Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.
Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai
Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.
Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.
Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.
"Nikmatilah selagi bisa. Setelah ini banyak hal berbahaya harus kita hadapi." Hal.12
Itu yang diucapkan oleh Inge kepada Wikan Larasati, jurnalis majalah berita Dimensi yang secara khusus ia undang ke Amerika Serikat untuk meliput/menyelidiki sebuah kasus. Keduanya tengah berada di sekitaran Liberty saat Inge berkata bahwa apa yang mereka hadapi kelak penuh bahaya.
Siapa Inge? Dia adalah pimpinan tertinggi organisasi rahasia L'Ordre des Chevaliers de la Garde de la Purete de la Terre atau Ordo Kesatria Pemelihara Kesucian Bumi yang sebelum ini banyak membantu Wikan dalam melakukan peliputan berita besar beberapa waktu sebelumnya.
Makanya, saat ia mendapatkan undangan oleh Inge, redakturnya dengan cepat memberikan izin. Sebab, itu artinya ada hal penting yang memang harus diselami dan berkemungkinan akan menjadi berita besar nantinya walaupun harus Wikan paham, ancaman yang menyangkut keselamatannya pun dipertaruhkan.
Mulanya, Wikan masih tak mengerti hal besar apa yang Inge ingin ceritakan sebab satu-satunya petunjuk yang ia dapatkan ialah itu terkait dengan, "...hal penting menyangkut peristiwa yang pernah terjadi dan masih menjadi kontroversi internasional sampai sekarang." Hal.25.
Kabut misteri itu mulai tersibak saat Wikan diajak ke sebuah safe house dan bertemu dengan Nemi, perempuan chindo (China-Indonesia) yang ditampung di tempat ini namun keadaannya sangat buruk. Baik Inge atau Suster Franziska, petinggi safe house tak ada yang mampu mengajaknya berkomunikasi.
Makanya, Wikan kemudian diundang datang ke sana. Tentu saja tak semata-mata untuk kelancaran berkomunikasi dalam bahasa Indonesia, namun Inge berharap Wikan dapat menyelidiki lebih lanjut mengenai apa yang terjadi sehingga Nemi seperti kehilangan akal. Sayangnya, saat diajak bicara, Nemi hanya mendesis aneh dan berkata, "Aku mau mati" Berulang kali atau kemudian berteriak histeris dan menyebutkan, "setan botak, setan botak!" Hal.31.
Siapa setan botak yang dimaksudkan? Dan apa yang sebenarnya terjadi pada Nemi?
RUMAH HANTU DI TANGERANG
Bogem, jurnalis lain di majalah berita Dimensi menghadap Esa, reporter seniornya sambil menunjukkan sebuah foto rumah tua yang memang terkenal angker. Yang menarik, di foto itu terlihat orbs/makhluk halus dalam bentuk gelembung balon yang tertangkap kamera. Bogem yakin, itu adalah arwah yang mendiami rumah angker tersebut.
Mendapati itu, Esa sebetulnya tak terlalu menanggapi. Jelas, pembaca kisah misteri bukanlah target pasar majalah Dimensi.
"...Tetapi ada baiknya Mas Esa usulkan di rapat redaksi. Siapa tahu bisa ditulis dari sisi sains, bukan dari sisi mistik." Hal.35.
Belum sempat usulan itu disampaikan di rapat redaksi, saat menyalakan televisi, Esa dikejutkan dengan berita temuan dua mayat lelaki di rumah yang sama dengan yang sebelumnya Bogem ceritakan.
Tak menunggu waktu banyak, Esa lantas mengajak Bogem untuk mendatangi langsung rumah angker yang dimaksud. Walaupun rumah itu masih dijaga polisi, namun dengan status wartawan yang keduanya miliki, akses untuk melihat lebih dekat bagian lain rumah besar itu kemudian diberikan oleh polisi yang berjaga walaupun waktunya terbatas dan tidak keduanya tidak diperkenankan untuk melewati police line.
