Di era digital ini filsafat perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan baru. Siapakah manusia di era digital ini? Mengapa kebenaran bisa menjadi tidak benar di media sosial? Di mana keindahan, ketika seni diviralkan sebagai pesan yang segera berganti? Bagaimana klik dapat merampas kebebasan kita? Eksperimen intelektual untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu ada dalam buku ini. Penulis memikirkan ulang berbagai pandangan filosofis dengan mengkonfrontasikan mereka dengan realitas baru komunikasi digital. Tujuannya jelas, yaitu agar kita dapat mengambil sikap kritis terhadap kompleksitas baru yang dihasilkan dalam revolusi digital. Setelah membaca buku ini Anda akan memandang smartphone, PC, dan laptop Anda secara berbeda. Mereka bukan sekadar alat-alat, melainkan mewujudkan mode of being kita yang baru. ‘Aku klik maka aku ada’. Saat ini seolah tidak ada yang lebih pasti daripada itu.
Salah satu buku filsafat komunikasi terbaik yang saya baca. Dan juga termasuk salah satu buku terbaik yang pernah saya baca in general. Asli isinya daging semua.
Tema besar buku ini adalah mengenai komunikasi digital di media sosial. Penulis mengulas dunia digital dari sudut pandang filsafat. Pembahasan diawali dengan mendefinisikan kembali siapa manusia di era digital; dari yang tadinya merupakan homo sapiens kini beralih menjadi homo digitalis. Kemudian penulis membahas mengenai esensi kebenaran di dunia digital bila dibandingkan dengan dunia korporeal. Hal ini berujung pada ulasan mengenai pergeseran eksistensi manusia yang mengakibatkan terjadinya pergeseran behavior manusia dalam dunia digital. Sejujurnya saya sudah takjub sejak awal buku, yaitu pada saat penulis mengaitkan eksistensi manusia di dunia digital dengan pandangan Descartes. Namun ternyata tak sampai situ saja, ketakjuban saya mulai meningkat secara eksponensial saat penulis mulai mengupas tentang eksistensi manusia di media sosial melalui kacamata Heidegger. Terlebih lagi penulis juga membahas tentang aktivitas ‘klik’ menurut etika Aristoteles serta mampu menghubungkannya dengan pandangan Arendt.
Tak diragukan lagi, struktur buku ini termasuk salah satu struktur terindah yang ditulis oleh penulis nonfiksi lokal. Tiap pandangan yang dipaparkan oleh penulis mampu membuat saya berdecak kagum dan merefleksikan hidup saya kembali di era digital ini. Penulis juga menyertakan intisari tulisannya pada akhir tiap bab di buku ini. Penulis tak jarang menggunakan kata baku yg cukup asing di telinga saya, sehingga membaca buku ini lumayan memperluas cakrawala kosakata saya. I know that “PERFECT” is such a strong word, but I’m gonna use that word to describe this book. Rasanya kata-kata saya bahkan tak mampu menunjukkan betapa istimewanya buku ini 😩 Buku ini cukup komprehensif untuk menanam dan menumbuhkan literasi digital kita pada masa kini. Definitely a must-read book!
Buku yang sangat baik untuk memperkenalkan filsafat teknologi dan homo digitalis sebagai sebuah fenomena kemanusiaan di mana manusia sendiri sebagai subjek dihadapkan pada kemegahan teknologi informasi dan komunikasi yang bisa jadi merupakan sebuah berkat, tapi di sisi lain juga kutuk.
Dalam memasuki era digital, manusia ditawarkan dengan mimpi-mimpi utopis yang memanjakan gairah akan petualangan untuk menemukan kejutan-kejutan yang luar biasa yang disediakan oleh digitalisasi. Tetapi bisa jadi, itu semua menjadi bumerang yang patut untuk diwaspadai. "Aku klik maka aku ada" mengajak kita untuk berhati-hati menggunakan jari kita sebagai cara mengada, apakah klik kita merupakan klik yang banal yang dapat menghasilkan bencana; atau klik yang berkeutamaan dengan menjadi berani, jujur, dan ugahari. Ke mana jari kita akan mengantar kita? Sejauh mana?
Kepakan sayap kupu-kupu di hutan belantara Brasil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Dalam era digital, satu klik dari jarimu bisa mengakibatkan chaos. Teknologi telah memaksa kita berfikir kalkulatif. Alat yang semestinya dibuat sebagai alat telah memperalat kita sendiri yang membuat kita semakin sulit menemukan kebenaran karena kita tidak lagi berfikir melainkan hanya mengikiti mekanisme buatan kita sendiri. Buku Aku klik maka aku ada adalah buku yang mengantarkan kita pada renungan eksistensi manusia dalam era digital.
Bahasanya terlalu berat untuk kalangan awam. Ada beberapa penggunaan istilah/konsep yang ketika seseorang belum pernah terpapar istilah/konsep tersebut, akan kesulitan memahami bacaan. Barangkali lebih baik ditambahkan semacam daftar istilah yang digunakan dan diberikan penjelasan sesuai konteks aslinya
Memang sih aku tahu ini buku filsafat, tetapi aku sempat berharap akan membaca analisis yang lebih ringan dan enak dibaca. Aku bayangkan, dia akan bertutur dengan bahasa yang lebih bisa dipahami orang awam. Sayangnya, buku ini tidak sesuai harapan tersebut. Tulisan-tulisannya sangat filsafat. Kurang cocok untuk kalangan "biasa".
Buku sangat teoritis dengan kutipan dari sana sini mengacu pikiran-pikiran filsuf terutama yang terkait dengan eksistensialisme dan posmodernisme. Karena itu terasa sangat melelahkan ketika aku membacanya. Maklum, bukan penikmat filsafat kelas berat. :)
Meskipun demikian, bagi penikmat filsafat modern, terutama kaitannya dengan teknologi digital, buku ini bisa memberikan landasan penting dan filosofis tentang hubungan antara media sosial, keberadaan, dan citra.
dari halaman ke halaman saya merasakan sebuah kehawatiran, kegetiran, dan kekalutan. hardiman menyingkap dunia digital yang sesungguhnya, yang oleh banyak orang atau setidaknya saya sendiri tampak biasa-biasa saja. seperti buku-bukunya yang lain, hardiman menulis dengan gaya yang mudah dicerna.