BUNUH DIRI !! Dua buah kata yang membuat saya merinding. Tidak pernah bisa memahami apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang telah berhasil melakukan pembunuhan terhadap dirinya sendiri. Karena untuk melakukannya saya rasa dibutuhkan keberanian yang sangat luar biasa yang sama sekali tak lagi tersentuh oleh pemikiran waras kita.
Saya sempat ngobrol dengan seorang teman yang pernah bermukim di sana. Darinya saya mendapat cerita bahwa kasus bunuh diri di sana merupakan peristiwa yang tidak ada habisnya. Selalu saja terjadi dari dusun yang satu ke dusun yang lain dengan berbagai macam alasan yang tidak pernah dipahami. Mitos bahwa pelaku bunuh diri di Gunung Kidul hanyalah orang-orang kelahiran (asli) Gunung kidul saja adalah benar adanya, dan merupakan suatu kenyataan yang bagi saya terlihat sangat aneh. Yang terasa lebih aneh lagi adalah kepercayaan masyarakat setempat yang mengatakan bahwa para pelaku bunuh diri tersebut tidak melakukannya atas kehendak mereka sendiri, tetapi lebih dikarenakan pengaruh pulung gantung (semacam mahluk halus yang membuat orang bunuh diri) sehingga pengkajian terhadap kasus-kasus bunuh diri itu sendiri menjadi buntu karena alasan yang bagi saya terasa sangat irrasional. Seperti kata penulis bahwa fenomena bunuh diri di daerah Gunung Kidul adalah suatu peristiwa khas yang berkaitan dengan 'kosmos' setempat. Bukan semata-mata pengaruh karakter manusia, kondisi sosial budaya, pendidikan, geofrafi, ekonomi, sejarah, mistik, pulung gantung, dsb, kendati masing-masing aspek memiliki akses ke sana juga.
Kasus bunuh diri biasanya akan menjadi bahan pembicaraan yang tak lekang oleh waktu. Selalu ada celah untuk kembali membicarakan peristiwa tersebut. Karena bagaimanapun juga, kasus bunuh diri merupakan sebuah peristiwa yang kompleks. Nyata tetapi selalu tak dapat dimengerti karena selalu menyimpan sutu misteri yang menyangkut rumitnya pikiran dan perasaan. Terlalu rumit hingga tak mampu diserap oleh kemampuan kita.
Para pemuka agama selalu mengatakan bahwa bunuh diri adalah suatu tindakan mendahului YANG KUASA. Hal ini menimbulkan suatu pertanyaan "Benarkah bunuh diri itu di luar kehendak YANG KUASA ?" Tetapi mengapa ada pula yang gagal melakukannya, bukankah itu artinya Tuhan belum menghendaki kematian si pelaku ? Bukankah artinya orang tersebut tidak ditakdirkan untuk mati dengan cara 'bunuh diri' ?
Bagaimanapun juga, kasus bunuh diri yang kerap terjadi di daerah Gunung Kidul ini cukup menarik untuk dikaji.
Seperti judulnya, buku ini berupa kumpulan kisah mengenai bunuh diri di Gunung Kidul, DIY. Bahasa cukup bagus, tetapi banyak frasa berbahasa Jawa yang tidak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sehingga mungkin akan mengganggu bagi orang yang tidak mengerti bahasa Jawa. Glosarium bahasa Jawanya tidak sepenuhnya membantu karena ada kata dan frasa yang tidak tercantum.
Buku ini ditulis dari sudut pandang orang-orang sekitar korban, merekam segala bentuk stigma dan kebiasaan buruk masyarakat desa sebelum hingga sesudah korban menemui ajalnya. Kambing hitam untuk menutupi betapa jeleknya kebiasaan masyarakat terejawantahkan dalam bentuk kepercayaan mereka akan pulung gantung (cahaya merah petanda akan datangnya petaka bunuh diri).
Membaca buku ini cukup menguras emosi karena penulis ternyata tidak menempatkan diri secara netral, tetapi malah turut serta menghakimi korban sebagai pendosa. Terlepas apapun kepercayaan penulis, penghakiman demikian sebaiknya disimpan untuk diri sendiri saja.
"Dan tahu , ada yang tidak terucapkan sebelum akhirnya kita menyerah" Chairil Anwar, Derai-derai Cemara
Penggalan sajak terakhir Derai-Derai Cemara itulah yang agaknya menggambarkan fenomena unik di salah satu Kabupaten Daerah Istimewa Yogyakarta, Gunung Kidul. Pasalnya, daerah tersebut merupakan salah satu "sentra" bunuh diri terbesar di Indonesia, dan Gunung Kidul menjadi episentrumnya.
Menurut data yang di himpun polres gunung kidul, kasus bunuh diri pada tahun 1991-2001 berjumlah 258 kasus dan 2001-2011 terjadi 314 serta tahun 2012 sampai dengan awal 2016 tercatat 169 kasus.
Tingginya angka bunuh diri itu tampak remang-remang dan masih menjadi misteri. Hal itu dikarenakan bahwa setiap perilaku bunuh diri khususnya di Gunung Kidul selalu merahasiakan alasan mengapa ia bebuat demikian fatal. Seperti bait dera-derai cemara diatas, dia tahu, tapi ada yang "tetap tidak terucapkan" sebelum akhirnya "menyerah".
Buku dengan jumlah 190 halaman yang ditulis oleh Iman Budhi Santosa dan Wage Daksinarga ini menceritakan kisah-kisah misterius itu tentang bagaimana bisa, seorang manusia tega membunuh dirinya sendiri. Padahal bunuh diri bukan perkara "biasa", karena tidak setiap orang mau dan mampu melaksanakannya.
Diantara kisah-kisah tersebut, kita akan menemukan ciri khas bunuh diri di Gunung Kidul, yaitu adanya mitos "pulung gantung" yang sering dijadikan kambing hitam disetiap kasus bunuh diri yang terjadi di sana. Konon, pulung gantung berwujud benda kosmik berwarna merah diangkasa dan jika benda itu turun/menghilang disuatu tempat, maka dipercaya bakal ada orang yang bunuh diri disana.
Lalu, apakah kiranya yang menyebabkan seseorang di Gunung Kidul benar disebabkan oleh Pulung Gantung? Bagaimana keterkaitan mitos tersebut dengan perilaku bunuh diri dan bagaimana masyarakat menyikapinya.
Baca kisah unik dan "ngeri" tentang bunuh diri di buku ini serta ambillah hikmah yang ada supaya kita terus belajar dengan cara apapun untuk menghindarinya.
Buku milik suami yang akhirnya baca juga karena judulnya seperti headline click bait yang mau tidak mau aku baca isinya, apalagi sebelumnya diajak nonton Lamun Sumelang yang horror banget.
Awalnya memang aku pernah baca bahwa banyak kasus bunuh diri di Yogyakarta tapi tidak tahu spesifik terjadi di Gunung Kidul dan hanya dilakukan oleh orang-orang Gunung Kidul. Bukan seperti Aokigahara di Jepang.
Membaca kasus bunuh diri di Gunung Kidul di buku ini aku hanya bisa berdecak, bukan karena aku memandang rendah kejadian ini, tapi lebih sering berdecak kepada narasi buku ini sendiri.