Kabar samar-samar tentang sebuah manuskrip buku puisi misterius oleh seorang penyair obskur Indonesia, Rudi Rodhom—tertulis di sebuah nomor Horison tahun 1992 sebagai Rudhie R.—membawa tokoh kita, Dea Anugerah (seorang mahasiswa filsafat tingkat akhir penyuka puisi) berkelana ke ibukota untuk melacaknya. Masalahnya, info satu-satunya yang agak panjang tentang si penyair diperolehnya dari ensiklopedia susunan orang yang paling dibencinya, yakni penulis Dea Anugrah (tanpa huruf e pada nama belakang), orang yang karena kemiripan nama dianggapnya telah merusak hidupnya dan memaksanya memakai pseudonim Soda Api. Pelacakan Soda mengantarnya ke wilayah-wilayah terkumuh dan membuatnya berkenalan dengan organisasi penumpas komunis yang tak kurang misteriusnya.
Dea Anugrah is a writer based in Jakarta, Indonesia. His most recent poetry collection Misa Arwah (2015) was longlisted in 2016 Khatulistiwa Literary Award. His collection of short stories Bakat Menggonggong (2016) was recognized by Rolling Stone Indonesia magazine as one of the best Indonesian books of 2016; it was also shortlisted in 2017 Khatulistiwa Literary Award. He regularly writes essays and journalistic reports for Tirto.id.
Seperti yang tercantum di blurb-nya, Hari-Hari yang Mencurigakan menceritakan tentang perjalanan si tokoh utama, Dea Anugerah (lebih suka dipanggil Soda Api), untuk mencari Rudi Rodhom, seorang penyajak obskur, karena salah satu puisi Rudi telah membuat Soda tergerak dan memutuskan untuk mencari batang hidungnya, dari Jogja hingga Bangka. Jujur saja, saat membaca ringkasan cerita tersebut aku jadi teringat mahakarya Roberto Bolano yang berjudul 2666, yang sama-sama menceritakan tentang "literary investigation" yang dilakukan oleh tokoh utama novel tersebut terhadap salah satu sastrawan obskur--juga. Selain Bolano, cukup jelas rasanya bahwa gaya penulisan dan cerita novel perdana dari Pak Dea Anugrah (tanpa "e") ini terinspirasi dari novel Kurt Vonnegut, yang kalau tidak salah memang jadi salah satu penulis favorit Dea, yang berjudul Breakfast of Champions. Dan keduanya sama-sama Meta dan nikmat untuk dibaca. 4/5!
I had a nice time reading it. Interesting and very relatable, quick-paced and witty. It's just I'm not really into poetry so not familiar with most of the names and poets mentioned.
Tapi fiksi, kautahu, harus masuk akal. Dan sesuatu hanya bisa masuk akal apabila ada alasan yang melandasinya.
Semacam semi-fiksi-autobiografis penulisnya (atau begitulah saya dibuat percaya oleh pengarangnya), novel pendek dengan banyak puisi, dan juga sastrawan-sastrawan Indonesia. Buku tipis dan beralur cepat, dengan banyak kata vulgar tapi entah bagaimana kok fine-fine saja. Ada banyak humor agak gelap di dalamnya, juga pemerenungan filsafati yang karya si pengarang yang alumnus Filsafat UGM. Untuk yang membutuhkan bacaan yang agak beda (istilah kerennya, alternatif) buku ini bisa jadi pilihan.
dan orang yang membawa misi tidak punya waktu untuk berbasa-basi
Terima kasih Steven atas bukunya.
Manusia boleh ragu, bimbang, atau bahkan tersesat. Tapi jangan berhenti. Pada akhirnya semua orang dapat jawaban, kecuali mereka yang berhenti mencari.
Ada beberapa hal yang membuat saya kurang menikmati membaca buku ini. Pertama, ada beberapa tokoh yang muncul saya rasa tidak terlalu berpengaruh pada plot cerita. Misal, saudara Dea dari Panti Asuhan Santa Agnes. Kalau saja Soda Api diberi sedikit cerita latar di momen ia bertemu dengan saudara sesama pantinya itu, mungkin karakter ini akan jadi lebih menarik. Namun sayang, si kakak hanya muncul sekenanya begitu saja, tidak ada signifikansi sama sekali pada cerita (kecuali memberi tahu soal letak "Matahari Terbit" dan meminjamkan motor--yang menurut saya jika pun tidak dipinjami, si tokoh utama tetap akan mendapat cara untuk pergi ke tempat Rodhom).
