Empat orang yang berteman sejak SMA bekerja di perusahaan yang sama meski beda nasib. Di usia 31 tahun, mereka berburu rumah idaman yang minimal...nyerempet Jakarta.
Kaluna, pegawai Bagian Umum, yang gajinya tak pernah menyentuh dua digit. Gadis ini kerja sampingan sebagai model bibir, bermimpi membeli rumah demi keluar dari situasi tiga kepala keluarga yang bertumpuk di bawah satu atap. Di tengah perjuangannya menabung, Kaluna dirongrong oleh kekasihnya untuk pesta pernikahan mewah.
Tanisha, ibu satu anak yang menjalani "long distance marriage," mencari rumah murah dekat MRT yang juga bisa menampung mertuanya.
Kamamiya, yang berambisi menjadi selebgram, mencari apartemen cantik untuk diunggah ke media sosial demi memenuhi gengsinya agar bisa menikah dengan pria kaya.
Danan, anak tunggal tanpa beban yang akhirnya berpikir untuk berhenti hura-hura, dan membeli aset agar bisa pensiun dengan tenang.
Apakah keempat sahabat ini berhasil menemukan rumah yang mampu mereka cicil? Dan apakah Kaluna bisa membentuk keluarga yang ia impikan?
Umur >= 30 tahun, perlu nggak sih punya aset rumah/apartemen?
Berkenalan dg Kaluna, seorang staff Bagian Umum sebuah bank di Jakarta. Anak bungsu dari 3 bersaudara ini punya cita-cita tinggal sendiri di properti yang ia miliki. Pasalnya, Kaluna lelah harus tinggal seatap dg Bapak-Ibu & keluarga kakak-kakaknya.
Pencarian hunian pun berlangsung bersama 3 sahabatnya. Tanish yg ingin segera hengkang dari apartemen sempit, Miya yg ingin punya ruangan estetik demi "Instagramable" & Danan yg sebenarnya ya bisa aja sih tinggal di rumah orangtuanya....
Nyatanya, punya uang aja nggak cukup. Sebagai calon pembeli, Kaluna harus jeli perkara lokasi lahan, surat-surat, dan hal administrasi lain. Harga miring & masih berada di DKI Jakarta? Wah, patut diselidiki lebih jauh. Siapa tahu IMB atau SHM-nya nggak ada!
Membeli apartemen juga nggak kalah ribetnya. Dari "investigasi" pengembang, penyedia layanan jasa hingga cerita mistis juga dilakukan oleh Kaluna. Pokoknya, ia harus punya tempat tinggal yg nyaman & aman.
Di saat Kaluna masih berjibaku mewujudkan "home sweet home" versinya, ada saja hal yg datang: pertikaian dg mas Hansa--pacarnya--yg menuntut Kaluna u/ berada pd kelas sosial yg sama & perkara hutang keluarga. Kayaknya jadi rakyat jelata saja nggak cukup bikin kepala Kaluna mumet luar biasa.
Home Sweet Loan menghadirkan problematika yg lekat dg pekerja ibukota usia 30an. Generasi Roti Lapis tapi nggak mau ketinggalan tren fashun kekinian. Katanya ingin punya aset, tapi tiap Jumat selalu nongki di Senopati. smh
Bagiku pribadi, novel Metropop ini malah menyediakan prompt diskusi yg mesti dibahas dg partnerku jika nanti kami sudah serius ingin menikah. Daripada malah jadi penghambat di belakang, mending dibicarakan blak-blakan. Misalnya perkara mau tinggal sendiri atau di rumah orangtua/mertua.
Terima kasih kepada @fiksigpu @bukugpu yg sudah memercayakanku sbg salah satu pembaca pertama u/ novel terbaru @almirabastari ✨
Sudah tidak zaman untuk "we fall in love with people we can't have," menjadi dewasa adalah "we browse houses that we can't buy"
Home Sweet Loan bercerita tentang empat sahabat, yaitu Tanisha, Kamamiya, Kaluna dan Danan yang sedang pusing dan ribet mencari rumah untuk tempat tinggal dengan nyaman dan aman di sekitar Jakarta. 1. Tanisha, single mother yang berjuang mencari rumah untuk bisa tinggal nyaman tanpa harus sempit-sempitan dengan mertuanya 2. Kamamiya, mencari tempat huni untuk bisa menunjang profesinya sebagai influencer kelas teri 3. Kaluna, berjuang untuk keluar dari rumah Bapak-Ibu nya yang sudah sumpek dengan keberadaan 3 Kepala Keluarga 4. Danan, yang masih harus belajar bagaimana bisa menjadi dewasa Buku ini banyak mengajarkan realita yang pahit para pejuang receh di ibukota.
Hm.... gimana ya? Aku tuh udah excited banget menanti buku ini, karena; (1) Kak Almira ini salah satu auto-buy author aku, jadi gak mungkin dong dilewatin pra pesan buku ini; (2) Sampul buku ini (ehem...) bagus banget doooongg (ehem... karena gue ikutan voting buat sampul ini loh.. haha). Jadi gak mungkin dong dicuekin gitu aja buku ini.
Membaca buku ini jika kita tidak melihat karya-karya kak Almira sebelumnya (aka Resign! dan Ganjil-Genap) akan terasa "serius" menyentil dan terkesan "Tentang apaan sih ini?", aku pun terkedjoet ketika kak Almira membawa plot di buku ini jadi sesuatu yang "serius" dan "menampar", biasanya kan doi menulis ceritanya yang sumringah dan membuat kita, pembaca menertawakan getir atas kehidupan-kehidupan kita. Sehingga, Home Sweet Loan, berdasarkan pengalamanku sendiri ini menjadi suatu hal yang aku harus bisa adaptasi agar bisa "masuk" ke plotnya.
Jujur, dengan formulasi metropop ala kak Almira Bastari dengan plot yang serius ini, di aku pribadi agak ada "miss" gitu. Entah tektokan obrolan setiap karakternya yang menurutku kurang "gres" dan fokus cerita yang mengabur. Ini ceritanya pada riweuh, ripuh, ribet cari rumah ya, tapi diselipkan cerita masing-masing persoalan individu yang menurutku kurang optimal, boleh lah ada latar belakang alasan mengapa mereka-mereka ini mau cari hunian baru. Cuma, ada yang kurang aja gitu. IMHO! Soalnya, dengan formula yang sama, karakter juga tidak ada perkembangan dan/atau tektokan yang asyik dan menyenangkan, buku ini bikin aku bosen di tengah-tengah halaman. Aku kangen karakter-karakter "segar" yang biasa kak Almira bawa, tapi mungkin karena ini plotnya agak "serius" tadi, karakter-karakter yang harusnya "segar" itu jadi seperti bakpao melempem. Pembaca (aku!) malah jadi dibuat stress ngebayangin tentang kehidupan, karir, masa depan berkeluarga nanti gimana, bayang-bayang gimana kalau nanti ternyata aku jadi sandwich generation. Dah lah! Baca ini jadi banyak insecure-nya, tapi lebih ke... banyak refleksi diri sih. hahahahaha....
But, don't worry baby! I like this book nonetheless. This book is whooping my ass so hard, untuk berjuang biar mencari cuan lebih banyak biar bisa kebeli "minimal" aset yang kecil-kecil aja dulu. Pertama-tama, kita…. Berdoa aja dulu supaya ada aset yang kebeli *cry*
Rasanya nyaris minder setengah takut karena ulasan-ulasan lain semuanya memuji setinggi langit, sementara saya, di titik pertimbangan terakhir, bahkan memutuskan memangkas standar 3 bintang (Liked It) menjadi 2 bintang (It was OK). Mungkin saya nggak 'suka' buku ini. Standar. Netral. Seperti ketika saya nggak punya perasaan istimewa apa-apa terhadap seseorang, meskipun ya nggak benci juga.
