“Itu temanku Annie dan Miny.” Itulah yang dikatakan Dolly pada Hilde Janssen ketika Hilde menunjukkan selembar foto yang menampakkan dua wanita Belanda di kereta api Indonesia pada 1947.
Hilde diperkenalkan dengan Dolly, 85 tahun, pada akhir 2010 di Jakarta. Wajah wanita itu khas, hidungnya yang mancung menunjukkan ia keturunan Barat.
Dolly langsung mengenali kedua wanita di foto tersebut sebagai kakak-beradik Kobus. Ia sendiri ternyata ada di kereta api itu, juga Betsy, si sulung keluarga Kobus. Mereka berusia awal dua puluhan saat meninggalkan Rotterdam pada 1946 bersama para suami Indonesia mereka untuk menuju tanah air baru. Keempat wanita tersebut bagai melawan arus, saat itu mayoritas orang Belanda justru meninggalkan Indonesia.
Maka mereka pun tercebur ke dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Keempatnya berada di pihak Republik yang baru lahir itu, dengan setia mendukung Indonesia, juga selama tahun-tahun selanjutnya yang penuh pergolakan.
Tanah Air Baru, Indonesia merupakan kisah mereka.
“Buku yang luar biasa. Intim secara konsep dan luas secara perspektif.” Adriaan van Dis, penulis Belanda"
Buku ini untuk memenuhi Tsundoku Books Challenge 2017
3,4 dari 5 bintang!
Saya dibuat tertegun membaca buku ini. Betapa tidak di saat Indonesia Merdeka di tahun 1945, saya menyaksikan kisah Annie, Miny, Dolly dan Betsy empat perempuan hebat dari Belanda yang malah memutuskan untuk mengikuti suami mereka pulang ke Indonesia. Mengikuti jejak kehidupan mereka di Indonesia terasa mengharukan dimulai saat Indonesia konflik dengan Belanda mengenai pembagian wilayah kekuasaan, adanya perjanjian Linggarjati, Agresi Militer I dan II, Kota Jogjakarta sebagai ibukota sementara sempat dilumpuhkan oleh Belanda, Krisis ekonomi yang melanda Indonesia di saat tahun 70an dan Tragedi G 30S yang membuat pilu ketika membacanya. Suami Miny salah satu yang menjadi korban kebiadaban politik saat itu dicap sebagai tahanan politik.
saya suka sekali membaca buku ini karena berhasil mengambil sudut pandang sejarah Indonesia dari sudut pandang yang berbeda, Kacamata empat wanita hebat yang memilih mengabdi pada Ibu Pertiwi ketimbang kembali ke Belanda. Saya rekomendasikan buku ini kalau kalian suka dengan buku roman yang dibumbui dengan sejarah Indonesia dan gaya penulisan yang deskriptif.
Pada akhirnya saya dibuat bertanya-tanya kenapa buku ini dimasukkan ke dalam label Fiksi yah? Saya sempat akhirnya mengira buku ini non fiksi atau semacam biografi kali ya karena betapa tidak ada beberapa halaman dibuku ini yang menyelipkan foto-foto yang sesuai dengan timeline frame kejadian empat wanita hebat tersebut. contoh: Foto pernikahan dan juga foto disaat naik kereta api Indonesia pada tahun 1947 bersama suami mereka.
Bisa kubilang buku ini semacam buku historical tapi nggak pake fiction. Mungkin kalau sedikit digali buku ini semi-semi biografi juga, tapi bukan biografi dari penulis. Melainkan kisah atau perjalanan hidup dari keempat wanita Belanda yang menetap di Indonesia pada tahun 1946.
Jadi di sini nanti kita akan mengikuti kisah kakak-beradik Kobus yang terdiri dari Betsy, Annie, dan Miny yang suatu ketika memutuskan untuk melakukan perjalanan dan pindah ke Indonesia padahal di zaman-zaman itu orang-orang Belanda sudah banyak yang angkat kaki dari Indonesia untuk kembali ke negara asalnya. Namun mereka bertiga ini tetap kukuh ingin pergi ke Indonesia bahkan mereka bertiga pro-Republik dengan menunjukkan hal-hal yang memang menjadi bukti kalau mereka mendukung kemerdekaan Indonesia.