Walaupun Esa tak percaya dengan hantu atau setan, namun di rumah itu dia mendapati penampakan berupa, "...seorang remaja perempuan dengan celana pendek menatapnya tajam," yang seketika membuat Esa ketakutan luar biasa.
Yang mengherankan, alih-alih melihat hantu berwujud laki-laki sebagaimana mayat yang baru ditemukan, kenapa yang muncul malah sosok perempuan muda?
Malam itu juga Esa dan Bogem melakukan penelusuran. Mula-mula, mereka mendatangi sepupu Bogem yang pertama kali mengambil foto dengan obrs. Penyelidikan kemudian terus berkembang saat Esa dan Bogem mendapati satu nama lagi: Abah Engkos yang dulu lama di sekitaran rumah hantu itu.
Dari bibir Abah Engkos didapati sebuah fakta bahwa rumah itu sudah ada sejak awal tahun 1900-an dan sudah melewati serangkaian peristiwa mengerikan. Misalnya saja terbakar saat huru-hara komunis di tahun 1965, hingga yang terakhir menjadi saksi peristiwa tragis di tahun 1998 saat keturunan Babah Liem menjadi korban kerusuhan yang mengakibatkan tiga perempuan tewas terbakar.
"Tapi mereka meninggal bukan karena rumahnya dibakar. Mereka diperkosa duluan. Baru kemudian mereka dibakar. Mungkin niat pelaku untuk menghapus jejak kebejatan mereka." Ujar Abah Engkos. Hal.99.
BENANG MERAH NEW YORK DAN TANGERANG
Wikan secara berkala melaporkan semua temuan kepada tim redaksi di Jakarta. Yang kemudian mengejutkan, apa yang Wikan sediki ternyata masih ada kaitannya dengan kejadian pemerkosaan di rumah angker tersebut.
Terdapat beberapa nama yang Wikan yakini terkait dengan kejadian pemerkosaan massal di tahun 1998. Salah satunya adalah Frans Tjouw, seorang pengusaha sukses yang dikenal dengan panggilan Papaf. Di kalangan warga Indonesia yang menetap di Amerika Serikat, terutama di New York, Papaf sangat disegani.
Ia dan istrinya kerap memberikan bantuan kemanusiaan yang cukup besar. Sayangnya, ada kabar yang beredar bahwa Frans Tjouw bisa kaya raya dengan cara memanfaatkan isu korban pemerkosaan 98 yang hendak mencari suaka di Amerika Serikat.
Yakni, saat orang-orang yang tidak ada kaitannya dengan kejadian langsung, tetap mendapatkan kemudahan untuk menetap dan tinggal di Amerika Serikat selama orang-orang ini bersedia membayar sejumlah uang kepada Papaf sebagai ganti dokumen dan identitas baru dalam mendapatkan suaka.
Jauh sebelum Wikan bertemu langsung dengan keluarga Tjouw (Papaf, Mamaf dan juga Dom, keponakan Frans Tjouw), berbagai macam bahaya sudah ia hadapi. Beruntung, selama di New York, Wikan ditemani oleh Nat dan Thomas, tangan kanan Inge yang andal. Sebuah bom dalam bentuk flashdisk berhasil dibuang sesaat sebelum melukai Wikan.
Saat Wikan berusaha mengkonfirmasi langsung hal itu kepada keluarga Tjouw, keselamatannya kian terancam. Beberapa orang yang ia temui dan telah membantunya ditemukan terbunuh. Wikan mulai kesulitan memetakan siapa kawan dan siapa yang lawan, sebab, hampir semua orang yang ada di dekatnya semakin terasa mencurigakan.
"Schopenheur bilang semua kebenaran melalui tiga cara. Pertama, ditertawakan. Kedua, ditentang. Ketiga, diterima sebagai bukti tak terbantahkan. Aku setuju."
"Kebenaran tentang apa?"
"Well, pemerkosaan massal pada kerusuhan Mei '98 itu memang terjadi..." Hal.376.
