Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sabai

Rate this book

310 pages, Paperback

Published January 1, 2022

4 people want to read

About the author

Akmal Nasery Basral

29 books28 followers
Akmal Nasery Basral adalah wartawan dan sastrawan Indonesia. Kumpulan cerpen pertamanya Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006) yang terdiri dari 13 cerpen termasuk long-list Khatulistiwa Literary Award 2007. Dia menyelesaikan pendidikan sarjana di Jurusan Sosiologi Universitas Indonesia. Saat ini tinggal di Cibubur, Bekasi, bersama istri, Sylvia, dan ketiga putri mereka, Jihan, Aurora, Ayla.

Sebagai wartawan ia pernah bekerja untuk majalah berita mingguan Gatra (1994-1998), Gamma (1999), sebelum bekerja di majalah Tempo (2004-sekarang). Ia juga pendiri dan pemimpin redaksi majalah tren digital @-ha (2000-2001), serta MTV Trax (2002) yang kini menjadi Trax setelah kerjasama MRA Media Group, penerbit majalah itu, dengan MTV selesai

Sebagai sastrawan ia termasuk terlambat menerbitkan karya. Baru pada usia 37 tahun, novel pertamanya Imperia (2005) terbit, dilanjutkan dengan Ada Seseorang di Kepalaku yang Bukan Aku (2006), serta Naga Bonar (Jadi) 2 (2007), novel dari film box-office berjudul sama yang disutradarai aktor kawakan Deddy Mizwar.

Di luar minatnya pada bidang jurnalistik dan sastra, Akmal Nasery Basral juga dikenal sebagai pengamat musik dan film Indonesia. Ia termasuk anggota awal tim sosialisasi Anugerah Musik Indonesia. Ketika sosialisasi terhadap penghargaan utama bagi insan musik Indonesia ini dilakukan pada 1997, kalangan jurnalis diwakili oleh Akmal dan Bens Leo. Pada pergelaran AMI ke-10 (2006), Akmal ditunjuk sebagai ketua Tim Kategorisasi yang memformat ulang seluruh kategorisasi penghargaan.

Di bidang perfilman Akmal menjadi satu dari lima juri inti Festival Film Jakarta ke-2 (2007), bersama Alberthiene Endah, Ami Wahyu, Mayong Suryo Laksono, dan Yan Widjaya.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (36%)
4 stars
6 (54%)
3 stars
1 (9%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
2 reviews
February 25, 2022
Pungguk Meraih Bulan

Sebuah resensi untuk novel Sabai Sunwoo karya Akmal Nasery Basral
Oleh: Diday Tea


Mungkin tidak ada perumpaan yang lebih sempurna untuk menggambarkan pasangan Sabai dan Dayon adalah pungguk yang berhasil meraih bulan.

Mereka bukanlah pasangan ideal seperti pasangan selebritas yang sama-sama segalanya sempurna. Itulah bukti nyata kalau cinta hanyalah cinta. Cinta tidak buta, tapi kadang perasaan bisa memilih tanpa membawa logika.

Entah kenapa saya merasa memiliki ikatan khusus dengan dwilogi Uda Akmal yang ini. Mungkin penyebabnya karena ketika ada yang melihat foto anak yang sulung, selalu ada saja yang bertanya: “Anak kamu kok ngga mirip sama kamu, dia mah kaya orang Korea!”.

Dan saya hanya bisa menjawab dengan bibir tersungging garing: “Untung ngga mirip saya kan, tapi mirip ibunya!”.

Sayalah Dayon di dunia nyata yang sangat beruntung bisa meraih “Bulan”.

Novel khas Uda Akmal ini membawa pesan besar bahwa kisah cinta dan pernikahan bukanlah kebahagiaan yang paripurna dan tanpa cela, atau selalu seindah seperti kisah cinta raja dan ratu yang serba sempurna, novel romantis dan opera sabun, apalagi drama Korea.

Itulah kehidupan nyata. Kejadian dan kenyataan seringkali berbeda dengan impian dan harapan.

Romantisme dan cinta hanyalah katalis untuk memulai sebuah mahligai mulia bernama pernikahan. Banyak faktor lain yang menjadi pemersatu dua sejoli untuk sepakat membangun mahligai rumah tangga mulia.

Bagi seorang Muslim, pernikahan adalah ibadah dengan durasi paling lama. Bisa berlangsung dan berujung sampai ke dunia abadi setelah kematian. Tapi impian dan keinginan dua insan yang menikah untuk bersatu selamanya itu, ternyata bisa saja kandas oleh perpisahan yang menyakitkan dan menyesakkan karena berbagai penyebab dan pemicu.

