diterbitin di berbagai media.
Di buku ini, aku paling suka esainya yang berjudul 'Lahir Seorang Rich Brian, Tenggelam Beratus Ribu' dan 'Enam Menit untuk Selamanya'. Alasannya karena kedua esai ini membahas dua dari berbagai penyebab keresahan yang menghuni otakku bertahun-tahun: cara masyarakat mendefinisikan kesuksesan dan nasib orang-orang miskin di Jakarta.
Aku jarang nangis baca buku nonfiksi, but well, this book made me cry a bit.
tidak pernah tidak suka dengan tulisan dea anugrah, paling banter mungkin agak bosan -- tapi bukan tidak suka. kali ini pun, nyaris semua essay di buku ini aku suka. ada satu essay yang menenangkan gemuruh pikiranku yang merasa selalu gagal meski sudah mau 30 tahun hidup. yak, betul sekali, essay berjudul Lahir Seorang Rich Brian, Tenggelam Beratus Ribu. memangnya kenapa sih seseorang harus sukses? beradu mesra dengan pertanyaanku : memangnya, hidup itu harus bahagia? bisa tidak kalau hanya biasa-biasa saja?
kenapa kita tidak berdansa? kenapa kita sulit menemukan alasan berpesta? kenapa kita perlu alasan untuk merayakan hidup? sedang hidup itu sendiri adalah perayaan yang berkepanjangan.
Aku akan mengawali ulasan dengan sangat nggak professional: CINTA BANGET SAMA DEA ANUGRAH! Kenapa sih Dea nulisnya bagus banget? Dibanding kumpulan esai sebelumnya, “Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya”, buku ini lebih personal. Dea masih bercerita ngalor ngidul soal bermacam-macam pengalamannya yang herannya selalu menarik. Gaya berceritanya masih berangkat dari satu peristiwa kecil yang dihubungkannya pada isu yang lebih besar. Tapi ya, baca buku ini justru memakan terlalu banyak istirahat. Bukan karena nggak seru, tapi kaya nafas dulu–renungi dulu–kadang sedih dulu. Terima kasih Dea, atau biasa kusapa Mas Dea, udah memilih menerbitkan buku di tahun sekuel 2020 ini!
Setelah suka banget sama "Hidup Begitu Indah dan Hanya itu yg Kita Punya", dibikin senang lg sama ini. Tulisan2 di sini terasa lebih personal, tp tetap menarik, seru dan nambah perspektif + info2 baru.
Dari semua, favorit saya "Rumah= Nostalgia+Fantasi", tp yg "Kota Terbaik di Dunia" jg epik sih, wk relate sekali saya. Berharap rutin bakal ada kumpulan tulisan gini lagi dari bang Dea buat beberapa tahun sekali.
Di bab soal Rumah itu hampir tumpah air mata. Bagian 'ketidakutuhan keluarga' mayan ngena sama part2 akhirnya bikin anget sih. Mungkin juga karena gw baca sambil dengerin Tohpati yg "Ingin Ku Miliki". Haha
Slightly better than the previous book. More personal, less pretentious, and reflective.
I genuinely like "Curriculum Vitae" which I consider his best essay from this book and the previous one. Although his notes on Leila Chudori's Pulang is remarkable as well. Dea displays his sharp senses as a writer when analysing the novel. The sensitivity to the character's voice; creates nuance; avoiding clíches; and other factors that enrich a book.
That being said, this is gonna be the last book I'd read from him.
Meski ditulis penulis yang sama, “Kenapa Kita Tidak Berdansa” cenderung lebih personal. Saat membaca buku kumpulan esai Dea yang satu ini, saya seperti mendengarkan seorang teman dekat sedang bicara. Begitu intim. Ia seolah mengajak saya melihat kejadian-kejadian yang pernah ia alami dari masa kanak-kanak hingga bagaimana ia menjadi orang tua.
Dea cukup piawai mengolah emosi pada tulisannya, yang menjadikan saya sendiri sebagai pembaca sedikit banyak merasakan apa yang ia rasakan. Pendapat bahwa manusia saling terhubung, meski secara tidak langsung, memang benar adanya.
Satu-satunya saat saya akan berdansa adalah saat rumah sedang sepi atau waktu sendiri di kamar mandi. Meski begitu, perayaan seperti itu juga termasuk perayaan.
Saya membaca “Kenapa kita tidak berdansa?” saat sedang perjalanan pulang selepas menjemput buku ini dan tiga buku lainnya di sebuah bazaar di Jogja. Meski dapat tempat duduk di kereta, saya memutuskan untuk berdiri melihat seorang bapak kepayahan sambil berpikir, “tulisan Dea selalu bagus”. Saya jadi mengingat-ingat alasan kenapa saya ingin menulis dan kenapa sekarang saya tidak menulis.
Kali ini baca esai Dea Anugrah yang melihat merasa dan menyaksikan kehidupan sekelilingnya. Pengamatan dan empatinya terasa tajam khususnya persoalan sosial dan selera sosial.
Chapter yg saya suka soal tinggal di ibu kota yang memang mau tak mau membuat saya awas dan cemas. Keras sekali ya.
Oh semuanya ditulis dengan sederhana dan lugas tidak sampai mengawang ngawang yang membenturkan ubun-ubun.
Dan yah selain Eka, GM, Linda dan SGA sepertinya essai Dea patut saya kagumi
sejujurnya aku lebih menikmati kumpulan cerita di buku ini dari pada di "hidup begitu indah dan hanya itu yang kita punya". mungkin karena cerita-cerita di buku ini begitu personal. jadi pas lagi baca, serasa lagi dengerin mas dea curhat. dan karena aku suka dengerin mas dea di podcast atau nonton video-video mas dea di youtube, pas baca buku ini, yang terpikir di otakku adalah suara mas dea yang sedang membacakan buku ini ke aku.