Buku ini berisi cara pandang, prinsip-prinsip, konsep, sikap, dan contoh-contoh praktik pendidikan di Sanggar Anak Alam (SALAM). Sekolah Biasa Saja Ed. Klasik PerDikan hendak mengajak para pendidik, guru, orang tua, pemangku kebijakan pendidikan, dan masyarakat luas untuk memperlakukan sekolah menjadi biasa.
Biasa dekat dengan manusia. Biasa dekat dengan masyarakat. Biasa dekat dengan lingkungan kehidupan sekitar. Biasa untuk belajar dari kenyataan.
Edisi baru ini mengalami perbaikan tata bahasa dan sedikit perubahan isi dari edisi sebelumnya.
“Buku ini turut memperkaya literatur praktik pedagogi kiritis, sebuah sumbangan teoretis dan praksis bagi pedagogi ala Freirean di Indonesia. Buku yang bercerita mengenai sekolah biasa saja yang sejatinya luar biasa.” Edi Subkhan,Dosen Fakultas Ilmu Pedidikan Universitas Negeri Semarang dan Pengelola Rumah Buku Simpul Semarang
“Di sini pendidikan anak menjadi salah satu simpul dalam jaringan kehidupan komunitas: simpul yang teramat penting karena menjadi tempat belajar bagi anak-anak, orang tua mereka, orang dewasa yang menjadi fasilitator dan menyelengga rakan administrasi, dan bagi orang seperti saya, pemerhati dan praktisi pendidikan dari berbagai penjuru.” Dr. Sylvia Tiwon, Pengajar di Universitas Berkeley, Amerika Serikat
“Buku ini diperlukan oleh siapa saja yang pernah sekolah, agar bisa mengoreksi daya nalar, karena sej tinya proses sekolah berlangsung sepanjang hayat, tinggal bagaimana proses belajar itu bisa bermakna positif bagi kehidupan, bukan untuk menjadi budak yang memenuhi industri semata.” Butet Manurung, Pendiri Sokola Rimba
Seorang autodidak, menghabiskan masa mudanya sekitar 20 tahun lebih aktif sebagai fasilitator pendidikan kerakyatan (popular education) dan pengorganisasian rakyat terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur dan Papua; antara lain 1) mendirikan Sanggar Anak Alam(SALAM) di daerah pegunungan Banjarnegara, Jawa Tengah; dan 2) bersama alm. Romo Mangunwijaya di Kali Code, Yogyakarta dan menggagas berdirinya Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED).
Pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan dan Pengembangan INSIST, Direktur REaD (Research Education and Dialogue), Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia (YPRI), pengarah program INVOLVEMENT (Indonesian Volunteers for Social Movement). Tahun 1998 terlibat sebagai pegiat awal berdirinya lembaga penerbitan INSISTPress, bersama Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Anu Lounela, dan Saleh Abdullah. Pada 2002, Toto dan kawan kolegial lainnya di INSIST ikut menggagas berdirinya Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).
Kini, Toto bersama Sri Wahyaningsih aktif mengelola Sanggar Anak Alam (SALAM), di Nitiprayan, Yogyakarta.
Pendidikan terus dibicarakan sebagai fondasi berkembangnya karakter manusia. Pembaca buku-buku karya Freire, juga perlu membaca buku karya Pak Toto Rahardjo ini sebagai refleksi terhadap sistem pendidikan Indonesia.
Pak Toto kerap tajam dan lantang dalam memberikan opini di buku ini. Misalnya saja, sindirannya bahwa bapak pendidikan kita bukan Ki Hajar Dewantara, justru Daendels yang mendirikan Sekolah Rakyat. Sebabnya, pemerintah belum pernah menerapkan secara maksimal prinsip pendidikan Ki Hajar Dewantara. Sementara Pak Toto juga menyebut Van Heutz, gubernur jenderal di Hindia Belanda lah yang menurutnya Bapak Pembuka Sistem Pendidikan yang memulai politik pendidikan rakyat teratur di nusantara.
Penulis mengutip beberapa hasil penelitian tentang pendidikan yang menarik di buku ini. Misalnya saja ia menghadirkan fakta jika menurut penelitian, kesadaran dan pengetahuan akan lebih maksimal (mencapai 90%) jika didapatkan dengan melakukan pengalaman langsung. Dibandingkan jika hanya mendengar, melihat, atau mendengar dan melihat yang memiliki presentase lebih rendah. Karenanya, Sanggar Anak Alam yang didirikan Pak Toto menggunakan kurikulum yang membebaskan siswanya untuk melakukan riset dan terjun langsung untuk mempelajari berbagai bidang ilmu. Cara ini sejalan dengan prinsip Ki Hajar Dewantara dan Taman Siswanya. Anak-anak akan mempelajari hal-hal yang mereka minati, menumbuhkan keinginan menjadi pembelajar seumur hidup, agar kelak bisa memberikan solusi bagi masalah di sekitar.