Yang menjadi pertanyaan kemudian. Apakah kasus pemerkosaan itu memang direncanakan? Jika iya, siapa sosok yang mendalangi terjadinya peristiwa keji itu? Apakah benar, orang-orang dari militer disinyalir menjadi orang yang melakukan pemerkosaan? Terlebih banyak yang menyaksikan bahwa orang yang memperkosa umumnya memiliki potongan rambut cepak dan badan yang tegap.
Walau, tentu saja terlalu dini untuk mengambil kesimpulan. Apalagi, "Apa yang sebelumnya tidak kau sukai, antipati bahkan kau benci, ternyata bisa berubah seiring penambahan informasi yang kau miliki." Hal.216.
* * *
Saat kerusuhan 98 terjadi, saya masih SD dan turut menyaksikan beberapa peristiwa yang cukup traumatis. Satu kali, sepulang sekolah, saya menyaksikan secara langsung mobil yang ada di depan saya digulingkan oleh mahasiswa kampus yang berada tak jauh dari rumah.
Peristiwa pemerkosaan massal itu pun, sebagaimana informasi di buku ini, juga terjadi di Palembang, kota tempat saya tinggal. Walaupun saya tidak mengenal secara personal para korban, namun sedikit banyak, saya turut merasakan duka yang korban dan pihak keluarga alami dan rasakan.
Apalagi, kerusuhan 98 pun berimbas tak hanya pada etnis tertentu (katakanlah keturunan Tionghoa), namun juga warga lainnya. Sehingga, jika ada motif sentimen terhadap etnis atau agama tertentu, belum tentu benar dan harus dikuak lagi walaupun faktanya, memang wanita keturunan Tionghoa yang paling banyak jadi korban. Itu fakta yang tak terelakkan.
Lalu, lewat tokoh jurnalis perempuan muda yang berani seperti Wikan, sebagai pembaca, saya merasa ikutan diajak untuk mengurai teka-teki yang menjadi penyeldikannya. Walaupun berjumlah 574 halaman dan ini cukup tebal, namun saya cukup cepat menyelesaikannya karena buku ini dipisah dengan banyak bab dan keseruan kisahnya bikin saya ingin cepat menuntaskan.
Ini buku pertama Akmal Nasery Basral (Nagabonar Jadi 2, Sang Pencerah, dsb) yang saya baca. Wikan sendiri sebetulnya tokoh protagonis yang muncul alam trilogi Imperia karya beliau yang seri pertamanya terbit di tahun 2005 lalu. Untungnya, kisah ini berdiri sendiri walaupun di beberapa bagian sering disinggung aksi Wikan dan kaitannya dengan kejadian yang jadi setting trilogi Imperia.
Novel ini pun direncanakan terbit sebagai dwilogi. Ya, buku yang saya ulas ini adalah seri pertamanya. Dan rasanya nggak sabar untuk melanjutkan petualangan Wikan dalam menguak kasus pemerkosaan massal 1998. Walaupun cerita ini fiksi, namun saya yakin penulis sudah melakukan riset yang banyak agar apa yang ditulis sesuai dengan apa yang terjadi saat itu.
Walau begitu, bukan berarti buku ini tanpa kekurangan. Dalam beberapa bab, saya merasa penulisnya terlalu banyak menjejali informasi kepada pembaca entah itu tentang merek pakaian, jam tangan, kendaraan dsb, sehingga kadang saya merasa ada yang memang pas ditempatkan, kadang juga merasa tidak pas karena informasi itu tidak begitu penting.
Terlepas dari hal kecil itu, saya menikmati Kincir Waktu bagian pertama ini.
Skor 8,5/10
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Menguak Tragedi Pemerkosaan Massal Tahun 1998 dalam Buku "Kincir Waktu"", Klik untuk baca: https://www.kompasiana.com/omnduut/62...