Betul, masalah yang dihadirkan sangat realistis. Perkara mencari rumah, drama asmara, persaudaraan, masalah keluarga, dan hal-hal lainnya. Betul, bahasanya amat sangat mudah dicerna. Istilahnya, feel-good, an easy read. Betul, cukup menghibur karena selipan-selipan sambat yang ada di sana-sini terasa begitu dekat. Kata netizen sih, relate banget.
Tapi ada beberapa hal yang membuat saya tidak sreg.
Menurut saya, Kaluna, meski memang in a sense cukup memelas dan kasihan, terjajah, terinjak-injak, paling banyak berkorban sebagai anak bungsu, adalah orang yang cukup menghakimi. Cerita ini dihadirkan dalam sudut pandang orang pertama, jadi otomatis saya anggap semua deskripsi yang terpapar adalah bagaimana Kaluna berpikir. Bagaimana dia menilai kediaman Mas Hansa (pacarnya saat itu) seperti rumah orang kaya baru, sasak rambut ibu Mas Hansa (alias: calon ibu mertuanya) dilabelinya sebagai sasak antiturun, dan bagaimana Kaluna memandang kakaknya sendiri yang, 'baru lulus kuliah di umur 26', seakan-akan kesulitan menyelesaikan studi akademik dan lulus terlambat adalah bentuk kegagalan. Di mata saya, Kaluna tampak seperti orang yang sibuk mengkritisi orang lain sebagai kompensasi tidak tercapainya kehidupan ideal yang dia mau.
Manusiawi, tapi ya agak kocak, mengingat Kaluna selalu mengeluhkan betapa dia selalu salah di mata mas Hansa dan keluarganya. Betapa dia tidak merasa 'diterima', tapi ternyata dia juga tidak mampu (tidak mau???) menerima orang lain secara apa adanya, dengan berbagai keunikan, kekurangan, keanehan mereka. Apalagi sampai akhir cerita, Kaluna sebagai protagonis justru bisa dibilang (hampir) tidak punya perkembangan karakter signifikan. Terlalu minim. Tokoh dengan character development dalam cerita ini malah Danan.
Atau barangkali saya dan Kaluna hanya memegang value yang berbeda.
Saya tidak benci Kaluna, tapi ya nggak bisa dibilang suka. Misalkan saya sekantor dengan Kaluna pun, kemungkinan hanya akan jadi kolega. Nggak lolos seleksi psikologis untuk masuk zona pertemanan. Bisa jadi dia juga akan enggan berteman dengan saya.
Hence, the two stars. Untuk keberanian Almira Bastari mengolah ide sesuram sulitnya mendapatkan hunian yang bisa dibayar, dan membuatnya jadi bacaan ringan yang tetap bisa saya selesaikan. Dalam sehari.
Aku suka masalah Kaluna di sini. Sangat nyata: masalah karier mandek, hemat bawa bekal demi mencapai tujuan finansial yang baik, masalah berlapis di rumah di mana ada 3 KK di sana, cerminan keluarga kelas menengah ngehe, dan segala tuntutan pasangan toxic yang layak ditinggal.
Karakter Kaluna, Danan, Miya, bahkan Tanisha terasa nyata banget. Perkara mereka merespons kondisi dan situasi, benar-benar bisa dipahami karena karakter yang kuat banget. Terlepas kadang terkesan dodol dan malesin kayak si Miya haha. (Kecuali Miya Mobile Legends, aku nggak bisa nggak suka sama dia.)
Terus... dua karakter yang sejak awal cerita dikasih klu soal perkembangan hubungannya MANIS BANGET DI AKHIR. AKU SUKA. HEHE.
Yang aku gak suka: (1) Pengembangan karakter! Siapa hero dalam novel ini? Kaluna. Siapa yang banyak belajar dan jadi pribadi lebih baik? Danan. Karakter utamanya? Kaluna. Kasihan banget setelah aral melintang si Kaluna nggak dikasih porsi agar karakternya berkembang. Akhirnya dia bisa menyalak saat masalah keluarganya meruncing? Itu bukan pengembangan karakter, tapi hal manusiawi, IMO. Jadi pengin peluk Kaluna. Puk puk, dunia memang begitu. (2) BANYAK KALIMAT NGATUNG. Iya, ngatung. Kayak semacam, "Lo ngomong apa sih, Kaluna? Yang jelas lho..." Iya, aku tahu pakai POV 1, tapi bahasa "ngomong" sama "deskripsi" dalam novel tuh beda. Jangan semena-mena gitu ah, Kaluna. Selain itu, aku nyaris malas baca karena kalimat pertama novel ini. Kenapa? Masa di halaman pertama udah kasih kalimat majemuk entah tingkat berapa sampai njlimet? Bisalah dicicil deskripsinya, mana berupa karakter sampingan pula... Dengan adanya hal-hal ini, aku malah jadi menangkap kesan kalau naskah ini sengaja dikebut selesai tanpa diperiksa dengan baik dan cermat.
Selamat buat Almira atas novel baru ini. Kuakui dirimu genius banget untuk nangkep hal-hal "seksi" dijadiin tema novel Metropop.
Reviu di blog nggak, ya? Kalo iya, pasti aku banyak curhat soalnya banyak yang relate sama kisah Kaluna meski nggak semua... HIKS.
'Home Sweet Loan' bercerita tentang kehidupan 4 sahabat (dengan nama yang chicklit Jakarta banget; Kaluna, Tanisha, Kamamiya dan Danan) yang bekerja di tempat yang sama dengan latar belakang yang berbeda. Cerita keluarga, cinta dan gaya hidupnya keempatnya kemudian dibingkai oleh novel ini melalui sebuah misi: mencari rumah idaman.
Sebagai penggemar chicklit, saya menikmati sekali membaca buku ini. Secara plot rapi dengan setting yang masuk akal, dialognya mengalir enak (dengan celetukan sambat khas Almira), romancenya juga mengambil porsi yang reasonable tapi tetap ada efek gemas-gemasnya. Untuk standar chicklit: manis dan realistis.
Lebih dari itu, menurut saya 'Home Sweet Loan' bisa memotret realitas hidup kaum urban Jadebotabek dari satu frame tadi: perkara beli properti. Pernah dengar kan istilah kalau beli rumah itu jodoh-jodohan? Ya karena memang banyak sekali aspek hidup kita yang bisa dilihat saat memilih rumah: masa lalu, masa kini dan masa depan. Pengalaman keluarga, gaya hidup dan isu finansial sampai rencana di masa depan. Ini yang dieksplorasi dan dituangkan dengan baik oleh Almira. Karakter-karakter dengan permasalahan hidupnya yang rumit terasa sangat real sampai-sampai saya percaya kalau kita setidaknya kenal atau pernah dengar cerita yang mirip dengan yang ada di buku ini.
Namun jangan khawatir, ini novel Metropop jadi light dan feel-good kok! :D
OKE, INI BUKU KE-5 YANG SELESAI GW BACA DI TAHUN 2022, GW KELAR BACA DALAM WAKTU +/- 12 JAM AJA, JUJUR GW PIKIR FORMULA NYA FULL OF HUMOUR KAYAK NOVEL SEBELUMNYA..TP TERNYATA?????
GW BERASA DITAMPAR BERKALI2 PAS BACA NOVEL INI, NGERASA WAH GW NGAPAIN AJA SELAMA INI? EMOSI GW DIBUAT CARUT MARUT SAMA TINGKAH PACAR DAN TUNANGAN KAL, MIKIR KENAPA SI KAL BAIK BANGET?? TP SEKALIGUS MIKIR KASIAN AMAT NI ANAK 😭😭😭
SUNGGUH DEH, NOVEL INI BERASA REAL BANGET TENTANG PELIK NYA HIDUP DI JAKARTA, SUSAHNYA JADI KELUARGA PAS-PASAN, SAMPAI ARTI, SURATAN TAKDIR DARI TUHAN
PADA AKHIRNYA GW BENER-BENER NGERASA HANGAT BANGET BACA NOVEL INI, BAGUS BANGET..SEBAGUS ITU.. MAU NANGIS 😭😭 DUH FULL REVIEW NANTI DI BLOG YA..
