Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta adalah rekaman perjalanan cinta yang tumbuh sebagai proses belajar, sebagai memori tempat manusia tak kehabisan asah. Pada kisah yang akan kamu baca berikut, semoga kamu menemukan ketenangan yang serupa untuk menyelamatkan diri sendiri.
Membaca buku ini seakan sedang duduk bersama Ali untuk mendengarkan cerita cintanya. Rasanya ingin puk-puk Ali tapi di saat yang bersamaan juga puk-puk diri sendiri. Banyak frasa dan kalimat yang kuat beresonansi dengan diriku, mungkin juga dengan orang banyak. Ruang berkaca ke pengalaman sendiri juga terbuka.
Buku ini cocok sekali untuk menjadi teman menunggu, teman berjalan, teman berdiam. Bahasanya yang ringan menawarkan potensi besar untuk dapat dilahap sekali duduk.
Buku karya Mohammad Ali Ma’ruf ini beberapa bagian kaya kisahku. Aduh, penulisnya berhasil menuliskan hal-hal yang dekat dan ku alami. Sebut saja bagaimana aku mengakui suka padanya ceritanya hampir mirip, pembatas buku yang ku berikan kepada teman-teman dekatku juga tujuannya bisa dibilang sama. Setidaknya dua hal itu.
Ada bagian juga yang menyadarkan soal “kenapa aku harus malas?” dan “kenapa harus berhenti karena malas saja?” Ini dibagian bab “Menyala”
Jadinya kesal tapi iya lagi. Seakan memupuk rasa ga apa masih berharap pada orang yang sama. Ehe.
Nah, gaya penulisan Mas @alimaruv ini memang ringan dan sepertinya gaya penulisan juga seperti yang aku terapkan di beberapa tulisanku. Tulisannya reflektif seakan menulis dengan merenung, membayangkan, lalu mengungkapkan apa yang dirasakan.
Buku ini kedua karya Ali Ma’ruf. Pertama aku membaca Perihal Cinta Kita Semua Pemula. Buku itu juga menyenangkan dengan tulisan-tulisan yang bisa dibilang hanya satu-dua kalimat. Berbeda dengan Tidak Apa-apa Sebab Kita Saling Cinta yang tiap bab ditulis “agak” panjang dan bercerita soal apa yang dirasakan.
Pada akhirnya memang tak apa-apa sebab kita saling cinta kok.
Waktu untuk Tidak Menikah memuat 14 cerpen yang ditulis oleh Amanatia Junda. Buku ini memiliki tokoh utama perempuan dengan berbagai latar belakang.
“… Ada masa ketika manusia harus belajar menerima pencapaian dan kegagalannya sekaligus….” (Hal. 115)
“Kata orang, penyesalan memang selau datang di akhir. Tapi jika rasa kesal itu datang sangat terlambat, jadinya terdengar sangat konyol.” (Hal. 145)
Sebagian cerpen dalam buku ini bertemakan perpisahan dan kehilangan. Penulis menyelipkan pesan-pesan tersembunyi di balik setiap cerpennya.
Membaca buku ini, membuat saya berpikir tentang sisi-sisi lain perempuan. Seperti pengorbanan, keikhlasan, keterbukaan bahkan cara melihat dunia dengan pandangan yang baru.
Menurutku buku Tidak Apa-Apa Sebab Kita Saling Cinta ini isinya lebih padat dan banyak dibanding dengan buku pertama. Walaupun dengan halaman yang sedikit yakni 88 halaman.
Juga ilustrasi atau gambar dalam buku ini kebanyakan hitam putih berbeda dengan buku pertama.
Buku ini sangat layak dibaca untuk seseorang yang sulit untuk move on dari kisahnya yang belum selesai. Tokoh aku mengajarkan bahwa mencintai seseorang tidak harus mendapatkan timbal balik yang sama.
Cukup cocok untuk merayakan nikmatnya jatuh cinta dan pedihnya patah hati karena harus saling mengakhiri meski sebenarnya belum ingin untuk mengakhiri.