Jangan salah lihat, kawan! Tempat yang akan kalian datangi ini bukan berada di Sumatra, melainkan tempat yang sangat jauh, bahkan lebih jauh dari dunia ini, tempat Lea dan Diana terhempas, juga tempat yang terkuat berkuasa, serta kebenaran dan kejahatan dinilai dari sisi yang berbeda.
Akankah kalian ikut terhempas bersama mereka? Atau beranikah kalian datangi tempat ini? Jika kalian punya nyali, AKU TUNGGU DI RANAH SEMBILAN!
Saya membaca buku ini setelah terlebih dahulu membaca fikfan2 lokal lain seperti Icylandar, Ther Melian, dkk.
Pertama2, saya merasa harus cerita kalau buku ini dibeli atas dasar impulsif. :P Waktu itu saya sedang mencari buku di Rumah Buku (Bandung). Komiknya sih ada, tapi buku yg dicari rupanya tidak ada atau memang tidak distok di sana. Kemudian pandangan mata menyisiri rak2 buku, ketemu bbrp buku yg hawanya menguarkan "Belilah saya~" tapi krn urusan budget dan rasa penasaran, saya akhirnya beli buku ini.
Gubraks pertama adalah ilustrasi di tiap awal bab. Oh no! Beneran salah besar sebesar2nya saya udah baca Icylandar dan Ther Melian! Dua buku yg saya sebutkan itu menggunakan ilustrasi yg niat--sangat niat--tapi Ranah 9 ini memajang sejenis ilustrasi pensil. Gimana bisa penilaian saya nggak jd njomplang? :|
Bicara soal ilustrasi di tiap awal babnya, saya punya dugaan ada bbrp gambar yg ilustratornya berbeda. Contoh plg kentara ada di bab "Alasan Membunuh" hlm 79. Ilustrasi di sana terlihat berbeda dari ilustrasi sblm2nya. sayangnya biarpun berbeda tdk lantas jd lbh bagus. :| Masih sama saja standarnya dgn ilustrasi lainnya.
Kemudian soal setting, setting buku ini bagi saya tambal sulam. Di satu sisi saya mencium bau2 setting silat Nusantara (terutama dr bbrp nama orang), tapi jauh lbh byk aroma setting silat Mandarin. Apalagi begitu saya baca kalau salah satu perguruan silat slrh pengikutnya adalah wanita (di To Liong To ada tuh, Go Bi Pay bukan? CMIIW) dan ada perguruan silat yg dituduh "sesat" (di To Liong To jg ada, saya cuma ingat pengikutnya kbykan diberi nama "julukan" nama hewan+warna, Singa Emas, Naga Ungu, Kelelawar Hijau, Elang Putih).
Hal ini agak diperparah dengan pemberian nama. Kalau menilik setting-nya lbh lanjut, saya rasa lokasi terjadinya seluruh cerita (tempat bernama Ranah Sembilan) masih ada di jaman komunikasi antar benua blm terjalin dengan mudah, jadi lbh besar kmgknannya org2 di sana memiliki nama dengan suatu pola atau ciri khas tertentu. Beda dengan real-life masa kini di mana cari nama anak aja pake name generator di internet jd nama anaknya sering terdengar gahul dan "import" (halah). :P
Contoh nama2 yg ada di cerita, semuanya adalah org "asli" Ranah Sembilan (karakter utama tdk dihitung krn dtg dr dunia lain): Amon, Gillian, Bixi, Sion, Rei, Kan'an, Zen, Carik, Bowo, Dodo, Merope, Damon, Sakti.
Indonesia, Jepang, Cina, Eropa/Amerika. Hmm ...
Beneran kok. Nggak ada internet di Ranah Sembilan ... Jd gak mgkn namanya pake name generator kan? (kecuali pengarangnya yg pakai)
Oke, itu remeh temehnya. Skrg yg plg utama, bagaimana ceritanya?
...
...
Saya harus bilang ceritanya pun nggak oke. :|
Alasannya? Saya mendapati bahwa di sekitar pertengahan buku selain masalah berupa karakter utama perlu kembali ke dunianya, karakter utama terpisah, ada juga masalah berupa pencurian misterius dan penyerangan2 misterius dan ada kabar kabari kalau perguruan sesat mau cari pimpinan baru. Oke, jadi ada sekitar 4-5 masalah deh kira2.
Saya berusaha sebisa mungkin tidak spoiler biarpun saya membicarakan ending. Di ending, hanya ada satu masalah yg terselesaikan, yaitu soal karakter utama terpisah.
Dan tidak ada janji kalau novel ini ada sambungannya~
Skrg paham kan knp saya vonis ceritanya nggak oke? :|
Dan, sepanjang perjalanan membaca, saya mendapat impresi bahwa novel ini sbnrnya masih berupa draft yg blm diedit, bahkan bisa jadi sbnrnya blm selesai tp entah kena apaan si editor kok mereka gak ngeh soal itu.
Contoh hal2 yg membuat saya menduga demikian:
- Perulangan aksi. Terlihat seperti semalam sblmnya si pengarang berhenti di sebuah kalimat, lalu saat melanjutkan keesokan harinya, dia tidak membaca ulang kalimat yang ditinggalkannya semalam.
Diana segera mengambilkan kendi dan bersiap untuk menuangkan air dari dalam kendi tersebut ke gelas yang dipegang Sion. Sion diam sebentar dan Diana segera menuangkan air tersebut. Diana segera mengambil lagi kendi air lalu mengisi gelas Sion yang sudah kosong.
Antara ada aksi yg lupa dituliskan atau dia betulan tidak baca kalimat terakhirnya.
- Nama tempat yg berubah. Awalnya disebut Lembah Putus Asa, kemudian bbrp halaman selanjutnya jadi Puncak Putus Asa.
- Setting yg timpang seolah2 blm dirancang dgn kokoh. Terutama terlihat ada "lemari pendingin". Tapi sbnrnya bagaimana "lemari pendingin" itu bekerja? Ada suatu jenis bahan bakar sihir yg tidak disebut di cerita? Listrik sih jelas tidak ada.
Overall, saya hanya bisa memberikan satu bintang untuk buku ini. :| :|
Sebuah novel fantasi. Entah, saya tidak tahu apa kesalahannya, tapi yang pasti saya merasa buku ini benar-benar 'fantasi'. Saya sendiri tidak mengerti harus bagaimana menempatkan imajinasi saya ketika membaca buku ini. Terlalu banyak kejanggalan, sampai-sampai memotong imajinasi saya yang sebenarnya sudah mulai berjalan di awal membaca. Seperti tikungan tajam di tengah jalan, sama sekali tidak nyaman. Tapi, saya salut kepada penulis yang sudah menyelesaikan buku ini. Saya pikir juga tidak sedikit para penggemar buku ini. :)