Jump to ratings and reviews
Rate this book

MISI

Rate this book
Pada suatu malam yang nahas, hidupnya berubah. Setelah mengalami pelecehan seksual dan hampir menjadi korban perkosaan, dia harus meninggalkan tanah kelahirannya untuk menjadi pekerja rumah tangga. Dari seorang gadis remaja yang bebas merdeka di Tana Toraja, menjadi seorang gadis yang terpenjara dalam kontrak kerja di negeri Eropa. Ia merasa dibuang oleh nenek yang selama ini merawat dan membesarkannya.

Nasib membuatnya sempat terlunta-lunta. Dalam pengembaraannya, ia kemudian bertemu dengan orang-orang senasib yang terbuang dan memahami bahwa setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menghadapi trauma. Dia pun menemukan rahasia yang selama ini tidak pernah diceritakan neneknya. Tentang ayahnya. Tentang ibunya. Tentang asal -usulnya.

Perjalanannya melintasi jarak ribuan kilometer untuk menghadiri pesta perkawinan seorang kawan membuatnya menyadari, semakin jauh ia berkelana, semakin ia memahami keputusan neneknya untuk mengirimnya pergi.

336 pages, Paperback

Published November 1, 2021

7 people are currently reading
43 people want to read

About the author

Asmayani Kusrini

2 books25 followers
I am a reader

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
27 (58%)
4 stars
15 (32%)
3 stars
4 (8%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
December 27, 2021
Misi bercerita tentang perjalanan seorang anak perempuan kecil keluar dari Tana Toraja hingga menuju Brussels. Misi tidak ingin pergi, tapi ia dipaksa oleh Ibu Julia, orang yang berutang budi pada ibu kandung Misi.

Buku kedua Mbak Rini jauh lebih solid dibandingkan buku pertamanya, Siri'. Sudut pandang yang digunakan tidak terlalu banyak, walaupun tokoh yang diceritakan cukup banyak.

Ada beberapa karakter yang aku suka, yaitu Rhandra dan Zappa. Keduanya berhasil melalui trauma dengan cara yang baik dan menjadi pendengar yang baik bagi Misi. Tetapi, Ibu Julia dan Mbak Jess adalah gambaran kaum menengah yang merasa bisa "menyelamatkan" semua orang, padahal hanya merepotkan. Padahal, aslinya mereka berdua pembohong dan manipulatif.

Untuk yang menyukai buku dengan perkembangan karakter yang kuat, buku ini yang bisa kamu pilih untuk mengisi liburan. Misi tumbuh dari seorang anak cengeng yang hanya mengikuti Salu dan Nathan, sepupunya, hingga menjadi seorang yang independen dan berhasil menjadi perawat. Walaupun pernah mengalami kesedihan dalam hidup, Misi selalu fokus dengan apa yang ingin ia capai.

Aku pengen banget meluk Misi kuat-kuat. Cry sekebon 😭
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,415 followers
December 4, 2021
Di novel keduanya ini, saya mulai (merasa) bisa mengenali gaya tulisan Mbak Rini: banyak karakter, banyak petualangan, beragam pula penderitaannya. Semuanya ditempatkan dalam jalinan plot yang rapi dan riset yang terasa kuat.

Novel MISI berpusat pada perjalanan hidup seorang gadis asal Tana Toraja yang kemudian harus berkali-kali memulai hidup baru di Benua Eropa dengan berbagai pertanyaan yang tak terjawab. Namun sebenarnya ada berbagai cerita dan derita perempuan di dalamnya.

Kalau novel SIRI' ditulis dari banyak sudut pandang (sehingga butuh konsentrasi lebih untuk membacanya), MISI agak lebih sederhana. Cerita yang bergulir berseling antara Tana Toraja dan Eropa, terombang ambing antara masa lalu dan masa kini.

Mungkin ini pereferensi pribadi, tapi saya suka sekali diajak jalan-jalan melalui buku ini. Membuat 'wanderlust' bangkit dan berkobar 🤣 Hal yang saya kurang suka adalah beberapa bagian tentang isu kerentanan perempuan rasanya 'tersurat' sekali.