Sekolah Biasa Saja menyadarkan tentang pendidikan yang mestinya bisa dijalani dengan menyenangkan dan kontekstual. Bukan sekadar formalitas untuk mencapai nilai-nilai tertentu. Perlu kesadaran bahwa masing-masing anak memiliki kemampuan berbeda dan sebaiknya difasilitasi sesuai dengan kebutuhannya agar anak-anak berkembang maksimal. Partisipasi fasilitator juga bukan hanya sebagai pihak yang sekadar memberikan materi, namun pembelajar.
Penulis juga melontarkan kritik tentang kompetisi yang masih erat dengan dunia pendidikan. Ia berpendapat kompetisi pada dasarnya bertujuan mengalahkan orang lain dengan memperebutkan sebuah objek yang sama. Ini tak sejalan dengan prinsip pendidikan yang mestinya membangun budi pekerti manusia. "Pendidikan harus dinamakan gagal, apabila kita tidak mampu mendidik para peserta pendidikan kita menjadi manusia yang budiman." (hal 26). Prestasi pun semestinya bukan dimaknai sebagai berhasil mengalahkan orang lain, namun berhasil mengembangkan diri secara maksimal dan bermanfaat bagi diri sendiri serta sesama.
Kita selalu perlu pengingat bahwa pendidikan maknanya kerap disempitkan dan belum diupayakan maksimal perlu terus dipantau untuk dikerjakan bersama. Buku ini menjadi salah satu pengingat itu.
Buku ini memberikan pemahaman lebih mendasar tentang pendidikan. Jika sebelumnya buku-buku yg ku baca soal pendidikan (re: home school/parenting) lebih ke metode, di buku ini aku juga mendapatkan pemahaman soal inti dari pendidikan itu sendiri.
Semangat SALAM (Sanggar Anak Alam) dalam menghadirkan pendidikan adalah dengan menghadirkan pengalaman/peristiwa, sesuatu yg nyata dan lekat dengan keseharian. Ini hal yang menarik. Sebab, sudah lama kita merasakan pendidikan adalah kumpulan konsep-konsep abstrak yg bahkan kita tidak tahu untuk apa dipelajari. Belajar hanyalah proses memindahkan dan mengumpulkan pengetahuan. Tak heran, setelah dijejali dg beragam pengetahuan, kemudian diuji-seberapa banyak kita menghapal dan mungkin sedikit memahami-kita lalu melupakan.
SALAM menerapkan proses belajar dalam kerangka "daur belajar" (slide untuk sekilas tentang daur belajar). Ini yg tidak ada pada sekolah-sekolah pada umumnya. Kita hanya melalui satu atau dua tahapan dari daur itu. Jadi yg membedakan SALAM dari sekolah pada umumnya adalah proses belajar ini. Bahkan pembeda dg sekolah alternatif lainnya sekalipun, sekolah alam, sekolah alternatif, bukan sekedar sekolah yang menghadirkan sawah, kebun atau 'alam' buatan.
Kita tidak akan menemui jadwal pelajaran matematika, bahasa indonesia, ipa, ips di SALAM. Kita justru akan menemui menanam bunga dan mengamatinya, mengambil peran dalam penyelenggaraan pasar, berhitung dari mengunjungi angkringan dan yang paling menarik adalah melakukan riset sesuai minat.
SALAM mengajak kita menghindari penyeragaman, menjadikan proses belajar itu dekat dan menghormati tiap anak (dg segala pembawaannya) dg sebaik-baiknya menunaikan tugas sebagai pendamping proses belajar.