Perjalanan mereka bertiga ke sana ternyata membawa suatu kejutan baru sampai mereka dipertemukan dengan seorang wanita lain bernama Dolly yang rupanya juga akan ke Indonesia. Semenjak pertemuan mereka berempat itulah mereka udah kayak saudara sendiri dan saling menguatkan satu sama lain.
Aku suka dengan bagaimana penulis bisa menjabarkan kisah dari masing-masing karakter di sini seperti apa dimulai dari kepindahan mereka itu menuju Indonesia dan beberapa latar belakang dari masing-masing mereka. Dan jujur memang cukup rumit di bagian awal karena kita juga ditunjukkan struktur keluarga dari masing-masing tokoh yang bener-bener harus mengerahkan fokus.
Kemudian lewat buku ini aku juga jadi tahu bagaimana kehidupan orang-orang yang mungkin secara istilah "orang-orang yang tidak banyak disebutkan" bertahan hidup di kondisi Indonesia yang masih riuh-riuh-nya saat itu. Membaca buku ini juga jadi tahu deh bagaimana sudut pandang dari orang lain yang bener-bener hidup di masa itu.
Juga dengan banyaknya serta detailnya narasi sejarah membuatku seolah baca buku pelajaran sejarah atau PKN. Tapi lewat situ pula aku jadi diingatkan beberapa peristiwa yang memang sering ditampilkan dalam pembahasan-pembahasan yang memiliki nilai sejarah tinggi, contohnya aja seperti G30S dan kerusuhan 98. Sedikit banyak memberitahuku kondisi akan saat itu di luar dari apa yang mungkin selama ini kita dengar atau baca mungkin ya.
Kemudian juga seiring berjalannya waktu di buku ini kita dihadapkan oleh kondisi yang lumayan ironis yang mau nggak mau harus diterima oleh semua tokoh di sini dan itu juga sukses menumbuhkan rasa simpatiku di sini. Dan aku suka bagaimana penulis bisa membuat pemutarbalikkan suasana seperti itu yang menurutku kucup banget.
Banyak banget yang pengin aku sampaikan di sini tapi aku rasa sudah cukup, karena kalau enggak malah melebar ke mana-mana! Hahaha. Dan aku juga shout out kepada penulis yang sepertinya melakukan riset sangat banyak apalagi ini berkaitan dengan sejarah dan juga pengalaman hidup orang lain!
Mungkin untuk kekurangan aku merasa font nya terlalu kecil dan spasinya terlalu dempet. Tapi semakin ke belakang aku berusaha untuk terbiasa dengan format yang seperti itu. Tapi itu nggak menutupi bahwa buku ini keren. Semacam Max Havelaar-nya Multatuli gitu deh vibe-nya (ya jelas sih karena itu juga ditulis pada masa-masa penjajahan seperti layaknya yang ada di buku ini). Tapi secara keseluruhan aku lebih menikmati judul yang ini karena narasi penulis yang apa ya bisa kubilang diplomatis tapi juga mengalir bacanya. Deskirpsi yang lumayan detail namun unik dan terkesan menyedot perhatian pembaca.
“Melihat ke masa lalu tak ada gunanya, lebih baik kita memusatkan energi kita untuk masa depan.”
5/5 🌟 untuk buku ‘Tanah Air Baru, Indonésia’. Ini buku bagus yang sangat aku rekomendasikan buat kalian baca. Buku yang menyajikan tentang perjuangan kemerdekaan dan jatuh bangunnya Républik Indonésia yang masih muda melalui mata empat wanita Belanda.
Bisa dibilang, buku ini tergolong buku biografi. Karena buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup empat wanita Belanda yang memilih tinggal di Indonesia untuk mengikuti suami mereka yang notabene adalah orang Indonésia.
Di tahun 1946, ketika banyak orang Belanda yang masih tinggal di Indonésia memilih untuk kembali ke negaranya. Dolly, dan kakak beradik Kobus: Betsy, Annie, Miny, mereka malah datang dari Belanda menuju Indonésia, dan memilih untuk menjadi bagian dari Negara Républik Indonésia.
Mereka berempat menjadi saksi hidup sejarah Indonésia, mulai dari setelah kemerdekaan, masa kepemimpinan Presiden Soekarno sampai berakhirnya masa kepemimpinan Presiden Soeharto. Banyak masa sulit yang harus mereka lalui. Mereka harus berpindah-pindah tempat saat perang pecah di masa setelah kemerdekaan.