Recommended! ❤
Profile Image for Rei.
366 reviews42 followers
January 6, 2022
Dari sekian banyak anak yang dititipkan kepada Ne' Tabi di Pitueran, Tana Toraja, hanya Misi dan Salu yang tidak pernah dijemput oleh orang tua mereka. Kedua orang tua Salu meninggal dalam kecelakaan. Ibu Misi, Maria, juga sudah meninggal, namun Misi tidak pernah tahu apa-apa tentang ayahnya.

Keingintahuan Misi semakin tak terbendung semakin ia beranjak dewasa, terutama ketika ia tak sengaja melihat nama ayahnya di data sekolah. Ada kabar bahwa beliau merupakan seorang anggota DPR Makassar, hingga pada suatu malam Misi nekat kabur untuk mencari ayahnya. Namun, di dalam bus ia diganggu dan dilecehkan oleh sekelompok mahasiswa. Misi berhasil membela diri dengan telak, namun tak lama kemudian, seorang perempuan bernama Ibu Julia membawa Misi pergi dari Tana Toraja, dari tondok, dari Ne' Tabi, Salu dan Nathan, Datang dan Pergi kedua anjingnya, semua hal yang dicintainya.

Singkat cerita, Misi dijadikan pembantu rumah tangga sekaligus pengasuh bagi putri Ibu Julia, Mbak Jess, yang kemudian membawa Misi ke Inggris. Saat Mbak Jess menikah dengan seorang lelaki Prancis, alih-alih mengajak serta Misi, ia menyuruh Misi pulang ke Indonesia. Namun Misi, merasa diusir oleh neneknya yang dulu membiarkannya dibawa pergi oleh Ibu Julia, bersikeras menetap dan ia pun terdampar di Brussel.

Sepanjang mengikuti perjalanan Misi, aku dimanjakan oleh latar budaya Tana Toraja yang kental, dibumbui oleh istilah-istilah dan bahasa setempat. Dari Toraja, aku diajak Misi ke Inggris, ke Belgia, dan jalan-jalan melewati Hungaria, Austria, Serbia, Bulgaria, hingga ke Yunani. Tak urung kecepatan membaca pun berkurang karena tak henti-hentinya aku mengecek Google demi melihat foto-foto kota-kota yang dilalui oleh Misi. Dalam perjalanan, ia juga bertemu dengan berbagai karakter unik yang mempengaruhi cara berpikir dan kehidupannya.

Walau Misi tidak sekelam, semisterius, dan seintens Siri', tapi aku sungguh menikmati buku ini. Misi, dan juga Siri', resmi menempatkan Asmayani Kusrini sebagai salah satu penulis Indonesia favoritku.

Apakah kisah Misi berakhir bahagia? Untuk standarku, saking bahagianya aku menutup buku ini dengan happy tears yang berderai.
Profile Image for Aris Setyawan.
Author 4 books15 followers
December 25, 2021
Membaca "Misi" sungguh menyenangkan. Kita diajak jalan-jalan mulai dari Tana Toraja di Indonesia, kemudian membelah dunia dan menelusuri beberapa negara di Eropa.

Salah satu kekuatan Asmayani Kusrini adalah kemampuannya menarasikan ruang dan waktu dengan apik. Membaca "Misi" membuat kita berimajinasi tengah menghayati Tana Toraja dan segala macam budayanya, kemudian membayangkan berjalan-jalan keliling beberapa negara di Eropa. Perjalanan itu terasa begitu nyata, ya karena kekuatan bertutur cerita itu tadi. Gambaran ruang dan waktu yang terasa begitu nyata itu cuma berarti satu: penulisnya benar-benar menguasai dan hafal di luar kepala kondisi ruang dan waktu itu. Artinya, Mbak Rini mengenal benar Tana Toraja dan Eropa.

Salah satu keasyikan "Misi" lainnya adalah Mbak Rini selalu menyelipkan lagu-lagu yang asyik dan relevan dengan bangunan cerita. Kita diajak turut serta mendengarkan dan mendendangkan lagu musik Bob Dylan hingga Guns N' Roses ketika membaca "Misi". Kalaupun tak familiar dengan lagu-lagu itu, kita akan jadi tergelitik membuka Spotify atau YouTube dan mendengarkan musik tersebut setelah kita membaca narasi Mbak Rini.

