"Duhai Perangkap Kebijaksanaanku, sudah habis aroma susu pada kuncup bibirnya, dan sekarang hanya engkaulah, Bahadurku, yang mampu membuat malu bulan dan bintang di langit sana.”
Di Shiraz, dua bersaudara Surin dan Shirin bertemu Tuan Babak, seorang saudagar kaya. Keduanya lantas diadopsi serta turut dalam setiap perjalanan Tuan Babak. Dari sana petualangan dari satu karavansara ke karavansara lainnya dimulai. Hal tersebut mengubah kehidupan Surin dan Shirin, tak sekadar sebagai karavansara—penginapan atau tempat peristirahatan bagi para pelancong karavan.
Rio Johan was born in Baturaja, South Sumatra, 1990. Rio has been invited to speak at The Ubud Reader's & Writer's festival (2015), was on a sponsored residency in Berlin, Germany (2016) and has been the recipient of the 2014 Prose Book of Choice by Tempo for his short story collection, "Aksara Amananunna", and the 2018 Khatulistiwa Literary Award for his novel, "Ibu Susu".
Label 21+ di pojok kanan bawah sampul belakang buku ini sudah menjelaskan sebagian isi buku. Catatan penulis di bagian akhir yang menyebut terispirasi dari "Arabian Nights" melengkapi praduga akan dibawa ke mana cerita ini. What a classy, sassy, complicated love tale!
Saya suka nasib akhir setiap tokoh di dalam cerita ini. Sangat tragis dan memuaskan. Dan, ini kali pertama membaca karya penulis; dibuat penasaran apakah buah karyanya yang lain mengandung unsur-unsur "dewasa" sebagaimana di sini.
Nggak salah masuk nominasi buku sastra pilihan Tempo. Thought provoking, narasinya cakep dan enak dibaca. Baca buku ini kayak baca hikayat dengan bahasa yang lebih modern. Sayangnya terlalu tipis dan cepat selesai padahal aku masih penasaran sama kelanjutan cerita Surin dan Shirin.
Sudah lama dibaca tapi lupa lapor. Maafken, dianggap hari ini saja deh.
Sejak halaman pertama, sudah terasa bahwa ini Kisah 1001 Malam versi Rio, sebuah hikayat yang dikisahkan ulang dengan mengusung sudut pandang kisah yang berbeda. Jika pembaca cermat, pada pojok kanan bawah di sampul belakang, tulisan 21+ bisa menjadi bocoran mengenai kisah ini.
Hem..., kenapa banyak sekali nama dengan huruf "S" yang terlibat dalam buku ini? Sepasang kakak-adik Shirin dan Surin, kota Shiraz asal keduanya, Shazad sang tangan kanan Tuan Babak, lalu ada Ratu Syahrazad dari Wangsa Sasan dan Raja Syahriar yang kejam dari Kisah 1001 Malam.
Sejujurnya ini buku Rio Johan pertama yang saya baca, padahal saya udah beli beberapa bukunya dan masih berada di tumpukan.
Beli bukunya random aja di Gramedia Pontianak sewaktu nunggu film di bioskop mulai diputar. Saya baru lihat buku ini dan baru ngeh ternyata ini novela, pantes tipis banget.
Walau begitu, saya bisa menikmati cara Rio Johan bercerita tentang Tuan Babak, Shazad, Shirin dan tokoh Aku dalam buku ini. Saya pikir tadinya akan bercerita tentang apa gitu ya, ternyata memang cerita tentang perjalanan ala ala 1001 malam dari saudagar kaya yang ya gitu deh.
Menarik. Sebagai yang baru kali pertama baca tulisan Rio Johan, saya merasa sangat tertarik untuk membaca bukunya yang lain.
Cara terbaik menikmati novela ini adalah dengan membacanya tanpa pretensi apa-apa.
Ini bukan hanya kisah perjalanan saudagar kaya yang melintasi jalur dagang di Timur Tengah bersama rombongannya; bukan belaka kisah tentang Tuan Babak yang mengadopsi kakak beradik yatim-piatu Surin dan Shirin; dan bukan pula semata kisah tentang keganjilan asmara dari bilik harem dan karavansara—tempat peristirahatan sebelum melanjutkan perjalanan.
Ini adalah kisah ringkas tentang orang-orang yang tidak memiliki daya tawar di hadapan relasi kuasa.
Novelet kecil yang menarik. Rio Johan jelas terlihat meyakinkan dan mumpuni dalam membangun imaji historis Persia dan karavansara-nya.
