Nh. Dini (Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin) started writing since 1951. In 1953, her short stories can be found in most of national magazines like Kisah, Mimbar Indonesia, and Siasat. She also writes poems, radio play, and novel.
Bibliography: * Padang Ilalang di Belakang Rumah * Dari Parangakik ke Kampuchea * Sebuah Lorong di Kotaku * Jepun Negerinya Hiroko * Langit dan Bumi Sahabat Kami * Namaku Hiroko * Tirai Menurun * Pertemuan Dua Hati * Sekayu * Pada Sebuah Kapal * Kemayoran * Keberangkatan * Kuncup Berseri * Dari Fontenay Ke Magallianes * La Grande Borne
Awalnya, saya berpikiran bahwa untuk berkebun sebaiknya saya belajar tentang tanah. Maka saya pun mengetikkan 'tanah' pada kolom pencarian buku di aplikasi Ipusnas, dan menemukan buku ini berada di urutan teratas. Alih-alih mencari buku yang to-the-point, saya malah penasaran untuk mencoba buku ini. Sudah lama saya tidak membaca banyak novel.
Ketika mulai membaca, saya tidak ada informasi apa-apa tentang buku ini. Saya tidak menyangka bahwa isinya akan bercerita tentang seluk-beluk kehidupan orang transmigran.
Kebetulan, bertahun-tahun lalu saya mulai mengembangkan rasa penasaran terhadap kehidupan swadaya. Dalam bahasa Inggris, kata kuncinya antara lain "self-sufficiency" dan "homesteading". Saya menonton acara-acara terkait, contohnya Where The Wild Men Are di BBC Knowledge serta Live Free Or Die di National Geographic Channel. Salah satu--atau dua--tokoh yang diangkat dalam Live Free Or Die adalah pasangan suami-istri homesteader yang pada subtitle diterjemahkan menjadi "transmigran". Saat itu saya merasa janggal. Benarkah itu padanan yang tepat?
Bagi orang-kota-manja sepeti saya, kehidupan seperti itu menggugah--seolah-olah itulah sebenar-benarnya hidup, cara hidup yang sebaik-baiknya karena sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan tidak membuat banyak kerusakan di muka bumi. Apalagi media menggambarkan kehidupan demikian sebagai suatu pilihan yang walaupun eksentrik, tapi juga eksotik dan memiliki nilai-nilai positif tersendiri. Meski begitu, lama-kelamaan saya sadar bahwa itu di luar jangkauan saya sehingga berangsur-angsur saya kehilangan minat. Sekali lagi, untuk menguasai salah satu keterampilan yang diperlukan untuk hidup begitu saja, yaitu berkebun, saya merasa perlu membacai buku tentang tanah dulu!
Berangsur-angsur pula saya menyadari bahwa contoh-contoh yang saya dapat dari Barat itu ternyata memang sepadan dengan transmigrasi di Indonesia. Rupanya saya pun dihinggapi sindrom kagum pada sesuatu yang kebarat-baratan, padahal di negeri sendiri tidak kalah banyak cerita demikian--yang tentunya lebih relatable serta lebih efektif dalam mengukur kesanggupan diri. Buku ini membeberkannya dengan baik.
Kesadaran tentang lingkungan hidup pun muncul di penghujung cerita, seolah-olah sesungguhnya merupakan kesimpulan: manusia mengambil dari alam dan sebaiknya rela ketika alam hendak mengambilnya kembali. Kisah serupa sebelumnya saya temui di suatu artikel Kompas baru-baru ini--dalam rangka Ekspedisi Wallacea--tentang transmigran di Sulawesi yang merelakan sebagian hasil kebunnya untuk dimakan hewan-hewan liar.