Bukan hanya mengenai pencarian identitas atau jati diri seorang perempuan bernama Misi, novel setebal lebih dari 300 halaman ini juga secara tipis-tipis membahas berbagai isu sosial politik. Mbak Rini menyentil sedikit-sedikit isu politik misalnya tentang pergantian kekuasaan rezim di Indonesia, mengenang kejayaan rezim komunisme di salah satu negara Eropa, hingga perkara hak asasi manusia.

Membaca "Siri", buku pertama Mbak Rini, sungguh menyenangkan. Ternyata buku keduanya "Misi" tak kalah menyenangkan. Novel yang cocok dibaca untuk menutup tahun ini.

Iqra! Baca! Jangan lupa putar lagu-lagu Bob Dylan atau Guns N' Roses sebagai musik latar untuk menemanimu membaca! Atau, saya menyarankan sembari membaca "Misi" sila mendengarkan Pink Floyd. Musik psychedelic mereka cocok benar menemanimu berfantasi.
Profile Image for Jamilatul Hasanah.
22 reviews
January 24, 2022
"𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘢𝘥𝘢 𝘩𝘢𝘭 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘶𝘣𝘢𝘩. 𝘔𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶. 𝘚𝘢𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢, 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘳𝘶𝘬 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶, 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘥𝘢 𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯-𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘴𝘢 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴" (halaman 301)

Misi tumbuh dan dibesarkan di Tana Toraja. Sebuah kontrak kerja tertutup antara Ne' Tabi dan Ibu Julia yang menyebabkan Misi harus meninggalkan Pitueran, kampung halamannya. Misi melakukan perjalanan panjang menuju Eropa. Kisah perjalanan hidup Misi begitu pelik.

Novel 𝐌𝐈𝐒𝐈 sangat mengaduk-aduk emosi. Ceritanya mengalir dan sangat menyentuh. Secara garis besar, novel ini menceritakan tentang perempuan, pelecehan seksual, eksploitasi manusia, dan perdagangan manusia.

Selain itu, novel 𝐌𝐈𝐒𝐈 juga membahas tentang kuliner (pa'piong, kapurung) dan tradisi (rambu solo') masyarakat Tana Toraja. Ikut merasakan suasana kehidupan Misi di Tana Toraja hingga lika-liku kehidupan di benua Eropa.

Pertama kalinya membaca karya kak @asmayanikusrini langsung jatuh cinta. 𝐌𝐈𝐒𝐈 adalah novel keduanya. Setelah melahirkan karya pertamanya yang berjudul Siri'. Novel 𝐌𝐈𝐒𝐈 sangat direkomendasikan untuk dibaca semua kalangan, mulai usia 17 tahun keatas. Menambah wawasan tentang kuliner dan tradisi Indonesia, khususnya Tana Toraja. Mengenal berbagai tokoh dan bertualang ke berbagai tempat melalui novel 𝐌𝐈𝐒𝐈.
Profile Image for Yoyovochka.
314 reviews7 followers
January 1, 2026
“Kadang-kadang, percuma mengharapkan keadilan di luar sana. Jika itu tidak mungkin, kita yang harus adil pada diri sendiri.”

Sesungguhnya, buku ini saya baca di penghujung akhir tahun, tetapi baru sempat saya ulas sekarang. Plus, kalau boleh jujur belakangan saya dihinggapi virus malas dan agak muak dengan dunia perbukuan untuk sementara waktu sehingga memutuskan untuk rehat sejenak dan jarang muncul di sini. Namun, saya terpikir… sayang rasanya melewatkan buku sebagus ini dan tidak saya ulas supaya teman-teman lain tahu, lalu buku yang mendem ini bisa dibaca oleh lebih banyak orang, lebih banyak perempuan, atau mungkin laki-laki.

Misi bercerita tentang seorang gadis yang memang namanya ‘Misi’ saja. Gadis berambut bob mangkuk yang pada bab-bab awal membuat heboh karena dikabarkan melakukan penusukan di Enrekang. Pada bab awal-awal pula, saya dibuat penasaran apa yang sesungguhnya terjadi pada Misi, mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Dan tanpa berlama-lama, penulis secara runut berhasil menuangkan alasan dan kisah di balik penusukan itu dari sudut pandang Misi yang sukses membuat saya ikut geram.

