Jump to ratings and reviews
Rate this book

Cakramanggilingan

Rate this book
Siapa sangka dari khasanah seni-budaya berupa Tembang Macapat karya para pujangga leluhur Jawa yaitu dari Mijil, Sinom, Asmarandana, Kinanthi, Dhandhanggula, Maskumambang, Durma, Pangkur, Gambuh, Megatruh, Pucung

ternyata mengandung makna kehidupan yang adiluhung. Bukan hanya mengenai fase-fase kehidupan penting yang dilalui manusia, tetapi juga mengisyaratkan makna dari kelahiran hingga kematian (sangkan paraning dumadi).

Itulah ‘Cakramanggilingan’, siklus kehidupan manusia sebagaimana terurai dalam Tembang Macapat sejak dilahirkan sampai meninggal dunia. Para pujangga leluhur orang Jawa memang sangat mengutamakan dan begitu peduli mengenai kebaikan dan kemuliaan dalam menjalankan apa yang disebut dengan memayu hayuning bawana (melestarikan dan memakmurkan bumi seisinya) yang identik dengan Rahmatan lil ‘alamien (rahmat bagi semesta alam).

Semoga anak-anak bangsa dapat falsafah ‘memayu hayuning bawana’ tersebut serta memelihara keseimbangan alam semesta.

384 pages, Paperback

Published November 23, 2020

2 people want to read

About the author

Wawan Susetya

29 books8 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
1 (100%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Keefe.
Author 21 books29 followers
February 6, 2022
Kelebihan:
Buku ini memberikan pembaca mengenai pedoman hidup ala masyarakat Jawa. Tiap fase dari lahir sampai dewasa dijabarkan secara merinci oleh penulis. Ada banyak yang saya highlight jadi kutipan favorit. Di buku ini saya banyak belajar mengenai siklus kehidupan manusia (Cakramanggilingan) dari fase lahir, perjalanan hidup, sampai akhir kematian. Saya jadi teringat dengan buku yang sebelumnya saya baca, temanya mirip-mirip. Judulnya Rahasia Ajaran Makrifat Kejawen, lebih berfokus pada frase Jawa "Sangkan Paraning Dumadi", yang mempelajari asal muasal dan tujuan akhir hidup manusia.

Saya mulai tertarik baca buku ini di halaman 52, sub bab mengenai akhlak. Penyampaiannya di awal terkesan emosional, lalu berkembang lebih tenang tiap lembar berikutnya. Ada banyak nasihat yang bisa kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari, jadi pribadi yang semakin baik.

Salah satu tulisannya yang saya sukai mengenai;
"Tutur katanya yang baik, halus, penuh etika atau kesopanan, dan dengan nada yang indah tersebut lantaran didorong dari ketulusan hatinya yang terdalam."

Cara pandang hidup orang Jawa yang begitu mengedapankan "rumangsa" alias olah rasa, begitu lembut dan kalem di hati. Orang-orang Jawa melakukan segala sesuatunya berdasarkan "rasa", tidak sembarangan. Dan buku ini mengemukakan filosofi hidup orang-orang Jawa tersebut. Meski digarap dengan cukup 'apik' dan 'rapi' tulisannya, ada beberapa hal yang saya kurang sepemikiran, tepatnya lebih ke cara penyampaian si penulis. Sempat membuat saya hampir menyerah menyelesaikan buku tebal ini. Berikut saya jabarkan;

Kekurangan:
Pertama, banyak menggunakan tanda seru ( ! ), kesannya seperti sedang menggertak pembacanya. Padahal di sini konteksnya pembaca bisa belajar, malah kalimat demi kalimat ditulis seolah mau beradu debat. Menurut pandangan saya, tidak perlu berlebihan seperti itu. Dilihat dari cara penyampaian penulis yang menggebu-gebu, mungkin ada emosi terpendam yang dibawa. Jadi berkesan tidak menyenangkan tulisannya bagi pembaca umum. Ini menurut saya pribadi loh. **peace✌🏻

Kedua, sebagian besar isi buku ini mencomot/mengutip/meminjam tulisan dan istilah yang dicetuskan oleh orang-orang lain, seperti Cak Nun, Quraish Shihab, Sri Mangkunegara IV contohnya. Jadi terkesan bukan hasil pemikiran sendiri oleh si penulis. Intinya, banyak ngutip tulisan orang. Sedangkan tulisan si penulis sendiri kalau diperhatikan hanya berkontribusi kurang dari setengah bukunya. Menimbulkan pertanyaan bagi saya; ini tulisan karya sendiri atau kumpulan antologi kutipan penulis lain? Agak heran untuk sekelas terbitan penerbit besar di Indonesia membolehkan penulisnya mengutip banyak tulisan orang. Skripsi saja tidak boleh banyak-banyak mengutip karena dianggap sama dosen tak jauh beda dengan "plagiarisme." Allahualam.

Ketiga, cara berbahasa yang membingungkan menurut saya, "ngalor-ngidul" istilah Jawa nya. Mungkin saya yang kurang memahami makna yang ingin disampaikan penulis, allahualam. Walau beberapa pendapat yang dikatakan penulis ada benarnya, tapi cara penyampaian yang berapi-api dan emosional, membuat pengalaman saya membaca buku ini jadi tidak nyaman. Terkesan sedang membaca tulisan seseorang di forum yang tengah menyuarakan isi hatinya yang tengah memanas. Tapi saya tetap coba selesaikan membaca buku setebal 380 halaman ini. Sayang kalau tidak diselesaikan, harga buku ini cukup mahal, Rp.105,000 di Gramedia Puri Indah.

Keempat, ketika membahas topik dewasa seperti masa pernikahan, terlalu vulgar bahasanya. Terkesan kurang pantas untuk buku yang bertema pandangan hidup Jawa yang mengedepankan sopan santun. Contohnya ada di halaman 134, berikut kutipannya: "AlQuran juga banyak membahas hubungan seks secara detail dan rinci, tetapi pikiran pembaca tidak terbawa ke suasana porno sebagaimana membaca buku-buku pornografi."

Hellow? Ya jelas orang-orang yang pikirannya 'nggenah' gak mungkin berpikir mesum seperti penulis buku ini ketika membaca AlQuran! Masa' AlQuran disandingkan dengan buku porno sama si penulis? AlQuran itu suci! Makanya bahasa di dalam nya pun banyak kiasan ketika menggambarkan hal tersebut misalnya. Makanya kok baru baca bab pertamanya udah begah. Kesannya si penulis mesum ya pikirannya. Harusnya kan tetap pada jalur filosofi hidup orang Jawa yang santun.

Kesimpulan; bab awal sampai bab 3 masih okelah alurnya, menuju bab 4 yg menyebutkan hubungan intim pernikahan kok janggal gitu ya pas si penulis menyandingkan AlQuran dengan buku porno. Ini bukannya merendahkan Alquran ya? Penerbit sekelas Elex Media Gramedia kok memperbolehkan buku seperti ini terbit ya? Memang ada sebagian nasihat yg bagus-bagus di buku ini. Tapi sebagian yang lain kok janggal ya?

Overall, saya kurang nyaman dengan cara penyampaiannya. Ada kelebihan, ada kekurangan. Ada pelajaran yang bisa dipetik di buku ini. Pembaca bisa belajar banyak mengenai kebudayaan Jawa. Jadi bintang 3 saja dari saya. ⭐⭐⭐
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.