Jump to ratings and reviews
Rate this book

Bedil Penebusan: Kumpulan Cerita

Rate this book
“Warga tentu saja tidak terima. Mereka uring-uringan, mereka tahu tanah selatan kering dan susah ditanami, mereka tahu tanah selatan terkenal karena tidak aman dan selain cenderung dibekap kemiskinan juga dipenuhi oleh hantu-hantu. Sebagian besar warga memang sudah miskin, tapi tentu saja mereka tidak mau menjadi lebih miskin lagi.”

— dari cerita “Mata Hijau Anjing Danau”

Ada dua belas kisah yang terhimpun dalam buku ini, dan kutipan di atas sedikit banyak menggambarkan kisah-kisah apa yang akan kita dapatkan. Kemiskinan, hantu, orang sakti, dan ketidakamanan adalah hal yang muncul kadang bersamaan, kadang yang satu menyebabkan yang lain. Dunia yang dibangun oleh Kiki Sulistyo—penulis Nusa Tenggara Barat peraih penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017 dan Buku Puisi Terbaik Tempo 2018—adalah dunia yang rasa-rasanya pernah kita dengar: dari orang lain, dari sekilas bacaan, tapi tidak dengan cara bercerita yang seperti ini.

97 pages, Paperback

Published December 1, 2021

2 people are currently reading
37 people want to read

About the author

Kiki Sulistyo

18 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
11 (15%)
4 stars
17 (23%)
3 stars
40 (55%)
2 stars
3 (4%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 24 of 24 reviews
Profile Image for cindy.
1,981 reviews156 followers
January 16, 2022
Bukan cangkir teh yg biasanya kunikmati. Sementara sebagian cerpen di sini lumayan kusuka, yang lainnya bikin haaahh... 😯terlalu singkat untuk memancing emosi, terlalu menggantung untuk berkesan.

Cerpen yang paling berkesan: Teo Berubah Jadi Bebek, haha twist akhirnya oke

Profile Image for raafi.
929 reviews449 followers
September 15, 2022
Tertarik baca buku ini karena ... tebalnya yang nggak sampai 100 halaman. Bagi chill reader macam saya, tebal halaman amatlah menentukan ketertarikan saya untuk menjajal suatu bacaan. Semakin tipis bukunya, semakin saya tertarik. Namun, yang paling utama adalah karena buku ini masuk jadi salah satu nomine Buku Sastra Pilihan Tempo 2021 (baca di sini).

Kalau mencari cerita-cerita dengan unsur lokalitas yang kental, buku ini tidak menyuguhkannya (padahal, sorotan jelas di sampul belakang buku tentang penulis berasal dari Nusa Tenggara Barat melambungkan harapan saya atas kemunculan lokalitas khas NTB). Kelokalannya mentok pada kisah seputar kota Ampenan di dua cerita di dalam buku ini berjudul "Suatu Kejadian di Kota Ampenan" dan "Bulan Merah di Kota Ampenan".

Meski demikian, dari kedua cerita tersebut di atas jugalah saya memahami bahwa Ampenan (khususnya) dan mungkin NTB (umumnya) terdiri atas warga pendatang yang plural. Sehingga, sebagaimana kota dengan warga yang beragam pada umumnya, tidak terdapat hal-hal yang berunsur lokal (seperti tradisi yang terikat kuat). Sepertinya sudah terlalu jauh, tapi begitulah yang saya tangkap setelah membaca cerita-cerita di dalam buku ini.

Terlepas dari kealpaan harapan saya tersebut, penulis cukup jago memberikan kejutan di akhir hampir setiap cerita pada buku ini (salah satu teknik cerpen yang saya suka). Teknik seperti itu membuat pembaca tertohok, tercengang, dan kadang tergugu hingga beberapa saat untuk menerima keterkejutan yang disajikan oleh penulis.

