Mungkin kalau posisi kami berbalik, orang akan lebih bisa menerimanya. Jika aku lelaki, dan Adam perempuan. Di dunia yang jauh lebih memaklumi segala hal selama dilakukan oleh seorang pria, aku sudah merusak tatanan. Seharusnya aku menolak, seharusnya aku tidak memprovokasi, semuanya adalah kesalahanku. Tak peduli kami saling mencintai.” - India Maheswari.
“Ini memang menyakitkan, tapi benar. Kebenaran tidak selalu menyenangkan, kan? Tadinya aku berpikir … menghindari masih bisa kulakukan, tapi tidak dengan menyangkal. Menyangkal sesuatu yang benar sama saja seperti menolak kebenaran, sama saja dengan mengkhianati hati nuraniku. Aku selalu hidup berpegang prinsip itu.” — Adam Bumi Pratama.
—————————
Kemalangan yang terjadi kepada kedua orang tua mereka yang hampir menikah, menyisakan dua anak untuk tinggal dalam satu atap tanpa tahu hal lain kecuali; mereka tidak punya siapapun untuk diandalkan, kecuali satu sama lain.
Awalnya India cukup meyakini bahwa perasaan yang ia miliki kepada Adik tirinya, tidak lebih dari rasa ingin melindungi Adam kecil yang sebatang kara. Sekaligus rasa bersalah karena pernah menghalang-halangi kebahagiaan Ibunya untuk melanjutkan hidup dan menikahi laki-laki idamannya; ayah Adam. Sampai dua orang itu akhirnya bersatu dalam maut.
Keadaan mulai berubah saat India yang berusia 29 tahun, dijodoh-jodohkan oleh tantenya, sebab mereka terlalu khawatir kalau India didiamkan terlalu lama bersama Adam yang sudah berada di ambang umur remajanya; 19 tahun.
Pemberontakkan demi pemberontakkan dari Adam, membuat India kelimpungan luar biasa. Hingga akhirnya dia mengetahui; bahwa semua kelakuan Adam yang dirasa tidak masuk akal kepadanya yang sudah bersusah payah mengasuhnya, itu karena selama ini bocah itu memendam perasaan cinta, yang Adam sendiri yakini bukan kesalahan karena mereka bukan kakak-adik yang sesungguhnya.
Meskipun dengan genre ‘Novel Romansa’ yang tertamat di novel ini, aku hampir nggak merasakan percikan cinta seperti yang seharusnya aku rasakan tiap kali membaca novel romansa.
Meski begitu, topik yang dibawa di dalam novel ini, menurutku terlalu berarti untuk sekadar dilabeli; novel aneh, isinya zonk, buang-buang waktu, atau yang lain. Tapi bukan berarti aku akan terlalu memujinya juga, sebab jujur saja— kepalaku mau pecah tiap kali aku melewati lembar demi lembar novel ini sampai tiba ke ujungnya.
Pertama, aku berusaha menyusuri karakter Adam, meskipun tak satu pun ada POV darinya di novel ini. Tapi karena dia cukup vokal menyuarakan apa yang dia pikiran dan rasakan, serta selalu tanpa ragu mengkritik India kalau menurutnya dia salah. Aku jadi paham garis besar gimana anak ini memiliki proses berpikir.
Dan kesimpulanku…? Dia manipulatif.
Adam remaja tahu bagaimana sosok Kakak yang selalu melindunginya dan akan melakukan apapun untuknya— akan selalu kewalahan tiap kali Adam mengamuk, mengancam, pergi dari rumah, dan memberontak layaknya remaja seusianya. Dan Adam memanfaatkan itu.
Di sisi lain, ketidakberdayaan India, yang mungkin sudah dini ‘dirusak’ oleh trauma masa lalunya; soal kepergian Ayah dan Ibunya, serta masa lalu yang ingin sekali ia kubur namun malah dijadikan sebagai ‘senjata’ oleh Adam yang justru berbalik kepadanya.
