Gauri Yumita punya dua sahabat baik: Irena Karoli, si cewek paling cantik di sekolah yang pandai mendesain baju. Yasna Lovata, si cewek baik hati yang pandai bikin kue. Mereka memiliki agenda mingguan yang berhasil menjaga persahabatan mereka hingga saat ini, yaitu masing-masing memiliki dan menulis buku harian, lalu saling membacanya. Namun suatu hari, buku harian milik Gauri hilang! Cewek itu panik karena di dalam buku harian itu, ada benda penting milik Iren dan Yasna. Saat sedang mencari buku harian yang lenyap secara misterius, seseorang mengaku kalau dia tahu pencuri buku harian Gauri. Di saat bersamaan, Akdanꟷtetangga sekaligus musuh bebuyutan Gauri dari kecil bersikap mencurigakan. Jangan-jangan, Akdan pelakunya?
"Lo harus jujur. Kejujuran selalu jadi jalan yang terbaik." - Pg. 142
Selesai! Ini adalah kali pertama aku membaca karya kak Upa dan aku cukup menyukainya. Tipe buku yang page turner nih. Covernya juga warnanya cantik.
Kisah yang dituliskan khas remaja pada umumnya dengan konflik yang tidak terlalu berat. Tapi, yang aku suka, di sini kak Upa menyelipkan plot twist tentang siapa sih pelaku yang mengambil buku harian Gauri. Dengan sedikit sentuhan cinta monyet khas anak SMA, membuat novel ini semakin manis sekaligus menyenangkan. Persahabatan Gauri, Iren, dan Yasna pun menarik sekali untuk diikuti. Plus kehadiran Akdan yang menghibur banget.
Dan apa yang dipikirkan baik Gauri, Iren maupun Yasna aku rasa sangat wajar sekali. Masa-masa SMA itu benar-benar salah satu masa pencarian jati diri juga. Kadang kita merasa iri dengan pencapaian teman kita, walau kita juga ikut berbahagia. Padahal, kita tentunya juga punya kualitas lain yang mungkin belum tentu teman kita punya.
Pesan yang disampaikan kak Upa di sini juga cukup relate dengan kondisi kita saat ini, yaitu tentang bagaimana menerima dan mencintai diri kita seutuhnya. Tentang kejujuran, mengakui kesalahan, menerima segala konsekuensinya, dan meminta maaf.
Ada nggak kebiasan yang kamu kerjakan bareng teman kamu dalam rangka memperat persahabatan?
Di novel Every Day is Girls' Day, Gauri, Yasna sama Iren punya kebiasaan tiap minggu baca diary bareng-bareng. Katanya biar tidak ada yang ditutupi di antara mereka dan yaa tentu biar persahabatan mereka makin erat. Tapi, apa benaran gitu ya?
Sampe di ketika Gauri, entah 'menghilangkan' atau 'kehilangan', buku diarynya. Gauri mulai meragukan apakah kebiasaan itu benar-benar makin mendekatkan mereka? Atau malah sebaliknya. . . Aku senang bisa baca novel Kak Upa. Pertama kali membaca tulisannya, dan aku nyaman dengan gaya menulisnya.
Konfliknya sama dengan kebanyakannya teenlit lainnya, persahabatan, bakat/cita-cita, sedikit romansa dan tipis-tipis tentang keluarga. Tapi menariknya di sini, cara konflik itu dibentuk dan apa yang mau disampaikan dari konflik itu. Karena kebiasaan membaca diary bareng, malah bisa membentuk ketidaknyamanan dari masing-masing mereka.
Sejujur-jujurnya kita, juga pasti ada menyembunyikan beberapa hal untuk diri sendiri. Ya, kan?
Ada tiga karakter utamanya, Gauri, Yasna dan Iren. Tapi, fokus cerita lebih pada Gauri. Dan banyak dari sisi Yasna atau Iren yang masih abu-abu hingga ending, misalnya hubungan Iren sama Lega yang ngga di-up sama sekali. Padahal, aku agak penasaran sih 😅
Untuk satu karakter cowoknya, Akdan. Yaa kok yaa ini remaja bisa sedewasa gitu yaa. Dia yang membimbing Gauri, membantu untuk berdamai dengan insecure-nya. Gauri ini lumayan insecure, ya, orangnya. Banget sih.
Perkembangan karakter Gauri ini, kurasa banyak dialami oleh banyak remaja. Minat yang masih bingung, iri dengan teman lain yang dirasa lebih darinya, merasa kurang cantik, dan bla bla... Capek ngga sih dengan hal-hal itu?
Well, ini cerita bagus, gaya menulis penulis juga enak. Fokus pada pembentukan karakter remaja dari hal-hal tersebut. Ini ebook, aksesnya mudah bisa di Google Play Books.
