Teruntuk Cakrawala, laki-laki pengidap gangguan mental yang selalu tersenyum dan tertawa ceria seolah-olah dia adalah orang paling bahagia di dunia. Dia si penyuka warna kuning dan pemilik senyum semanis gula. Dia selalu ramah meskipun dunia tidak pernah ramah kepadanya. Dia juga sangat cerewet.
Cakra...
Hampir setiap minggu aku selalu berdiri di depan gereja, melihat ke arah pintu gerbang, menunggu kamu datang menjemputku selepas sholat dhuha bersama sepeda kuning kesayanganmu, lalu kamu tersenyum dan melambaikan tangan ke arahku sambil berteriak, "HAI MOA! AKU DI SINI!"
Aku tunggu kamu sampai matahari terik, kamu masih juga belum datang, kemudian barulah aku sadar
....kamu sudah tidak ada lagi di dunia. Dan air mataku kembali berjatuhan.
Menurut aku, alurnya cepat banget sampe kerasa agak nggak masuk akal karena terlalu buru-buru buat tahap ‘menyukai’. Jadi aku ngerasa ceritanya kurang lengkap gitu.
Terus, plotnya juga masih banyak yang kurang jelas dan bikin aku bingung karena banyak pertanyaan yang belum dijawab. Aku sebenernya pengen jelasin lebih lanjut tapi takut spoiler, hehe... Kalau kalian perhatiin, masih banyak tanda tanya di cerita ini yang belum diungkap sama penulis.
Untuk karakter, tokoh utama ‘Cakra’ aku rasa udah kuat begitu juga ‘Maratungga’. Tapi karakter lain kayak Moa yang deket sama Cakra kurang dikembangin dengan baik, sama juga Alan, Nadin, dan Wicak, karakter-nya kurang kuat.
Aku dibikin berantakan sama konflik eksternalnya. konflik eksternal cerita ini lebih menonjol dibanding konflik internal tokoh utama. Mungkin kalian akan kesel banget pas baca karena konflik eksternal ini.
Narasinya juara karena sederhana dan ngelancar banget. Ini bikin aku terbawa suasana dan sampai baca ceritanya jadi berantakan karena bener-bener kena banget moodnya. Tapi sayangnya, transisi antara narasi dan dialog di beberapa bagian kurang mulus, jadi agak nggak nyambung.
Endingnya menurut aku agak dipaksain si tokoh utama harus tiada. Padahal aku ngerasa si tokoh ini sebenernya nggak pengen hilang, tapi kayak dipaksa harus begitu. Prolognya bagus banget dan menjanjikan, tapi epilognya malah klise dan bikin kecewa.
Secara keseluruhan, ceritanya bagus dan aku sangat memuji narasinya yang berhasil bikin aku nangis berkali-kali. Apalagi dialognya, bikin narasi makin klop dan pecah banget. Tapi ceritanya masih terasa kosong, aku ingin merasakan emosional dari karakter lainnya agar lebih diaduk lagi.
Ini murni pendapat aku sebagai pembaca yang sangat menikmati cerita ini. Jadi apa yang aku tulis di sini cuma apa yang aku rasain, tanpa maksud buat nyerang karya penulis.
Premis ceritanya menarik— menyinggung tentang kesehatan mental. Alurnya menurutku cepat, kesannya pas baca seperti ada bagian yang hilang (belum di ceritakan). Gaya penulisannya santai dan mudah buat di pahami. Karakter tokoh utamanya kuat pun dengan karakter tokoh pendukung lainnya. Overall aku suka sih sama ceritanya.