Sebagaimana karya Almira sebelum-sebelumnya: realistis, penuh dengan diksi magis, dan menyelamatkan dari reading slump. Sehari aja kelar baca ini.
Setelah sebelumnya membahas dengan topik pekerjaan (di "Resign!"), kemacetan (di "Ganjil-Genap"), kini Almira datang dengan bahasan metropolitan pelik lain: memiliki hunian. Aku melihat keseriusan Almira dalam setiap topik bahasan yang dipilihnya untuk ditempelkan pada setiap ceritanya.
Hal-hal trivial seputar hunian dibeberkan layaknya seorang pro. Salah satu yang kusuka adalah bagaimana Almira menyematkan tentang perbandingan sistem hunian di Jakarta dan di Hong Kong. Selain relatable dan perlu sebagai kisah Metropop (yang mana berlatar kehidupan khas metropolitan), Almira juga secara brilian membuat klimaks yang dialami tokoh juga berkenaan dengan topik bahasannya.
Adalah Kaluna dan tiga temannya yang punya misi mencari hunian yang kelak akan dipanggil "rumah". Pada saat yang sama, Kaluna sedang berjibaku dengan masalahnya sendiri dengan sang pacar yang diproyeksikan menjadi pasangan hidup selamanya. Oh, tidak sampai di situ permasalahan Kaluna. Dia juga punya struggle dengan dua keluarga kakaknya yang masih satu atap dengan rumah orangtuanya.
Secara porsi, tiga elemen tersebut diceritakan secara adil, tidak ada yang kelebihan apalagi tertinggal. Malah, sebenarnya konflik utama pada buku ini ada pada elemen keluarganya yang berdampak pada dua elemen lain. Terkesan sederhana tapi sebenarnya rumit juga.
Hal menarik lain yang tersampaikan pada buku ini: tentang profesi influencer yang disandang oleh salah seorang teman Kaluna. Profesi ini dikomentari habis-habisan tentang siapa yang dipengaruhi dan dalam hal apa profesi tersebut bisa memengaruhi orang. Sebuah profesi tabu yang sebenarnya bisa jadi topik bahasan tersendiri dalam sebuah kisah lain.
Ada satu masalah pelik Kaluna yang mungkin jadi pengingat bagi para "pekerja" yakni perihal stagnasi profesi yang itu-itu saja. Kaluna sudah sembilan tahun bekerja dengan gaji yang katanya "segitu-segitu aja". Bagaimana agar kita (terutama aku) tidak selama itu untuk bisa pindah ke profesi lain atau seenggaknya punya usaha sendiri agar tidak mandek pikiran dan cuan.
Secara keseluruhan, buku beralur cepat ini begitu fresh dengan topik "pencarian rumah untuk pulang" yang amat dekat dengan kita semua.
'menikah tanpa mengukur kemampuan diiri artinya bersiap-siap membuat konflik di keluarga besar'
Isi ceritanya padet dan berat, bikin overthinking. tapi penulis mengemasnya jadi bacaan ringan dan menarik buat diikuti. bahasannya mungkin blm cukup relate sama aku tapi ini bisa jadi gambaran buat aku kedepannya gimana hidup di usia 30 tahun pusing mikirin banyak hal.
Ini pertama kalinya aku nyobain novel jenis metropop. awalnya menghindari bgt karena gasuka cerita yg menye menye dan berlatar keseharian masyarakat yg tinggal di kota besar, tapi sepanjang membaca ceritanya ini bacanya ngalir aja gak kerasa tau tau tamat cuma dalam 3 hari ditengah padetnya jadwal kuliah wkwk. Seruuu soalnya.
Baca novel ini tuh kayak nontonin series. Alur ceritanya enak buat diikutin dan interaksi antartokoh nya sukaa dan asikk bgtt. jadi sambil ngebayangin berasa nonton visualisasi ceritanya. Gak ragu lagi buat nyobain karyanya Almira Bastari yang lainnya.
This book is worth all the stars in the sky 💫💫💫 As i guessed in the middle, buku ini jadi favorit gue dari ke-4 buku Almira lain yg udah gue baca.
Gue merasa lumayan relate dengan banyak hal dari karakter Kaluna di buku ini, dari problematika2 hidup seiring bertambahnya umur sampai profesi dia di bagian office support. Such a familiar thing with my work lives in the past ;)
Bagi gue buku ini paket lengkap! Menghibur iya, bikin senyum2 dan ketawa iya, ada juga part2 yg bikin hangat, dan seiring itu semua ada aja terselip pelajaran hidup yg bisa diambil di setiap halaman yg gue buka.
Terlepas dari banyak juga yg memberikan nilai kurang bagus atau hanya sebatas rata2, buku ini tetap punya tempat spesial di hati gue. You know, karna pengalaman hidup orang berbeda-beda, jadi untuk gue pribadi, this book has taught, enlighten, and touched me a lot in the way humans are not able to. LUV!
3.5⭐️ Buku kedua yg kubaca dari Almira Bastari… writing style nya selalu enak buat dibaca, buku2nya selalu kelar dalam sehari saking enaknya dibaca
Suka dengan tema yang diangkat tentang problema hidup anak ibukota usia 30an yang masih single dan sandwich generation yg harus menghidupi 3 generasi, semuanya terasa sangat “relateable” buatku sih apalagi urusan hidup sama ortu 😁
Romancenya somehow aku suka .. Bestfriend to Lover
Reread 15 Agustus 2022. Nggak ada waktu buat baca buku jadilah baca ulang aja yang penting dapet hiburan dari baca.
Danan itu salah satu tokoh fiksi yang nyandu xixixixi. Buat yang kirim menfess review novel ini di Litbase Twitter dan ada singgung-singgung soal Chuck Basss, gue salty nih wkwwkwk dan tau lo siapa. Tenang jij nggak akan dikirimin Innova item kok 😂👍🏻
---------------------------------
Aku udah baca tiga novel karya Almira Bastari dan cara berceritanya emang khas banget ya, ringan dan mengalir gitu aja.
Mohon maaf ya Tigran dan Alranita posisi kalian tergeser sama Home Sweet Loan. Yes, aku kasih lima bintang. Ide cerita dan isu-isu terkini yang diangkat dalam novel ini menarik banget. Dan langka!
Aku masih bertanya-tanya kok Almira selalu punya ide cerita yang relate sama kehidupan sehari-hari ya? Ada aja loh idenya.
Konflik di novel ini mulai dari strategi cari rumah yang sesuai budget dan keinginan tapi kebentur lagi sama dana, hubungan keluarga yang bikin inhale exhale sampai drama percintaan. Jadi keinget someone pernah bilang, "Bisa beli rumah di Jakarta masuk gang aja aku udah bersyukur mbak."
Menurutku, novel Almira yang satu ini bikin aku lebih emosional ketika membacanya. Siapa sih yang iris bawang merah?! Bikin aku nangis pas baca bagian ibunya Kaluna yang selalu masakin makanan kesukaannya tapi nggak berani minta Kaluna buat pulang ke rumah. Rasanya mau peluk Kaluna. Tapi tenang aja novel ini juga dibumbui komedi yang bakalan bikin ketawa-ketawa kok. Gamau coba stand up comedy kak?
