Jump to ratings and reviews
Rate this book

Masyitoh

Rate this book
Cerita tentang Masyitoh terdapat dalam al-Hadits yang meriwayatkan Isra dan Mi’raj Nabi Muhammad Saw. Kisah tentang sahaya Fir’aun yang tidak ragu mengorban­kan diri dalam membela dan memper­tahankan kepercayaannya kepada Allah SWT, sangat digemari oleh umat Islam. Sejak berabad-abad kisah duka tersebut menjadi sumber inspirasi bagi umat Islam. Masyitoh menjadi wanita pahlawan dalam iman dan tauhid kepada Yang Mahaesa.

Masyitoh menjadi lambang manusia tauhid serta iman terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Manusia teladan yang menjadi cita-cita ideal umat Islam. Dalam menegakkan hak Allah, Masyitoh bersedia mengorbankan dirinya sendiri.

Pengorbanan Masyitoh bukanlah pengorbanan yang didorong oleh motif-motif kepentingan pribadi: Ia rela mati bukanlah karena mengharapkan ganjaran surga atau takut masuk neraka saja, melainkan murni timbul dari hati yang ikhlas untuk menegakkan hak Allah.

144 pages, Paperback

First published January 1, 1968

10 people are currently reading
78 people want to read

About the author

Ajip Rosidi

118 books55 followers
Ajip Rosidi (dibaca: Ayip Rosidi) mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastera, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastera Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik. Pendidikan formalnya SD di Jatiwangi (1950), SMP di Jakarta (1953) dan Taman Madya di Jakarta (tidak tamat, 1956), selanjutnya otodidak.

Ia mulai mengumumkan karya sastera tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, Ajip adalah pengarang sajak dan cerita pendek yang paling produktif (326 judul karya dimuat dalam 22 majalah).

Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya kl. seratus judul.

Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bungarampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll. Bukunya yang dalam bahasa Sunda, a.l. Kanjutkundang (bungarampai sastera setelah perang disusun bersama Rusman Sutiasumarga, 1963), Beber Layar! (1964), Jante Arkidam (1967), DurPanjak! (1967), Ngalanglang K.asusastran Sunda (1983), Dengkleung De’ngde’k (1985), Polemik Undak-usuk Basa Sunda (1987), Haji Hasan Mustapajeung Karya-karyana (1988), Hurip Waras! (1988), Pancakaki (1996), Cupumanik Astagina (1997), Eundeuk-eundeukan (1998), Trang-trang Kolentrang (1999), dll.

Ia juga mengumpulkan dan menyunting tulisan tersebar Sjafruddin Prawiranegara (3 jilid) dan Asrul Sani (Surat-surat Kepercayaan, 1997). Ketika masih duduk di SMP men-jadi redaktur majalah Suluh Pelajar (Suluh Peladjar) (1953-1955) yang tersebar ke seluruh Indonesia. Kemudian men-jadi pemimpin redaksi bulanan Prosa (1955), Mingguan (kemudian Majalah Sunda (1965-1967), bulanan Budaya Jaya (Budaja Djaja, 1968-1979). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973).

Sejak 1981 diangkat menjadi gurubesar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehi-dupan sastera-budaya dan sosial-politik di tanahair dan terus menulis. Tahun 1989 secara pribadi memberikan hadiah sastera tahunan Rancage yang kemudian dilanjutkan oleh Yayasan Kebudayaan Rancage yang didirikannya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
6 (20%)
4 stars
7 (24%)
3 stars
15 (51%)
2 stars
1 (3%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Imas.
515 reviews1 follower
February 8, 2017
Kisah tentang perempuan teguh iman yang hidup pada zaman Fir'aun di Mesir. Masyitoh seorang hamba sahaya dari bani israil yang bekerja sebagai salah seorang dayang dari Putri Taia, putri kesayangan Fir'aun. Ketika Masyitoh sedang menyisiri rambut Puteri Taia, sisir yang dipegangnya terjatuh, Masyitoh yang kaget spontan berkata "Demi Allah, Celakalah Fir'aun ". Akibat ucapannya itulah Masyitoh dan keluarganya mendapatkan hukuman. Menurut Fir’aun dan pendukungnya Masyitoh telah melakukan kesalahan besar karena telah menyumpahi Fir'aun,, tidak mau tunduk kepada Fir'aun yang telah mengangkat dirinya sebagai Tuhan sehingga mengancam bangsa Mesir.