Walau pun berjudul “Sabai”, tapi novel ini memberikan porsi yang besar untuk lika-liku kehidupan dan percintaan Dayangku Bestari, mamanya Sabai. Tidak sepanjang kisah Oshin sih, tapi bagi saya kisah pergulatan hidup kehidupan pernikahan Dayang, dan kehebatannya menerjang masalah kehidupan yang disajikan dengan renyah dan sejajar dengan kisah Sabai ini, patut dibuat novel terpisah.

“Yang terpenting dari sebuah hubungan cinta bukan awalnya, tetapi akhirnya. Asmara yang berawal seindah kisah negeri dongeng tiada artinya kalau berakhir dengan tragedi”. Pesan yang sangat dalam bisa menggambarkannya.

Flashback naik turun susah senang hidup Sabai berdampingan rapi dengan pergulatannya menjalani gelombang masalah-masalah yang menerpa rumah tangga mereka yang baru seumur jagung.

Bumbu kisah mistis pertemuan Dayang dan Sabai dengan Gumiho dan ajaibnya adaptasi Sabai ketika baru menginjakkan kaki di Jakarta juga menjadi bumbu penyedap dengan porsi yang pas.

Sepasang bola mata anak angkatan 90án seperti saya pastinya akan berbinar dan berpendar sejenak, membuka kembali jendela memori yang mungkin sudah lama terkunci ketika Uda Akmal menyebarkan ikon-ikon budaya 80an dan 90an di berbagai sudut halaman novel ini.

Nostalgia dan nostalgila anak 90án akan semakin menggila ketika tertawa berbahak-bahak membaca “Akika mawar beranak dalam kubur” yang meluncur dari mulut bencong pengamen. “Sarimin pergi ke pasar” juga menjadi kenangan indah yang pasti membayang di pelupuk mata mereka.

Siapa coba, anak zaman itu yang tidak pernah memeletkan lidah birunya setelah mengemut permen Jagoan Neon?

Penggemar drama Korea juga tentunya akan menikmati pengenalan budaya dan unsur-unsur ke-Korea-an ketika Dayang dan Sabai masih tinggal di Korea.

Dr. Philip Zimbardo, seorang psikolog Amerika pernah berkata: “Past gives you root-to connect to your identity & family, to be grounded. Future give you wings- To soar to new destination and challenges. Present gives you energy- to explore people, places, self and sensuality”.

Itulah yang menjadi intisari kisah pergulatan jiwa Sabai. Perjuangannya memberi porsi yang tepat untuk masa lalu, masa kini dan masa depannya.

Perjalanan hidup Sabai adalah kawah candradimuka yang ternyata tidak cukup untuk menghapus kenangan masa lalu yang ingin dia sembunyikan dari Dayon.

Jika saya bisa memberi nasihat kepada Sabai, dan Dayon, atau kepada para pasangan suami istri, baik pengantin baru atau pengantin lama, saya akan berpesan seperti kata Fiersa Bestari: “Masa lalu itu ibarat spion mobil. Ada banyak. Tapi, dilihatnya sesekali saja. Kalau keseringan, bahaya. Jangan lupa, kaca mobil yang paling besar itu yang menghadap ke depan.”

Nostalgia sekadar menertawakan dan mengambil pelajaran dari masa lalu kita boleh-boleh saja, tapi jangan sampai menjadi nostalgila.

Pesan penting lainnya dari kisah hidup Dayang dan Sabai adalah “Allah Maha Besar jauh lebih besar dari masalah apa pun yang terlihat besar di mata manusia. Semua masalah adalah kecil. Masalah terlihat besar jika dihadapi dengan mental kecil.”

Semakin pekat gelapnya malam, itu menandakan kalau terangnya pagi sudah semakin dekat. Hidup ini ya pada hakikatnya adalah perpindahan dari suatu masalah ke suatu masalah lainnya.

Dengan ending yang pastinya membuat senewen pembaca, pastinya novel Sabai ini harus dimiliki sepasang dengan novel Dayon. Karena novel ini bisa disebut adalah campuran sekuel Dayon dan spin off kisah Sabai, dan Ibunya, Dayang.


Doha, 22222
Profile Image for Diday Tea.
Author 8 books12 followers
February 25, 2022
Pungguk Meraih Bulan

Sebuah resensi untuk novel Sabai Sunwoo karya Akmal Nasery Basral
Oleh: Diday Tea


Mungkin tidak ada perumpaan yang lebih sempurna untuk menggambarkan pasangan Sabai dan Dayon adalah pungguk yang berhasil meraih bulan.

Mereka bukanlah pasangan ideal seperti pasangan selebritas yang sama-sama segalanya sempurna. Itulah bukti nyata kalau cinta hanyalah cinta. Cinta tidak buta, tapi kadang perasaan bisa memilih tanpa membawa logika.