Karavansara merupakan tempat perhentian/peristirahatan saudagar di jalur sutera, di mana kisah-kisah beredar dalam sebuah mikrokosmos yang sementara. Di sini Rio Johan membangun kisah anak jalanan Shirin dan Surin yang diadopsi oleh saudagar bernama Tuan Babak. Seiring berjalannya cerita, perlahan terungkap masa lalu dan kebiasaan Tuan Babak yang dianggap ganjil, dan bagaimana kedua bersaudara kini terikat dengan hidup Tuan Babak.
Yang disayangkan, format novelet membuat dampak cerita tidak terlalu kuat. Ia tidak sekuat cerita pendek yang menusuk dengan cepat atau sekokoh novel/novela dengan bangunan alur cerita dan dunia yang kaya. Mungkin akan lebih menarik apabila cerita ini menjadi salah satu fragmen kumpulan cerita para musafir dan saudagar di karavansara, alih-alih satu novelet, atau justru satu bildungsroman yang lebih utuh.
Waktu novela ini masuk radar bacaku, ilustrasi sampulnya begitu saja mempesonaku. Cover lust! Apa lagi penulisnya juga selalu berhasil membuat aku ternganga terpana. Seperti saat membaca Rekayasa Buah yang fantasinya keterlaluan, tampak sekali kesan bermain-main ide, atau Aksar Amananuna yang di bbrp tempat diksinya memantrai ide.
Meski cukup tipis, isinya mengusung tema yang lumayan berat. Masalah tabu ditingkahi latar belakang sekte syiah-sunni mewarnai keseluruhan kehidupan seorang saudagar, bertabrakan dengan keinginan seorang gadis yatim piatu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bagi dirinya dan adiknya. Konfliknya berkelindan dalam kesunyian, di balik tenda di peristirahan karavansara dan di dalam harem yang tersembunyi.
Aku suka semua karakterisasi tokohnya. Dari tuan Babak yg kompleks, Shahzad yang nerimo, Shirin yg gelisah sampai Surin si tokoh utama, "Aku" yang mengamati dan mengikuti. Keempatnya mendapat porsi peran yang setara hingga saling melengkapi. Shirin mungkin sedikit di ambang menjengkelkan. KegatelanKegelisahannya menimbulkan banyak riak dalam konflik yang terjadi.
Memang tak butuh waktu lama untuk menyelesaikan novela karya Rio Johan dengan tebal 46 halaman ini. Berkisah tentang perjalanan hidup dan kisah-kisah ganjil yang dialami 2 kakak beradik Surin dan Shirin setelah keduanya bertemu dengan Tuan Babak si saudagar kaya raya dan Shahzad pengikut setia Tuan Babak. Cerita mengalir dengan lugas dan tidak berbelit namun tidak juga dengan tergesa. Kesemua tokoh utama ( Surin, Shirin, Tuan Babak dan Shahzad) diberikan porsi yang seimbang sehingga peran antar tokoh saling melengkapi.
Meskipun buku ini sangat tipis dan ringan, tetapi tidak dengan tema yang diangkat oleh Penulis. Itu sebabnya, buku ini diperuntukkan untuk para pembaca dengan usia 21+. Penulis mengangkat isu yang masih terbilang jarang dibahas oleh kebanyakan penulis di Indonesia. Dengan kepiawaiannya sang Penulis mampu menggubahnya menjadi sebuah karya fiksi yang bernilai luhur.
“Duhai Perangkap Kebijaksanaanku, sudah habis aroma susu pada kuncup bibirnya, dan sekarang hanya engkaulah Bahadurku, yang mampu membuat malu bulan dan bintang di langit sana.” — hlm. 24
Aku kehabisan kata-kata untuk buku yang satu ini. Seakan ada perasaan aneh dan membuncah yang terus membuatku untuk mengkhatamkan setiap lembarnya. Rio Johan benar-benar lihai, piawai dalam menarikan kata-kata di setiap kalimat dan paragrafnya sehingga walaupun tema/topik/kisah yang dihaturkan sarat 'nakal' dan tabu, rasanya sayang untuk tidak melumat halaman selanjutnya hahaha.
Membaca buku ini membuatku merasa seperti kembali ke masa di mana aku membaca penggalan kisah dari hikayat 1001 malam, di tambah dengan kepingan-kepingan sejarah kebudayaan islam di masa lampau yang sangat khas.
Penceritaan yang rapi kemudian dipadukan perkembangan karakter yang asam, manis dan pahit benar-benar membuatku merasa buku ini terlalu tipis untuk hanya sekadar kisah. Aku ingin tahu apa yang terjadi setelahnya.... Walaupun di satu sisi aku sudah sangat puas dengan akhir yang ada. Membaca nasib setiap tokoh dalam buku ini rasanya seperti plong saja.