Dan seperti pembacaan kumpulan cerpen pada umumnya, ada cerita-cerita yang biasa saja dan ada cerita-cerita yang rasanya amat dekat bagi saya. Sayangnya, porsi cerita-cerita yang rasanya amat dekat bagi saya tidak lebih banyak ketimbang yang biasa saja.

Salah satu cerita yang rasanya amat dekat buat saya adalah "Bulan Merah di Kota Ampenan" yang menceritakan kenangan kota kelahiran di masa lalu (bagi penulis yaitu kota Ampenan). Setiap pulang kampung, lalu berjalan-jalan melewati alun-alun, sekolah, pasar, tumbuh pula nostalgia seperti yang disampaikan penulis berikut.

"Saat kami tiba di Simpang Lima, cahaya matahari sudah benar-benar hilang. Lampu-lampu bersinar lebih terang. Aku tatap bekas gedung bioskop yang sekarang sudah menjadi kantor cabang sebuah bank. Lintasan-lintasan peristiwa di masa kecilku terpampang kembali...." (Bulan Merah di Kota Ampenan, hlm. 68)


Saya juga suka dua cerita lainnya: "Mata Hijau Anjing Danau" yang terasa sekali kelicikannya sehingga bikin saya geram dan "Kurma Karma" yang menyayat hati dengan menghadirkan tokoh seekor kecoak. Tak lupa, ada satu cerita yang honorable mention yaitu "Suatu Kejadian di Kota Ampenan" yang alurnya lumayan intens.

Akhir kata, coba buku ini jika sedang mencari bacaan cepat (karena tebal halamannya) tapi sedikit berat (karena topik yang diangkat pada setiap ceritanya).
Profile Image for Kezia Nadira.
60 reviews6 followers
June 9, 2023
Buku pertama Kiki Sulistyo yang saya baca. Alasan memilih buku ini karena saya suka dengan kumpulan cerpen, dan penerbit Marjin Kiri adalah salah satu penerbit favorit saya setelah saya jatuh cinta dengan buku Dari dalam Kubur terbitannya. Tapi nyatanya setelah menamatkan buku ini, saya hanya mampu memberi bintang 3 saja: dalam arti saya tidak puas membacanya, tapi dibilang tidak suka ya juga tidak - lebih ke netral.

Hanya sejumlah 84 halaman, sungguh tipis dan benar-benar bisa dihabiskan sekali duduk. Tipe bacaan yang bisa langsung saya habiskan sembari menyesap teh untuk bersantai, atau menunggu kantuk datang di kala malam. Tapi nyatanya, walau memang saya benar-benar menghabiskan bacaan ini sekali duduk, kepala saya sesudahnya pening dengan begitu banyak pertanyaan bergumul.

Membaca buku ini seperti naik wahana "Hysteria" di Dufan. Dibuat naik dengan rasa penasaran dengan gaya bercerita yang apik, pengenalan berbagai tokoh/latar-belakang/setting yang mudah diselami dan diserapi, deskripsi yang detail dan runut yang dituangkan pelan-pelan tapi pasti - membuat saya menunggu-nunggu konflik yang terjadi. Gambaran ketika saya di puncak konflik adalah saat berada di puncak wahana "Hysteria" tersebut. Tapi, ketika saya mengharapkan penyelesaian konflik yang bisa saya terima, atau berharap untuk mendapatkan pesan dan makna yang ingin disampaikan penulis (secara benar-benar implisit) melalui kisah tersebut, saya malah dibuat tidak puas dengan akhir yang (menurut saya) terjadi "begitu saja": terlalu cepat, tanpa mampu memuaskan rasa penasaran yang telah dibuat begitu melekat dari awal bagian, sehingga mengurangi esensi dan keindahan kisahnya. Ini yang saya gambarkan momentum turunnya kita dari puncak wahana "Hysteria", dari udara yang membumbung tinggi hingga menyentuh daratan: terjadi begitu cepat dan tidak terasa - hampir tanpa makna.

