Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kera Sakti: Selingan Perjalanan ke Barat

Rate this book
Selingan Perjalanan ke Barat (Xiyoubu) adalah novel pendek yang ditulis sekitar tahun 1640, dimaksudkan sebagai bab tambahan yang disisipkan antara Bab 61 dan Bab 62 pada Kisah Perjalanan ke Barat (Xiyouji). Xiyouji itu sendiri dikagumi lantaran alegori ajaran Buddha dan Tao yang terkandung di dalamnya, dan bersama Roman Tiga Kerajaan, Tepi Air dan Impian Bilik Merah, ditetapkan sebagai empat besar novel klasik Cina.

Alkisah Sun Wukong adalah monyet yang lahir dari telur batu. Dalam buku ini dikisahkan tentang pengalaman spiritualnya dalam menaklukkan iblis yang berada dalam dirinya lewat perjalanan ke alam ilusi, mimpi, dan hasrat. Dari penjalanan tersebut, Si Monyet akhirnya terlibat dalam serangkaian peristiwa yang akhirnya membawanya mencapai pencerahan di penghujung kisah.

244 pages, Paperback

First published January 1, 1641

10 people want to read

About the author

Dong Yue

20 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
5 (55%)
4 stars
2 (22%)
3 stars
2 (22%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
Profile Image for Glen Baptiste.
9 reviews
August 20, 2022
cover yang sangat ok dan terjemahan yang mudah dimengerti. menurut saya salah satu syarat untuk dapat menikmati sastra terjemahan adalah memahami budaya tempat asal sastra tersebut berasal, dan hal itulah yang berat bagi saya dan sebagian orang. namun latar belakang yang ada dalam terbitan ini cukup lengkap untuk memberi landasan cerita dalam konteks sejarahnya sehingga membuat saya lebih mengerti maksud penulis asli dalam menuliskan cerita tersebut.
Profile Image for Nina Majasari.
136 reviews2 followers
May 12, 2025
Di era 90’s serial Kera Sakti dengan lagu rap sebagai pembukanya, menjadi tontonan favorit banyak orang. Saya termasuk lumayan mengikuti serialnya walau nggak rutin. Jadi senang sekali saat nemu buku terbitan Kakatua ini. Kini saya jadi tahu cerita komplitnya.

Kisah kera sakti yang ditulis tahun 1640 atau sekitar 4 abad yang lalu, merupakan sisipan bab 61 dan 62 dari Selingan Perjalanan ke Barat.

Kelihaian penulis meramu beragam ajaran, pandangan dan falsafah Buddhisme, Taoisme hingga kepercayaan budaya lokal, membuat cerita ini banyak disukai orang.

Kisahnya diawali dari Sun Wukong, seekor kera sakti yang mencari penawar supaya bisa hidup abadi. Bodhisatwa Guanyin pun meminta Sun Wukong bersama Babi Zhu Bajie dan Rahib Pasir, menemani Biksu Xuanzang melakukan perjalanan ke barat mencari kitab suci

Saat mereka berempat tiba di sebuah negeri yang diserang hawa panas, Sun Wukong teringat pada kipas sakti milik Putri Kipas Besi. Lalu ia pergi untuk meminjamnya.

Sialnya Sun Wukong bertemu dengan anak Putri Kipas Besi yang pernah bersiteru dengannya. Sun Wukong pun dihempaskan oleh hembusan kipas sakti sampai terlempar jauh ke depan rumah seseorang. Penghuni rumah tersebut memberikan tongkat anti angin dan pil pemberat tubuh.

Dengan pil pemberat tubuh Sun Wukong menyamar menjadi serangga kecil dan menyusup ke dalam perut Putri Kipas Besi, lalu mengaduk-aduk isi perut sampai ia kesakitan dan terpaksa menyerahkan kipas saktinya.

Setelah menyadari bahwa kipas yang diserahkan itu palsu, Sun Wukong memutuskan untuk menemui suami Putri Kipas Besi, yaitu Raja Banteng Iblis, agar bersedia merayu istrinya untuk menyerahkan kipas tersebut.

Raja Benteng Iblis tentu saja tidak mau membantu Sun Wukong yang pernah bersiteru dengan anaknya. Sun Wukong akhirnya menyamar menjadi Raja Banteng Iblis dan mengunjungi Putri Kipas Besi.

Putri Kipas Besi gembira menyambut ‘Raja Banteng Iblis’, karena selama ini suaminya lebih memilih tinggal bersama gundiknya daripada dirinya. Ia pun menghidangkan arak dan mencoba untuk merayunya.

Setelah mendapatkan kipas, Sun Wukong kembali ke wujud aslinya lalu kabur. Api di gunung akhirnya padam dan iklim negeri itu kembali normal, Sun Wukong bersama rombongannya pun melanjutkan perjalanan.

***
Walaupun ulasan saya sederhana, sesungguhnya buku ini lumayan berat. Banyak kata-kata kiasan, sajak dan puisi yang tersirat.

Pembaca diajak untuk menyelami batin, merenungi hasrat-hasrat terdalam dan tergelap dalam diri dengan harapan bisa meraih pencerahan spiritual.

Lewat buku ini saya juga baru paham kalau ternyata biksu Xuanzang melakukan perjalanan seorang diri.

Sun Wukong ternyata analogi dari ‘monkey mind’ yang secara simbolis adalah pikiran manusia yang suka loncat kesana-kemari. Begitu juga dengan Babi Bajie sebagai analogi sifat rakus dan Rahib Pasir yang mewakili rasa malas biksu Xuanzang.

Keberangkatan yang berawal dari kegelisahan biksu Xuanzang mencari penawar untuk membebaskan diri dari kecemasannya pada kematian, dalam perjalanannya menghasilkan perenungan akan ketidak-kekalan, yang membuatnya mencapai pencerahan di ujung kisah.

Bintang 3/5. Inspiratif. Nemu sesuatu.
Profile Image for Af Idaht.
14 reviews
October 12, 2024
Sebagai orang yang masih sangat awam mengenai literatur China, mitologi, Buddhism, dan Taoism, rasanya saya ga berhak ngereview. Tapi saya memang selalu senang dengan gaya penulisan literatur China.
Displaying 1 - 6 of 6 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.