Kedua, di bagian-bagian awal saya merasa setiap hal harus diberi punchline. Sekali dua kali (atau paling tidak jangan sesering itu) mungkin okay, lucu. tapi jika terus-menerus... hmm.... Rasanya seperti cerita ini berusaha sekali untuk menjadi asyik.
Namun, saya cukup terhibur dengan endingnya. Menurut saya terasa sangat personal.
Dea Anugerah (dengan dua "e") merupakan mahasiswa Filsafat di Universitas Gajah Mada yang hobi datang ke acara pembacaan puisi. Dia juga seorang penulis. Namun, sayangnya dia tidak dapat menggunakan nama aslinya dalam perjalanan karier menulisnya karena ada penulis terkenal di Jakarta yang sangat dibencinya yaitu Dea Anugrah. Akhirnya Dea dengan dua "e" memilih untuk menggunakan pseudonim Soda Api.
Entah semesta sedang ingin bermain apa dengan Soda, secara tiba-tiba sahabatnya, Bodhi, menghilang setelah wisuda dan meninggalkan teka-teki mengenai seorang penyair bernama Rudi Rodhom. Misteri ini membawanya ke Jakarta untuk mencari sang penyair. Berbekal dua juta rupiah yang didapatnya dari Sunlie, Soda pun berkelana dan bertemu banyak orang yang akan membantunya menemukan Rudi Rodhom.
Impression:
Jenaka. Seluruh halaman dipenuhi dengan candaan yang membuat saya menarik napas panjang-panjang supaya tidak kelepasan terbahak-bahak di Sabtu pagi yang cerah. Sungguh saya orang yang receh. Banyak kalimat yang membuat saya ingin tertawa, salah satunya...
"Dia seorang perokok aktif. Artinya, kepalanya aktif maju mundur mendekati dan menjauhi pangkal rokok, bukan sebaliknya."
Sungguh saya mesam mesem bacanya (karna tidak sopan ketawa gede pagi-pagi). Oiya, saya sangat suka bagaimana buku ini ditutup. Rasanya kalau saya jadi Soda, saya juga akan memberikan respon yang sama.
Soda juga merupakan penggambaran sangat akurat tentang mahasiswa jaman sekarang yang setiap kalimatnya selalu (tidak pernah tidak) disisipi kata "anjing". Sungguh saya highlight semua kata anjing dan menghitungnya. Jika tidak salah ada 33 kali penyebutan "anjing", tidak termasuk kalimat kasar lainnya (kutu kupret, bangsat, bajingan, dll).
Hanya ada 102 halaman jadi jangan heran kalau ceritanya fast pace. Menurut saya tidak terlalu kecepetan, cukup untuk menjaga mood agar bisa membaca sekali duduk.
Tidak ada typo ditemukan dalam buku. Sejauh ini pengalaman membaca sangat menyenangkan.
Tidak berhenti saya cekikikan dan ketawa-ketawa selama membaca (juga sedikit sedih dan agak banyak ikut mengumpat.)
Ini kisah tentang Dea Anugerah (pakai 'e'), yang punya kebencian sangat pada Dea Anugrah (nggak pakai 'e') sehingga lebih senang dikenal dengan nama Soda Api, dan harus mencari Rudhie Rodhom, penyair dan karyanya yang misterius. Pencarian ini jadi petualangan seru dan aneh menuju ajaib, berpindah-pindah kota, ada yang hampir mati, bertemu karakter-karakter tidak terduga, ditambah sisipan isu-isu sosial politik yang cukup populer kamu mungkin tahu atau setidaknya pernah mendengar (kalau tidak juga tidak apa-apa tapi akan ikut berpikir).
Banyak nama-nama familiar di dunia sastra dan beberapa nama yang sepertinya seharusnya saya tahu tapi nggak. Seru. Melihat dunia literatur digabungkan dengan petualangan ala detektif. Bikin penasaran akan berakhir seperti apa (meski di awal sudah dikasih tahu, ya).
