TENTANG BUKU INI
Cinta, gadis SMA yang selama belasan tahun tidak pernah mengetahui identitas dan beradaan ibu kandungnya, tinggal bersama ayah, ibu tiri, dan dua saudari tirinya. Di rumah ia selalu diperlakukan semena-mena oleh ibu dan saudari tirinya.
Namun, Cinta tak memperdulikan itu. Ia masih punya Mbok Nah, sahabat-sahabat di sekolahnya, dan Makky; pemuda yang baru saja pindah ke rumah sebelah. Mereka menjadi periang hati Cinta yang tidak di dapatkan dari keluarganya.
Hingga saat Cinta menginjak usia 17 tahun, ada gejolak batin yang membuncah dalam diri Cinta. Dibarengi dengan terkuaknya rahasia tentang ibunya yang selama ini tidak ia ketahui.
PENOKOHAN
Cinta memiilki perawakan yang ideal (tidak terlalu cantik, tapi tidak jelek juga; tidak gemuk dan tidak kurus). Dia gadis yang periang. Dia selalu sabar saat ibu tiri (mama Alia) dan 2 saudari tirinya (Cantik dan Anggun) berulah dan menimpakan kesalahan pada Cinta. Tapi di balik kesabarannya, dia juga bisa melawan.
Cinta memiliki sahabat karib di sekolah; Neta dan Aisyah, serta pembantu rumah tangga di rumahnya yang mengurusnya sejak kecil; Mboh Nah.
Makky adalah pemuda yang suka memakai topi baseball dan menyelipkan sebatang rumput di sela-sela bibirnya. Setelah pindahan, ia menjadi akrab dengan Cinta karena mempunyai hobi yang sama; fotografi. Dia senantiasa mengajari Cinta semua hal yang berbau fotografi. Adiknya, Salsa, juga sangat akrab dengan Cinta layaknya adik-kakak.
POV DAN SETTING
Cerita dibuka oleh tokoh ‘Saya’ (sudut pandang orang pertama), yang mewawancarai sosok Cinta, Perempuan paruh baya yang mengelola dan tinggal di panti asuhan. Wawancara inilah yang membawa Cinta Kembali ke masa SMA-nya, momen-momen penting dalam hidupnya, hingga ia berusia 17 tahun dan terkuaknya fakta tentang masa lalu keluarganya. Kisahnya dinarasikan dari sudut pandang orang-ketiga.
Latar waktu yang disajikan kira-kira awal tahun 2000-an (menilik buku ini terbit dari tahun 2005), ditandai dengan belum adanya sarana media sosial, dan para tokoh menggunakan telepon dan SMS dalam berinteraksi jauh.
Latar tempatnya adalah di Bogor, tempat tinggal keluarga Cinta, sekolah, dan sahabat-sahabatnya. Setelah rahasia tentang ibunya terungkap, ia menjelajahi kota Jakarta, Bandung, dan Jogja sendirian demi mencari fakta tentang ibu kandung yang selama ini disembunyikan darinya.
GAYA BAHASA
Novel ini termasuk genre teenlit, yaitu tokoh-tokohnya yang berusia remaja. Bahasa yang digunakan penulis sangat nyaman dibaca. Apalagi aku menemukan lebih banyak dialog dibandingkan deskripsi atau narasi yang membuat ceritanya lebih hidup.
Novel ini menggunakan bahasa baku untuk narasinya, dan bahasa santai sehari-hari untuk dialognya. Tidak ada bahasa gaul dan bahasa kasar yang berlebihan, makanya novel ini aku komendasikan sekali untuk semua kalangan.
Untuk format bukunya, font yang digunakan besar-besar dan book-spine nya dapat terbuka 180° jadi enak untuk dibaca tanpa harus ditahan pakai tangan.
----------------------
“Banyak orang yang telah ditinggal pergi ibunya, rela menukar apapun asal bisa hidup bersama ibu, memeluk dan menciumnya sehari lagi.” hlm. 220
#lintangbookreview
Hidup Cinta layaknya Cinderella. Bukan seorang gadis yang menjadi putri kerajaan, tapi hidup Cinderella sebelum bertemu pangeran. Hidup bersama ibu dan dua saudari tiri yang luar biasa jahil dan jahat kepada Cinta. Tapi, bukan itu yang membuatnya lemah. Dia masih bisa sabar dan tegar, bahkan melawan dan membela diri saat berhadapan dengan mereka. Cinta lemah karena rindu. Rindu kepada ibu kandung yang seumur hidup tak pernah ia ketahui wajah dan keberadaannya.
Hidup Cinta disibukkan dengan sekolah dan bergaul dengan sahabat2nya. Ditambah kedatangan Makky, cowok yang baru saja pindahan, makin mewarnai hari2 Cinta karena mereka memiliki hobi yang sama, yaitu fotografi. Aku dihadapkan dengan kegemasan mereka yang sepertinya saling suka, tapi tidak mau mengungkapkan. Makky pun tak pernah berani untuk menyentuh Cinta. Tipe2 halal romance ga sih
Terungkapnya fakta tentang ibu kandungnya, mendorong Cinta untuk menapaki jejak2 ‘kehidupan’ ibunya, dari Jakarta, ke Bandung, lalu Ke Jogja. Perjalanan itupun membuat Cinta banyak mencermati realitas kehidupan, terutama terkait peran para ibu. Cinta mengunjungi pasar2, perkampungan, sampai tempat pel*acuran. Cinta menemukan peran ibu yang menyayangi dan mencintai anaknya dengan caranya sendiri, tapi juga tidak sedikit peran ibu yang tak ‘seideal’ di pikirannya. Aku sampai menitikkan air mata saat membacanya.
Yang aku merasa kurang hanya pada pergantian alur (karena alurnya maju-mundur) yang tiba2, kadang membuatku bingung dan harus membaca ulang. Selebihnya, ceritanya cukup page-turning. Ada plot yang bisa ditebak, ada juga plot-twist yang membagongkan sekaligus menyayat hati.