Kesimpulannya, sayang sekali. Padahal cara bercerita penulis dalam setiap kisahnya sangat indah. Pilihan diksi, penurutan yang runut, deskripsinya yang lugas di tengah ruang yang sempit (sebagai cerpen, tentunya tidak bisa terlalu panjang), dan kemampuannya dalam "menarik" siapa pun yang membaca untuk menyelami ceritanya. Saya berulang kali meragukan tingkat intelegensi saya, karena tidak mampu memahami sebagian kisah dalam buku ini. Walau saya habiskan dalam sekali duduk, tak urung saya menghabiskan sekitar 10 menit sehabis baca tiap kisah untuk memikirkan apa arti dari kisah tersebut - lalu menuliskannya dalam catatan saya. Nyatanya, saya hanya mampu melakukannya (meresapi maknanya) dan tidak merasa "digantung" hanya pada beberapa kisah.

Pada beberapa kisah, penulis membawa sentuhan surealisme dan magis, yang harus saya akui - cukup unik. Saya mengerti bahwa kumpulan cerpen ini dibuat dengan sengaja untuk menjadi sebuah kisah implisit yang walau sarat makna, tapi juga membutuhkan tingkat intelegensi yang cukup tinggi untuk dapat meresapi kesan dan pesan tersebut.

Berbagai kisah di sini terasa dekat dengan kehidupan kita. Mengangkat isu yang pernah terjadi, yang pernah kita dengar lewat selintingan angin, yang menjadi legenda, dan mungkin yang sedang terjadi menerpa sebagian dari kita.

Terdapat 12 kisah di dalam buku ini. Beberapa yang saya sukai:

#1. "Kebun Pisang di Belakang Rumah"
-> Kisah ini tentang seseorang yang tidak bisa lepas dari traumanya sendiri. Ia berpikir dengan berlari dari masalah dan kabur melarikan diri adalah solusi yang sempurna untuk mengalahkan trauma dari masala lalunya. Hanya saja, ia keliru. Trauma dan jiwa kita hubungannya lekat, dan harus diselesaikan, bukan sesuatu yang bisa kita hindari. Kisah ini menggambarkan seseorang yang selalu diikuti oleh traumanya sendiri.
-> Yang dilihat oleh karakter utama adalah bayangan dirinya sendiri. Ia selalu melihat pria misterius di tengah hujan, tanpa mengenakan apa-apa. Kadang kali, pria itu memanggul sebuah buntelan besar di pundaknya. Si karakter utama mengira pria misterius yang dilihatnya adalah seorang penjahat. Namun kita baru mengetahui mengapa si karakter utama selalu diikuti bayang-bayang tersebut di akhir cerita.
-> Dari kisah ini, saya mengerti bahwa apa yang terjadi pada si karakter utama adalah apa yang terjadi jika kita lari dari masalah. Trauma masa lalu adalah sesuatu yang harus kita selesaikan dan jangan kita hindari. Atau, ia akan selalu mengikutimu seperti permen karet yang kau tak sengaja injak. Pilihannya ada 2: mengabaikan permen karet itu dengan anggapan ia akan pergi sendiri padahal ia begitu melekat padamu, atau memberanikan diri memegangnya untuk melepasnya dari sepatumu.

#2. "Bedil Penebusan"
-> Apa yang kita ketahui tentang bedil? Senjata. Untuk melawan musuh, melindungi diri, atau dalam kisah ini, dipakai untuk berburu oleh si karakter utama. Tapi kemudian, kisah ini membalikkan fungsionalitas si bedil: dari sebagai senjata berburu, menjadi senjata penumpas dendam - yang menebus "rasa sakit" si karakter utama.
-> Saya menyukai cerita ini. Kalau harus memilih di antara 12 cerita, mungkin saya akan memilih kisah ini. Saya suka karena di sini semuanya begitu jelas. Motif antar karakter: mengapa si "ayah" membenci anak lelakinya yang pertama (Adamir), mengapa si "ayah" membeda-bedakan antar kedua putranya, dan mengapa si adik memperlakukan si karakter utama (Adamir) seperti 'sampah', lalu membuat kita mengerti mengapa kisah ini diberi judul "Bedil Penebusan" saat di akhir cerita. Cukup dengan Adamir berucap "Ibu....", kita serasa dibuat "puas" dengan kisah pahit yang disuguhkan pada kita dari awal cerita.