Setelah Indonésia benar-benar berdiri dan diakui sebagai Negara. Mereka harus melalui sejarah panjang Indonésia, yang di dalamnya ada peristiwa G30S PKI. Beberapa anggota keluarga mereka menjadi korban dari peristiwa tersebut. Ketika sampai di masa itu, begitu berat bagiku untuk menyaksikan kehidupan mereka.
Susah buatku menjelaskan detail tentang kehidupan mereka. Bagiku, mereka berempat begitu luar biasa. Mereka yang bukan asli Indonésia, tapi jiwa mereka begitu Indonésia. Ada bagian-bagian yang membuatku menangis saat menyaksikan bagaimana perjuangan mereka. Ibu Dolly, Betsy, Annie, Miny, aaah.. entahlah bagimana aku harus menggambarkan kekakgumanku pada kalian. Aku benar-benar bangga dengan kalian, karena Indonésia memiliki rakyat seperti kalian.
Terima kasih untuk kalian berempat, dari perjalanan hidup kalian, aku bisa menyaksikan cuplikan tentang sejarah Indonésia. Dan terakhir, terima kasih untuk Ibu Jurnalis, Bu Hilde Janssen.. Terima kasih sudah membukukan kisah hidup mereka berempat. Tanpa Bu Hilde, mungkin kisah mereka akan hanya menjadi kenangan untuk keluarga mereka sendiri..
📚📚📚📚📚📚 Hilde Janssen adalah seorang jurnalis berkebangsaan Belanda, yg saat itu bertugas di Indonesia. Pertemuannya dgn Dolly tahun 2010, diawali dari foto yg didapatkan dari pameran kemerdekaan. Berkat seorang teman, Hilde pun bertemu dgn Dolly, gadis yg berada di foto, yg telah berusia 85 tahun. Dolly pun menceritakan kehidupannya di Indonesia dgn ketiga temannya, yaitu kakak beradik keluarga Kobus yakni Betsy, Miny dan Annie.
Empat wanita Belanda ini, menikah dgn pria Indonesia. Ketika thn 1946, saat orang-orang Belanda kembali ke negaranya, Dolly dan suaminya justru datang ke Indonesia. Dalam perjalanan di kapal dari Rotterdam ke Indonesia, Dolly pun berkenalan dgn tiga bersaudari Kobus, hingga mereka menjadi dekat selayaknya keluarga hingga kini. Dari dermaga Jakarta mereka melanjutkan perjalanan darat menggunakan kereta hingga tiba di wilayah Jogjakarta.
Di Indonesia mereka berempat berada di wilayah Republik yang baru lahir dan setia mendukung Indonesia, berjuang ditengah perang pasca kemerdekaan hingga berakhir di 1949, berjuang melawan ketidakstabilan politik dan ekonomi. Tak jarang kondisi mencekam dgn adanya penyisiran para tentara membuat nyali mereka turun. Mereka pun menjadi saksi peristiwa yg dialami bangsa Indonesia termasuk kejadian G 30 s/PKI hingga kerusuhan 98.
Sebuah buku mengenai biografi seorang wanita Belanda yang menikah dengan warga Indonesia. Sungguh seru, melihat sejarah perjuangan Indonesia dari sisi mereka. runut dan apa adanya. Oiya, dilengkapi foto-foto jadulnya Dolly dkk beserta anak cucunya juga loh.
Kita diajak untuk melihat wajah Indonesia dari kacamata orang Belanda (yang cinta Indonesia). Terharu dan ada rasa sesak juga menapak tilas perjuangan dari kemerdekaan hingga kini. Mereka yang seharusnya dapat hidup enak di Belanda, justru memilih ikut suami, mendukung kemerdekaan Indonesia, dan tinggal di Indonesia utk menjadi tanah air barunya. Ada yang kehilangan anaknya dan suaminya ditengah perjuangan itu.. ada yang merelakan 2 anaknya merantau ke Belanda untuk hidup lebih baik, bagaimana rasanya menunggu sang suami yang dipenjara selama 5thn padahal tidak bersalah.. rasanya campur aduk membaca buku ini.. 📚📚📚📚📚📚
Judul: Tanah air baru Indonesia Judul asli: Enkele reis Indonesie.Vier Amsterdamse vrouwen in hun nieuwe vaderland Penulis : Hilde Jannssen Penerjemah: Meggy S Penerbit Gramedia 2015 Tebal :336 halaman Peresensi: Anisa nurliani
Ini termasuk buku yg membuatku amat penasaran, bagaimana bisa ada orang-orang Belanda yg memutuskan menjadi warga baru Indonesia yg masih baru jadi lebih dari 76 tahun lalu dan mereka adalah empat orang prempuan muda dan juga seorang istri sekaligus ibu.