Dalam sentilannya terhadap para petinggi pada masa Orde Baru (yang mungkin masih berlanjut hingga sekarang ...), buku ini mengingatkan pada Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari. Tokoh utamanya pun sama-sama lelaki muda (sekitar tiga puluh tahun atau kurang) dan idealis. Kalau Orang-orang Proyek berlatar tahun 1990, novel Nh. Dini yang aslinya berjudul Orang-orang Tran ini pertama kali terbit pada 1985. (Sayang sekali pada edisi elektronik/PDF dari PT Dunia Pustaka Jaya, 2018, tidak dicantumkan keterangan demikian, melainkan hanya "Cetakan pertama, 1997, oleh Grasindo".) Namun saya rasakan sentilan dalam novel ini tidak seblak-blakan dalam Orang-orang Proyek.
Novel ini juga lebih kompleks daripada Orang-orang Proyek. Rentang waktunya lebih panjang. Walaupun konsisten dengan sudut pandang si tokoh utama, namun narasinya juga mencakup cerita tentang orang-orang lain di sekitarnya, terutama sesama transmigran yang nasibnya berbeda-beda dengan dirinya. Yang paling membuat saya terkesan atau terenyuh adalah kisah tentang para transmigran dari Pandeglang yang mendapat lahan gambut (= petaka bagi petani), serta kisah tentang seorang gadis 12 tahun yang dikawinkan (atau "dijual") kepada lelaki dewasa. Memang Orang-orang Proyek pun mengandung kelebatan tentang tokoh-tokoh selain tokoh utama, namun saya rasakan yang dalam novel Nh. Dini ini lebih berkesan.
Ceritanya pun diakhiri secara mengharukan, sementara yang saya ingat dari Orang-orang Proyek hanyalah perasaan masygul cenderung hopeless. Belum lagi ada drama rumah tangga yang bikin maklum soal perkembangan kejiwaan suami-istri, yang sepertinya lazim terjadi. Apakah karena penulisnya perempuan maka narasinya lebih menyentuh perasaan? Entahlah. Dalam membawakan sudut pandang lelaki pun, walaupun secara otomatis tidak autentik, saya kira beliau sudah berusaha dengan sebaik-baiknya.
Bisa dibilang, buku ini sekadar slice of life mengenai peri kehidupan orang transmigran. Tapi saya merasakan gereget sehingga ingin membaca terus, terutama setelah si tokoh utama memasuki kehidupan transmigran. (Sebagian awal buku ini berlatar di Jawa ketika si tokoh utama belum menjadi transmigran.) Gereget ini saya rasakan lebih daripada ketika membaca buku fantasi macam IT Stephen King. Mungkin itu karena walaupun fiktif, novel ini terasa real. Tanpa unsur fantastis yang membabi buta, aneka pelajaran hidup yang disampaikannya terasa lebih masuk. Novel seperti inilah yang membuktikan bahwa fiksi itu bukan sekadar hiburan apalagi kebohongan yang diada-adakan pengarang. Novel seperti ini menjadi cara menyampaikan kenyataan hidup secara lebih menarik ketimbang karya jurnalistik yang adakalanya terasa dingin kurang gereget.
Buku ini membuka satu bab kehidupan yang sering hanya muncul sebagai catatan kaki sejarah: kehidupan para transmigran. Tentang orang-orang yang berangkat dengan koper tipis dan harapan yang tebal, digerakkan oleh janji-janji negara, tanah yang luas, hidup yang lebih layak, dan masa depan yang katanya lebih cerah.
Namun buku ini tidak berhenti di sana. la justru memperlihatkan apa yang terjadi setelah spanduk diturunkan dan pidato selesai. Program-program yang tampak rapi di atas kertas ternyata banyak yang tidak berpijak pada kondisi nyata di lapangan, memperlihatkan jurang antara perencanaan dan kenyataan.
Tanah yang dijanjikan luas, ternyata tidak selalu subur. Rumah sudah berdiri, tetapi sumber air jauh. Lahan dibuka, tetapi hama tak terkendali. Jalan dibuat, tapi akses transportasi tetap sulit. Banyak bangunan terlanjur ada, namun perlahan menjadi terbengkalai karena perencanaan yang tidak didahului survei yang matang.
