Aku mengambil dayung untuk berjaga-jaga. Entah musuh mana lagi yang akan aku hadapi kali ini. Mungkin sekarang alam telah berubah menjadi musuh utamaku. Ini waktunya berkelahi dengan alam. Aku tahu ini gila, tetapi aku ingin menunjukan bahwa aku juga bisa marah. Memangnya hanya tuhan dan alam yang bisa marah? Aku juga bisa ! Aku mengangkat dayung tinggi-tinggi ke arah langit.
Selesai sekali duduk. Fiuuhh, sangat menguras emosi baca novel ini. Bab awal saja sudah tegang, karena pembaca "diajak" menyaksikan kejar-kejaran antara polisi diraja Malaysia dengan tiga tokoh utama novel ini. Selanjutnya, tiap bab selalu diwarnai ketegangan. Bikin saya sulit meletakkan meski sejenak.
Ini kisah tentang usaha manusia bertahan hidup Harus menjadi pekerja ilegal di negeri jiran, meski tanah air sendiri konon bisa menyulap tongkat kayu jadi tanaman.
Ridho, Marlin, dan Yuda, adalah tiga penumpang yang bertahan hidup saat kapal pompong yang mereka tumpangi untuk kembali ke Indonesia, dihantam badai. Mereka terdampar di sebuah pulau tak berpenghuni.
Ketika akhirnya mereka dapat melanjutkan perjalanan dengan kapal pompong tersebut, beragam tantangan harus mereka hadapi di tengah samudra, berkelindan dengan masa lalu yang dihadapi ketiga manusia tersebut. Marlin adalah istri Yuda, sementara Ridho (tokoh aku) adalah lelaki yang pernah dicintai dan mencintai Marlin.
Ridho mengadu nasib dengan menjadi pekerja migran ilegal di Malaysia, sejak sang ayah yang merupakan nelayan, wafat. Sementara Yuda, terpaksa menjadi pekerja migran setelah keluarganya yang awalnya kaya, bangkrut dan terjerat rentenir. Sebagai istri, Marlin menyertai Yuda. Nasib mempertemukan mereka dalam pelarian dari kepolisian Malaysia.
Akankah ketiganya selamat dari ganasnya laut?
3,5 stars untuk novel ini. Sayangnya, menurut saya ketipisan untuk sebuah novel dengan tema yang pekat. Banyak yang bisa dieksplorasi lebih lanjut, seperti masa lalu Ridho-Marlin dan Marlin-Yudha. Kisah tersebut hanya disampaikan sebagai kilas balik. Padahal ini adalah bangunan awal cerita. Juga tentang kehidupan mereka, terutama tokoh aku (Ridho), selama tiga tahun menjadi pekerja migran di Malaysia. Dua tahun melalui jakur resmi dan setahun ssbagai pekerja ilegal, karena visa perpanjangan kerja ditolak sehingga Ridho menumpang tinggal di mes kawan, tentunya merupakan kisah yang sangat menarik dibedah. Apalagi selama menjadi pemerja ilegal, Ridho pernah terkena penggeledahan, tapi bisa melarikan diri dan membangun pondok kecil di hutan.
Gemulung ini novel yg menurut ku perlu dibaca kalau sempat.
Yang ku sukai dri novel ini, selain karena memang tema nya yg sesuai dengan minta baca ku, Gemulung juga menceritakan bagaimana struggle menjalani hidup terlahir miskin.
Pertama, Ridho sang tokoh utama dan juga narator harus merantau ke Malaysia sebagai pejuang Ringgit pekerja Migran karena bapaknya meninggal dan perahu mesinnya juga ikut rusak.
Kedua, alasan mengapa Ridho pergi merantau adalah karena dia tidak kuat menahan rasa sakit ditinggal teman kecil nya, Marlin menikah dengan Yudha.
Mengapa begitu? Saat itu Ridho yg dalam keadaan miskin harus menelan pil pahit karena orangtua Marlin yg kesulitan keuangan. Disaat itulah, Yudha yg juga teman sekolah nya semasa dulu datang menjanjikan kekayaan dari harta orangtuanya. Sebenarnya ini kisah klasik dimana si miskin harus kalah, harus tunduk dan tidak punya daya dihadapan orang kaya penuh harta. Tetapi siapa sangka dikemudian hari, Yudha yg sedari kecil selalu disuapi harta harus merasakan apa itu kemiskinan. Hingga ia dan istrinya, Marlin memutuskan untuk mengikuti jejak Yudha bekerja sebagai Pekerja Migran ilegal.
Inilah sebuah kisah dimulai saat ketiga tokoh dalam Gemulung melarikan diri dari kejaran Polis Diraja Malaysia dari gubuk ke gubuk dalam hutan dan sesampainya mereka di pantai dan menaiki perahu pompong pada akhirnya perahu karam dan sampai di sebuah pulau.
Dalam kisah Gemulung tidak terlalu banyak dibahas cerita tentang Pekerja Migran dan lebih banyak menampilkan kisah cinta dari ketiga tokoh yg mana sesaat setelah perahu karam dan dapat kembali menyala melanjutkan perjalanan dan memulai sebuah kisah yg sangat menyebalkan dimana nasib, emosi saling berkelindan dalam kehidupan. Banyak keputusan penting dan membuat saya sendiri berefleksi bahwa kita harus mengerti situasi dan kondisi saat memutuskan apakah harus menggunakan logik atau melibatkan emosi.
Kisah yang pekat dan membuatku berpikir bahwa hidup terkadang begitu sulit dilalui oleh beberapa orang. Bukan. Bukan mereka tak bersyukur tapi memang itulah hidup yang harus mereka jalani.