Masyitoh dengan sadar memilih untuk mempertahankan agamanya. Ia ikhlas mengorbankan jiwa nya, suami juga anak-anaknya untuk menegakkan agama dan harkat martabatnya sebagai manusia dan tidak bersedia menyerahkan keimanannya pada kekuasaan Fir'aun. Masyitoh, Obed dan anak pertamanya Siteri dicambuk kemudian mereka semua beserta anaknya bungsunya Itamar yang masih bayi dimasukkan ke dalam timah panas.
Mungkin hampir semua orang Islam di Indonesia mengetahui, pernah membaca atau mendengar kisah ini.

*Doa ayah untuk anak perempuannya dengan memilih nama Masyitoh sebagai nama anak perempuan pertamanya

Profile Image for Ririenz.
62 reviews26 followers
January 6, 2010
MASYITOH ( Drama Tiga Babak )
Penulis : Ajip Rosidi
Penerbit : PT. Dunia Pustaka Jaya
Cetakan : Keempat, 2008
Tebal : 144 Halaman

Novel ini mengingatkan aku akan masa kecilku, kalau tidak salah ketika aku duduk di bangku SD dan SMP. Seperti biasa, selepas Maghrib aku dan teman-teman sebayaku bergegas menuju musholla untuk memperdalam Al-Qur’an dan mempelajari Islam yang dibimbing oleh Usztad Awi dan Usztad Huda. Aku dan teman-teman paling senang jika kedua usztad itu bercerita tentang kisah para Nabi dan Rasul serta kisah-kisah yang diambil dari hadist. Termasuk kisah Siti Masyitoh dan kedua anaknya yang dimasukkan ke dalam minyak mendidih oleh para pengawal Fir’aun atas perintah Raja lalim itu. Di rumah dan di sekolah pun orang tua dan guru agamaku juga menceritakan kisah Siti Masyitoh ini dengan bumbu magis yang membuatku terkagum-kagum dengan Kebesaran Allah SWT.

Tetapi jangan berharap dalam novel ini Ajip Rosidi berkisah dengan banyak bumbu magis seperti kedua usztadku itu. Ajib Rosidi punya sudut pandang sendiri untuk merangkai kisah dogmatis yang diambil dari hadist itu menjadi cerita logis tanpa mengurangi Illahiyahnya. Justeru setelah membaca novel ini bias jadi keimanan dan ketaqwaan kita tambah melambung.

Dikisahkan pada zaman Fir’aun di Mesir ada seorang sahaya dari bani israil bernama Masyitoh. Masyitoh adalah salah seorang dayang dari Putri Taia, putri kesayangan Fir’aun. Suatu hari ketika Masyitoh sedang menyisiri rambut Puteri Taia, sisir yang dipegangnya terjatuh. Masyitoh kaget dan dengan spontan dia berucap : “ Demi Allah, Celakalah Fir’aun “. Akibat ucapannya itulah Masyitoh dan keluarganya tertimpa bencana. Menurut Fir’aun dan kroni-kroninya Masyitoh telah melakukan tiga kesalahan. Pertama karena Masyitoh telah menyumpahi Fir’aun. Kedua Masyitoh tidak mau tunduk kepada Fir’aun yang telah mengangkat dirinya sebagai Tuhan. Dan ketiga pembangkangan Masyitoh dianggap telah mengancam status bangsa Mesir.

Dalam novel ini diceritakan secara detil bagaimana perasaan Masyitoh setelah kecerobohannya. Mungkin Masyitoh masih bisa terima alasan kecerobohannya yang pertama tetapi tidak untuk yang kedua dan ketiga. Masyitoh adalah perlambang manusia tauhid yang bermujahadah dan dengan sadar memilih untuk mempertahankan kebenaran agama yang telah dianutnya dan berakar kuat sejak zaman Nabi Ibrahim. Ia ikhlas mengorbankan dirinya untuk menegakkan agama dan martabatnya sebagai manusia ketimbang harus menyerah keimanannya pada kekuasaan Fir’aun yang degil dan symbol manusia tinggi hati lan serakah.