Misi adalah seorang gadis desa, asal SulSel, tidak pernah ke kota, tidak punya orang tua, dan tinggal di Tongkonan bersama neneknya, Ne’ Tabi di Pitueran. Ne’ Tabi ini kaya raya, punya Tongkonan besar dan sering dititipi anak yang kemudian menjadi teman serumah Misi. Dari sini saya kenal kehidupan Misi saat masih di Indonesia bersama Salu dan Nathan.

Bab di dalam buku ini dibuat berselang-seling, dengan alur maju mundur. Semuanya berpusat pada kehidupan Misi, baik saat di Tana Toraja bersama keluarganya maupun saat ini yaitu saat Misi tengah menempuh perjalanan bersama teman-temannya untuk menghadiri pernikahan Thanasis, teman sekaligus induk semangnya di Brussels.

Meski alurnya maju dan mundur melalui lamunan Misi, saya tidak terganggu karena menurut saya peralihannya luwes. Meski begitu, saya yakin kalau meleng sedikit saja atau mengejar target supaya cepat-cepat selesai, niscaya saya bakalan tersesat atau kurang menikmati perpindahan alur ini. Jadi, setelah adegan penusukan yang tadi saya terangkan di atas berhasil diceritakan dengan lumayan gamblang, kehidupan Misi pun berlanjut. Ia terpaksa pindah karena Ne’ Tabi menyerahkannya kepada Ibu Julia. Saat bersama Ibu Julia dan menjadi ‘asisten’ Mbak Jess inilah kehidupan Misi mulai berkembang, terombang-ambing lebih tepatnya, terdampar dari satu tempat ke tempat lain hingga akhirnya sampai di Brussels dan semua kejadian itu berujung pada masa kini.

Saya suka gaya penceritaan penulis. Saya suka tema yang dibahas penulis: soal trauma akibat pelecehan seksual yang memang kerap terjadi di sekeliling kita, plus soal tema perempuan yang dalam keadaan apa pun memang menjadi makhluk paling rentan. Bagusnya, meski menceritakan soal perempuan, tak ada bagian mana pun yang mendiskreditkan pria secara berlebihan di sini. Semua dibuat seimbang, membuat saya percaya dan lega bahwa masih banyak lelaki baik di dunia ini ketimbang lelaki berengsek yang ditemui Rhendra, teman Misi atau Misi sendiri.
Perjuangan Misi demi menggapai cita-citanya sama sekali nggak naif, nggak seperti dunia impian yang dibuat manis. Semua apa adanya, semua dengan kesulitan dan kemudahannya sendiri, dan membuat saya teringat teman saya yang juga sedang menempuh pendidikan perawat dan ceritanya mirip sama apa yang dialami Misi di dunia keperawatan di luar negeri. Jadi, entah ini pengalaman pribadi, entah riset penulisnya oke banget.

Soal penokohan, saya suka pake banget sama Misi ini. Dia tipe gadis kuat, tomboi, tetapi nggak dibuat-buat tomboi dan nggak berlebihan. Misi punya luka, punya trauma sendiri, tetapi dari luar dia punya cangkang kuat. Dia tahan banting, tetapi di sisi lain tetap berani terjatuh. Punya daya tahan baja, tetapi sesekali bisa lemah. Manusiawi banget pokoknya. Saya suka Ne’ Tabi, Om Simon, Nathan, Salu dan keluarga maupun orang-orang lain yang diceritakan penulis di Pitueran ini. Jujur kekeluargaan mereka dan kehidupan mereka yang kelihatan tenteram membuat hati saya menghangat. Sementara itu, untuk tokoh Mbak Jess, meski dia antagonis, tetapi bukan antagonis versi sinetron yang terus jahat dan senang membabukan orang. Dia ini manja, tetapi pada suatu saat bisa menjadi kuat dan mandiri. Dia ini merasa di atas Misi, tetapi pada suatu ketika bisa menyayangi Misi seperti keluarganya sendiri, tetapi dengan caranya sendiri. Walau jujur saya sebal sama sejumlah kelakuan dia yang, duh sayangnya ini alami sekali… karena orang seperti Mbak Jess pun juga pernah saya jumpai dalam kehidupan wkwk.