Entah kenapa saya merasa memiliki ikatan khusus dengan dwilogi Uda Akmal yang ini. Mungkin penyebabnya karena ketika ada yang melihat foto anak yang sulung, selalu ada saja yang bertanya: “Anak kamu kok ngga mirip sama kamu, dia mah kaya orang Korea!”.

Dan saya hanya bisa menjawab dengan bibir tersungging garing: “Untung ngga mirip saya kan, tapi mirip ibunya!”.

Sayalah Dayon di dunia nyata yang sangat beruntung bisa meraih “Bulan”.

Novel khas Uda Akmal ini membawa pesan besar bahwa kisah cinta dan pernikahan bukanlah kebahagiaan yang paripurna dan tanpa cela, atau selalu seindah seperti kisah cinta raja dan ratu yang serba sempurna, novel romantis dan opera sabun, apalagi drama Korea.

Itulah kehidupan nyata. Kejadian dan kenyataan seringkali berbeda dengan impian dan harapan.

Romantisme dan cinta hanyalah katalis untuk memulai sebuah mahligai mulia bernama pernikahan. Banyak faktor lain yang menjadi pemersatu dua sejoli untuk sepakat membangun mahligai rumah tangga mulia.

Bagi seorang Muslim, pernikahan adalah ibadah dengan durasi paling lama. Bisa berlangsung dan berujung sampai ke dunia abadi setelah kematian. Tapi impian dan keinginan dua insan yang menikah untuk bersatu selamanya itu, ternyata bisa saja kandas oleh perpisahan yang menyakitkan dan menyesakkan karena berbagai penyebab dan pemicu.

Walau pun berjudul “Sabai”, tapi novel ini memberikan porsi yang besar untuk lika-liku kehidupan dan percintaan Dayangku Bestari, mamanya Sabai. Tidak sepanjang kisah Oshin sih, tapi bagi saya kisah pergulatan hidup kehidupan pernikahan Dayang, dan kehebatannya menerjang masalah kehidupan yang disajikan dengan renyah dan sejajar dengan kisah Sabai ini, patut dibuat novel terpisah.

“Yang terpenting dari sebuah hubungan cinta bukan awalnya, tetapi akhirnya. Asmara yang berawal seindah kisah negeri dongeng tiada artinya kalau berakhir dengan tragedi”. Pesan yang sangat dalam bisa menggambarkannya.

Flashback naik turun susah senang hidup Sabai berdampingan rapi dengan pergulatannya menjalani gelombang masalah-masalah yang menerpa rumah tangga mereka yang baru seumur jagung.

Bumbu kisah mistis pertemuan Dayang dan Sabai dengan Gumiho dan ajaibnya adaptasi Sabai ketika baru menginjakkan kaki di Jakarta juga menjadi bumbu penyedap dengan porsi yang pas.

Sepasang bola mata anak angkatan 90án seperti saya pastinya akan berbinar dan berpendar sejenak, membuka kembali jendela memori yang mungkin sudah lama terkunci ketika Uda Akmal menyebarkan ikon-ikon budaya 80an dan 90an di berbagai sudut halaman novel ini.

Nostalgia dan nostalgila anak 90án akan semakin menggila ketika tertawa berbahak-bahak membaca “Akika mawar beranak dalam kubur” yang meluncur dari mulut bencong pengamen. “Sarimin pergi ke pasar” juga menjadi kenangan indah yang pasti membayang di pelupuk mata mereka.

Siapa coba, anak zaman itu yang tidak pernah memeletkan lidah birunya setelah mengemut permen Jagoan Neon?

Penggemar drama Korea juga tentunya akan menikmati pengenalan budaya dan unsur-unsur ke-Korea-an ketika Dayang dan Sabai masih tinggal di Korea.

Dr. Philip Zimbardo, seorang psikolog Amerika pernah berkata: “Past gives you root-to connect to your identity & family, to be grounded. Future give you wings- To soar to new destination and challenges. Present gives you energy- to explore people, places, self and sensuality”.

Itulah yang menjadi intisari kisah pergulatan jiwa Sabai. Perjuangannya memberi porsi yang tepat untuk masa lalu, masa kini dan masa depannya.

Perjalanan hidup Sabai adalah kawah candradimuka yang ternyata tidak cukup untuk menghapus kenangan masa lalu yang ingin dia sembunyikan dari Dayon.

Jika saya bisa memberi nasihat kepada Sabai, dan Dayon, atau kepada para pasangan suami istri, baik pengantin baru atau pengantin lama, saya akan berpesan seperti kata Fiersa Bestari: “Masa lalu itu ibarat spion mobil. Ada banyak. Tapi, dilihatnya sesekali saja. Kalau keseringan, bahaya. Jangan lupa, kaca mobil yang paling besar itu yang menghadap ke depan.”