Menjelang ending sweetness overload! Aku terharu bahagia sama endingnya. Dan mereka couple fiksi terfavoritku dari empat couple fiksi 'Almira Universe'. Uluuuuu lovebirds! Chemistry mereka tuh cocok, banyak bedanya tapi saling melengkapi. Kaluna sabar banget ya sama Chuck Bass versi udah taubat. Almira nggak pernah failed kalo soal cerita romantis begini. Bacanya bikin hatiku kembang kepis bagaikan permen gulali yang lagi ditiup-tiup abangnya dan gue masih kepikiran itu udara yang ditiup abangnya bersih apa nggak, ada virusnya apa nggak.
Aku suka sama karakter Kaluna yang sabar, mandiri, punya prinsip hidup (yang beneran dijalanin nggak cuma ngomong doang), bertanggung jawab, nrimo ing pandum dan strong. Masuk kategori badass heroine! Tapi Kaluna juga bukan tokoh fiksional yang karakternya dibentuk sempurna. Dia juga mengakui dan menyadari iri sama Miya yang pernah ngerasain hidup sendiri ketika masih single. Dia juga ngerasain hopeless sama hidupnya tapi bisa cepet bangkit dan jalanin hidup.
Nilai plus dari novel ini yaitu risetnya. Iya, riset! Aku suka sama penulis yang riset dulu sebelum tuangin idenya ke sebuah cerita.
Pesan moral yang aku dapatkan dalam novel ini hidup menyesuaikan dengan kebutuhan, kemampuan dan secukupnya aja. Aku akui kalo aku agak mirip sama Miya xixixixi.
IMHO, Almira itu salah satu penulis yang menghargai pembacanya. Kalo kasih bonus PO itu nggak sekadar berhubungan sama novelnya aja tapi juga utamain kualitas barangnya makanya awet.
Tolong skip baca! Serius skip baca! Aku udah warning loh ya! Hanya mau tulis komen manifestasiku di Wattpad yang mau aku kenang di Goodreads.
Sebenernya bingung mau kasih pastinya 3 atau 4, aslinya di kepala itu 3.5 aja. Tapi taro aja dulu rating skrg mana tau dpt hidayah bakal kasih berapa wkwkwk
Membaca Home Sweet Loan tidak sama dengan buku Kak Almira yang sebelumnya Ganjil-Genap atau Resign! Di buku ini gaya penulis kak Almira semi serius, banyak sekali informasi tentang properti dan segala macam drama tentang cari rumah. Konflik tiap karakter pun berbeda tapi relate dengan masalah yang banyak yang mengalami atau dalam posisi 4 orang ini. Apalagi semua karakternya berumur diatas 30 tahun.
Aku suka gaya kak Almira yang baru di buku ini, tidak banyak humor tapi juga masalah serius seperti keluarga, teman dan juga bagaimana kita harus mencintai diri sendiri dan melakukan apa yang kita sanggup. Jangan yang langsung beli karena keinginan tetapi sesuai kebutuhan, yang paling penting hati-hati! Jaman sekarang banyak penipuan, kadang teman pun tidak bisa langsung kita percayai kalau soal uang (hahaha).
Danan, sebagai tokoh laki-laki sendiri membuat saya bisa menebak alur cerita romansa yang akan dibangun, jadi sweet sekali di bagian akhir karena banyak sekali guyonan Danan yang membuat buku ini bisa saya tuntaskan dengan senyuman bahagia.
Tokoh utama, Kaluna membuat saya berkaca dan salut jika ada perempuan seperti Kaluna di luar sana. Banyak dari buku ini yang bisa diambil pelajarannya, dan juga riset yang dilakukan kak Almira tentang kondisi dan harga property kuacungi jempol. Keren kak.
Sebagai pembaca aku bisa terhubung dengan emosi yang dirasakan Kaluna. Karakter dia memang paling kompleks permsalahannya meski ending ceritanya seperti terlalu mulus terselesaikan. Padahal untuk urusan keluarga akan butuh waktu lamaa (versi yang aku temui sih). Yasudahlah..
Secara keseluruhan, aku enjoy baca buku ini dan happy!
"Sudah tidak zaman untuk ‘We fall in love with people we can’t have’, menjadi dewasa adalah ‘We browse houses that we can’t buy’."
—————————
Menurut kamu, standard sukses itu kayak apa sih?
Buku ini mengajak kita untuk berkenalan dengan Kaluna, Tanish, Miya, dan Danan. Para Jakartarian in their 30-ish yang lagi berjuang untuk menemukan rumah idaman masing-masing di tengah hingar bingar kota Jakarta yang (uhuk) nggak masuk akal harganya. Kaluna, our heroine, ingin keluar dari berbagai problematika yang muncul di rumahnya akibat dihuni oleh 3 KK berbeda. Tiga teman lainnya juga punya alasan masing-masing. Ada yang pengen cari rumah aesthetic buat ‘pamer’ foto di Instagram, ada yang pengen cari rumah lebih besar karena rumahnya udah terasa ‘sesak’, dan ada juga yang cuman iseng.
Ini pertama kalinya aku baca karya Almira Bastari and I like her way of telling stories. Narasinya smart, singkat, padat, dan nyaman banget buat dibaca. Not to mention bukunya juga page turner abis! Masalah yang diangkat di buku ini sangat relatable sih menurutku. Menjadi dewasa itu memang amat sangat tidak mudah. Harus pintar-pintar atur financial plan, putar otak bikin proyeksi keuangan untuk masa depan, tekanan untuk menikah dari sana-sini, dll. Belum lagi perasaan stress karena merasa ‘belum punya apa-apa’ di usia segini, sementara si anu udah punya ini-itu. I literally feel you, bestie.
Padahal, pada kenyataannya rumput tetangga belum tentu lebih hijau kok. Yang aku suka lagi dari buku ini adalah banyak hal trivial seputar properti yang diselipkan di sini, khususnya di Jakarta. Aku jadi banyak refleksi diri dan belajar sih. Belajar buat mempersiapkan diri, dan kalau mau beli rumah harus benar-benar diteliti surat-suratnya lengkap atau nggak. Jangan cuman berbekal ‘murah’ doang.
Aku merasa ditampar dan jadi agak ‘insecure’ setelah baca buku ini. I mean, aku cukup dibuat ‘stress’ ngebayangin tentang career, kehidupan, investasi, gimana masa depan berkeluarga nanti, dll.
Honestly, the plot itself terasa agak hambar dan kurang nendang menurutku. Character development-nya juga kesannya gitu-gitu aja dan eksekusi ending-nya terasa sangat buru-buru. Like ‘poof!’ tiba-tiba aja beres gitu. Haha.
But despite all that, this book is still very enjoyable to read.
Awalnya agak ragu menerima kiriman buku ini karena sudah lama tidak pernah membaca novel metropop lagi. Tapi tema bukunya cukup menarik mengenai kisah pencarian rumah di seputaran Jakarta oleh empat sahabat lama dengan berbagai alasan masing-masing.
Kuartet sahabat Kaluna, Tanisha, Kamamiya, dan Danan yang bersahabat sejak lama dan bekerja di kantor yang sama bersepakat bersama-sama mencari rumah yang cocok dengan pilihan mereka. Layaknya sahabat banyak obrolan kocak dan kejadian tak terduga dalam prosesnya termasuk bumbu asmara di dalam kelompok ini. Fokus cerita juga melebar hingga hubungan di dalam keluarga terutama di kehidupan Kaluna tetapi masih dalam porsi yang sesuai. Penulis menyajikan situasi yang kerap terjadi pada status single yang harus banyak mengalah ketika masih tinggal di rumah orang tua apalagi sebagai anak perempuan. Dari Kaluna kita juga bisa belajar berempati dan bisa bersabar ketika berhubungan dengan bagian umum dan admin di kantor.