#3. "Mata Hijau Anjing Danau"
-> Sebenarnya saya kurang paham akhir cerita penuh magis dan surealisme dari kisah ini, tapi saya suka karena di sini diangkat isu-isu yang sangat dekat dengan kehidupan kita di dunia nyata: pembodohan warga yang sudah miskin dan kurang edukasi sehingga mudah dibodohi oleh orang-orang kaya dan berkuasa dari "kota", si kepala dusun yang "buta" uang dan kekuasaan yang diiming-imingkan kepadanya sehingga ikut membodohi saudara-saudarinya di kampung sendiri. Bukankah hal ini yang sering kita lihat di dunia nyata? Pergusuran perkampungan warga untuk dibuat tempat hiburan orang-orang kaya, dan mereka diiming-imingkan wilayah baru yang lebih "menjanjikan", hanya untuk kecewa di akhir tanpa bisa protes atau membuat pilihan.
-> "Anjing" di sini, yang awalnya dikenalkan sebagai pemakan hewan ternak menurut saya digunakan untuk menakut-nakuti warga untuk segera meninggalkan perkampungan yang akan dijadikan tempat wisata itu. Buktinya, si "anjing" hilang ketika kepala dusun pergi ke kota. Dan kepala dusun itu kembali dari kota dengan penampilan berbeda dari biasanya: lebih terawat, lebih bersih. Saya berasumsi di sini ia termakan dengan uang yang diberi para penguasa, dan berjanji membuat para warga meninggalkan kampung itu dengan uang dan kekuasaan sebagai imbalannya. Bahkan kepala dusun lama dan yang baru bersama-sama mau mengajukan diri menjadi bupati dan wakil bupati. Ada permainan uang dan kekuasaan di belakangnya.
-> Kisah ini seperti "protes" penulis secara sarkas terhadap apa yang terjadi menindas kaum lemah di negara kita. Bukan hal yang baru, dan isu yang sangat dekat.

Selain itu, ada "Kurma Karma" yang bagi saya cukup berkesan. Menurut interpretasi saya, mengangkat Karma sebagai anak yang mengidap spektrum autisme tertentu, dengan imajinasinya terhadap kurma yang hidup. Perintah-perintah Kurma kepada Karma bisa dibilang adalah imajinasi dan buah pikiran Karma sendiri. Terutama untuk memukul kepala kecoak (yang mana si Farid, sepupunya sendiri) karena ia membenci Farid atas perhatian dan kesempurnaan sepupunya itu.

Lalu ada "Suatu Kejadian di Kota Ampenan" yang berkesan buat saya, karena di sini ada karakter "Aku" yang selalu berpikir segala sesuatu di dunia berputar untuknya, dengan dirinya menjadi "pusat". Berlatar-belakang kerusuhan dan penjarahan (yang benar-benar pernah terjadi di negara kita), karakter "Aku" yang menurut saya penuh dengan narsisme selalu membayangkan dirinya adalah pahlawan yang akan dicintai dan memiliki kisah yang bahagia, padahal nyatanya aksinya nol.

Kisah "Bulan Merah di Kota Ampenan" juga masih lekat di ingatan saya, karena secara implisit mengangkat sejarah negara kita seperti G-30S/PKI, kerusuhan besar yang pernah terjadi, malapetaka pada etnis Tionghoa saat reformasi dan kerusuhan tersebut. Ada kutipan yang saya suka dari si karakter di kisah ini: "Kabarnya sutradara film itu (film "Penumpasan Pengkhianatan G-30S/PKI") ditodong senjata supaya mau menggarapnya." - i mean, who knows?