Kincir waktu merupakan buku pertama yg saya baca dari karya Akmal Nasery Basral. Buku ini menceritakan perjalanan tugas Wikan Larasati, seorang jurnalis dari majalah Dimensi dalam mengungkapkan kasus pemerkosaan masal yg terjadi pada Reformasi tahun 1998. Setting tempat dalam cerita ini adalah Indonesia dan Amerika Serikat, sehigga kita selalu diajak ke berbagai tempat dalam proses penyelidikannya.
Membaca buku ini, membuat saya merasa tegang, penasaran, merinding, campur-campur dah pokoknya, karena ceritanya dibuat sangat menarik dan mengalir pada setiap babnya. Setiap tempat, karakter, dan kejadian dalam buku ini selalu diceritakan secara detail.
Saya sangat menikmati membaca buku yg menurut saya lumayan tebal, tanpa terasa sudah selesai aja. Buku yg sangat menarik untuk dibaca, bagi kamu yg suka buku sejarah, investigasi, dan ingin menambah pengetahuan terutama terkait kejadian-kejadian pada saat reformasi tahun 98.
"Enggak ada gunanya hidup sebagai lelaki kalau kehormatan keluarga dipermalukan orang" - hal.295
Aku ajak kalian berkenalan dengan Wikan Larasati, seorang jurnalis majalah Dimensi yang ditugaskan untuk meliput cerita di balik sebuah kontroversi.
Keberangkatannya ke negeri Paman Sam bukan tanpa alasan, ada misi yang harus ia jalankan untuk mengungkap siapa dalang di balik kerusuhan ‘98 dan skandal pemalsuan dokumen para imigran.
Dari pengawalan ketat dan bodyguard di mana-mana, nyatanya nggak membuat Wikan terhindar dari upaya jebakan pembunuhan, penculikan, pemerkosaan, hingga pelenyapan informasi yang ia usahakan.
Tegang, takut, dan bikin teraduk-aduk perasaan. Buku terbaik yang pertama kubaca di 2022 ini harus kalian kasih kesempatan juga untuk menyelami isi ceritanya! ✨
Nggak cuma mengenal sosok Wikan yang fearless dan fierce, ada banyak tokoh yang bikin kita menebak-nebak isi hati dan pikirannya. Rasanya nggak bisa langsung percaya bahwa orang ini baik atau jahat kalau kita nggak terus menelusuri halaman demi halaman.
Dari penjelajahan suatu daerah di Tangerang, utara Jakarta, hingga eksplor New York dan Philadelphia, setiap tempat dijelaskan penulis dengan histori di baliknya. Nambah wawasan tapi nggak mengurangi sensasi genting selama bacanya. Kalau dibawa imajinasi, berasa nonton film yang mencekam dan bikin panik kejadian selanjutnya. Edan pokoknya!
KINCIR WAKTU, 1 Oleh: Akmal Nasery Basral Mahaka Publishing (imprint Republika Penerbit) Cetakan I, November 2021 xiv + 574 hlm; 13,5 x 20,5 cm
INI adalah buku lanjutan kisah tentang Wikan Larasati, wartawan majalah berita Dimensi. Kali ini Wikan berusaha membongkar tragedi yang mendahului peristiwa reformasi 1998, lengsernya orde baru. Wikan menelusuri dugaan bahwa ada kejahatan terselubung dibalik tragedi itu. Betulkah ada pemerkosaan masal terhadap wanita turunan Cina pada waktu itu, betulkah tudingan bahwa pelakunya adalah kaum muslimin? Apa kaitan peristiwa itu dengan dugaan pemalsuan dokumen imigrasi di Amerika Serikat yang mengakibatkan banyaknya warga Indonesia turunan Cina yang berhasil menjadi imigran di sana? Wikan menelusuri hal ini langsung di negeri Paman Sam itu. BERMULA dari undangan wanita Prancis, Inge, yang dikenal Wikan pada masa menelusuri kasus selebritas Indonesia, Melanie Capricia, dalam trilogi Ilusi Imperia, Rahasia Imperia dan Coda Imperia