Anton Kurnia (lahir di Bandung, Jawa Barat, 9 Agustus 1974; umur 35 tahun) adalah seorang cerpenis, esais, penerjemah, dan editor. Ia pernah kuliah di jurusan Teknik Geologi ITB dan Ilmu Jurnalistik IAIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kini ia tinggal di Jakarta, selain menulis, ia bekerja sebagai Chief Editor di penerbit Serambi, Jakarta.
Karya-karyanya, berupa cerpen, esai, dan terjemahan karya sastra, dimuat oleh berbagai koran, majalah, dan jurnal, termasuk majalah sastra Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Kompas, Tempo, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Jawa Pos, The Jakarta Post, dan Asia Literary Review. Sejumlah cerpennya telah diterjemahkan ke bahasa Inggris, antara lain dipublikasikan dalam antologi Menagerie 5 (editor John H. McGlynn—Lontar Foundation, 2003).
Bayangan Kematian — Gao Xingjian Ular Berbisa — Tahar Ben Jelloun Delima — Yasunari Kawabata Benci — Parwin Faiz Zadah Di Bawah Pohon Beringin — R. K. Narayan Batu Ibu — Ben Okri
Di dalam kata pengantarnya, Anton Kurnia bercerita bahwa Asia-Afrika adalah muasal cerpen dalam sejarah sastra dunia. Cerpen tertua berasal dari Mesir dengan judul "The Tale of Khafi" berasal dari 6.800 tahun silam ditulisa dalam papirus. Kisah tertua lainnya "Para Brahmana" berasal dari 2.900 tahun lalu.
Bangsa Asia-Afrika kerap terpinggirkan bahkan masih terpinggirkan hingga hari ini. Mereka adalah korban bernama kolonialisme selama ratusan tahun. Baru pada tahun 1955 mereka bersatu dengan semangat Bandung di Konferensi Asia-Afrika. Menyerukan kebangkitan politik dan budaya.
Jika kita terbiasa disuguhi sastra dunia barat, kita bisa menengok juga sastra dari Asia-Afrika yang cerita-cerita begitu dekat dengan kita. Dalam buku ini tersusun 30 cerpen dari penulis Asia dan Afrika, perempuan maupun laki-laki.
Favorit cerpen saya:
- Obat Mujarab - Mo Yan - Tentang Berjumpa dengan Seorang Gadis yang Seratus Persen Sempurna pada Satu April yang Indah di Bulan April - Haruki Murakami - Jaring Laba-laba - Ryunosuke Akutagawa - Gelang Emas - Najib Mahfuz