Kisah mereka dituturkan seperti fiksi meski ini rasa semi biografi yg melibatkan beberapa peristiwa bersejarah sepanjang mereka tinggal dan menyambung nyawa di masa awal gejolak revolusi semasa agresi militer Belanda.
Saya cukup menyukai bagaimana beberapa bagian dituturkan meski terkadang cukup lelah membaca runutan beberapa hal dalam periode kehidupan mereka meski tetap menarik.
Dan bagian paling mencuri perhatian saya tentu saja periode terkelamnya, 65, di mana mereka ikut terseret kemelut bahkan orang terkasih mereka terenggut karena hasutan dan prasangka yg sengaja ditanamkan, dan saya gak bisa bayangin seberapa jengkelnya seorang istri yg harus melihat suaminya dibawa secara paksa tanpa peradilan dalam sebuah hari yg naas dan bahkan ingatan itu selalu membekas dan berusaha disembunyikannya hingga bertahun-tahun pasca peristiwa tersebut.
Lalu, ada yg saya sukai dari keempat wanita ini, kemampuan mereka berjejaring secara sosial dan informasi dengan kawan-kawan mereka yg ternyata beberapa di antaranya setelahnya adalah orang-orang penting dan hal itu turut membantu mereka bangkit dari keterpurukan yg sempat melanda.
Dan satu fakta yg tak dapat saya duga, rupanya salah seorang anaknya adalah yg berpengaruh besar pada organisasi yg paling sering dicemooh beberapa orang, Pemuda Pancasila, sulit dipercaya tapi itu benar adanya.
Sebagai penutup, dan sebetulnya terasa sekali dari awal hingga akhir, kekeluargaan mereka begitu kental, dari sekadar sahabat jadi partner yg saling menguatkan satu sama lain dan membantu orang lain juga.
Tanah Air Baru, Indonesia "Indonesia tanah airku, jawablah pertanyaanku, Jika bumimu dari dulu begitu kaya, mengapa rakyat sampai terpaksa harus makan pakan ternak?" -Hlm. 257-
Buku yang awalnya aku kira novel ini ternyata bukan, melainkan berisi biografi 4 wanita Belanda yang memutuskan pindah ke Indonesia dan memilih menjadi WNI. Mereka adalah Dolly dan kakak beradik Miny, Annie dan Besty. Kisah yang disajikan runut dan beralur maju, mulai dari kehidupan di Belanda, perjuangan pindah ke bumi pertiwi, tinggal dan memiliki keluarga besar di Indonesia dengan segala problema dan tantangan hidup. Permasalahan politik dan ekonomi jadi sudut pandang tersendiri yang mewarnai hidup mereka. Aku suka buku ini, meski ditulis jurnalis dan ahli antropologi Belanda tapi mudah dipahami dan pembaca seakan masuk ke tiap kisah yang dialami mereka. Di setiap bab diselingi foto mereka beserta keluarga besarnya, menambah imaji pembaca. Konsistensi 4 wanita Belanda yang gak goyah dengan status WNI patut diacungi jempol. Rekomendasi!
Sebenarnya, saya sudah pernah membaca buku ini saat masa-masa SMA (tentu saja di kelasnya Ibu Astuti loll). Setelah membacanya ulang, saya merasa buku ini sangat menarik dan unik. Hilde Janssen menceritakan perjuangan empat wanita Belanda yang berimigrasi ke Indonesia pada masa kemerdekaan. Buku ini bisa dikategorikan sebagai memoir, karena Hilde Janssen sendiri mewawancarai Dolly, Betsy, Annie, dan Miny serta keluarga mereka mengenai kehidupan mereka di Indonesia dari saat kemerdekaan sampai dengan 2015.
