Saya dibelikan buku ini oleh seseorang ketika ada diskon besar-besaran buku-buku Gramedia, dan alasan saya memilihnya karena saya belum pernah baca buku karya Rio Johan. Kisah yang diangkat dalam buku ini bukan tema kesukaan saya hahahaha, kalau saya bisa sempat ngintip beberapa halaman awal atau cari tahu dulu buku ini tentang apa, sepertinya saya nggak akan baca, deh. :') Tapiiii, saya tetap berterima kasih atas pengalaman ini untuk beberapa hal.
Pertama, lewat buku ini saya jadi tahu cara menempatkan kebiasaan orang Islam untuk salat lima waktu di novel tanpa bikin terkesan alim banget. Saya suka bingung ketika pengin bikin karakter orang Islam. Saya pengin ngasih tahu pembaca kalau dia salat lima waktu, tapi saya nggak bisa bikin itu jauh dari kesan, "Wow, too much info banget ini, apakah ini novel Islami?" gitu, hahaha, padahal nggak. Nah, buku ini bikin saya tahu caranya. Kayak, ya udah sekilas aja gitu, "Setelah salat Subuh berjamaah, kami ...", "Shahzad mengimamiku, lalu ...", dan lain-lain. Terima kasih untuk buku ini.
Kedua, kalau gaya bahasa buku ini memang gaya bahasa yang digunakan Rio Johan, saya jadi mengenali gaya bahasanya. Jarang ada percakapan, terus kemasannya kayak bertutur dan bahasanya kayak bahasa terjemahan gitu. Keren sih ini. XD Latarnya kan juga latar Timur Tengah, jadi dapet banget kesan "berjarak"-nya dengan bahasa Indonesia.
Ketiga, saya selalu suka sama adegan NGERI tapi diceritakan CEPET BANGET. Menurut saya itu sesuatu yang mempertegas batasan novel dan film. Kalau di film, mau gimana pun cepetnya, tetep aja itu menegangkan dan kita nggak bisa melewatkan itu. Kalau di novel, itu bisa bikin "HAH GIMANA GIMANA", dan saya jadi diingatkan kalau saya suka membaca. Bagian yang ini,
"... Shirin tiba-tiba muncul di belakang dan menghantamkan arca batu kecil dari India pada kepala Tuan Babak, lagi, lagi, lagi, dan lagi ..." (hlm. 41)
Bener-bener langsung, "Woaaaah!" XD
Dan sekalipun saya membayangkan bakal lebih sinting kalau Shahzad yang tiba-tiba melakukannya, tapi karena ini Shirin, jadi membalikkan kesan "lemah" dan "penuh tipu daya" yang selama ini melekat ke dirinya sepanjang novel. Nah, ada yang mau saya ceritakan soal ini.
Ini sejujurnya nggak saya sukai sih, bagian ini, ketika Shirin mencoba menggoda semua laki-laki yang dia temui dengan tubuhnya. Apa yang dilakukan Shirin itu nggak naif memang, tapi, ya, secara personal saya nggak suka ketika perempuan dipandang (dan memandang dirinya) harus menjual diri untuk bisa keluar dari kemiskinan (dengan diperistri). Saya sempat hampir drop baca, sampai-sampai Surin ternyata kayak gitu juga HAHAHA terus saya jadi mikir, "Okelah, walaupun disayangkan, tapi mungkin memang keniscayaan untuk pada akhirnya tertanam pola pikir kayak gini heuheu."
Saya punya simpati ke Shahzad, karena saya pikir di antara semua orang di novel ini, Shahzad ini udah dalam mode embracing life. XD Apa pun yang pernah terjadi pada dirinya, apa pun yang akan terjadi ke depan, ya udah, dia akan ngikut aja kayak air mengalir. Bahkan ketika akhirnya Surin "merebut" apa yang Shahzad punya, ya, dia chill gitu. Shahzad ini yang sampai akhir tuh nggak ketebak "tujuan hidup"-nya apa, dia satu-satunya yang nggak pernah "meminta" lebih dari apa yang dia dapat.
Tetap makasih atas buku ini!