Masyitoh tidak berjuang sendirian karena ada Obed – suaminya yang selalu setia memberikan oase yang menyejukkan hati dan imannya. Ada juga pendeta Simeon, Amram dan Nabab yang telah memberikan dukungan moril terhadap kasus yang dialaminya dari sudut pandang mereka masing-masing sesuai dengan kapasitasnya di lingkungan bani israil yang tinggal di daerah Mesir. Tetapi ada pula yang punya pandangan egois seperti Merari.

Ada satu hal lagi yang mengusikku. Setahuku Fir’aun selalu digambarkan sebagai pribadi sekeras batu dan hatinya sangat kelam sehingga tertutup akan adanya kebenaran Illahi selain itu ia juga pemimpin yang sangat tiran yang tidak perduli kepada kepada hamba sahaya. Ternyata dalam novel ini justru yang paling culas dan jahat adalah puterinya sendiri dan kedua pendeta kerajaannya, Metufer dan Ptahor. Jika kisah sebelumnya bahwa Masyitoh dan anak-anaknya langsung diceburkan dalam minyak yang sedang mendidih tetapi dalam novel ini Masyitoh, Obed dan anak pertamanya Siteri dicambuk terlebih dahulu baru kemudian mereka ditambah anaknya bungsunya yang masih bayi bernama Itamar dimasukkan ke dalam timah panas. Subhanallah kejamnya….

Novel ini tipis saja, tetapi nilai-nilai tauhidnya sangat kental dan bagus sekali untuk mempertebal keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT. Selain itu banyak kata-kata yang kurang lazim digunakan tetapi bisa memperkaya perbendaharaan kata-kata para pembacanya, seperti ; rerongkong, melang, ( me ) temungkul, sadrah, teratak, gimir, dirangket, dan lainnya.


~* Rienz *~
4 reviews
January 19, 2023
Agaknya saya bisa membayangkan betapa Ajip Rosidi mungkin juga bergidik ketika menuliskan kisah Masyitoh. Bagi saya, beliau mampu menyuguhkan suasana menenangkan dan menegangkan sekaligus dengan sangat tegas. Jujur, saat membacanya, saya larut dalam latar waktu yang disajikan. Tentang pergelutan rohaniah dan keduniawian, Ajip Rosidi mampu mengemas drama Masyitoh agar selalu dapat direfleksikan bahkan sampai saat ini. Bagian yang cukup membuat saya bingung dan agak kaget ialah pada bagian 3. Saya tidak menyangka, tetapi mungkin hal tersebut sengaja disajikan untuk menelaah lebih lanjut perbedaan persepsi yang lazimnya dialami manusia. Tentang apakah itu? Tidak akan saya ceritakan di sini. Sebab, lebih baik Anda sekalian membacanya sendiri. Selamat membaca!
Profile Image for Nuni.
49 reviews6 followers
December 1, 2008
entah gw suka cerita nya,,,gaya tulisnya,,,atau settingannya yg somehow bikin gw inget film (or acara) si unyil...
apalagi bacanya pas abis ujian,,,,di pinggir sungai maas,,,,ditemenin olacy natural chips,,,(ini beneran) bikin kekuasaan fir'aun jadi ga berarti dibanding keteguhan masyitoh...(sebenernya dibaca dengen cara apapun emang gitu siy ceritana hehe..)
Profile Image for sastrapertala.
40 reviews12 followers
Currently reading
July 12, 2010
Gara2 kmrn Ust. Abi Makki intermezzo nyeritain kisah Masyitoh dan keluarga, akhirnya gw mengubek2 stok buku di rak, et voila, ternyata ada buku ttg Masyitoh dan keluarga.. Smoga ini nggak jadi salah satu buku yg terus-terusan ngendon di rak currently-reading gw :)
Profile Image for Fibrina  Damayanthi.
121 reviews2 followers
April 12, 2008
Salah satu dari sekian banyak cerita berlatar agama yang sanggup membuat hati gue tersentuh. Seorang perempuan dengan iman kuat yang bersedia mati demi keyakinan dan kepercayaan kepada Allah.
Profile Image for Dion Yulianto.
Author 24 books196 followers
November 5, 2011
#Save Pustaka Jaya ... bahasanya sangat "panggung" dan "sastra" ...bener2 kerasa klasiknya!
Displaying 1 - 7 of 7 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.