Nostalgia sekadar menertawakan dan mengambil pelajaran dari masa lalu kita boleh-boleh saja, tapi jangan sampai menjadi nostalgila.

Pesan penting lainnya dari kisah hidup Dayang dan Sabai adalah “Allah Maha Besar jauh lebih besar dari masalah apa pun yang terlihat besar di mata manusia. Semua masalah adalah kecil. Masalah terlihat besar jika dihadapi dengan mental kecil.”

Semakin pekat gelapnya malam, itu menandakan kalau terangnya pagi sudah semakin dekat. Hidup ini ya pada hakikatnya adalah perpindahan dari suatu masalah ke suatu masalah lainnya.

Dengan ending yang pastinya membuat senewen pembaca, pastinya novel Sabai ini harus dimiliki sepasang dengan novel Dayon. Karena novel ini bisa disebut adalah campuran sekuel Dayon dan spin off kisah Sabai, dan Ibunya, Dayang.


Doha, 22222
Profile Image for Darwin Salim.
13 reviews3 followers
February 24, 2022
S A B A I
Oleh: Akmal Nasery Basral
Penerbit Mekar Cipta Lestari
Cetakan Pertama, Januari 2022
viii + 310 halaman, 13 cm x 19 cm
ISBN: 978-623-5915-01-2

DI akhir buku DAYON, yang merupakan buku pertama dari dwilogi ini, Jems Boyon - yang lebih dikenal dengan panggilan Dayon - seorang sutradara muda Indonesia, menikah dengan Sabai Rangkayo Sunwoo.
Pada buku yang kedua ini, fokus cerita adalah pada Sabai, putri dari seorang wanita yang berasal dari suku Minangkabau bernama Dayangku Bestari. Dayang adalah seorang penari tradisional Minang yang profesional dan dalam usia yang sangat muda telah tampil di berbagai ajang internasional di Singapura, Malaysia, Brunei, Bulgaria, Rusia, Spanyol, Ceko, Jerman, dan Prancis. Pada saat tampil di Seoul, Korea Selatan, seorang guru besar bernama Han Sunwoo tertarik padanya. Padahal, meskipun masih lajang, sang Profesor sudah berusia 40 tahun sementara Dayang masih mahasiswi tahun pertama. Dayang akhirnya menikah dengan Han Sunwoo dan pindah ke Korea. Dari perkawinan itulah lahir Sabai Rangkayo Sunwoo.
Kehidupan Dayang tidak mulus. Orang tua Sunwoo ternyata tidak bisa menerimanya. Ketika Sabai berusia 9 tahun, Dayang bercerai dengan Sunwoo dan pindah ke Jakarta. Sabai kemudian menjadi gadis model yang profesional.
Kisah ini dituturkan dengan sangat renyah oleh penulis, dengan plot yang berganti-ganti dari masa kini ke kilas balik, lalu kembali lagi ke masa kini, di sekitar tahun 1990-an. Bahasa yang digunakan juga sangat menarik, dialog-dialog gaul yang kocak disertai peristiwa sehari-hari masyarakat kelas bawah Jakarta menjadi bumbu penyedap novel ini.
Bagi saya yang bukan sastrawan, juga bukan kritikus sastra, ukuran bagus-tidaknya sebuah buku sederhana saja. Kalau buku itu mampu memaksa saya membacanya hingga tamat, maka itu buku bagus. Dan buku ini bukan saja memaksa saya menamatkannya, tapi lebih dari itu, saya hanya berhenti membaca untuk makan, tidur, dan sholat, tergoda terus untuk tak melepaskannya sampai selesai. Tak sampai sehari semalam buku ini tuntas saya baca. Kalau harus memberi bintang, maka saya akan beri bintang lima.
Bahagian terbaik dari novel ini, menurut saya, adalah pada bab-bab terakhir. Terutama setelah perkenalan Sabai dengan Peni, yang merupakan “cinta pertama” Dayon. Bab-bab ini penuh dengan kejutan yang luar biasa. Sebuah gaya sastra tingkat tinggi untuk mengakhiri sebuah cerita.
Sungguh, sebuah karya hebat dari seorang penulis Indonesia.

Medan, 24 Februari 2022, 23.16 WIB
DARWIN SALIM SITOMPUL

#ayo_membaca
#ayo_membaca_karya_anak_bangsa
#salam_literasi
Profile Image for Sulhan Habibi.
809 reviews63 followers
March 11, 2022
Ini menarik sih. Melanjutkan kisah Dayon dan SABAI, juga kisah masa lalu ibu Sabai dan Sabai sendiri.
Bagussss..
Displaying 1 - 4 of 4 reviews