Sebelumnya saya agak heran ketika Kaluna memutuskan untuk membeli mobil sendiri padahal dengan gajinya dan mindset perencanaan keuangan yang terukur sepertinya itu bukan opsi yang utama. Namun, setelah membaca lagi ternyata itu karena pengaruh dari pacarnya dan hubungan yang tidak sehat.
Dengan setting saat pandemi, terlihat jelas riset yang dilakukan terutama soal harga rumah yang terasa cukup akurat dengan tambahan konteks yang menarik. Ada hal yang kurang sesuai dalam pembacaan saya yaitu tentang penggambaran pekerjaan ART dan babysitter dalam selipan bercandaan mereka: tidak jujur, doyan makan, mudah dibujuk dan gajinya "mahal". Pelabelan yang mungkin juga tak diinginkan mereka dalam jenjang sosial yang ada.
Sudah cukup lama saya melihat karya-karya Almira Bastari sebelumnya bersliweran di media sosial dan baru kali ini membacanya langsung dan saya cukup bisa menikmati jalan ceritanya yang terasa mengalir dan bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Membaca buku ini saya sekaligus ikut bernostalgia ke masa-masa susahnya menemukan rumah pertama yang cocok selama setahun sebelum menikah dulu.
Almira Bastari patut dikasih titel lord metropop 😆
#VioReads2022
Kalau bukan karena ngantuk, kayaknya baca ini sehari langsung selesai deh 🤪, karena emang page turner abis! Dari dulu aku memang suka genre metropop. Bacanya gak ada beban, tapi tetap ada wawasan baru yang bisa di ambil.
Salah satunya Home Sweet Loan ini, membuka mata aku bahwa harga properti Jakarta itu gila banget!😖 Mau dapat yang murah? Ujung pinggir Jakarta pilihannya. Mau yang dekat kantor? Paling bisa beli apartemen tipe studio, yang kalau berkeluarga nanti otw penuh sama barang-barang.
Pembaca akan mengikuti perjalanan 4 orang sahabat yang 1 kantor dan ingin membeli properti di Jakarta (dengan alasan masing-masing). Kaluna; keadaan rumah semrawut dan berantakan karena ada 3 kepala keluarga. Tanisha; apartemen udah sempit ditambah mertua mau ikutan tinggal. Kamamiya; kostan sekarang kemahalan, mau cari yang lebih estetik untuk sosial media. Danan; ya “katanya” untuk investasi aja.
Di samping itu, cerita tentang percintaan, keluarga, dan pekerjaan juga menghampiri di sela-sela kegiatan hunting rumah ini. Banyakan bikin sedih dan gak tega 😭🙏, terharu pun iya, tapi ada juga yang bikin ketawa hehehe. Aku enjoy dengan tiap cerita dan percakapan yang di tawarkan.
Jujurly selama baca dan setelah membaca, jadi banyak refleksi diri 😅. Nyari dan pilih rumah nggak gampang (bukan cuma persoalan duitnya aja, loh!). Walaupun aku masih kuliah, persiapin dikit-dikit boleh kali ya? 🤪 karena persiapan ini long term dan harus hati-hati 👀. Terakhir! Aku puas dengan segala keputusan yang tokoh-tokoh ini ambil. Alias realistis.
Jujur, pada akhirnya memutuskan membaca ini sebab viral banget filmnya. Baru beberapa hari udah ratusan ribu yang nonton. Saya baca banyak ulasan, dan banyak review yang menceritakan bahwa novel ini tentang masalah millenial yang bingung mencari rumah karena terkendala biaya.
Premisnya bikin saya seolah2 merasa bisa berempati karena berangkat dari latar belakang yang sama. Tapi kemudian saya tertawa miris setelah merampungkan buku ini.
Setting pasca-covid, Umur 32 Tahun, punya tabungan 400jt, punya mobil sendiri, gaji per bulan 9jt, tinggal numpang di rumah orang tua, nggak punya tanggungan apa2, jadi model bibir, bahkan nikah pun masih dibiayai orang tua 🥲🥲🥲
Apa yang kurang dari dunia Kaluna? Benar. Kurang bersyukur. Di sepanjang narasi Kaluna selalu mengeluh gk punya uang, nggak cantik, miskin, tapi itu semua bertentangan dengan apa yang dia miliki.
Tekadnya satu: dia ingin punya rumah sendiri tanpa mengutang kpr karena rumahnya sudah penuh. Kalau dia sudah tidak betah di rumah, kenapa tidak mengontrak, atau kpr saja, kan?
Tapi dia nggak mau itu karena dia mau nabung, nabung, dan nabung. Yang lucu adalah, ketika dia minggat dari rumahnya, dia numpang di apartemen Danan? Bahkan tidur satu ranjang dengan Danan? Dia selalu melabeli dirinya konservatif, tapi apa yang terjadi? Perempuan konservatif mana yang apabila dia punya harga diri, dia mau2 saja tinggal di apartemen laki2 (sekalipun itu temannya)?
Dan Kaluna adalah karakter yang dari awal halaman sampai tamat tidak mengalami perkembangan karakter. Dia suka banget menghakimi orang lain. Danan dan Miya merupakan salah satu tokoh yang suka dia judging. Bahkan dalam kunjungan pertama Kaluna di rumah Danan, dia selugas itu menghina bapaknya Danan "nggak ganteng".
Menurut saya, persahabatan mereka berempat toxic parah. Saya sampai heran, dari SMA, persahabatan itu berbahan bakar apa? Dari awal Kaluna dan Tanish selalu melabeli Miya apalah inilah itulah hanya karrna dia tahu apa maunya dan kebutuhannya. Miya selalu dituding glamor, sok imut, manja, dan lagi waktu Miya membuka zoominar (yang bagus utk mengembangkan diri), malah dicemooh dong sama satu gengnya.
Komentar Tanish: "duh, Mi, opini lo sehari2 aja malas gue denger, ini lagi di acara." "Mi, orang mau, ya, ngundang bintang tamu cuma ngomong2 nggak berbobot kayak gitu?"
Danan: "Ini acara Miya nggak berguna banget, ya?"
Kaluna: "Banyak yang ngomong dengan pede mereka influencer, emang berpengaruh untuk siapa?"
Tapi yang jelas sih satu, di antara mereka berempat, cuma Miya yang cerdas dalam mengambil tindakan. Tidak nikah muda yang pada akhirnya menyusahkan diri sendiri, tidak numpang di apartemen cowok, bisa beli apartemen sendiri, bahkan bisa mengembangkan potensi menjadi pembicara zoominar, plus jadi influencer. Dia jg gk ada tuh menghina Kaluna yang jadi model bibir, atau Tanish yang selalu jadi bayangan mertua, maupun Danan yang gk jelas konfliknya apa. Miya adalah representasi perempuan mandiri yang mau melakukan apa saja untuk meraih keinginannya.
309 halaman, dan justru masalah itu selesai setelah orang tua Kaluna menjual rumah dan mereka tinggal di Tangerang. Duit Kaluna balik, lalu justru dapat tambahan 100jt 🥲🥲🥲 generasi millenial mana yang punya 500jt dalam tabungan di tengah inflasi seperti sekarang? Dia akhirnya nikah dengan Danan, lalu nyari rumah berdua. Padahal saya mengharapkan dia lebih mandiri, tapi harapan itu sia2. Ini gk lebih dari cerita Cinderella yang dibungkus masalah zaman sekarang.
2 bintang: 1. Untuk covernya yang ngepop banget. 2. Untuk masalah Kaluna dan keluarganya. Keren banget mengundang emosi. Dan Bapak jadi satu2nya yang bisa berpikir mencari jalan keluar di tengah kemelut anak2nya.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Bagi sebagian, sukses materi hidup di Jakarta, terutama yang berasal dari luar Jakarta, bukan saja tantangan, tapi impian. Maka, selalu ada harga yang harus dibayar untuk perjuangan.
