Tawa lucu menghilang, panggilan Ibu pun sedemikian jarang sampai telinga. Semua berlalu, membawa pergi keriuhan yang dulu memenuhi seisi ruang.
Hari-hari di masa tua Bu Kaji terasa lambat. Tiap detiknya, tiap sudut rumahnya mengantarnya pada kenangan. Saat sang suami masih ada, saat ketiga anaknya masih kecil, masa-masa perjuangannya dulu untuk keluarga…. Kini, semua telah lalu. Menyisakan dirinya… sendiri.
"Membaca buku-buku menjadi hiburan paling mudah buatku. Mengikuti alur cerita yang tersusun pada baris-baris kata seperti terbang dari satu tempat ke tempat lainnya. Merasakan ketegangan konflik juga hiruk-pikuk setting yang dilukiskan. Menyenangkan."
- Rumah Pucat, p. 6
Honestly, I'm confused about what im suppose to write as a review because this topic in this book is new for me and this is my first time read it.
Jam di dinding merayap. Dentingnya menjelma bisikan. "Seperti ini menjadi tua itu, Pak?" Hampir tak terdengar, lalu lenyap dalam kenangan masa lampau.
- Rumah Pucat, p. 59
Buku ini menceritakan perjalanan sepi seorang perempuan, istri, dan seorang ibu di masa tua kala suami yang dicintai sepenuh hatinya telah meninggal dan anak-anaknya yang sudah dewasa akhirnya memiliki sibuknya masing-masing.
Tidak hanya mengambil dari sudut pandang pada tokoh ibu, tetapi juga pembaca akan diajak menyelami hidup anak-anaknya, bagaimana setiap anaknya punya kondisi dan masalah-masalahnya sendiri, ingin diri menemani ibu di rumah tetapi kesibukan selalu datang menghalangi.
"Ada kekecewaan yang kerap kali mendobrak rasa mengerti keadaan anak-anaknya. Namun, berkali ia berusaha meredamnya lagi-lagi pada Tuhan waktunya dihabiskan. Memohon penjagaan hati dan pikiran dari segala kejahatan yang muncul dalam kesendirian"
- Rumah Pucat, p. 145
Dan sudut pandang seorang ibu yang acapkali ingin egois meminta anaknya untuk tetap tinggal menemani tapi nurani ibu yang tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Hingga saatnya ikhlas dan sabar sudah mencapai batas maka air matalah yang menggantikannya.
Through this book, I give my respect to family members who are willing become a caregiver, cause we all know giving up achievements and dreams to focus on being a caregiver is something that is difficult to do. Seeing someone traveling, getting a promotion, buying something they dream of, while a Caregiver must put their beloved first before doing something.
Sedih rasanya saat membaca kisah Bu Kaji yang hidup sendirian hanya dengan pembantu rumah tangganya. Dua anaknya sudah punya kehidupan dan urusan masing-masing dan Bu Kaji berusaha untuk tidak mengganggu mereka. Caranya ya dengan mencari kegiatan yang bisa ia lakukan.
Saat membaca buku ini, sejujurnya aku langsung teringat dengan "mbah" yang hidup sendirian di rumahnya. Walaupun jarak rumah mbah dengan anak-anaknya (ibuku, om, dan pakde) dekat dan masih berada di satu kota yang sama, tetapi tidak memungkiri bahwa beliau mungkin (atau pasti) kesepian. Tinggal di rumah yang dulunya ramai suara dan cuitan istri, anak-anak, bahkan mungkin mantu beliau; sekarang menjadi "Rumah Pucat" karena penghuninya sudah meninggalkan rumah tersebut. Sedih karena pada saatnya di kemudian hari, aku dan kakak pasti juga akan melakukan "hal yang sama" pada ibu dan bapak.
Kurasa cover bukunya sudah cukup menggambarkan inti cerita dari novelnya. Terimakasih ke temanku yang bernama Sani Akbar, yang sudah bersedia meminjamkan bukunya padaku! Membaca buku ringan namun mengena seperti ini menjadi "another great experience" untukku!