Novel tipis ini sebetulnya ada di ambang batas antara bakal bikin pembaca menggumam, "Apaan, sih?" dengan bikin pembaca terlarut menikmati ceritanya hingga teraduk-aduk emosinya. Syukurnya saya masuk yang kedua, meski beberapa kali sempat menggumam bingung juga tapi lalu jadi teringat ini kan tulisan Dea. Sedikit saja, sisanya ketawa-ketawa dan jarang berhenti (atau berhenti berpikir terlalu banyak dan menikmati cerita saja.) Mengingatkan saya pada buku puisinya yang terakhir, Dea terasa bermain-main dengan ide dan kata, hingga susah ditebak.
Kalau kamu ingin membaca buku yang lucu, boleh lah dicicipi. Jangan dipikirkan terlalu dalam kalau pusing, bisa dibaca lagi kapan-kapan, atau tanya langsung sama Dea apa maksudnya. Mungkin juga kamu akan bertanya-tanya apakah ini terinspirasi dari hidupnya sendiri? Yang saya yakini, pengalaman membaca Hari-Hari yang Mencurigakan sangat menyenangkan.
Eh, akhirnya nggak ada tekanan lagi untuk Dea untuk menerbitkan novel. Hahaha. Tapi tetap, saya akan selalu menunggu buku-buku selanjutnya.
This book tells a young man named Dea Anugerah. He is a philosophy student from Gadjah Mada University in Yogyakarta. He is a poetry lover who is very curious about the figure of the mysterious poet Rudi Rodhom. Dea started her journey to find the poet with determination and curiosity. The trip was not easy, and he was forced to go through challenging, tiring, life-threatening days. His journey began from a library in Yogyakarta to Jakarta and the northernmost area of Bangka Island, Belinyu. In his quest, he is assisted by a mysterious woman named Kobra. Kobra brings him closer to his goal of meeting Rudi Rodhom. However, she was also closer to various problems he had never imagined. He began to enter the slum areas in Jakarta, dealing with the police and gangs of thugs with heretical cults.
The very minimal pages make the stories flow quickly. Every dialogue between the characters leads the reader to answer the story puzzles on every page. This novel has a background in modern life, so the writer inserts some current issues in the capital city, for example, regarding the crime rate in the densely populated areas of Jakarta and the decreasing loyalty of the police to help the community. However, the element that makes this book the most memorable is its puzzle story. In the early chapters, readers may wonder whether this book is an autobiography about the author presented in fictional form or just a fiction story. Various questions will be answered turns towards at the end of the story. The writer wants to test the reader's patience and adrenaline by presenting a very unexpected surprise at the end of the story. Anyone would not have guessed the ending of the story.
This book is highly recommended for adults to read. It contains a weighty moral message accompanied by jokes that make the reader laugh while reading it. In addition, this book also adds to readers' knowledge about the meaning of sarcasm and helps readers understand how sarcasm plays a role in influencing other people's perceptions.
“Tapi fiksi, kautahu, harus masuk akal. Dan sesuatu bisa masuk akal apabila ada alasan yang melandasinya.”
Buku ini punya banyak aspek yang saya inginkan ketika membaca suatu novel. Tempo cepat, diksi yang blak-blakan, dan m e t a.
Cerita bermula dari penelusuran manuskrip buku puisi oleh Dea Anugerah, yang kemudian lebih dikenal dengan Soda Api, ke wilayah-wilayah kumuh dan memaksanya berurusan dengan organisasi penumpas komunis yang sama misteriusnya dengan Rudi Rodhom—penulis buku puisi yang sedang ia cari.
Dalam perjalanannya, salah satu informan kunci yang perlu ia hadapi dalam upaya pencarian jawaban adalah Dea Anugrah (tanpa e). Dan cerita akan berkutat ada pergolakan batin Soda Api terhadap setiap orang dan peristiwa yang ia temui di perjalanannya.
Saya menyebut cerita ini meta karena ada banyak hal nyata dan fiksi yang bersinggungan dan bikin bertanya—sialan, apa ini benar atau hanya rekaan? Ia banyak menyebut nama yang familiar (sastrawan Indonesia kebanyakan), tapi juga nama yang terdengar asing dan mengada-ada.
