What do you think?
Rate this book


432 pages, Paperback
Published December 15, 2021
❝Kebetulan itu ada, takdir pun ada. Namun, aku lebih percaya keduanya terjadi dalam bentuk baik jika aku mengerjakan hal-hal baik juga. Selalu ada timbangan tepat untuk membeli keberuntungan. Keajaiban sekalipun selalu menuntut harga yang sepadan. Lalu, memangnya apa yang sudah kubayarkan sampai mendapatkan kesempatan seperti ini?❞
—Page 24-25
❝Entahlah. Kau berlagak kuat tapi matamu mengatakan sebaliknya. Aku tahu kau cuma tidak sudi menangis di depan siapa pun. Kau tidak sudi mengakui, bahkan kepada dirimu sendiri, bahwa kau sedang sedih.❞
—Page 135
❝Kematian tidak bakal salah alamat. Aku memercayainya seperti aku mengimani bahwa kesialan juga tidak bakal salah pintu.❞
—Page 193
❝Perubahan datang seperti pencuri tengah malam. Manusia bisa mempersiapkan dan membaca gejala-gejala, tapi perubahan kadang datang tanpa peringatan. Kematian, kesakitan, juga kebahagiaan. Bagaimanapun, manusia cuma bisa menghadapinya dan, syukur-syukur, menghidupinya.❞
—Page 226
❝Beberapa orang hadir di hidupmu untuk membantah hal-hal yang sudah kaupercayai seumur hidup. Ada yang membuatmu berhenti percaya bahwa hantu itu nyata. Ada yang membuatmu berpikir ulang soal "kalimat rajin pangkal kaya." Ada yang sanggup mengoreksi sikap pesimistismu dan menggantinya dengan harapan-harapan sederhana.❞
—Page 241
❝Itu hanya keputusan egois kita, Shigeru. Karena tak bisa mengendalikan banyak hal, kita coba mengendalikan hal terakhir, nyawa diri sendiri. Dulu kupikir aku berhak memutuskan hidupku dapat diteruskan atau tidak. Kan ini hidupku. Sama seperti dirimu sendiri. Kau cuma mau mengatakan; ini kan hidupku. Ya, kan?❞
—Page 354-355
❝Mudah saja untuk mati. Yang sulit adalah bertahan hidup bersama kenangan tentang orang terkasihmu yang memutuskan mati. Kau lebih tau rasanya daripada siapa pun.❞
—Page 355
❝Jika kau mati sekarang, berarti kau sedang lari dari penghukuman. Bukankah sebaiknya kau menjalani hukuman ini sampai akhir agar kau bisa menemui Kentaro di kehidupan selanjutnya tanpa malu?❞
—Page 356
❝Jika hidup adalah penjara yang harus kita jalani, bukankah sebaiknya kita menjadi tahanan yang patuh? Agar akhirnya kita bisa bebas tanpa rasa malu?❞
—Page 356
❝Memangnya apa salahnya mengizinkan dirimu bahagia? Kau merasa tidak pantas? Kenapa tidak pantas? .... Kuberitahu, jangan lancang menyalahkan masa lalumu. Kau tidak bahagia sekarang, kau tidak bisa menjadi pacar Rika sekarang, kau kesepian sekarang, adalah sepenuhnya keputusanmu.❞
—Page 412
❝Menurutnya kami sudah lebih dari cukup belajar bahwa tidak ada kematian yang terlalu tiba-tiba. Sejak menghirup napas pertama, napas terakhir juga selalu mendampingi manusia.❞
—Page 419