Yang terakhir yang membuat berkesan adalah kisah "Sisifus Dusun Kami". Di sini mengangkat mitologi Yunani tentang Sisifus yang tamak, licik, dan serakah, yang dihukum oleh Zeus di dunia bawah tanah Tartarus. Sisifus harus dihukum untuk mengangkat batu besar ke atas bukit. Setelah sampai di atas, batu tersebut akan menggelinding kembali ke bawah dan Sisifos harus mengangkatnya lagi dan lagi. Mitologi ini sejalan dengan karakter Puq Kayum yang setiap sore berjalan 1 kilometer ke arah barat, dan pada satu titik, kembali lagi - karena ia sakit stroke. Beliau mengulangi hal ini berkali-kali di sisa hidupnya. Belakangan kita ketahui, ia adalah raja maling dan merampok. Sehingga ada persamaan antara si kakek ini dengan Sisifus.

Sebagai penutup, saya rasa buku ini layak dikatakan sebagai karya sastra yang mampu menggubah siapa pun yang membacanya. Sarat makna, dengan diksi yang indah bermain. Walau buku ini tipis, tapi tidak mengurangi nilai kesusastraannya karena buku ini, bagi saya, termasuk ke dalam bacaan yang berat.
Profile Image for Yoyovochka.
311 reviews7 followers
August 29, 2022
Peringatan: cerpen-cerpen ini sangat berkelas. Tetapi, karena mungkin bukan selera saya sepenuhnya, saya terpaksa kasih bintang tiga. Beberapa ceritanya memang sangat singkat dan tak mampu menyeret emosi pembaca hingga ke puncak. Mungkin memang gayanya saja yang begitu, ya. Meski begitu, beberapa cukup asyik dan bermakna kok.
Profile Image for Puty.
Author 9 books1,387 followers
Read
June 11, 2022
Buku kumpulan cerita dengan premis-premis yang menarik, beberapa magis dan intriguing. Namun bagi saya, kebanyakan cerita terlalu singkat sampai beberapa kali bertanya dalam hati, "Oh, ini sudah nggak ada lanjutannya ya?" 👀
Profile Image for Agoes.
512 reviews37 followers
July 6, 2022
Cerpennya menarik, isu yang diangkat juga berhubungan dengan konteks di Indonesia.
Profile Image for Yuniar Ardhist.
146 reviews18 followers
July 19, 2022
Sepanjang 80 halaman dengan ukuran buku saku ini berisi 12 judul cerpen. Merupakan buku yang dibuat sebagai dokumentasi hasil terbitnya cerpen-cerpen ini di berbagai media massa di Indonesia, seperti Padang Ekspres, Suara Merdeka, Jawa Pos, dll.

Sebelum membaca buku ini, saya sudah pernah membaca cerpen Kiki Sulistyo. Ketika kemudian diterbitkan oleh Marjin Kiri menjadi daya tarik lebih, karena sepertinya lebih terkurasi. Isinya akan dipilih yang memang benar-benar dianggap bagus untuk disatukan dan diterbitkan.

Impresi awal saya pada cerpen Kiki adalah kekuatan narasinya yang menarik. Kiki secara detil dan runut, memindai keadaan dan menuangkannya dengan cermat dalam tulisan. Sepanjang cerita, plot dan alur terasa mengalir dengan halus.

Dalam buku ini, saya diajak lebih menyelami karakter tulisan Kiki. Selain yang saya serap di awal, kemudian saya juga mulai mengenali bahwa Kiki suka menceritakan keadaan yang terlihat samar atau belum terlalu jelas mulai bagian awal hingga tengah menuju akhir. Baru kemudian di akhir, biasanya Kiki menjelaskan apa maksud dari adegannya.

Tidak semua demikian, ada juga yang Kiki bermain dengan surealisme. Mengakhiri dengan tanda tanya dan sesuatu yang terasa ‘aneh’ lalu meninggalkan kesan usai membaca.

Dilihat lebih dalam lagi, terasa komposisi tulisan yang coba dijaga oleh Kiki. Bagaimana mendeskripsikan suasana, penokohan, plot, alur, dan konflik. Tipikal cerpen yang tidak cocok untuk dibaca cepat, karena bisa malah menghilangkan keindahannya.