Selain itu, ada banyak keriuhan di dunia nyata yang turut dimasukkan dalam cerita dengan detail-detail yang, sama seperti kebiasaan menyebut nama orang, bikin bertanya: apa ini benar atau hanya rekaan?
Cerita mengalir, sesekali berbelok ke arah yang mungkin tidak pernah kamu duga, serta mungkin membuat pembaca merasa tersesat dan bingung mau dibawa ke mana arahnya. Persis seperti orang mabuk bercerita. Tapi saya justru menikmatinya.
Penceritaan yang luwes lengkap dengan diksi yang unik juga umpatan yang bertebaran di sana-sini (yang mungkin penggambaran yang pas untuk tokoh Dea Anugerah alias Soda Api sebagai mahasiswa filfasat tingkat akhir). Ngeyel, fafifu, dan mengutuk hal yang berseberangan.
“Manusia boleh ragu, bimbang, atau bahkan tersesat. Tapi jangan berhenti. Pada akhirnya semua akan mendapat jawaban, kecuali mereka yang berhenti mencari”
Membaca novel dengan nama-nama tokoh di dalamnya yang jelas-jelas saya kenal membuat imajinasi saya terkoneksi dengan wajah mereka, cara mereka tertawa, bicara, dan mengumpat. Sebut saja nama Sunlie, Zulkifli, Rendy, dan nama lain yang jelas-jelas merupakan orang-orang yang saya kenal dalam jajaran nama penulis/sastrawan Indonesia.
Di luar penggambaran karakter para tokoh, yang namanya saya kenal, yang sesekali membuat saya nyengir, alur ceritanya nyaris seperti kilasan peristiwa di beberapa bagian, sekaligus membetot rasa penasaran. Potongan-potongan kisah masa lalu-masa kini-masa depan yang absurd, dan ending yang agak "ngehe". Sambil membaca, benak saya mencoba mengingat kisah dalam buku Dunia Sophie sekali lagi dengan susah payah, cerita dalam cerita, berlapis.
Ada lampiran-lampiran di beberapa bab yang dibuat menguatkan cerita di bab sebelumnya. Lampiran yang dibuat seolah-olah merupakan berita-berita di koran. Dari sini saya menangkap sedikit kesamaan dengan Budi Darma dalam buku Olenka yang terkenal itu.
Bacaan bertuliskan 17+ sebagai panduan umur pembaca yang diterbitkan oleh Marjin Kiri ini sudah pasti bukan kisah cinta manis dramatis yang bisa dibaca sambil mengudap es krim di akhir pekan. Sebabnya adalah adegan kekerasan, umpatan, dan hal sensitif yang memang membutuhkan kematangan usia.
Saya tidak akan menceritakan ulang kisah tentang pencarian seseorang yang menjadi tujuan tokoh utama, apatah lagi menceritakan adegan filmis dalam buku ini. Saya cuma mau memperingatkan: jangan baca buku ini kalau kamu phobia darah bahkan dari bacaan. Dan jangan pikir buku ini manis seperti wajah gebetan yang kamu bayangkan.
Tidak berlebihan kalau ada yang menyebut Dea sebagai, "pencerita terbaik Indonesia dari generasinya". Di novel debutnya ini, Dea seperti memeras habis jurus dan ajian susastranya, mengeluarkan segala umpatan dan rujukan dan mitos dan nama-nama yang kadang saya tahu seringkali tidak---tapi sama sekali bukan soal.
Cerita yang baik tidak selalu yang familiar, jelas sudah itu. Cerita hebat nyaris selalu tentang dunia yang abu-abu, antara benar dan salah, antara akrab dan asing, namun kita sebagai pemirsa tetap duduk mendengar, atau membacanya lamat-lamat sampai kelar.
Membaca Hari-Hari yang Mencurigakan sangat mengingatkan saya pada uwak-uwak pembual yang hidupnya babak bundas, bukan yang paling tampan apalagi kaya-raya, tapi tanpanya rumah panggung kami di kampung terasa suwung belaka. Tanpa omong kosongnya, yang kita-keluarganya-tahu sama tahu betapa kibulnya itu semua; tapi toh kami-termasuk saya-betah mendengarkannya sampai puntung rokok penghabisan.
