What do you think?
Rate this book


232 pages, Paperback
Published December 1, 2021
"Saya ingin menangkap bahwa di tengah pandemi, banyak yang merasa sendirian. Mereka terperangkap di sebuah tempat, entah itu rumah atau pekerjaan, sementara awan gelap seolah tiada akhir. Padahal, selalu ada harapan: langit kembali cerah setelah mendung dan hujan."
"Ada dilema antara menunggu atau berhenti berharap, antara maju kembali atau diam di tempat."



"Kehilangan seseorang dan cara mengatasinya adalah sebuah hal yang saya selalu senang untuk telusuri. Karena kadang orang jatuh cinta, tapi tidak siap kehilangan. Padahal, kedua hal tersebut seharusnya menjadi satu paket yang tidak terpisahkan."
“Kata orang lucu, tapi menurutku, pandangan mereka terlalu dingin. Seolah ada hal jahat yang mereka rencanakan setiap hari. Seolah mereka merasa lebih baik lebih baik dari manusia.” – 86
Jika kalian beruntung, mungkin seperti saya ketika menulis cerpen-cerpen ini, kalian juga bisa kabur sejenak dari huru-hara apa pun yang sedang terjadi di hidup kalian.
“Jadi, kenapa?”
“Cintanya hilang.”
….
“Aku masih orang yang sama, Lisa”
“Iya, tapi aku orang yang beda.”
- dalam cerita “Gerimis”
“Kamu emang percaya aku bisa ngeliat hantu?”
“Aku percaya. Menikahi kamu berarti percaya dengan ucapanmu. Apa enaknya pernikahan kalau ada keraguan?”
- dalam cerita “Gendong”
Hari ini, di ujung jalan, aku mencoba menebak apa bentuk awan hari itu.
- dalam cerita “Setahun”
Walaupun, karena nulisnya malem-malem, harus sering-sering melirik kanan kiri, memastikan nggak ada yang melihat dari pojok ruangan.
-Di Balik cerita “Cium”
“Aku nggak sadar kadang orang bisa salah mengartikan perhatian dengan kasih sayang.”
Tidak seperti film, kehidupan nyata bisa punya ending yang berbeda.
- dalam cerita “Cuma Teman”