Dan pada akhirnya, layaknya sebuah fatamorgana. Kita tak bisa melihat sesuatu hanya sampulnya—penampilan dan sifat luarnya—manusia itu absurd.
Novela pendek (46 hlm total) sengaja dipilih biar ngepas 35 buku untuk melengkapi jumlah bacaan tahun 2022 😆
Overall narasinya cepat, jadi memang seperti membaca kisah 1001 malam. Penggambaran suasananya dapet banget, begitu juga karakter2nya dengan sedikit background sejarah.
Edit: ternyata ini buku ke-36 karena goodreads tidak mencatat 1 buku 🫠
i'm not going to lie and say ooo this book is good i get it perfectly because no. i am terribly stunned in confusion. secara diksi, writing style di sini lebih gampang dipahami daripada di buku-buku rio yang lain. tapi secara isi sama susahnya. apa ak yang tolol y
1001 malam yang menuntut banyak kedewasaan dalam mencerna.
Isu-isunya berat, walaupun bahasanya ringan (Rio Johan ternyata bisa juga ya nulis enteng gini?) sampai-sampai membuat 40-an halaman ini tau-tau udah lewat.
Writing style Rio Johan selaluuuu membuat kagum. Nggak nyangka juga kalau ceritanya akan seperti ini dan berakhir seperti itu. Buku yang tipis tapi dituliskan dengan menarik.
Saya dibelikan buku ini oleh seseorang ketika ada diskon besar-besaran buku-buku Gramedia, dan alasan saya memilihnya karena saya belum pernah baca buku karya Rio Johan. Kisah yang diangkat dalam buku ini bukan tema kesukaan saya hahahaha, kalau saya bisa sempat ngintip beberapa halaman awal atau cari tahu dulu buku ini tentang apa, sepertinya saya nggak akan baca, deh. :') Tapiiii, saya tetap berterima kasih atas pengalaman ini untuk beberapa hal.
Pertama, lewat buku ini saya jadi tahu cara menempatkan kebiasaan orang Islam untuk salat lima waktu di novel tanpa bikin terkesan alim banget. Saya suka bingung ketika pengin bikin karakter orang Islam. Saya pengin ngasih tahu pembaca kalau dia salat lima waktu, tapi saya nggak bisa bikin itu jauh dari kesan, "Wow, too much info banget ini, apakah ini novel Islami?" gitu, hahaha, padahal nggak. Nah, buku ini bikin saya tahu caranya. Kayak, ya udah sekilas aja gitu, "Setelah salat Subuh berjamaah, kami ...", "Shahzad mengimamiku, lalu ...", dan lain-lain. Terima kasih untuk buku ini.
Kedua, kalau gaya bahasa buku ini memang gaya bahasa yang digunakan Rio Johan, saya jadi mengenali gaya bahasanya. Jarang ada percakapan, terus kemasannya kayak bertutur dan bahasanya kayak bahasa terjemahan gitu. Keren sih ini. XD Latarnya kan juga latar Timur Tengah, jadi dapet banget kesan "berjarak"-nya dengan bahasa Indonesia.
Ketiga, saya selalu suka sama adegan NGERI tapi diceritakan CEPET BANGET. Menurut saya itu sesuatu yang mempertegas batasan novel dan film. Kalau di film, mau gimana pun cepetnya, tetep aja itu menegangkan dan kita nggak bisa melewatkan itu. Kalau di novel, itu bisa bikin "HAH GIMANA GIMANA", dan saya jadi diingatkan kalau saya suka membaca. Bagian yang ini,
"... Shirin tiba-tiba muncul di belakang dan menghantamkan arca batu kecil dari India pada kepala Tuan Babak, lagi, lagi, lagi, dan lagi ..." (hlm. 41)
Bener-bener langsung, "Woaaaah!" XD
Dan sekalipun saya membayangkan bakal lebih sinting kalau Shahzad yang tiba-tiba melakukannya, tapi karena ini Shirin, jadi membalikkan kesan "lemah" dan "penuh tipu daya" yang selama ini melekat ke dirinya sepanjang novel. Nah, ada yang mau saya ceritakan soal ini.