India tanpa sadar terjebak oleh perasaan yang selalu ia rawat; bahwa ia akan selalu ada untuk Adam, membuat anak itu memiliki kesempatan yang sama seperti anak lainnya yang memiliki orang tua lengkap, dan melihat Adam akhirnya sukses dan memiliki hidup yang membanggakan.
Tanpa sadar— ketakutan kalau semua jerih payahnya tak menemui ujung yang sesuai dengan rencananya. India begitu takut Adam pergi dari sisinya. Hingga berpikir bahwa satu-satunya jalan untuk membuat Adam tinggal, adalah dengan membalas perasaan anak itu.
Memanipulasi dirinya sendiri kalau dia betulan menginginkannya. Toh, selama ini, nggak ada laki-laki yang pernah betulan mengesankannya. Cuma Adam. Dunia India selalu berputar dengan Adam sebagai porosnya.
Pertikaian demi pertikaian yang terjadi setelah mereka secara resmi ‘saling mencintai’ pun, membuatku berpikir: Kalau dua orang ini, selalu berkali-kali menekankan, “Tidak ada yang salah dengan hubungan kita.”. Namun berakhir menyakiti satu sama lain dalam tiap prosesnya.
Dan satu hal yang aku sadari belakangan dari karakter India, yaitu dia memiliki kecenderungan; benci tiap kali dia merasa Adam tidak membutuhkannya, dan lebih memilih untuk meminta tolong orang lain dibandingkan dirinya.
Diam-diam, India menikmati menjadi peran satu-satunya yang bisa Adam andalkan.
Dan saat dirasanya Adam sudah bisa mengambil keputusan tanpa melibatkan India lagi di dalamnya. Terlebih meminta ‘pertolongan’ kepada keluarganya yang lain. Titik balik dari hubungan mereka terjadi; India akhirnya melepaskan Adam.
Novel ini akan cukup berarti bagiku, kalau saja cerita selesai disitu. Persepsiku kepada India yang sudah terlanjur rusak, mulai terasa membaik diwaktu India ngomongin soal: “The Art of Letting Go” selepas kepergian Adam.
Tapi di penghujung novel yang menceritakan apa yang terjadi 15 tahun setelahnya. Itu terlalu menyakitkan atau bahkan disturbing buat aku terima.
India, yang puluhan tahun hidup dalam pengasingan, dan terus-terusan menolak Bastian yang berkali-kali menyatakan kesungguhannya. Hanya untuk mengakui: “Cinta sebagai seorang Kakak … cinta seorang Ibu …” kepada Adam sebagai penggambaran perasaannya, setelah apa yang mereka berdua sempat ‘lalui’. Yes, including the sexual stuff and everything.
Lalu pada akhirnya, menerima lamaran Bastian, padahal di chapter sebelumnya dia menolak Adam tapi dengan menyebutkan; “Aku akan selalu menjadi kekasihmu, Dam…”.
Adam, disisi lain, juga nggak lebih baik. Dia menyematkan nama ‘India’ kepada anaknya, dengan kondisi istrinya yang nggak tahu apa-apa soal hubungan yang sebenarnya terjadi diantara Adam dan India (kakaknya yang selalu ia cari-cari).
Dan bagaimana Adam menyebutkan kalau dia nggak akan ragu ‘membuang’ Thalia, istrinya, kalau saja dia berhasil menemukan India lebih awal. Gimana dia bisa tega ngomong begitu kepada perempuan yang memberinya anak, bahkan meninggal karena itu…?
Aku punya segudang kritik pada Adam dan India, disepanjang novel berjalan— tapi nggak ada apa-apanya dibandingan dengan makianku di ujung chapter dari novel ini.
Novel ini cukup mengguncangku secara mental. Dan bagaimana ini semua berakhir, juga nggak memperbaikinya sama sekali.