Baguss!! Saya suka tema yang diangkat. Tadinya saya kira ini cerita cinta-cintaan remaja biasa, tapi ternyata cerita dan pesan moralnya cukup dalam. Senang rasanya membaca cerita remaja yang berpusat pada konflik persahabatan kayak gini, terutama saya suka betapa setiap orang punya demon masing-masing di dalam dirinya. Apalagi remaja, yang masih susah mengendalikan perasaan-perasaan negatif tersebut. Pastilah menimbulkan konflik internal: menganggap diri sendiri "kok gue jahat banget ya", tapi juga nggak bisa begitu saja menghilangkan segala perasaan buruk--iri, dengki, jealousy, insecurity, inferiority--yang bersemayam di dalam hati. Jadi, mereka harus berusaha keras untuk mengontrol perasaan-perasaan yang kadang diperparah oleh overthinking itu.
Saya suka bagaimana novel ini mengupas tema tersebut dengan sangat baik. Perkembangan karakter Gauri, Iren, dan Yasna terasa sekali di sini. Dan yaa, sebagai orang yang dulu pas remaja juga pernah mengalami konflik persahabatan, saya hepi melihat bagaimana mereka bertiga berjuang mengatasi konflik itu. Terasa realistis dan manusiawi, bahkan di bagian baikannya (baikan memang harus nangis-nangisan!!). Kata orang, persahabatan yang sudah berhasil melalui konflik bisa longlasting, kan? Saya harap persahabatan mereka bertiga juga begitu. (Iya, cerita ini dibawakan dengan cara yang membuat kita jadi ikut rooting for their friendship.)
Twist yang disajikan--terkait siapa pencuri buku harian Gauri sebenarnya--juga menarik. Hubungan Gauri dan Akdan juga ngegemesin hehe. Yah pokoknya untuk ukuran teenlit, novel ini bagus, penggalian konfliknya mendalam, penyelesaiannya oke, bumbu-bumbu romensnya juga pas (nggak berlebihan). Suka banget bagaimana Oepha menyeimbangkan antara konflik internal dan konflik eksternal di sini. Menurut saya pengemasan alur keseluruhannya juga cukup rapi.
Saya pernah baca buku Oepha sebelumnya dan menurut saya teknik penulisannya sudah jauh berkembang di novel ini. Semangat terus buat Oepha, semoga novel berikutnya jauh lebih baik lagi.
“Sedekat apa pun ikatan seseorang, kita nggak pernah bisa menceritakan semua hal ke mereka. Lo pasti punya beberapa hal yang lo mau sembunyikan dari dunia. Hal itu wajar”_ hal.141 . 🧁Ini cerita tentang persahabatan tiga perempuan remaja yang masih SMA. Ada Gauri, Yasna dan Irena, mereka sejak SD sudah bersahabat. Mereka mulai semakin dekat satu sama lain ketika waktu kecil Irene perna mengalami kecelakaan sampai akhirnya mereka punya kebiasaan menulis diary dan saling bertukar membaca diary mereka. . 🧁Sampai suatu hari Gauri kehilangan diarynya pada hal mereka waktu dekat akan saling bertukar cerita lewat membaca diary mereka seperti biasanya. Selain cerita yang Gauri tulis tidak ingin ada orang lain yang tau juga ada benda spesial dan berharganya Yasna dan Irene tersimpan disana. Lantas siapa sebenarnya pelaku yg mengambil diary Gauri dan ada rahasia apa disana? Lalu bagaimana hubungan persahabatan Gauri dengan Yasna dan Irene setelah hilangnya diary Gauri? . 🧁Yang suka baca teen-lit pasti suka dengan cerita yg satu ini, tentang kehidupan masa SMA yg penuh kenangan, romance pasti ada dan persahabatan yang bisa membuat orang lain merasa iri. Selain itu cerita ini juga tentang cita-cita, bakat dan love yourself, keluarga, juga rasa iri dengan orang-orang terdekat kita. Rasa iri pasti umum kita rasakan dan itu sering membuat kita membandingkan diri kita dengan orang lain, juga membuat kita semakin merasa tidak ada apa-apanya sama sekali. Dan kita pasti perna mengalamin hal yg sama seperti Gauri, tapi aku menyukai karakter Gauri yang blak-blakan. Oya, sama Akdan si cowok remaja yg begitu dewasa cara berpikirnya dan selalu bisa diandalkan 🤗. . 🧁Dan aku suka dengan gaya tulisan kak opa yg buat kita selama baca cerita ini ngalir aja dibuatnya dan nggak taunya udah selesai aja ceritanya. Bagimana konflik datang, dampak konfik ini buat setiap karakter dan pesan apa yg kita lihat dari konflik dan cerita dari tiga remaja ini. Tapi aku masih penasaran dengan cerita antara Irene dan Lega 🧐.