Saya merasa beruntung karena membaca buku ini setelah mengalami angkat cetak berkali-kali. Dalam pengantar cetakan keduanya, Husein Haekal menulis betapa dia mendapat banyak sekali pujian sekaligus kritik dari banyak pihak. Haekal kemudian merangkumnya menjadi tiga kelopok besar dan menjawabnya satu persatu dengan apik.
Yang pertama, kritik dari golongan orientalis. Baik murni orientalis maupun muslim yang terkontaminasi pikiran orientalis. Sayangnya saya tidak tahu siapa yang dimaksud Haekal sebagai 'pemuda muslim Mesir' itu. Saya bayangkan, sebagai sesama muslim Mesir, Haekal pantas dongkol pada itu orang. Nyatanya, tanggapan Haekal pada kritik tersebut sangat taktis dan berimbang.
Taruhlah masalah wahyu, yang juga diamini oleh 'pemuda Mesir' itu, bahwa ayat-ayat yang disampaikan Rasul adalah 'rancauan' beliau saat mengalami epilepsi. Haekal menyanggah dengan mengemukakan telaah medis dan psikologis tentang kondisi yang dialami penderita ayan. Yang dengan itu, seketika gugurlah argumen pihak orientalis.
Kemudian kritik dari para ulama Mesir -yang oleh Haekal ditulis sebagai 'yang disampaikan dengan halus dan baik. :)- yang mengeluhkan penulisan Haekal yang terasa berbeda dengan penulisan kitab-kitab klasik. Lagi-lagi saya amin pada tanggapan Haekal. Dengan halus dan baik pula, Haekal menjawab, kitab-kitab sejarah yang ditulis oleh ulama salaf, adalah untuk kepentingan ubudiyah. Yang -tentu saja- akan mudah diterima kaum muslim apa adanya. Sedang Hayatu Muhammad yang ini, ditulis agar bisa dibaca semua kalangan. Muslim dan non Muslim. Maka Haekal perlu menggunakan metode ilmiah yang sarat kritik dan telaah. Saya pikir, apa yang dilakukan Haekal sudah sangat tepat, karena ternyata, seperti apapun sejarah Muhammad ditulis, sama sekali tidak mengurangi kemuliaan kisah hidupnya yang memang agung dan mulia.
Terakhir, tamparan yang dilontarkan oleh sebagian muslim keras. Mereka mengecam penulisan judul yang tidak diikuti 'salllahu 'alaihi wasallam' yang mereka anggap tak punya adab pada Rasul. Haekal menjawabi pula dengan mengutip pendapat ulama yang mereka hormati, bahwa penggunaan 'salallahu 'alaihi wa salam' baru berlaku pada dinasti Abasiyah. Nabi juga tidak mewajibkannya. Jadi, buat apa dipermasalahkan.
Yang menarik saat membaca sejarah Nabi lewat pena Haekal dibanding dengan kitab sejarah yang lain adalah, Haekal tidak mengambil hanya dari sumber Islam namun juga dari buku-buku orientalis dan plot Muhammad yang beredar di luar dunia islam. Bagi saya yang jarang menengok pemikiran tersebut, perbandingan yang dilakukan Haekal sangat membantu memahami kedua sisi tersebut.
Seperti saat para orientalis menyerang Nabi lewat cerita Zaid dan Zainab. Sungguh aduhai mereka menggambarkan sosok Zainab dan betapa Nabi mendamba istri anak angkatnya itu sehingga merekayasa suatu peristiwa sehingga Zaid menceraikan Zainab agar beliau bisa memperistrinya. Semangat 'penyerangan' itu sama sekali tidak terendus dalam peristiwa Khubaib bin Ady dan rombongan yang dikirim Nabi untuk berdakwah pada Banu Lihyan. FYI, Banu Lihyan meminta Nabi mengirim duta dakwah untuk mereka. Namun di tengah jalan, delegasi itu diringkus. Tiga orang yang selamat diikat untuk dijual ke Makkah sebagai budak. Di akhir cerita, bisa ditebak, ketiganya gugur di tangan kelaliman musyrikin.
Dan masih banyak lagi dari silang pikiran yang dikemukakan Haekal yang sekaligus dijawabnya pula dengan sumber yang susah dibantah.
Untuk yang ingin membaca Muhammad dari beberapa kepala, buku ini saya rekomendasikan