Kesenjangan antara perencanaan dan implementasi menjadi benang merah cerita. Buku ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya berbasis target dan angka, tetapi memerlukan pemahaman kontekstual terhadap lingkungan dan masyarakat setempat.
Yang membuat buku ini terasa kuat adalah caranya yang humanis dalam menggambarkan kehidupan para transmigran sebagai manusia, bukan sekadar angka statistik program negara. Transmigran tidak ditampilkan sebagai objek kebijakan, melainkan sebagai subjek dengan emosi, keraguan, dan daya tawar yang terbatas.
Pergolakan batin para tokohnya. Antara bertahan atau menyerah, antara berharap atau menyesali keputusan. Ditulis dengan bahasa yang sederhana, jujur, dan tanpa romantisasi berlebihan. Tidak ada heroisme palsu. Yang ada hanyalah kelelahan, kebingungan, dan usaha bertahan hidup sehari demi sehari.
Membaca buku ini, saya tidak bisa tidak teringat pada cerita bapak saya yang pada akhir tahun 70-an hampir saja mengikuti program transmigrasi Orde Baru dalam skema PELITA (Pembangunan Lima Tahun). Namun rencana itu akhirnya urung, karena saudara dan keluarga besar mencegah. Buat apa menukar kemudahan hidup di Jawa dengan tantangan hidup yang sama sekali baru, di tempat yang asing dan berbeda budaya? Buat apa tergoda oleh janji-janji tanah yang luas? Saya bersyukur baoak saya mengurungkan niatnya itu.
Buku ini juga secara tidak langsung mengajukan pertanyaan yang mengganggu: seberapa sengsaranya hidup di Jawa pada masa itu, hingga seseorang rela mempertaruhkan segalanya demi janji masa depan yang belum tentu terwujud?
Bagi saya, buku ini terasa dekat. Bukan karena saya mengalaminya langsung, tetapi karena kisah-kisah semacam ini hidup dalam ingatan keluarga dan sejarah yang jarang dibicarakan secara jujur. Buku ini menjadi pengingat bahwa pembangunan bukan hanya soal angka, statistik, target, dan peta, melainkan tentang manusia dan alam yang tidak pernah bisa diperlakukan sebagai catatan kaki.
In addition to "Pada Sebuah Kapal", which is practically NH Dini's pseudo-autobiography, I think this is Dini's best-written book. It also clearly shows what authors are expected to do: a thorough research. "Orang-orang Tran" focuses on a young Javanese migrant in Kalimantan, a teacher/farmer who struggles to survive in a land far from home, with abundant promises from the government and zero facility to start with. Brilliant!
Sungguh memenuhi rasa rindu terhadap sebuah kisah sederhana, namun penuh makna. Tak ku sangka bahwa setiap imbauan sederhana dalam buku ini menimbulkan nuansa yang hangat. Rasanya seperti mendapat ajaran dari guru yang tepat.
Buku ini tak hanya mengisahkan perjuangan Samirin, tetapi kehidupan di tanah transmigrasi pada umumnya. Berbagai rintangan dihadapi orang-orang tran ini; dimulai dari jalan-jalan yang tak bisa dilewati saat musim hujan, bangunan rumah yang seadanya, sifat tanah yang kering bahkan bergambut sehingga panen tak sesuai harapan, pihak pemerintah daerah yang serba bermasa bodoh dan hama berupa babi hutan dan kera raksasa, belum lagi sengketa antar suku. Dengan bahasa penuturan yang halus dan elok, Bu Dini menggambarkan sistem transmigrasi yang kacau balau disertai kritik tajam terhadap pemerintah. Dan bila biasanya Bu Dini menciptakan tokoh perempuan tangguh, kali ini beliau menggambarkan tokoh lelaki dan segala unsur kelelakiannya dengan lengkap (baca: patriarkis), membuktikan kepiawaiannya sebagai penulis yang serba bisa.