Dan soal pergaulan diaspora sesama orang Indonesia yang dijelaskan di dalam buku ini, saya nggak bisa nggak setuju meski nggak semuanya begitu, tapi duh… familiar sekali… Bergaul sesama diaspora butuh biaya, butuh mental baja. Terkadang bergaul antarimigran justru lebih aman daripada sesama bangsa sendiri di luar negeri ekekek. Setuju banget, Mbak Jess yang akhirnya sadar sebentar.

Hal lain yang saya sukai: budaya Toraja yang kental sekali di dalamnya. Penjelasan soal budaya ini bukan cuma tempelan dan menurut saya unik karena saya baru beberapa kali aja baca cerita dengan latar Sulawesi, itu pun sepintas lalu isinya. Rasanya ini seperti penyegaran setelah banyak kisah diceritakan di kota-kota yang buat saya familier. Selain itu, saya juga suka mengikuti perjalanan Misi dan teman-temannya dari Brussels ke Thessaloniki melalui jalan darat. Ada banyak hal dan tempat oke yang kayaknya bagus buat dijadiin rekomendasi wisata karena penjabarannya pas, nggak berlebihan seperti buku panduan pariwisata, tetapi juga nggak pelit dan cuma sekadar tempelan.

DAAAAN BUKU INI MENGAJARKAN SAYA TENTANG BANYAK HAL TANPA TERKESAN MENGGURUI. Kata-kata di dalamnya sangat bijak tanpa terkesan diambil dari buku motivasi, tetapi berdasarkan pengalaman hidup itu sendiri! TOP!
Profile Image for Ipeh Alena.
543 reviews21 followers
January 2, 2022
Pertama merasa penasaran sebab beberapa teman bookstagram mengatakan novel ini cukup kuat penggambaran latar kisahnya. Membuatku teringat pada novel Ahmad Tohari dan A. A Navis hingga yang terakhir adalah novel Buya Hamka yang ditulis oleh A.Fuadi.

Narasi latar yang detil adalah faktor utama yang membuatku betah menyelami kisah dalam novel. Apalagi kalau ditambah dengan sejarah yang justru bisa menambah wawasanku sebagai pembaca. Pastinya menjadi nilai tambah dan ini semua ada pada novel Misi.

Tak hanya itu, kemampuan kak Rini menyimpan rasa penasaran pembaca pun membuat pembaca sabar demi mendapat jawaban. Semua teka-teki yang berhubungan dengan sosok ibu dan bapak Misi ini dibuka sedikit demi sedikit.

Meskipun beberapa kali kita diajak ke masa lalu. Namun, perpindahan cerita dari masa kini ke masa lampau justru sangat halus. Pembaca tak akan kesulitan membedakannya. Walaupun sesekali aku sedikit terkecoh, namun, karena latar dan tokoh di masa lalu dan masa kini cukup berbeda. Inilah yang membantuku menjadikannya sebagai pembeda waktu.

Novel ini buatku cocok dibaca untuk teman-teman yang siap membaca kisah tentang pelecehan dan kekerasan seksual. Serta senang dengan novel bertema traveling dan sejarah. Apalagi pengemasannya yang sederhana enggak akan membuat pembaca kesulitan dalam mencerna diksinya.
Profile Image for Pauline Destinugrainy.
Author 1 book274 followers
August 23, 2022
Misi, cucu Ne' Tabi, berada di kantor polisi di Enrekang. Misi menikam seorang mahasiswa dalam perjalanannya ke Makassar untuk mencari ayah kandungnya. Ternyata Misi membela diri dari pelecehan yang dilakukan sekelompok mahasiswa di atas bus yang ditumpanginya ke Makassar. Ne Tabi dan Om Simon datang menjemput Misi, dan membawanya pulang ke Pitueran, kampung mereka. Tidak lama berselang, Misi dibawa pergi oleh seorang ibu-ibu untuk dijadikan pembantu di rumah anaknya.

Perjalanan panjang yang dilalui Misi membawanya tiba di Brussel, menjadi perawat di sana dan tinggal di sebuah flat murah, tempatnya bertemu dengan teman-teman yang baru. Ketika Misi dan kawan-kawan mengadakan perjalanan menuju Yunani, dia akhirnya bisa "menjalani" ulang kisah hidupnya. Misi harus memutuskan apakah dia akan pulang ke Tana Toraja atau tidak.