Ini sejujurnya nggak saya sukai sih, bagian ini, ketika Shirin mencoba menggoda semua laki-laki yang dia temui dengan tubuhnya. Apa yang dilakukan Shirin itu nggak naif memang, tapi, ya, secara personal saya nggak suka ketika perempuan dipandang (dan memandang dirinya) harus menjual diri untuk bisa keluar dari kemiskinan (dengan diperistri). Saya sempat hampir drop baca, sampai-sampai Surin ternyata kayak gitu juga HAHAHA terus saya jadi mikir, "Okelah, walaupun disayangkan, tapi mungkin memang keniscayaan untuk pada akhirnya tertanam pola pikir kayak gini heuheu."
Saya punya simpati ke Shahzad, karena saya pikir di antara semua orang di novel ini, Shahzad ini udah dalam mode embracing life. XD Apa pun yang pernah terjadi pada dirinya, apa pun yang akan terjadi ke depan, ya udah, dia akan ngikut aja kayak air mengalir. Bahkan ketika akhirnya Surin "merebut" apa yang Shahzad punya, ya, dia chill gitu. Shahzad ini yang sampai akhir tuh nggak ketebak "tujuan hidup"-nya apa, dia satu-satunya yang nggak pernah "meminta" lebih dari apa yang dia dapat.
Tetap makasih atas buku ini!
This entire review has been hidden because of spoilers.
Karavansara, sebuah buku yang tidak lebih lima puluh halaman jumlahnya. Namun, siapa sangka, jika ketipisannya tidak sekadar bakal memukau pembaca, melainkan mengentak dengan tema yang tidak terduga.
Rio mengajak pembaca berkelana jauh mengikuti kehidupan saudagar kaya bersama tiga pengikutnya melintasi Jalur Sutra. Tidak cukup dengan cerita khas 1001 malam, Rio menyajikan tema hubungan sesama jenis dari bilik karavansara.
Relasi tersebut mengalir deras pada lembar-lembar buku. Meski demikian, orientasi seksual tersebut tidak serta-merta hadir begitu saja, Rio tetap menyisipkan narasi-narasi pembentuk mengapa beberapa karakternya memilih demikian, salah satunya lingkungan.
“Karavansara” mengingatkan pembaca untuk tidak mudah menilai seseorang hanya dari penampilan maupun kesalehan spiritual. Menggemaskan tatkala mengetahui Tuan Babak yang terlihat baik ternyata mampu menjadikan Shahzad dan Surin tidak sekadar sebagai pengikut, melainkan ‘istri di perjalanan’. Yang makin bikin ternganga, usai percintaan mereka di malam hari, dia menjadi imam salat di pagi harinya.
Melalui buku tipis ini, pembaca bakal makin menyadari jika orang-orang bisa tidak memiliki daya tawar ketika berhadapan dengan penguasa.
Oh, iya, Rio piawai meramu relasi homoseksual dengan tidak menuliskan secara terang-terangan. Narasinya yang indah membuat pembaca bisa membayangkan semuanya: latar tempat, ornamen pendukung, sampai adegan seksualitas yang tetap terasa menggairahkan.
Karavansara adalah sebuah novel berlatar di padang pasir. Kisah dimulai saat dua bersaudara bertemu dengan seorang saudagar kaya raya, Tuan Babak. Shirin dan Surin harus ikut dengan Tuan Babak dan salah seorang ajudannya untuk berjualan di kota-kota lain. Perjalanan dagang membutuhkan waktu berhari-hari karena hanya menunggangi Unta.
Selama perjalanan mereka kelelahan, lalu beristirahat di karavansara-karavansara. Ada rahasia besar di balik karavansara dan di dalam harem. Di situlah konflik mulai muncul. Untuk pertama kalinya, Surin menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri suatu hal yang tidak patut untuk dia jumpai. Tapi anehnya, Surin malah kepengen. Dia terus menghamba, masuk dalam obrolan yang dia bahkan tidak paham, mencari perhatian dari Tuannya. Sampai akhirnya dia merasakan apa yang dia usahakan selama ini (Benar-benar di sini aku mual pas bacanya.)
Yang aku suka dari novel ini - diksi yang bagus untuk memuji, merayu orang terkasih (tapi ini salah server wkwkw) - penggambaran dari macam-macam masakan Timur Tengah, kain-kain indah, ornamen-ornamen hiasan, kaligrafi, lukisan diceritakan sangat indah
Yang aku kurang suka: bisa-bisanya pas baca aku berulang kali mual gara-gara kelakuan tokoh-tokohnya hahaha kalau kata aku sih kalian harus baca biar kita bisa mual berjamaah. Wwkkwkw
Dua bersaudara Surin dan Shirin bertemu Tuan Babak, seorang saudagar kaya. Keduanya lantas diadopsi serta turut dalam setiap perjalanan Tuan Babak. Dari sana petualangan dari satu karavansara ke karavansara lainnya dimulai.