Buku ini aku tulis dengan harapan supaya bisa menemani teman-teman yang juga punya keluhan yang sama denganku, sebagai seorang overthinker. Sebagai overthinker, aku paham, memang sulit sekali mencari teman cerita yang bisa mengerti kondisiku. Orang yang mau mendengarkan untuk memahami, bukan untuk menjawab. Orang yang mau mendengarkan untuk mengerti, bukan untuk berkompetisi memilih hidup siapa yang paling menyedihkan. Kalau salah pilih tempat bercerita, bisa-bisa justru jadi bahan overthinking baru.
Aku harap dengan membaca buku ini kamu tidak lagi merasa sendiri. Kamu tidak lagi merasa menjadi orang yang aneh. Kamu tidak lagi ragu untuk melakukan hal-hal yang selama ini kamu impikan. Aku harap kamu mendapatkan jawaban atas rasa takut terhadap masa depan yang selama ini menghantuimu.
"Ingat bahwa kamu tidak mengejar kesempurnaan. Kesempurnaan itu sendiri yang akan datang ketika kamu membiarkan dirimu untuk gagal."
Buku ini merupakan buku pertama dari Senja Rindiani yang ditulis berdasarkan keresahan yang dialami oleh banyak orang termasuk juga yang dihadapi oleh penulis sendiri sebagai seorang overthinker. Dengan intensi tersebut, penulis menulis buku ini dengan tujuan dapat menemani para pembaca yang kesulitan mendapat teman cerita yang dapat mengerti dan memahami. Singkatnya, buku ini berisikan beberapa bab yang saling terpisah dengan tulisan-tulisan pendek mengenai topik-topik yang kerap menjadi bahan overthinking, seperti tentang masa depan, mimpi, hubungan manusia, masa lalu, kesendirian, bersyukur, hingga kematian.
Meski ini bukan buku dengan tipe short-essay pertama yang aku baca (juga melihat banyaknya tipe buku yang sama sudah banyak beredar di toko buku), aku dapat mengatakan bahwa buku ini memiliki ciri khas dan keunikannya sendiri dan layak untuk masuk ke jajaran daftar bacaanmu. Bahasa yang digunakan pun sangat ramah dan tidak menggurui sama sekali, bahkan akan terkesan seperti mendapat wejangan dari teman sebaya, mungkin untuk beberapa orang yang juga pengikut penulis di sosial medianya akan memiliki kesan seperti mendengar suara penulis yang seolah-olah seperti sedang berbicara langsung kepada kita.
Poin lain yang ingin aku sampaikan adalah aku dapat merasakan penulis benar-benar mempersiapkan buku ini secara matang karena terdapat beberapa detail yang sangat aku apresiasi, seperti judulnya, topik per babnya itu sendiri, urutan dan alurnya (walaupun buku ini bisa dibaca dari bab manapun karena satu dengan bab lainnya tidak saling berhubungan), pesan-pesan yang terselip antar bab, hingga bab khusus yang didedikasikan penulis sekaligus "mengedukasi" para pembaca mengenai bagaimana menghadapi overthinker. Selain itu, ada juga pada bagian terakhir berjudul "Karya Kita" berisikan rangkaian tulisan berdasarkan kalimat-kalimat yang masuk pada media sosial penulis, menurutku bagian tersebut merupakan gestur yang cukup manis dan detail-detail seperti itu lah yang menurutku dapat menjadi keunikan dari buku ini.
I enjoyed it quite a lot. Aku merekomendasikan buku ini untuk teman-teman yang kerap terjebak dalam pikiran-pikiran negatif dan lelah dengan jawaban orang-orang yang seperti tidak memvalidasi cerita dan perasaanmu, juga apabila kamu terlalu sering berada di pikiran-pikiranmu dan butuh sesuatu yang dapat menyadarkanmu untuk kembali hadir di momen ini dan saat ini juga (grounded), pick this book and I hope you could enjoy it as much (or more) as I do.
Sebuah buku debut yang sukses dalam mengingatkan banyak hal terutama bagi para pembaca di masa quarter-life-crisis bahasa kerennya.
Sederhana namun langsung tersampaikan maknanya. Pilihan tepat untuk mereka yang malas baca buku dan mau memulainya. Selain itu model buku seperti ini sedang digandrungi di Indonesia rasanya.
Tipe tulisan yang ringkas dan keren untuk dijadikan postingan atau sekadar pengingat. Tips saya dalam membacanya jangan hanya dibaca sekilas lalu balik halaman, renungi setiap kalimatnya, karena menulis seperti ini juga tidak main tulis, penulis pasti memikirkan setiap rangkaian katanya dengan hati-hati, dengan sekaligus merenung barangkali bisa melecut sedikit perubahan dalam hidupmu.
Self-help yang tepat untuk mereka yang sering overthinking, meskipun mungkin sedikit pandangan dari saya, penulis cenderung untuk memilih "meringankan" masalah dengan tidak memancing atau sengaja menghindar dari konflik eksternal. Maksudnya yasudah berdamai dengan diri sendiri saja.
Namun itu sah saja, opini setiap orang berbeda, cara bertahan hidup setiap individu bervariasi, tinggal mana yang membuatmu paling baik, itu yang kamu jalani.
Buku ini beda, beda dari buku self-improvement lain yang sejauh ini pernah aku baca. BUKU INI AKU BGTTT!!!
Aku saranin kalian baca buku ini ketika kanan-kiri lagi sepi, pas ngga ada distraksi lain. Malam hari, mungkin? Baca buku ini di waktu sepi bener-bener berasa ditemenin, dipuk-puk, dan kembali diingatkan soal realitas kehidupan.
Dan guysss, buku ini ngga menye for sureee! Kalimat "Ngga apa-apa, ya. Pelan-pelan.", diibaratkan selimut di musim dingin, INI YANG DICARI-CARI!!! Ada beberapa buku self-improvement yang bahkan mendorong pembaca untuk denial terhadap perasaannya, tapi buku ini engga. "Ya diterima aja, memang itu realitasnya.", kurang lebih demikian buku ini ditulis, sebagai wadah bagi penulis untuk menuangkan pikirannya tapi juga berhasil menjadi teman bagi pembaca. Happy reading!💌
Buku ini cocok bgt guyss untuk memperbaiki mental health kita yang kadang semakin beranjak dewasa semakin tidak baik-baik saja, buku ini juga mampu mengutarakan apa yang kita rasa tapi ga tau cara pengungkapan nya, thanks a Lot kak Sherly ❤️
Buku yg bahasanya ringan bgt, dibanding buku2 yg aku baca sejauh ini, bikin nyaman pikiran dan mental, kyk ngerefresh aja gitu pikirannya, bikin tenang. Isinya ga terlalu banyak dan padet, bacanya jg ga harus urut, jd okelah kalau emg ga biasa baca buku.