Nah, begitulah perasaan saya. Sangat, sangat bisa berbeda resepsinya dengan kengkawan semuanya. Toh, jelas saja, kita punya sejarah bacaan yang beda, selisih rujukan guyon, dan barang pasti: kita tidak punya uwak, apalagi yang tukang ngasong cerita, yang sama.
Seperti judulnya Hari Hari yang Mencurigakan, sedari awal sy sudah curiga pasti novel ini ada apa-apanya. Akhirnya dengan sukarela sy pun mengiyakannya, memang sungguh bangs*t ceritanya. Berkisah tentang tokoh Dea Anugerah (dengan huruf E) aka Soda Api seorang mahasiswa jurusan Filsafat - UGM dalam petualangannya mencari Rudhie Rodhom sang penyair yang begitu ia gemari. Berbekal sepotong informasi yang ia peroleh dari penulis Dea Anugrah (tanpa huruf E), penulis yang sangat dibencinya karena memiliki kesamaan nama dan ia anggap merusak hidupnya sampai-sampai ia harus mempunyai nama lain. Kejutan demi kejutan akan hadir sepenjang proses pencarian tokoh Soda, begitu juga dengan kebangs*tan pun muncul berkali-kali.
Sebagai pembaca, sy berkali kali dipermainkan oleh alur dan emosi yang dibangun oleh penulis. Dibawanya pembaca menuju klimaks, kemudian tanpa ampun kami disadarkan dengan ending yang tak sedikitpun terduga. Jika pembaca mencari bacaan dengan diksi berima indah, jangan harap akan menemukan di novel ini. Karena justru pemanis dalam buku ini adalah umpatan penuh serapah para tokoh yang saling merutuk.
Saya kira, novel ini berisi pisuhan yang nyaris utuh dan sempurna, bertaburan di dalam berbagai dialog antar-tokoh. Sungguh percakapan dan alur cerita yang bar-bar, absurd, sangat "kampang" sekali, dan di titik inilah dalam penilaian saya, Dea punya ciri khas dan kekuatan teknik bercerita yang nampak betul. Belum lagi ditambah berbagai macam quotes alias kutipan yang cukup familiar yang diselipkan di dalam banyak kesempatan. Inilah yang kemudian membuat saya terpingkal beberapa kali sampai meneteskan air mata. Entah benar atau tidak, saya merasa Dea memang sedang membuat sebuah kisah perjalanan, yang berhasil tentu saja, meski beberapa adegan dalam novel benar-benar membuat saya ingin segera melewati saja bagian tertentu. Tidak kuat membaca adegan perkelahian, saling hantam, dan berbagai hal yang bikin ngilu jika membayangkan adegannya. Setelah Bakat Menggonggong, inilah karya fiksi (novel) Dea yang oke punya. Semoga saja setelah ini terbit lagi karya-karya serupa dari dirinya. Sangat ditunggu!
Awalnya mulai baca ini karena memang tertarik dengan yang ditulis di belakang bukunya. Buku ini sendiri hadiah dari Kak Roos. Sebelumnya saya juga pernah membaca terjemahan dari Dea Anugrah.
Membaca buku ini mengingatkan dengan bukunya 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif, kita dibawa ke petualangan tokoh ini mencari tahu soal penyair dan mulailah perjalanannya menuju Jakarta. Dalam perjalanan itu bertemu dengan banyak orang, banyak peristiwa dan blablabla. Saya merasa bosan di tengah buku, padahal bukunya sendiri gak sampe 100 halaman. Saya kayaknya gak terlalu pas dengan cerita ala Dea Anugrah ini, apalagi dengan mudahnya banyak kata-kata kotor (sebenarnya ya itu terserah penulis, tapi saya aja kurang nyaman kayaknya).
Ya, saya rasa memberikan bintang 2,5 lebih cari cukup, tapi karena endingnya agak bikin melongo jadinya bisa naik lah ke bintang 3.