Perputaran uang ekonomi negara terbesar ada di Jakarta. Tak heran, magnet kuat Jakarta menawarkan gemilang harapan masa depan, membuat banyak yang ingin menantang Jakarta. Namun, Jakarta bukan tempat yang mudah ditaklukkan.
Dengan latar dunia perkantoran dan kehidupan di Jakarta, empat anak muda di buku ini mencoba memikirkan bagaimana menemukan tempat hunian layak milik sendiri. Dengan latar belakang situasi keluarga, cara pandang, kebiasaan, dan gaya hidup yang berbeda, mereka coba bertemu dalam ide tentang : rumah idaman.
Pembaca juga akan diajak survey guna mendapatkan informasi bermanfaat : harga properti. Misal, jenis Aparthouse dengan luas tanah dua belas meter persegi, tiga lantai, senilai 1.2 Milyar cash keras, artinya 100 juta/m. Luas bangunan 50 m persegi untuk 3 lantai, sangat sempit dan lelah naik turun tangga. Cukup untuk tinggal berapa orang? Bagaimana jika sudah menikah, 2 anak yang beranjak dewasa? Jika kredit, butuh berapa lama? Bisa-bisa sampai anak menikah, baru terbayar lunas.
Sementara jika memilih lokasi rumah di daerah padat, rawan kejahatan, banjir, dalam gang, tiada garasi, bukan tenang yang didapat, justru sebaliknya. Bertempur dengan kerumitan tiada akhir. Pilihan sulit.
Di sisi lain, semua ingin menampilkan kesan hidup mewah, tenang, bahagia. Padahal tiada melek perencanaan keuangan. Berapa harga yang harus dibayar untuk mencapai keadaan ideal itu? Sementara pasangan baru saat ini, idealnya sudah ingin tinggal bersama di rumah sendiri.
Inilah realitas yang terjadi. Almira secara santai, membalutnya dengan percakapan antar tokoh, juga ditambah dengan kisah percintaan, mencoba menyampaikan pesan besar itu. Masalah yang menyelip lamat-lamat di antara hiruk-pikuk dan arus gaul anak muda Jakarta. Seberapa banyak yang menyadari situasi ini sejak awal?
Buku ini sama sekali gak ringan buat saya karena topik yang diangkat sangat dekat dengan kehidupan.
Tokohnya terasa nyata karena saya kenal dengan yang sifatnya mirip2 kayak kaluna; di dalam hati ngedumel panjang lebar tapi di luar adalah seorang people pleaser yang iya-iya aja kayak keset.
Romance-nya agak terburu2 sih di akhir, tapi ini juga sering terjadi di lingkungan dimana teman tiba2 menikah karena merasa sudah saling kenal. Gak bikin saya degdegan sih romancenya, kayak liat teman yang emang ternyata jodoh aja.
Bukunya terlalu realistis at some parts sampai bikin kepikiran; apakah gue udah punya uang sekian ratus juta untuk menyelamatkan keluarga??? Karena jujur aja, kayaknya yang membuat lega setelah selesai baca buku ini adalah uang tabungan kaluna HAHAHA.
Enggak nyangka sih bkalan suka. Soalnya aku udah nyerah sbnernya sama certa2nya Mbak Alma. Tapi di sini tuh lbih aman sih ceritanya. Seenggaknya cowoknya nggak toksik kayak cowok2 di buku2 sebelumnya. Walaupun Danan tetep aja cowok yang nggak bisa kompromi. Kalau misal bisanya aku lbih suka temen2 si tokoh utama, tapi di sini aku kek iyuh banget, sih. Apalagi ama Miya. Plis deh ah.
Buat certnya sndri aku menikmati. Kesel klau udah mnghadapi kluarganya. Kek pingin jitak satu2 gtu taaah. Tapi tokoh Kaluna ini lbih realistis ya, jdi asyik buat diikutin. Danan juga asyik. Jdi ya aku suka.
Tapi emang hubungan Danan - Kaluna ini kayak gmna ya. Nggak bisa disebutin kecepetan krena clue nya kek ada jelas juga cuman kayak ya udah nggak yg ada chemistry sekuat itu. Kek y udah aja sih jadian krena kita dah saling kenal coba aja. 😂
Home Sweet Loan menceritakan kisah empat sahabat—Kaluna, Danan, Tanisha, dan Kamamiya—dalam perburuan mereka mencari rumah idaman di sekitaran Jakarta. Berhasilkah mereka menemukan rumah yang sesuai keinginan dan budget?🏠💰
Di buku ke-empatnya, Almira Bastari menyuguhkan cerita yang berbeda. Kak Almira mengangkat ide cerita yang menarik banget sih! Kok ya kepikiran aja lho bikin #novelMetropop yang bahas lika-liku dan strategi berburu rumah idaman sesuai budget!
Tak hanya itu, buku ini pun penuh dengan banyak permasalahan yang cukup berat dan sensitif. Dari mulai masalah karier dan finansial yang gitu-gitu aja, kacau-nya harus tinggal serumah dengan 3 KK, toxic relationship, suka duka tinggal bareng mertua, dan juga gaya hidup di Jakarta yang penuh tuntutan.
Permasalahan hidup Kaluna, Danan, Tanish, dan Miya tuh terasa nyata dan relatable banget untuk banyak orang. Terutama permasalahan Kaluna yang begitu kompleks dan berlapis. Ada ya orang sesabar Kaluna? Aslik deh, aku gregetan banget sama keluarga Kaluna! Gak bapaknya, gak saudara-saudaranya, apalagi ibunya yang bikin emosi banget!😤 Kok bisa sih mereka se-ignorant dan se-tega itu? Kaluna kurang ngalah apa coba?
Meski konflik di buku ini cukup serius dan berlapis-lapis, Kak Almira berhasil mengemasnya dengan ciri khas gaya bercerita-nya yang mengalir, ringan, kocak, dan page-turner! Jujur, buku ini emang gak se-seru Resign! dan Ganjil-Genap, tapi banyak banget ilmu yang bisa didapatkan. Aku pun amaze banget sama riset Kak Almira tentang harga properti di Jabodetabek dan segala problematikanya!
Oh iya, untuk segi romance-nya, meski gampang ditebak dan porsinya kurang banget, aku cukup puas karena manis dan gemesin banget sih!🥰
P.S. Suka banget sama ide merch untuk PO buku ini! Kak Almira nih 11-12 sama Kak Ika klo bikin merch! Totalitas! Siapa sangka ikutan PO buku dapetnya keset?
"Bekerja bagai kuda di Jakarta buat beli rumah sekotak. Iya, se'kotak'."