Saya mengapresiasi kerja bagus ini. Dan sepertinya jika terus dikembangkan akan menghasilkan karya-karya yang lebih baik lagi.

Hanya beberapa hal yang menjadi kurang menurut saya. Tidak ada yang istimewa. Bagus, tapi tidak istimewa. Tema-tema yang diangkat menurut saya kurang ekplorasi. Masih terasa tema-tema yang sudah banyak ditulis orang lain, hanya dikemas ulang dengan gaya penulisan berbeda.

Di beberapa bagian, saya juga bertanya, apa tujuan dari cerpen itu selain hasil menceritakan sesuatu (saja) tanpa terasa adanya pertentangan pikir, atau opini penulisnya sendiri? Apa pesan dan kesan yang ingin saya simpan setelah membacanya?

Lebih menarik menurut saya jika narasi yang sudah bagus itu memberikan ruang lebih banyak pada penyampaian implisit atas sebuah pesan dengan cara sarkas misal, adanya tambahan interteks, atau muatan informasi lebih detil tentang sebuah objek yang menjadi tambahan informasi pembaca.

Semakin banyak karya yang terbit, semakin mudah akses pada bacaan, terutama karya-karya penulis dari luar Indonesia yang terus melakukan eksplorasi dan eksperimen pada gaya penulisan, tema-tema dalam tulisan Kiki jadi terasa biasa. Dan dengan itu pula, penulis Indonesia sebenarnya sudah bisa lebih menyajikan gaya atau eksperimen tulisan yang lebih beragam.

Sebagai pembaca saya ingin merasakan hal yang lain, yang baru, yang membuat pembaca terkesan. Yang menjadi nilai tambah “mengapa saya perlu atau harus membaca karya Anda?” Saya juga menginginkan konsep yang berbeda dari hanya sekadar buku kumpulan cerpen yang diberikan judul dari salah satu cerpen di dalamnya.
Profile Image for Tricia Hartanto.
60 reviews3 followers
February 10, 2023
Pertama kuliat dan kubaca profil penulisnya, ada ingatan samar namun lekat di kepala tentang kota Ampenan dan Komunitas Akarpohon. Usut punya usut, ingatlah saya pada sebuah pertunjukkan luar ruang yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki 2018 silam.

Akarpohon adalah salah satu teater penampil pilihan Komite Teater DKJ yang pada tahun itu mengangkat tema teater kota. Pendekatan Komunitas Akarpohon yang simbolis dengan visual hitam putih kota Ampenan layaknya album foto jadul yang ditampilkan melalui proyektor rapi tanpa bocor, dibuka dengan dalang yang nembang dengan ganjilnya dari antara penonton, dan ditutup dengan band atas atap yang membawakan lagu hard metal semrawut bikin saya gak bisa lupa. Pertunjukan yang menampilkan betapa Ampenan adalah kota yang tua tapi juga muda, kota yang terdistorsi entah sejarah atau apa.

Sampai akhirnya saya memegang buku ini, saya tidak menyangka akan bertemu kembali dengan Ampenan, apalagi dalam medium berbeda. Jujur, awal-awal mendengar kota Ampenan saya bingung. Ampenan itu ada di mana? Ironis ya. Semakin menegaskan bahwa saya gak banyak tau apa-apa tentang Indonesia yang memang sedemikian luas. Sampai “saudara sendiri” di NTB pun saya tidak tahu. Tiap ngomongin NTB, pasti mentok sampai kota Mataram dan pantai Senggigi saja.

Makanya, boro-boro saya tahu apa yang terjadi di tahun kini dan kemarin. Relasi kuasa yang terjadi, kerusuhan di tahun 2000, ketertinggalan dari yang sebelumnya adalah kota pelabuhan super sibuk di jaman Belanda, stigma semrawut dengan tingkat kejahatan yang sepertinya cukup tinggi, masa depan yang terhambat. Kira-kira itulah yang saya tangkap dari kumcer Bedil Penebusan ini.