Membaca novel dengan latar Tana Toraja selalu membuat saya senang. Saya suka dengan benang merah "pulang" pada novel ini. Orang Toraja memang terkenal sebagai perantau ulung, tapi ada waktunya bagi mereka untuk pulang kembali ke tempat akarnya tertanam.

Selain budaya Toraja bercampur keindahan Eropa, isu tentang kemandirian perempuan juga menjadi topik penting dalam novel ini. Pembaca akan disajikan ketangguhan Ne' Tabi, yang menurun ke Misi. Juga kisah mbak Jess dan Rhanda yang berusaha tegar dengan cara mereka sendiri.
Profile Image for tia.
239 reviews7 followers
May 25, 2022
Penulis selalu sukses bikin saya bertanya-tanya sama banyak hal yang ada di semua cerita yang ditulisnya😭 Siri' sempet diaduk-aduk eh sama Misi juga diaduk-aduk emosinya. Serunya di buku ini itu, penggambaran adat istiadat Toraja bener-bener digambarkan secara gamblang dan detail, ditambah perjalanan Misi dkk yang melintasi Eropa dengan berbagai cerita dibalik hidup mereka, bener-bener dibikin hanyut. Pokoknya, buat yang suka buku dengan tipe puzzle potongan kecil yang diakhir baru dapet gambaran cerita, buku ini oke banget!😭✨💖
Profile Image for Ariani15d.
81 reviews
January 9, 2022
Selalu kagum dengan gaya penceritaan Mbak Rini yang mampu menyentuh perasaan dan membekas dalam ingatan. Buku yang sangat sayang untuk dilewatkan 👏
Profile Image for syarif.
298 reviews69 followers
April 21, 2022
THIS BOOK IS SO POWERFUL !!! hats off to Misi

seru abis, bikin ketawa di awal dan nangis di akhir :’)
cerita renyah ttg perjalanan seorang misi, perempuan yg mencari jawaban dari banyak pertanyaan dalam hidupnya yang membuat kita dilingkupi rasa penasaran apa yang telah dan akan terjadi berikutnya!!

plotnya sangat pelan jujur namun dikemas secara renyah dengan isu yang sangat lekat seperti perantauan, pelecehan, imigran, hingga budaya lokal yang kental meskipun sang tokoh bepergian ke berbagai negara di eropa~ kagum maksimal sama penulisnya pasti berwawasan luas dan berdedikasi tinggi >__<
6 reviews1 follower
January 23, 2022
Sebagai orang yang berasal dari Sulawesi Selatan, saya merasa terpanggil untuk membaca novel ini.
Ceritanya bagus, banyak tokoh wanita hebat dengan prinsip hidup dan pemikiran kuat diceritakan dalam novel ini.
Favorit saya tentu saja Ne’Tabi.