yang merupakan kisah fiksi Akmal Nasery Basral yang diterbitkan pada tahun 2014-2018 yang lalu. Inge mengundang Wikan ke New York di tahun 2010 karena jaringannya mengendus adanya kejahatan dibalik peristiwa 1998 itu yang melibatkan pengusaha, politikus, dan jendral. Inge meminta Wikan menelusuri kasus itu. Maka lahirlah kisah fiksi ini yang berupa novel investigasi berbau politik. AWALNYA buku ini terasa tersendat-sendat, datar, bahkan berbau klise. Baru setelah melewati hampir setengah bagian, kisah berjalan lebih lancar, mulai mengalir dan menarik. Apalagi setelah Wikan berhasil mewawancarai salah seorang dari dua bersaudara pengusaha dan ilmuwan politikus yang dulunya aktivis mahasiswa, serta konglomerat Cina asal Indonesia. Wikan diculik, hampir diperkosa dan nyaris terbunuh. Bahkan salah seorang narasumbernya tewas setelah diperkosa di apartemennya yang sempat mengakibatkan Wikan ditangkap polisi Amerika Serikat. Kisah semakin berkembang, rumit, berbelit, dan melibatkan FBI, Jaksa wilayah, KJRI, serta berbagai fihak lainnya. SEBUAH bacaan menarik dan sangat direkomendasikan sebagai hiburan akhir tahun. Sayangnya, jilid 2 baru akan terbit sekitar bulan Mei tahun depan. Begitu kata penulis di pesan WA-nya pada saya.
Jakarta, 17 Desember 2021, 06.07 WIB DARWIN SALIM SITOMPUL
Kincir waktu bercerita tentang Wikan Larasati, seorang jurnalis majalah berita Dimensi. Ia mendapat undangan liputan ke New York City terkait tentang insiden reformasi Mei 1998. Kedatangannya di negeri paman sam di sambut oleh kejadian yang sangat di luar dugaannya.
Kincir Waktu menjadi salah satu cerita terbaik yang aku baca di awal tahun ini. Dan memberikan pengalaman yang sangat mendebarkan. Membaca cerita ini seperti di ajak menyusuri labirin yang gelap demi mencari jalan keluar dan di tengah perjalanan akan selalu ada hambatannya.
Tema yang di angkat di cerita ini cukup kontroversial yaitu tentang pemerkosaan massal dan pemalsuan dokumen imigrasi. Wikan yang menjadi tokoh utama pun dengan keberaniannya yang sangat luar biasa berusaha semaksimal mungkin untuk menggali informasi tersebut. Dari satu tokoh ke tokoh lainnya. Dan yang paling menarik perhatianku setiap tokoh yang muncul di cerita ini sangat patut dicurigai sebagai dalang di balik semua kejadian itu.
Baca cerita ini bikin aku deg-degan parah. Di bab awal pun sudah di suguhkan adegan yang berdarah. Menilik dari latar belakang penulisnya, enggak diragukan sih cerita ini bisa membahas kasus perkasusnya secara mendetail. Ibaratnya seperti kita diceritakan tentang sejarah masa kelam itu. Di bantu dengan adanya footnote jadi engga terlalu membuat bingung para pembaca.
Dan yang paling menarik di cerita ini adalah tokoh-tokoh wanitanya yang hebat seperti; Wikan, Inge, Nat, Tabhita, Donna, Eunice, Oxa dan banyak lainnya. Aku merasa penulis seperti ingin menunjukkan power wanita melalui cerita ini. Bahwa mereka bukan mahkluk yang lemah, dan bisa menaklukan banyak rintangan. Terlepas dari mereka baik atau enggak yaa, soalnya sampai akhir cerita aku belum bisa menebak sama sekali.
Berhubung latar tempatnya di NYC, kita seperti di ajak jalan-jalan menyusuri banyak tempat bersejarah. Patung liberty, Rumah Webster dan banyak tempat lain. Ohiya, cerita ini mempunyai dua latar tempat, yaitu Indonesia dan NYC.