Moga-moga kali lain ke NTB, saya bisa mengunjungi Ampenan ya. Saya suka berjalan-jalan di kota tua soalnya.
Profile Image for Steven S.
702 reviews66 followers
January 16, 2022
Kumcer Marjin Kiri termasuk buku "harus beli" buatku. Setiap mereka mengeluarkan seri kumcer (dan buku lainnya).

Terbit Desember 2021, Bedil Penebusan menyajikan cerita pendek dengan langgam realisme magis di beberapa cerita awal. Membuat saya mencicipi bagaimana model cerita yang disajikan sepanjang kumpulan cerpen Kiki Sulistyo.

Stagnan di dua atau tiga cerita, hari ini dilanjutkan lagi, setelah membaca majalah Tempo terbaru. Bedil Penebusan dimasukkan dalam nominasi daftar baca prosa untuk gelaran Tokoh Seni 2021.

Sepantasnya buku ini dimasukkan dalam daftar karena keberbagaian pelintiran cerita yang tak terduga. Sedikit yang bisa saya ingat dalam artikel tersebut.

Kesan saya untuk cerpen yang terbit di berbagai media ini adalah narasi yang singkat, padat, komplit, membuat pembaca tak beranjak hingga akhir.

Saya akan melanjutkan membaca cerpen Kiki Sulistyo yang terbit di Diva Press. Muazin Pertama di Luar Angkasa
Profile Image for Dhea.
15 reviews
October 5, 2022
Membaca kumpulan cerita ini seperti mencoba melihat pemandangan yang berkabut dan jauh, terasa buram dan samar-samar, tidak ada pilihan lain selain memicingkan mata dan berjalan mendekat. Pikiran saya yang kurang tajam harus mencerna cerita-cerita singkat ini dengan beberapa kali tarikan nafas, bahkan beberapa kali gagal dalam memaknai arti dari kata perkata yang telah saya baca.

Beberapa kisah terasa begitu asing dan out-of-this-world. Beberapa kisah yang lainnya memukau saya dan membuat saya jatuh hati entah yang untuk keberapa kali dengan kumpulan cerita sastra Indonesia. Penggalan kisah favorit saya Bedil Penebusan seperti judul kumcer ini, Teo Berubah Jadi Bebek, Kurma Karma, dan Sisifus Dusun Kami, telah berhasil membuat saya terkesiap, merenung juga ironisnya membuat saya sampai tertawa. Dalam beberapa penggalan kisah lainnya seperti, Anjing Mati dan Marbut Kembar sukses membuat saya kebingungan dan menerka-nerka hingga saat ini. Konflik, ketegangan, ketidakamanan, keterasingan, serta keanehan bercampur menempatkan posisinya masing-masing ditengah masyarakat di dalam kumcer ini.

Anehnya, saya tidak sabar untuk menyambut keanehan lainnya dari karya Kiki Sulistyo.
Profile Image for Rizkana.
243 reviews29 followers
June 18, 2023
Tanggung. Itu satu kata yang terus-menerus mendesak keluar dari kepala tiap kali menyelesaikan 12 cerpen di dalam buku ini.

Kalau menyangkut gaya bercerita dan pilihan diksi, saya sudah suka dan merasa betah terus membalik halaman demi halamannya. Cerita kerap dibuka dengan pembaca dihadapkan langsung pada satu peristiwa yang membuat bertanya-tanya, “ada apa, ada apa?” seperti pada “Pedang Hijau dari Laut.” Selain itu, penulis juga sering jenaka memainkan rima, seperti pada “Teo Berubah Jadi Bebek.”

Anehnya, kalau buku sudah ditutup, tidak ada keinginan menggebu untuk membukanya kembali. Mungkin karena topik yang diangkat eksekusinya masih ‘abu-abu’ atau efek punchline yang ingin dihadirkan tidak sekuat harapan?