Buku ini tentang kisah Cuk, lebih tepatnya sih kisah Bu Kaji (ibunya Cuk) selama masa pensiun. Bu Kaji sudah tidak boleh berjualan ke pasar (karena sudah tua), lalu apa yang harus Bu Kaji lakukan untuk menikmati masa tua? Bu Kaji merasa kalau masa tua-nya membuat waktu berjalan lebih lambat, karena sudah tidak ada aktivitas yang menyita waktunya. Satu satunya aktivitas Bu Kaji adalah pengajian. Bu Kaji kesepian karena Cuk merantau, Din dan Fat terlalu sibuk menjaga toko di pasar, dan hanya Sri yang bisa menemani. Awalnya mau dikasih 5 bintang, tapi karena povnya cukup membingungkan maka cukup 4 bintang saja. Mau dibilang pov Cuk ya setengah bener setengah enggak. Jadi ya bingung.
Kehidupan di masa tua Bu Kaji, tinggal dirumah yang penuh kenangan keluarga. Suami, anak dan cucu. Menceritakan tentang rasa sepi yang dirasakan oleh bu Kaji di rumahnya ketika suaminya sudah tidak ada, anak-anaknya sudah menikah dan kuliah diluar kota. Sedang dia tidak ada kegiatan lain selain berdiam dirumah ditemani oleh Sri. . Alurnya maju mundur, dan menggunakan dua sudut pandang. Ceritanya sendiri tidak yang penuh drama sampai ada klimaks, boleh dibilang ceritanya lambat. .
Sebagai anak yang juga tinggal di rumah dengan nenek dan kakek, aku familiar dengan latar cerita ini. Bisa dibilang dari cerita ini aku bisa melihat kejadian dari sudut pandang yang berbeda. Alurnya lambat dan agak memusingkan di awal karena 2 alur yang berbeda. Tapi ceritanya bener bener berbobot dan perlu dibaca untuk orang orang diluar sana yang hidup bersama dgn orangtuanya. Tidak ada yang salah dengan mengorbankan diri sendiri untuk mengurus orang tua
Baca buku ini mengingatkan aku sama nenekku di rumah. Dulu, nenek punya tempat khusus untuk mengajari anak mengaji dan beliau suka sekali mengajar anak membaca AlQuran.. Nenek skrg masih ada namun tempat mengajinya sudah diserahkan kepada pengurus yang baru huhu
Cerita yg cukup relate dengan kehidupanku, tentang keluarga, masa depan dan dilema yg kadang melanda. Kadang kehadiran seseorang disamping kitalah yg bisa mengusir rasa sepi.
Ceritanya cukup sendu dan bahasa yg digunakan menurutku agak sastra2 gitu, tapi masih bisa dimengerti.
Bahasanya bagus so I would read his other books if they're available in ipusnas but apparently it's unavailable yet. I quite dislike (not that much) the characters karena they're too attached with their own feelings and neglecting the reality including the changes of life, but it was a good read
bagus banget ceritanya bisa bikin kita tersadar sebagai anak harus gimana memperlakukan orangtua. jangan sampai ngebiarin orangtua merasa kesepian. mengandung bawang banget🥲
★ 4,5/5 dari aku karna gaya penulisan buku ini sukses bikin aku hanyut ke dalam ceritanya. Aku ikut ngerasain gimana rasa kesepian yg dialami bu Kaji di masa tuanya, juga perasaan serba salah anak-anaknya terhadap bu Kaji. Mereka ga mau membatasi ruang gerak bu kaji tapi di satu sisi mereka jg ga mau bu kaji kelelahan dan sakit karna fisiknya yg udah ga seprima dulu.
Rasa kesepian bu Kaji selama di rumah tanpa melakukan kegiatan apapun, sedangkan anak-anaknya yg semakin sibuk untuk sekedar menemani sang ibu di rumah, itu yg bikin aku jadi ngerasa sedih bgt dan bikin aku kepikiran "apakah di masa tua nanti kita akan seperti itu?" T_____T
Btw, aku suka bgt sama gaya penulisannya, indah dan sangat mudah dipahami.