Dari segi bahasa juga bagus, seneng baca percakapan dalam bahasa Toraja.
Cuman kekurangannya,menurut saya, alur cerita yang maju mundur dengan perpindahan yang kurang smooth. Karena ngga runut itu lah, saya jadi kebingungan waktu mau kembali menengok alur cerita sebelumnya karena ngga tau letaknya di bagian mana 😅
Tapi overall bagus kok,bikin pengen baca novel Asmayani yang lain.
Profile Image for Seunghyunjee.
70 reviews2 followers
August 18, 2023
/TW/ rape, sexual harrasment
.
Misi berkisah tentang seorang gadis bernama "Misi" yang tengah melakukan perjalanan bersama kawan-kawannya menuju salah satu kota di Yunani untuk menghadiri pernikahan Thanasis. Dalam perjalanan yang panjang itu, Misi merenungkan fase-fase kehidupan sebelumnya, tentang identitas orang tuanya, serta tentang traumanya di masa lalu.
.
Tidak seperti novel Siri' yg saat itu sempat membuatku agak pusing di bagian-bagian awal, novel Misi lebih mudah ku pahami dari segi alur, penokohan dan perpindahan latar waktu dari masa sekarang ke masa lalu. Latar belakang penceritaan pun tergambar jauh lebih jelas. Panggung utama jelas milik Misi. Sepanjang membaca novel ini, pembaca seperti napak tilas perjalanan Misi kecil hingga Misi menjadi dewasa.
.
Di novel ini, ada dua hal yang paling menarik untukku: Pertama, penggambaran penulis tentang budaya tanah Toraja. Di bagian ini, jujur saja, aku seperti mendapatkan banyak sekali informasi baru tentang kebudayaan di tanah Toraja. Kedua, penggambaran penulis tentang perjalanan Misi dkk dari Belgia menuju ke Yunani. Bagiku, dua hal itu menjadi daya tarik tersendiri untuk menikmati novel ini secara utuh serta menyenangkan.
.
Lalu, selain kedua hal tersebut, ada beberapa isu yang diangkat oleh penulis, salah satunya yakni tentang wanita korban pelecehan seksual dan pemerkosaan. Ini bagian yang cukup menghabiskan energiku (makanya waktu untuk membaca novel ini cukup lama), maka dari itu, aku memberi trigger warning di review ini, karena penggambaran trauma masa lalu dari tokoh Misi dan Rhandra cukup gamblang serta menyakitkan. Rasanya sedih, kecewa dan juga marah karena korban pemerkosaan serta pelecehan seksual harus menanggung trauma seumur hidup mereka.... Ngga adil, kan?
.
Novel Misi, menurutku, wajib masuk ke to-be-read kalian, apalagi kalau kalian berencana untuk slowly reading. Kisah yang rumit, padat dan juga sensitif disajikan dengan cara yang sederhana serta memikat untuk dinikmati hingga selesai.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Fitra Rahmamuliani.
166 reviews3 followers
December 9, 2022
Saya merasa, seburuk apa pun itu, selalu ada bagian-bagian dari masa lalu yang berharga dan pantas untuk terus disimpan jadi kenangan manis. Untuk kenangan itulah saya ingin pulang. Untuk mengingatkan diri sendiri, hidup toh tidak buruk-buruk amat. Selalu ada yang bisa disyukuri. Selalu ada yang bisa dikenang kembali.”


Buku ini sangat bisa membuatku tidak bosan lagi di ruang tunggu pesawat atau berada di pesawat. Banyak sekali budaya daerah dan bahasa daerah yang diperkenalkan di sini.

Pamanku pernah bilang, manarang umpiak bannang, pande umpa’tallu beluak, setiap orang harus punya kemampuan menyelesaikan masalah sesulit atau serumit apa pun, dalam kondisi apa pun.


Belum lagi rasa penasaran ingin melihat bagaimana perkembangan Misi dari awal hingga akhir.

Kepercayaan itu hanya tersimpan di hati masing-masing orang. Tidak bisa dijadikan objek perlombaan. Memangnya siapa yang paling banyak mengumpulkan maka dia yang menang? Tidak bisa seperti itu. Beragama maupun tidak, jadilah orang baik,” katanya selalu ke anak-anaknya.


Sempat salah fokus juga ada karakter dari buku lain dengan penulis yang sama sempat muncul di dalam buku ini. Karakter di masing-masing buku ini sangat kuat dan mudah dibedakan antara satu orang dengan yang lainnya sehingga buku ini cukup mudah untuk dicerna. Kejadian-kejadian di buku ini memberikan banyak perasaan dan emosi, walaupun kejadian yang senang atau membahagiakannya tidak terlalu banyak.

Menurutku yang membuat pasangan bisa mempertahankan hubungan mereka bukanlah cinta, melainkan saling menghormati. Dan adanya keinginan serta usaha untuk bisa mendapatkan rasa hormat dari pasangan masing-masing.
Profile Image for Anton.
157 reviews8 followers
October 8, 2022
Dalam novel keduanya, Asmayani Kusrini sekali lagi berhasil memadukan pengalaman hidupnya yang lahir dan besar dalam budaya Toraja, Sulawesi Selatan dan saat ini tinggal di jantung Eropa, Brussels, Belgia. Kali ini Rini fokus pada budaya Toraja sembari tetap mengajak pembacanya menjelajah Eropa, terutama Inggris, Belgia, dan Yunani.

Penjelajahan kali ini bersama tokoh utamanya, Misi. Perempuan muda ini mencoba bangkit dari trauma ketika dia menjadi korban pelecehan seksual pada sebuah malam ketika dia berada di bus dari Tana Toraja menuju Makassar. Misi mencoba melawan, tetapi seperti umumnya korban kekerasan seksual, dia justru disalahkan.