Mulai dari membaca kalimat pembuka di bagian prolog aja aku udah dibuat ngakak. Ngakak yang miris dan langsung yakin bahwa halaman-halaman selanjutnya akan membawaku pada realita orang dewasa dengan mimpi beli rumah di ibu kota tapi gajinya minimalis :')
Ceritanya berpusat pada 4 sahabat yang sudah berteman dari SMA; Kaluna, Tanish, Miya, dan Danan; yang bekerja di kantor yang sama dan juga sama-sama bermimpi punya rumah di ibu kota. Meski mimpi mereka sama, tapi kebutuhan dan (tentu aja) budget mereka berbeda. Buku ini diambil dari sudut pandang Kaluna yang ingin punya rumah sendiri, atau setidaknya apartemen, supaya dia bisa keluar dari rumahnya yang sudah terlalu penuh dan riweuh karena dihuni 3 keluarga. Iya, 3 keluarga. Kakak-kakaknya, Kanendra dan Kamala juga sudah berkeluarga dan sudah punya anak, tapi dua keluarga itu masih "numpang" di rumah orang tuanya dan Kaluna jadi kecipratan jadi babu sekaligus babysitter untuk membereskan rumah dan mengasuh keponakannya. Kondisi keluarga Kaluna seolah memberi tamparan pada para pembaca bahwa, "berkeluarga tanpa persiapan itu ibarat terjun payung tanpa parasut". Gak sampai di situ, masalahnya Kaluna juga disumbang lagi sama pacarnya, Hansa, yang terus-terusan menuntut dirinya untuk bisa "setara" dengan keluarganya. "Ngapain sih kamu irit-irit terus buat beli rumah? Mending uangnya buat beli mobil baru." Hah gimana? 🤨🤨
Selain mumet dengan kisah hidupnya Kaluna, aku juga dibikin mumet dengan kisah hidup rumah tangganya Tanish yang LDR sama suaminya dan akhirnya bolak balik mengurus anaknya sendirian karena susternya sering minta berhenti. Karena apa? Karena mertuanya. Duh.. kalau udah menyangkut mertua aku udah auto menghela napas, dah. Tanish juga kepingin cari rumah karena apartemennya sudah terlalu kecil menampung kehidupan berkeluarganya yang riweuh sama mertua. Lalu ada juga Miya, manusia milenial eksis berjiwa gen Z yang mau mencari apartemen luas biar instagramable tapi uang untuk DP aja gak punya 😂😂 Tapi ya dengan gaya hidup sosialitanya ya wajar aja dia gak punya tabungan, Dan terakhir ada Danan.. yang suka ngintil nemenin para sahabatnya lihat-lihat rumah tanpa pernah benar-benar punya tujuan buat beli rumah, karena yah.. dia anak laki-laki satu-satunya dari keluarga tajir. Di buku ini, Danan tuh yang hidupnya paling legowo, sih. Berkebalikan sekali dengan Kaluna yang tertata tapi hidup dan rumahnya berantakan. Tapi malah Danan ini yang paling terlihat perkembangan karakternya. Dan dari percakapan Danan dan Kaluna, aku jadi sering dapat tips mengatur keuangan bulanan dan sadar juga kalau pengeluaranku pun masih berantakan karena sering bocor di sana-sini. Kaluna, boleh bagi excelmu juga gak? 😂😂
Home Sweet Loan ini adalah bukunya Almira Bastari pertama yang kubaca dan ternyata aku suka banget! Untuk orang yang baru otw kepala 3, aku bisa kebayang gimana riweuhnya realita di masa itu. Mau beli rumah? Pastikan lokasinya beneran strategis (Jakarta Selatan, bukan selatan Jakarta 😂😂) dan surat-suratnya beneran jelas (walau setelah membaca habis buku ini rasanya aku semakin gak rela menguras kocek sampai sekian milyar demi punya rumah sekotak di ibu kota. Ku mending ngekos aja, toh sama-sama sekotak 😂😂) Lalu kalau kongkow sama temen obrolannya bukan lagi seputar, "besok mau hangout ke mana?", "mau nyobain makan di tempat yang baru buka kemarin itu gak?", "eh, tiket pesawat lagi diskon, nih. Yuk, cus ke Jogja" tapi, "besok mau lihat rumah di daerah mana?", "eh, tolong bantuin jaga anak gue, dong", "bagi rekomendasi olshop susu bayi, dong", "duh, sorry gak bisa meet up weekend. Mertua gue mau dateng". Cepat atau lambat aku juga akan mencicipi percakapan-percakapan yang mengandung peliknya realita kayak gitu. Tinggal ditunggu aja tanggal mainnya 😂😂
Novel Home Sweet Loan ini bercerita tentang seorang wanita karir di Jakarta yang berusia 31 bersama dengan 3 sahabatnya yang memiliki sebuah misi: punya rumah idaman.
Kaluna, si anak bungsu, yang digambarkan sebagai wanita karir Jakarta masa kini yang hidup dari gaji pas-pasan, tapi punya ambisi: punya rumah tinggal sendiri. Digambarkan bagaimana Kaluna bersama 3 sahabatnya: Tanish, Miya, dan Danan—membuat proyeksi masa depan melalui realita gaya hidup dan kondisi finansial saat ini.
Berikut kutipan ucapan Kaluna yang terngiang-ngiang buat saya: “Mungkin, tapi kan gue punya tujuan, Dan. Lo emang ga punya tujuan apa gitu? Misalnya financial freedom? …..” “….tapi dalam proyeksi harapan sama asumsi mesti beda. Kalau mau asumsi, realistisnya, rata-rata kenaikan gaji lo tiap taun berapa? Itu yang dipakai. Kalau lo buat proyeksi kayak gini terus uangnya ga ada, gimana?......”
Plot yang digambarkan cukup banyak mengandung bumbu-bumbu literasi finansial, masalah gaya hidup yang relate dengan kehidupan sehari-hari, tentunya masuk di akal (apalagi mau masuk 30, saya relate banget dengan kondisi dalam novel ini, wah!) Sehingga menurut saya, Almira Bastari secara tidak langsung ingin mengajak pembacanya untuk lebih melek dalam literasi finansial. Karena, menyiapkan keuangan tidak hanya untuk masalah memiliki rumah idaman, tp juga kebutuhan dan impian di masa depan—tentunya disampaikan khas Almira dengan cara yang tetap kocak, menggelitik, tapi cukup menampar dan realistis (?!).
Kembali lagi soal inti dari cerita ini, dijelaskan kalau setiap orang punya impian rumahnya masing-masing. Tidak hanya mencari pasangan, mencari rumah juga jodoh-jodohan, disinilah keseruan 4 sekawan ini keliling Jakarta hingga Jakarta coret demi bertemu rumah idamannya. Saya tidak ekspektasi bahwa kisah Home Sweet Loan ini akan manis-manis kayak chicklit lain--(jujur ada dibagian dari cerita bikin saya netesin air mata)--sebagaimana khas dari novel Almira Bastari sebelumnya, kisah tokoh utamanya pasti akan diawali dengan kisah-kisah pahit dan bersusah payah lebih dulu, lalu bermanis-manis kemudian 😊 tapi berbeda dengan novel sebelumnya, Home Sweet Loan ini paket komplit: porsi cerita tentang keluarga cukup besar disini, disamping ada cerita persahabatan, dan tentunya cerita cinta. Ibarat k-drama, saya jadi merasa nonton k-drama genre slice of life dengan bumbu rom-com, hehe.
seluruh karakter yang ditampilkan dalam novel ini terasa nyata. Ga ada yang tajir melintir banget yg sampai punya beberapa rumah, gedung2 di belahan negara mana gitu, atau karakter yang miskin banget sampe melarat apalagi, realistis. Porsi penggambarannya menurut saya pas. Demikian jg supporting role seperti Ibu-Bapak, kakak, dan calon mertua (hehe). Cuma yang masih saya kepikiran: kok bisa teman satu SMA tau-tau keempatnya satu kantor?? :D selain itu, penamaannya sangat tidak biasa—saya jadi keinget ortu jaman now yang kasih nama anak-anaknya dengan nama unik dan Jakartans banget hehe.
hal lain yang tidak kalah untuk direnungkan dalam novel ini bahwa: rumah idaman tidak melulu berbentuk rumah yang nyaman untuk kita berteduh, melainkan sosok 'tempat' kita menghabiskan sisa hidup.
Biarpun ada pesan-pesan serius untuk melek literasi finansial, chicklit nya tetap ada: ringan dan menyenangkan. Tentunya akan membuat kalian tidak mau beranjak dan akan terus membaca hingga halaman akhir dalam sekejap 😊
Home Sweet Loan menceritakan tentang 4 orang sahabat yang berteman sejak SMA dan bekerja di perusahaan yang sama meski beda nasib. Di umur mereka yang sudah 31 tahun, mereka berempat berburu rumah idaman yang minimal nyerempet Jakarta.