Pak Toto di sini mencoba sedikit mengubah paradigma tentang pendidikan yang kian hari semakin amburadul. Dalam hal ini yang utama dibahas adalah institusi pendidikan atau sekolah yang semakin jauh dari realitas kehidupan yang ada. Sekolah tak ubahnya cetakan batu-bata yang berusaha menghasilkan murid yang sama satu dengan yang lain, sekolah tak ubahnya penjara dengan pagar tinggi lengkap dengan beling dan kawat tajam di atasnya. Dengan semua gejala itu, Pak Toto menyajikan sebuah alternatif berupa sekolah yang tidak memaksa, sekolah yang tidak terbatas dan membatasi, yang sudah dia rintis puluhan tahun lalu di Banjarnegara, Jawa Tengah, dan sekarang berlanjut di Kali Code, Yogyakarta yang ia kembangkan dulu bersama Almarhum Y.B Mangunwijaya. Sebuah bacaan penting bagi semua kalangan, dan jika saya Tuhan saya pasti mewajibkan para guru sekolah di Indonesia untuk membaca ini, sayang saya hanya manusia.
keren, menjelajahi sekolah yang bukan penjara. Sekolah yang belajar dari realitas. Sekolah yang tidak berkiblat pada kompetisi. Sekolah yang benar-benar untuk manusia. Sekolah yang tidak berhasrat mengungguli. Sekolah yang biasa saja.
Sekolah yang mungkin di idamkan oleh anak-anak yang tidak sreg terhadap cara dan metode sekolah arus utama (termasuk saya), sayangnya saya sudah mencapai perkuliahan. Ya paling tidak metode-metode yang ditulis dalam buku ini memberikan sedikit inspirasi dan cara pandang lain untuk orang tua terhadap anak-anak masing-masing. karena setiap manusia itu dilahirkan berbeda, yang tidak mungkin di paksakan dalam standarisasi-standarisasi oleh pihak pusat yang belum tentu mengenal bermacam-macam karakter anak-anak di tiap komunitas masyarakat.
Melihat sekolah menjadi biasa saja ternyata makna mendalam diera ini. Menjelaskan alternatif bentuk pendidikan sebagai antitesis dari pendidikan hari ini membuat saya banyak berpikir ulang, mana bentuk pendidikan yang paling ideal saat ini? apakah pendidikan yang saya alami selama ini adalah yang terbaik untuk saya. Dari buku ini kita bisa mengenal lebih baik apa itu SALAM.
Buku ini tentang sebuah "sekolah alternatif" di Bantul, Yogyakarta bernama SALAM atau Sanggar Anak Alam. Tentang apa latar belakang, bagaimana konsep, dan bagaimana mengimplementasikan konsep itu. Saya takjub dengan idealisme yang dibawa oleh SALAM. Bagaimana SALAM menyadari bahwa setiap anak lahir dari alam dan tidak boleh dijauhkan dari alam itu sendiri.
Di sini, tidak ada mata pelajaran apalagi jadwal yang harus diikuti dan buku-buku yang harus di bawa setiap harinya. SALAM menggunakan metode riset yaitu setiap anak akan melakukan riset mandiri sesuai apa yang diminati dengan bantuan orang tua dan pendampingan para fasilitator. Riset pun harus dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Anak akan belajar sesuatu yang disukai dan berkembang sesuai fitrahnya sebagai putra alam.
Satu kutipan favorit saya di buku ini adalah, "Seseorang dianggap berprestasi, apabila telah mengungguli, mengalahkan orang lain, betapa jahatnya". Toto Raharjo mengkritik bagaimana prestasi yang selalu dikaitkan dengan kompetisi dan mengalahkan orang lain. Kutipan yang sangat mengena buat saya. Setelah saya membaca buku ini, rasanya jadi ingin sekolah lagi. Namun, saya hanya mau sekolah di SALAM, tidak di tempat lain. Atau nanti anak saya saja ya?
Pendidikan dan belajar merupakan suatu hal yg sangat penting dan hal tersebut merupakan suatu proses yg akan ada sampai kita mati, tetapi terkadang pendidikan dan belajar dimaknai sebagai sekolah, padahl hal tersebut merupakan suatu hal yg berlawanan. Dari buku ini saya belajar, bahwa pendidikan di Indonesia masih kurang dan tidak memiliki standar yang ada di masyarakat Indonesia. Sekolah SALAM merupakan sekolah yg seharusnya patut dicontoh oleh sekolah negeri yg ada di Indonesia.
Sistem sekolah dengan menerapkan pendidikan konstektual nyatanya ada di indonesia dan itulah semangat Taman Siswa. Buku ini memberikan gambaran bahwa sekolah tidak harus hafalan, melainkan penerapan ilmu itu. Saya tinggal di UK, dan melihat juga sekolahan SD disana kebanyakan 80% bermain dan belajar dengan riset, itulah yang membuat mereka maju, kita harusnya bisa bisa begitu bukan?
Selesai membaca ini saya langsung membuat rencana mengunjungi sekolahnya di Jogja. Saya mau membuktikan bahwa sekolah ini luar biasa. Jauh beda dari judulnya.