Saat-saat berdialog dan berdiskusi bersama Tan Tjiang Ay bisa diibaratkan seperti perjalanan mencari matahari. Cobalah bayangkan di pagi atau sore hari, kejarlah bayang-bayang, tidak akan ada habisnya, ia akan terus di depan kita. Cobalah mengejar matahari, bayang-bayang akan mengikuti kita. Cerita ini dilambangkan di dalam Alegori Gua Plato. Alegori Gua Plato adalah cerita mengenai alam pikiran kita seperti orang yang menghadap ke tembok di dalam gua. Dan di mulut gua terdapat cahaya matahari dan cahaya api unggun. Orang yang menghadap tembok gua hanya bisa melihat ke tembok. Terkadang kita perlu melihat lebih teliti, apa yang menciptakan bayang-bayang tersebut, matahari atau kah api unggun yang kecil. Alegori tersebut menggambarkan sebuah hambatan dalam meningkatkan diri, Plato memaknai kehidupan melalui sebuah alegori yang adalah sebuah cerita di dalam bayang-banyang. Cerita arsitek mumpuni bukan lah cerita bayang-bayang, ini adalah cerita tentang bagaimana kita menoleh ke belakang dan berjalan keluar gua untuk mencari matahari masing-masing untuk membentuk kemumpunian masing-masing.