Novel ini tidak hanya membahas kegalauan 4 sahabat yang sedang berburu rumah idaman saja, tetapi juga membahas tentang hubungan keluarga yang cukup rumit, pasangan, orangtua, mertua, impian. Konflik yang diambil dengan kita dan digambarkan relate dengan kenyataan. Jadi pas baca ini rasanya ngena dan tertampar kenyataan.
Bagian yang paling buat aku sedih yaitu setiap Kaluna pulang kerja. Rasanya miris banget. Entahlah, aku merasa marah dan kecewa dan perlakuan orangtua Kaluna, apalagi dengan ibunya. Kedua kakaknya juga begitu menyebalkan. Dan ada banyak pelajaran yang bisa dikutip secara tersirat.
Gaya penulis yang asik membuat ceritanya jadi page turner banget. Bacaannya begitu nagih. Ketika baca novel ini rasanya aku jadi takut menyambut umur 30-an (padahal masih lama banget btw wkwk, tapi takut nggak siap). Walaupun begitu, selesai baca ini pemikiranku jadi semakin terbuka, terutama dengan betapa pentingnya menabung dan merancang masa depan dengan lebih baik lagi. Karena kehidupan itu sulit ditebak, seperti yang dialami keluarga Kaluna diakhir.
Oiya, selain membahas tentang kehidupan Kaluna, kehidupan 3 sahabat Kaluna yang lain nggak kalah menarik. Ada Tanisha, ibu satu anak yang menjalani Long Distance Marriage. Kehidupan Tanisha yang lebih dulu menikah dan merasakan manis dan pahitnya kehidupan menikah sesekali memberikan masukan yang tepat untuk Kaluna.
Kemudian ada Kamamiya, sahabat Kaluna yang begitu berambisi menjadi selebgram. Kehidupan Miya yang begitu hedon, nggak mempertimbangkan banyak hal untuk membeli sesuatu membuat aku yang baca jadi ikut pusing. Adapun Danan, sahabat Kaluna yang hidupnya paling enak. Anak tunggal tanpa beban yang pada akhirnya berpikir untuk berhenti hura-hura dan mulai membeli aset agar bisa pensiun dengan tenang. Awalnya karakter Danan belum menarik perhatian karena aku masih meraba apa yang terjadi pada novel ini, tapi lama kelamaan aku gemas sendiri dengan Danan.
Hal lain yang buat aku semakin gereget dengan novel ini yaitu Kaluna yang ternyata nggak mudah peka! Tabah banget emang buat yang mau naklukin Kaluna ini. Ya, walaupun konfliknya berlapis, romansa cinta di novel ini membuat ceritanya menjadi lebih manis. Untuk kamu yang suka dengan cerita yang konfliknya tentang orang di usia 30-an dan relate dengan kehidupan, bisa coba baca ini. Anw, tempelen di novel ini cukup banyak. Banyak yang bisa kutandai di sini. Kutipan yang relate, tips, dan bagian favoritku.
Judul: Home Sweet Loan Penulis: Almira Bastari Penerbit: Gramedia Pustaka Utama Tahun Terbit: 2022 Jumlah Halaman: 309
disclaimer: review buku ini ditulis berdasarkan pengalaman dan apa yang aku rasakan selama membaca. jadi, penilaianku bisa jadi berbeda dengan penilaianmu, and that's just totally okay!:D
---
Bisa dibilang ini buku metropop pertamaku! Jadi ingat dulu waktu SMP-SMA (lumayan) baca teenlit, yang sebenarnya ceritanya "too good to be true" ngga sih wkwkw. Kalau metropop ini lebih realistis dan tentunya relatable!
Buku "Home Sweet Loan" ini menceritakan perjalanan pencarian rumah idaman empat orang sahabat yang memiliki latar belakang dan karakter berbeda.
---
Berikut key points dari pengalaman baca yang aku notice 🔵 apa yang aku suka 🔴 apa yang aku kurang suka
🔵 Benar-benar menggambarkan sepak terjang dalam bertahan hidup di ibukota. Segala struggle yang dialami para karakter berasa banget real-nya!!! 🔵 Menurutku, penulis berhasil membangun dimensi cerita yang kompleks namun gampang dicerna dan diikuti. Dari persoalan keluarga dan rumah tangga hingga perdebatan dengan diri sendiri yang dialami empat orang berbeda, bisa disatukan dengan sangat seru dan menarik. 🔵 RINGAN DAN LUCU BANGET. jujurly buku ini sangat page turner, mengobati semi reading slump dari buku sebelumnya (hehe). humornya juga masuk di aku. pokoknya super enjoy baca buku ini! 🔵 Yang aku suka banget selama baca buku ini adalah: banyak common knowledge dan pop culture-nya. Baik seputar tempat tinggal, finansial, pekerjaan, maupun lingkungan dan lifestyle.
[ theres no 🔴 ]
Baca buku ini (for me) bikin tambah aware untuk mempersiapkan masa depan. Sedikit banyak jadi tergambar gimana struggle-nya, ribetnya, dan penuh perjuangannya untuk memiliki rumah, terlebih bagi orang yang bergaji 1 digit🙂🙏
#selabaca personal rating ⭐ 4.8/5
Link pembelian buku ada di bio, yaa!
N.B. post ini diikutsertakan dalam challenge #hbdayanggiareads oleh @anggiareads
sorryyy. ulasan ini berdasarkan opini pribadiku. aku udah berusaha bgt buat nyelesein buku ini sampe akhir tapi ternyata ngga bisa. mungkin ini karena taste aja ya, aku merasa boring ketika baca dan yaaaa berakhir DNF 😔
Udah lupa kapan terakhir baca novel metropop, hehehehe. Lumayan menghibur perjalanan di kereta. Tiba-tiba novel selesai, udah 7 jam aja di kereta. Cukup menyegarkan dan bikin senyum-senyum 😁
Home $weet Loan berkisah tentang empat orang berusia kepala tiga yang sudah berteman sejak SMA dan bekerja di perusahaan yang sama. Meski nasibnya berbeda, mereka dengan kompak memburu rumah idaman. Yah.. minimal.. mepet Jakarta.
_____________ Kaluna yang merupakan tokoh utama dalam kisah ini memiliki berbagai masalah dihidupnya. Masalah dengan pacarnya dan utamanya masalah keluarga yang membuat hidupnya semakin berat.
Memiliki mimpi untuk punya rumah sendiri, Kaluna berburu rumah impian dengan hasil kerja kerasnya selama sembilan tahun.
Ketiga tokoh lainnya pun memiliki permasalahannya masing-masing.
Ada yang sudah menikah dan punya mertua yang masih suka ikut campur. Ada yang belum menikah dan hidup demi memenuhi gaya. Ada juga yang mulai berpikir untuk membenahi hidupnya.
Permasalahan dalam novel ini relatable dengan kehidupan nyata. Semua diceritakan dengan apa adanya. Banyak hal yang disampaikan penulis akan menohok pembacanya. Terus ceritanya disampaikan dengan menyenangkan pula.
Latar belakang novel ini juga pas masa pandemi, ceritanya jadi berasa lebih dekat aja sama kehidupan masa kini.
Suka banget banget sama buku ini. Aku rekomendasi parah sih, apa lagi kalau kalian udah memasuki usia kepala dua. Amat sangat disarankan baca buku ini! Banyak pembelajaran hidup yang bisa diambil dari kisah keempat tokohnya.
Jujurly di beberapa part aku nangis sih. Kasian banget sama tokoh utamanya. 😭😭 Ikut mengcapek pas baca. Kalau jadi Kaluna aku udah meledak kayanya. 😭😭 Intip kutipan-kutipan yang aku share deh biar kalian makin yakin baca buku ini. Bisa cek di postingan ini ya: https://www.instagram.com/p/CY82hUOL5yw/