Seorang kerabat kemudian mengajaknya pergi meninggal tanah kelahirannya, Pateuran. Sebuah desa di mana dia tumbuh bersama Ne’Tabi, seorang nenek yang mendidik cucu-cucunya agar tegar menghadapi kehidupan. Didikan ini yang membuat Misi mampu menghadapi beratnya hidup di perantauan: Jakarta, London, Brussels.

Berbekal kemampuannya menjahit cerita, Rini menceritakan perjalanan Misi layaknya memutar mesin waktu. Pembaca diajak kembali ke desa kelahiran Misi bersama seluruh ceritanya, lalu merasakan berat hidup di kota-kota besar, kemudian menikmati perjalanan di Eropa.

Melalui kisah perjalanan itu, Misi menghadirkan cerita bagaimana korban kekerasan seksual mengobati traumanya sekaligus menyelami gegar budaya. Tentang bagaimana perempuan melawan patriarki. Tentang orang kampung menghadapi modernitas.

Novel ini layak dibaca untuk mereka yang ingin mengenal Toraja dan sebagian Eropa bersama kekayaan budayanya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
10 reviews
December 29, 2022
Ini kai pertama saya membaca karya Asmayani Kusrini. Saya langsung jatuh cinta dengan karyanya yang mengalir, membawa saya ke tempat-tempat yang jauh, dan pengalaman-pegalaman baru yang dituliskan dengan apik.

Buku ini berlatar belakang di Toraja & Brussel - Monemvasia. Tempat-tempat, perjalanan, kultur, dan orang-orang di kota itu. Dengan sedikit bumbu sejarah di awal cerita dengan latar belakang Tana Toraja.

Saya terkagum bagaimana Asmayani Kusrini menuliskan kejadian di malam yang nahas itu dengan sangat baik dan emosinya yang sampai ke saya sebagai pembaca, dan adegan-adegan menegangkan di bab itu.

Bagaimana Asmayani Kusrini juga meyakinkan pembaca untuk membaca hingga akhir dengan lapisan-lapian yang dibuka secara perlahan di setiap babnya dengan cara yang tidak membosankan dan tetap menjaga pembaca untuk tetap membaca hingga akhir.

Di buku ini juga saya bisa resonate dengan keyakinan yang dipercayai oleh Ne' Tabi dan Mba Jess terkait bagaimana seharusnya perempuan meletakkan dirinya dan menjadi dirinya di masyarakat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Nike Andaru.
1,653 reviews112 followers
April 4, 2023
21 - 2023

Misi adalah nama seorang perempuan adalah tokoh utama dari buku ini, tapi ternyata di dalamnya tidak hanya bercerita tentang perjalanan hidup Misi saja, ada beberapa perempuan yang mengambil peran juga dalam cerita ini. Sebut saja Ne' Tabi, Maria, Salu, Rhandra dan Mbak Jess.
Dari beberapa perempuan di dalam buku ini banyak hal bisa kita petik, bagaimana trauma yang dirasakan Misi dan Rhandra, bagaimana mereka mencoba berdamai dengan trauma tersebut, bagaimana perjuangan Ne' Tabi, Salu, Mbak Jess dan Maria dari semua hal sebagai perempuan.

Sangat menarik perjalanan Misi ini dan sangat mungkin bisa dipanjangin ceritanya di bagian bagaimana Misi memulihkan trauma. Apalagi dibalut dengan cerita khas Toraja, berkeliling Eropa pula, rasanya menyenangkan mengikuti perjalanan dalam buku ini.
Profile Image for Buaya Dayat.
80 reviews1 follower
January 6, 2023
Kisah anak manusia yang tak jelas asal-usulnya. Perjalanan dari Tanah Toraja hingga Belgia. Dari Boko'lino, apartemen Jakarta hingga rumah bordil di Soho. Ini adalah misi Misi menemukan diri. Menemukan makna sebuah kata: "pulang".
Profile Image for Alfin Rafioen.
181 reviews8 followers
January 20, 2022
Buku kedua Mbak Rini kali ini benar-benar dark dan humanis juga. Karakter Misi sangat kuat. Pembaca jadi tertarik mengikuti perjalanan hidup Misi.
Profile Image for keen.
37 reviews1 follower
December 1, 2023
5/5! Penggambaranmya jelas banget, emosi selama baca buku ini campur aduk :")
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.