Idk why it took me a bit longer to finish this... But it actually made me tear up a bit at the end bc it's so sweet. These women have been through so much and they've always got each other's back and their families.
"Karena jika ada satu hal yang mereka pelajari dari Dolly, Annie, Miny, dan Betsy, itu adalah keluarga dan persahabatan merupakan sesuatu yang penting"
Empat wanita Belanda yang memutuskan untuk menjadi WNI,dan menikah dengan orang Indonesia. Disaat orang-orang Belanda kembali pasca perang dunia ke-2.
Sungguh sebuah buku yang menurut saya melihat sejarah Indonesia dari sudut pandang dan kaca mata yang berbeda. Dan merenung bertapa mengerikan dan keji zaman dulu. Banyak hal yang bisa dipetik di dalam buku ini.
Di buku ini kita juga di suguhkan dengan foto-foto historikal mereka ber empat. Dan di akhir buku juga ada kejutan kecil dan saya juga ber "Oooo" saat membacanya. Hehee
Buku ini teruntuk pembaca yang ingin melihat sejarah negara kita ini dari sudut pandang yang sangat berbeda. Dari kaca mata orang Belanda yang menjadi WNI dan tidak kalah nasionalismenya dengan kita.
Oiya, buku ini di tulis oleh Hilde Janssen loh hhehee
Mengetahui sejarah dari saksi hidup memberikan makna tersendiri. Ketika banyak orang belanda yang pergi meninggalkan tanah air, empat wanita Belanda justru datang ke tanah air. Meski alasan utama mereka mengikuti suami, namun apa yang mereka lakukan sungguh luar biasa. Bukan hal mudah untuk hidup di daerah baru dimana mereka dianggap prioritas.
Banyak kejutan dalam buku ini. Sebuah nama besar ternyata berhubungan dengan salah satu wanita tersebut. Jiwa oantang mundur ya rupanay diwarisi dari keuletan sang ibu.
Tak bisa disangkal lagi, kover yang menarik merupakan daya pikat utama membuat saya melirik buku ini. Sayang, keteledoran saya membuat buku ini tak juga berada dalam rak buku saya. Tak sengaja melihatnya di area obralan. Rak ada alasan lagi unyuk membelinya bukan?
Buku bagus yang berhasil mengubah pandangan saya tentang kemerdekaan indonesia. Buat pecinta sejarah, buku ini saya rekomendasikan buat dibaca. Ringan tapi penuh dengan sejarah, disertai foto dan tanggal kpn kejadian berlangsung. Cuma satu yang saya ga ngerti, knpa buku ini dilabeli “fiksi” ya? Harusnya buku ini dikelompokkan di buku “biografi” atau “non fiksi”.
Sudut pandang baru tentang sejarah indonesia, tentang betapa para tokoh yang diceritakan setia dengan pilihannya untuk menjadi warga indonesia. Buku ini menjelaskan banyak hal pd saya, terutama soal dua peristiwa penting tentang sejarah indonesia, tahun 1965 dan 1998, tentang bagaimana mereka membela indonesia namun tidak pernah melupakan asal usul belanda
Salah satu novel yang menarik bagiku, di sini bisa melihat perspektif dari orang Belanda yang memilih untuk tinggal di Indonesia pasca merdeka terkait pemerintah Indonesia sendiri.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Kisah ini mengkonfirmasi bagaimana banyak orang dari beragam latar belakang (bahkan orang Belanda sekalipun ) ikut bersimpati dan berjuang untuk tanah air ini.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini sangat special bagi saya karena beberapa alasan. Pertama, perwajahan kulit yang dilukis oleh Peter van Dongen (pembuat sampul realis yg sepertunya khusus buku2 Belanda dr GPU). Kedua, buku ini adalah liputan antropologis, sejarah, drama, roman dari empat wanita Belanda yg ke Indonesia saat banyak orang Belanda kembali.
Indonesia Merdeka. dan itu membuat banyak orang Belanda pulang. Tetapi bagi empat wanita hebat dalam buku ini, justru ke Indonesia turut suami.
Jadi lah mereka saksi atas peristiwa2 sejarah Indonesia. agresi militer, pengakuan resmi Belanda, hingga 65.
Memang tidak ada dentuman drama dalam buku ini, tetapi ini adalah catatan sejarah dari kacamata yang berbeda.