Pada cerpen “Suatu Kejadian di Ampenan” dan “Ibu Tidur di Beranda” misalnya, pembaca sudah tahu ini latar peristiwanya apa, sayangnya eksekusi terakhir tidak bisa lagi mengejutkan. Jadinya, ya terasa datar. Tanggung.
Profile Image for Sunarko KasmiRa.
293 reviews6 followers
January 18, 2022
Sekumpulan cerpen yang sy kira akan selesai dibaca sekali duduk, karena secara halaman bisa dibilang tidak terlalu tebal. Tapi rupanya perlu waktu lebih terutama untuk merenungi makna atau isu yang diangkat dari cerpen-cerpen yang ada pada buku ini.

Hal yang disukai dari Kumcer ini adalah diksi yang digunakan sangat mudah dipahami karena tidak terlalu banyak menggunakan istilah atau pengandaian tertentu untuk menggambarkan situasi atau case yang sedang di hadapi para tokoh. Hal itu juga yang pada akhirnya mampu menahan saya untuk terus membacanya.

Hal yang kurang disukai adalah pada beberapa cerita terkesan terlalu pendek dan terburu-buru sehingga beberapa tujuan dan makna dari cerita tersebut kurang bisa tersampaikan dengan maksimal.

Pada akhirnya,
kembali kepada selera. 🙏
Profile Image for Rizky Almira.
43 reviews
February 22, 2022
Seperti yang tertulis di jaket buku (blurb), 12 cerita pendek Kiki Sulistyo ini mengangkat isu kemiskinan, hal mistis, ketidakamanan, potongan gambaran sejarah Indonesia yang dirangkai dengan gayanya.

Dua belas cerita dalam Bedil Penebusan bikin reaksi yang berbeda-beda setelah melahap satu per satu cerpennya. Ada yang bikin penasaran, ada yang bikin pembaca menerka-nerka, ada yang bikin ngeri, ada yang memunculkan perasaan lega, ada yang bikin sedih, ada yang bikin miris.

Bacaan sekali duduk yang enaknya dibaca ketika suasana hati nggak buruk-buruk amat.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Tyas.
Author 38 books87 followers
June 15, 2023
Salah satu kumpulan cerpen yang paling saya suka yang pernah saya baca. Setiap cerpen, sesuai hakikatnya sebagai cerpen, hanya berpanjang beberapa halaman, tapi tiap-tiapnya seolah menampung dunia utuh. Kemisteriusan dunia masing-masing cerpen digambarkan justru dengan bahasa lugas, yang membuat cerita-cerita itu malah terasa dekat dengan keseharian kita yang juga mungkin tidak melulu berisi hal-hal "logis", atau yang setidaknya tidak bisa kita terangkan.
27 reviews
October 3, 2025
Aku kesulitan menginterpretasikan maksud dari sebagian besar cerita pada buku ini. Menurutku, ini tipe buku yang harus dibaca bersama dengan seseorang (buddy read), supaya bisa saling mendiskusikan pendapat akan maksud dari masing-masing cerita.
Profile Image for Aziz Azthar.
30 reviews5 followers
March 16, 2022
Buku ini dihadiahi oleh seorang teman sesama penulis. Aku bersyukur bisa membaca buku ini.
Profile Image for Menyertakan Maret.
42 reviews2 followers
July 9, 2022
Penulis berhasil membuat plot sederhana yang mengikat karakter pada bagian-bagian detail di dalam 12 kumcer ini.
Profile Image for Angelina Enny.
Author 12 books8 followers
February 25, 2024
Cerita2nya bagus, kadang terselip humor gelap yang bikin kita merenung, kadang2 surealis, kadang2 realis. Banyak ragam yang bikin buku ini jadi berwarna.
Profile Image for r.
23 reviews
March 1, 2025
Yup, sama seperti buku kumcer lainnya: lebih baik cerita-cerita di dalamnya dinikmati satu per satu, jangan terburu-buru untuk diselesaikan. Isi ceritanya klasik dan ringan.

3,5/5
Displaying 1 - 24 of 24 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.