Selain keterangan singkat yang ada di blurb, aku ingin tambahkan: bahwa di buku ini kamu akan menikmati percakapan antara Soda Api & Bodhi—yang sering saling mengutip puisi penyair Indonesia. Juga akan kamu ikuti—dengan senang hati—‘petualangan’ Soda Api (Dea Anugerah) melacak penyajak bernama Rudi Rodhom dari Jogja hingga Bangka, lengkap beserta pertemuannya dengan tokoh aneh, kelompok ganjil-misterius, dan tentu saja kejutan dari Dea Anugrah (tanpa huruf e di nama belakang). Aku yakin kamu juga akan terkejut sambil mengumpat kecil saat bab-bab terakhir. Semua itu memungkinkan terjadi karena novel ini ditulis dengan kekuatan bercerita yang meyakinkan!
Untuk kalian yang penasaran dengan kisah-kisah khas seperti terminal, tempat lokalisasi dan segala isu tentang sastra atau jika kamu menyukai puisi, kamu akan sangat suka buku ini!
Oiya, sebelumnya memang, kalo kamu kurang begitu mengetahui tentang isu sosial dan isu tentang dunia sastra Indonesia kmu akan sedikit kebingungan "masuk" Kedalam cerita. Tapi percayalah, novel tipis ini seakan ingin merangkum suatu hal besar, berat dan luas.
Saya kira Dea Anugrah memang penulis top. Gaya nulisnya asik~ dan bisa gitu dia menulis kegetiran tentang kehidupan. Jd kmu gak akan rugi untuk menyediakan waktu membaca buku ini.
Terlepas ucapan novelis Adham T Fusama di Instagram yang keceploasan penulis novel ini mengikuti Sayambara Novel DKJ 2022, saya menikmati kenakalan dan keliaran ceritanya. (Meski saya anggap ini bukanlah hal yang etis, mengumbar informasi yang tidak semestinya, wong naskahnya aja enggak dikasih nama, kok sampai keceplosan di sosmed?). Ok. Abaikan. Dalam pembacaan saya tidak ada yang kurang selain penulis terasa jelas dibebani ingin menulis cerita dalam bentuk novela (novel yang ringkas). Seperti dipadat-padatin, Harus ringkas. Apa iya, menulis ringkas di jaman kekinian akan lebih yahud?
akan timbul kecurigaan selepas membaca novel tipis ini: sepertinya ia memang diakhiri buru2 demi mengejar deadline sayembara novel dkj. entah benar2 atau salah, namanya juga curiga ya kan. namun terlepas dari kecurigaan itu, novel tipis ini tetap menarik bagi saya. bisa kelar dalam sehari. kosakatanya agak ngehe, plot/alur ceritanya ke sana kemari, dll, dll, khas dea anugrahlah pokoknya. kemampuannya merangkai kata menjalin kalimat selalu di luar kardus, wkwk..
Di kalimat pembuka buku ini sebenarnya sudah jelas penulis memaparkan akhir cerita akan seperti apa. Selanjutnya, pembaca akan diajak berjalan-jalan sambil menyaksikan tingkah laku si tokoh utama—Dea Anugerah (dengan huruf e di nama belakang). Kemunculan tokoh-tokoh aneh dan kejutan-kejutan kecil membuat ceritanya jadi mengasyikan.
Selebihnya, saya cukup menikmati percakapan berisi puisi-puisi antara si tokoh utama dengan Bodhi.
Pertama membaca karya Dea. Novel cukup bagus, tetapi kurang enjoy membacanya - walaupun memang tak harus selalu enjoy - karena gaya penuturannya memang tidak lazim. Menyoal banyak nama-nama penyair, di satu sisi menjadi tokoh baru yang laik dikenal, di sisi lain cukup mmbingungkan ketika pertama kali membacanya.
buku pertama yang selesai dibaca di 2023, dan saya amat menyukainya. walau di akhir saya rasa agak terlalu cepat, seakan menulis dengan tenggat waktu. tapi saya suka alurnya, penokohannya, cara penulisannya, dan dialog-dialognya yang menghibur!
Biasanya gue selalu terpukau sama kalimat pembuka tapi dea anugrah buat gue terpukau dengan kalimat penutup cerita ini. Maaf, gak tahan untuk mengumpat, agak anjing.
Buku yang bagus dengan cerita dan pikiran si tokoh utama yang kadang nyeleneh. Menarik sebagai kawan pengantar tidur, berasa ngedengerin orang lagi cerita absurd