Dan Libertina, meski ia jelita, tetap seorang jelata.
Kalimat pada awal cerpen Libertina, Si Betina membuat saya tertegun, di satu sisi saya terbahak ketika membacanya tapi di sisi lainnya terasa ironi sekali. Cerpen ini menampilkan sosok perempuan yang terus berjuang untuk mendapatkan hidup yang layak. Bagaimana susahnya bekerja sektor informal mulai dari terapis di griya pijat, diskotik sampai hidup membawanya sebagai penyanyi di kafe kalangan atas.
Libertina ini cukup menarik tokohnya, di satu sisi dia realistis tapi di satu sisi dia naif, mati-matian mempertahankan keperawanan, sangat kontradiksi dengan tempatnya bekerja yang sangat riskan terjadi kekerasan seksual.
Selain itu, penggalan kata yang menarik saya adalah "orang miskin berjalan harus saling berpegangan tangan", ya dengan sistem ekonomi saat ini, orang miskin cenderung dibuat untuk saling berkompetisi untuk naik kelas. Tapi Lala, mempunyai pikiran bahwa untuk bertahan, mereka bisa saling bekerja sama. Dari nasib apes dan kehilangan Betina dia malah menemukan dirinya. Akan ada selalu harapan di kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan.
Buku ini berisi 12 kisah, tentang kehilangan, selain saya menyukai cerita-ceritanya yang begitu beragam saya menyukai cover dan ilustrasi pada buku ini, begitu memukau.