Overall, aku menikmati membaca buku setebal 570 halaman ini dalam waktu yang nggak terlalu lama. Aku menyukai perkembangan dan kosistensi para tokoh. Cerita ini benar-benar menarik untuk dibaca jika kamu ingin tahu lebih lanjut tentang kasus pemerkosaan ketika kerusuhan mei 98. Mungkin cerita ini hanya fiksi tapi bagiku semua isinya terasa sangat nyata. Sekian.
Buku #KincirWaktu adalah dwilogi dari seri #WikanLarasati, yang belum ngeh sama nama ini teman-teman bisa melipir sebentar karya Uda Akmal yang lain seperti #Imperia (2005) dan trilogi Imperia: #IlusiImperia, #RahasiaImperia, dan #CodaImperia (2014-2018).
Keberangkatan Wikan Larasati ke New York untuk sebuah liputan masih berhubungan erat dengan peristiwa 1998.
Topik yang dibahas dalam buku ini cukup sensitif dan misterius. Uda Akmal membawa topik tersebut ke dalam sebuah buku yang makin dibaca makin penasaran. Berlatar tempat di Indonesia dan Amerika membuat pembaca berpikir ada benang merah apa antara Indonesia dan Amerika pada tahun 1998? Tentu saja kita ketahui bersama kerusuhan yang terjadi saat itu.
Wikan Larasi menjadi saksi dari hubungan tersebut. Sejak menjejakkan kakinya di Paman Sam, ia melihat banyak sekali keanehan terkait kontroversi di Indonesia jelang Reformasi 1998. Wikan semakin terperangkap jauh dalam jaringan konspirasi, melibatkan pengusaha terkemuka, struktur oligarki, politisi ambisius, dan petinggi militer. Tokoh-tokoh pendukung dalam buku ini juga membuat saya penasaran, kira-kira apa yang ada di dalam hati dan pikiran mereka.
Peristiwa demi peristiwa pun terjadi, membahayakan nyawa Wikan bahkan sejak pertama kali Wikan di negeri Paman Sam.
Seru banget, miris, nyesek. Buku ini enak dibaca. Dengan tema mengangkat isu sensitif, penulis berhasil membuat karyanya tidak membosankan. Karena flash back dari karya seri Wikan Larasati sebelumnya jadi cocok banget jika membaca seri #Imperia terlebih dahulu. Meskipun tidak membaca seri Wikan Larasati sebelumnya seperti saya juga gak masalah kok, karena ceritanya berbeda dan seperti berdiri sendiri. Apalagi kalau udah bercerita tentang latar tempatnya, beuuh rasa jalan-jalan. Buku ini wajib banget kamu punya, apalagi kalau kamu udah pernah baca Laut Bercerita dan Komsi Komsa. Klop banget.
Cerita perjalanan wartawan banget yang bener bener ngulik, nyari berita dari sumber sampe ke akar akarnya, sumber terpercaya. Dibawa ke dunia wartawan yang bikin kesan "wooww, dunia wartawan aslinya begini to, daebak". Perjalanan panjang, berliku liku, penuh rintangan dan bahaya, serasa hidup gk ada yg bisa dipercaya, gak ketinggalan juga misteri disetiap ceritanya. Karakter wikan sebagai wartawan yg sigap, ingin tahu, penuh pertimbangan, tapi gk kaku dari segi penampilannya sebagai wartawan. Jadi tahu konspirasi 98 dari sini, berasa nonton film action, political thriller. Penulisannya yg agak sedikit kaku bikin proses bacaku agak tersendat, tapi terbantu dengan alur cerita yang seru karena petualangan wikan dan bisa nyelesain buku ini. Endingnya bikin greget kesel gimana gitu, kenapa harus begitu, berharap bisa bangkit lagi dan hanya mimpi, ckckck.
Semoga tidak terkesan berlebihan, tapi saat membaca kincir waktu, rasanya mirip seperti ketika membaca buku Dan Brown. Seperti menonton sebuah film dimana pikiran saya membayangkan visual yang apik di tiap skenarionya.