Membaca fiksi dan melamun punya dampak besar untuk manusia.
Setidaknya itu yang dikemukakan oleh Neil Gaiman pada pidatonya pada acara Reading Agency di London tahun 2013 silam. Pidato itu kemudian menjadi tulisan yang tayang di The Guardian. Tersirkulasi entah berapa kali.
Pidato/tulisan bagus dari Neil Gaiman ini nggak pernah bosan kubaca. Meski sudah pernah melahapnya dalam bahasa Inggris, menikmatinya dalam bahasa Indonesia membawa kebaruan "makna" untukku. Lagi-lagi aku mengangguk setuju. Dan berharap ada banyak penulis yang besar dengan perpustakaan serta imajinasi.
Pidato Neil Gaiman menjadi judul untuk kumpulan pidato dalam buku saku ini. Selain penulis American Gods, ada Julian Baggini dan Maggie Gram. Baggini secara blak-blakkan membicarakan ebook dan membadingkannya dengan buku fisik. Maggie Gram malah menjawab keheranan orang-orang tentang aktivitas "mendengarkan buku"
Ketiga pidato ini membentuk kesimpulan dalam kepalaku: membacalah apapun yang kamu mau dengan medium yang paling membuatmu nyaman sampai-sampai kamu lupa waktu. Ini juga yang mengingatkanku akan semangat di balik @bacabareng.sbc yang aku inisiasi Agustus 2019 lalu.
Sebab, tidak ada ujungnya kalau terus menerus meributkan hal yang "ndakik-ndakik" padahal akar masalahnya saja belum teratasi. Lebih baik terus memengaruhi orang lain untuk berkenalan dengan asyiknya membaca sambil membukakan akses terhadap bacaan yang nggak terbatas (melalui perpustakaan).
Buku ini nggak sampai 100 halaman. Bisa dihabiskan sekali rebahan saja. Cocok untuk yang ingin mencoba bacaan nonfiksi tapi masih takut untuk mencoba buku yang tebal.
Semoga setelah membaca ini, kita dijauhkan dari sikap seorang booksnob yang gemar merendahkan hobi dan bacaan orang lain.
Upaya Ageng Indra menerjemahkan sekaligus merangkum tiga judul artikel penting dalam buku ini sangat layak diberi atensi. Apalagi jika kita mengamini masing-masing sudut pandang dari ketiga penulisnya; Neil Gaiman, Julian Baggini, dan Maggie Gram.
Setelah membaca artikel Neil Gaiman tentang “Kenapa masa depan kita bergantung pada perpustakaan, membaca, dan melamun?” yang sebelumnya pernah ia sampaikan dalam pidatonya untuk acara Reading Agency di London pada 2013, rasanya sulit untuk tidak sepakat.
Meskipun jarang membaca (dalam konteks literal: membaca buku), kita tentu sadar jika membaca sangat penting tak hanya bagi kalangan orang dewasa, tetapi juga anak-anak.
Ketika masih kecil, kebanyakan dari kita hampir pasti dicekoki dengan berbagai bacaan, terutama cerita-cerita fiksi. Sebab seperti yang diyakini Gaiman, bahwasanya fiksi merupakan pintu masuk untuk membaca, dan fiksi juga dapat membangun empati.
Lantas apa hubungannya perpustakaan, membaca, dan melamun? Singkatnya, perpustakaan adalah gudang buku, dan dengan membaca buku-buku kita akan dibawa ke dalam dunia imajinasi, tempat di mana kita akan melahirkan ide-ide besar. Lalu di sanalah masa depan kita menunggu.
Senada dengan Neil Gaiman, Julian Baggini dan Maggie Gram juga berada di trek yang sama. Jika Julian tak mempermasalahkan fenomena peralihan kertas ke digital (ebook) sebagai alternatif medium membaca, maka Maggie pun bersikap demikian saat ia memutuskan beralih ke buku audio.
Pada akhirnya, kita akan mafhum dengan apa yang ditulis Ageng Indra dalam epilog buku ini. "Jika kita beranggapan bahwa buku adalah perpanjangan dari percakapan, maka mau ia berbentuk cetak, ebook, atau buku audio, asalkan dapat menyalurkan imajinasi penulis pada pembaca, buku telah menjadi salah satu medium terbaik untuk membangun imajinasi kolektif dan melibatkan seseorang di dalamnya."
Aku beli buku ini karena tertarik sama judulnya. Perpustakaan adalah salah satu tempat favoritku (setidaknya pas kecil, sekolah, dan kuliah), membaca adalah salah satu hobiku, dan melamun adalah jalan ninjaku.
Di luar ekspektasi, buku ini ternyata tipis banget: sekitar 50 halaman.
Isinya adalah 3 pidato yang dijadikan tulisan. Pidato pertama kira-kira membahas mengapa aktivitas serta sarana prasarana literasi sangat penting buat peradaban manusia. Pidato kedua bahas ebook. Pidato ketiga bahas audio book.
Sebagai orang yang nggak terlalu suka ebook dan nggak paham di mana serunya audio book, buku ini akhirnya membuatku sepakat sama ucapan si penerjemah di bagian epilog: buku, apapun bentuknya, patut dirayakan.
Ngomong-ngomong soal penerjemah, terjemahannya bagus untuk pidato ke-1 dan ke-2, meskipun aku agak bingung baca pidato ke-3.
Buku yang premisnya menarik banget, tapi ini jatohnya kayak sekadar pengantar diskusi soal buku aja. Aku harap buku ini lebih tebel biar bisa memuat bahasan yang lebih komprehensif.
Kenapa Masa Depan Kita Bergantung pada Perpustakaan, Membaca, dan Melamun?
Buku kecil, tak sampai 60 halaman, ini nampak sederhana, tapi selepas membacanya saya rasa macam baru diingatkan semula kenapa kita mula jatuh cinta dengan buku
Dan kenapa dunia masih perlukan pembaca.
Penterjemah Ageng Indra menghimpunkan dan menterjemah tiga tulisan penting daripada Neil Gaiman, Julian Baggini, dan Maggie Gram
Setiap penulis ada sudut pandang sendiri, tapi semuanya bersatu pada satu mesej besar: membaca dan berimaginasi adalah apa yang membuat kita terus hidup dan tumbuh.
Gaiman mengingatkan bahawa fiksyen ialah pintu masuk kepada empati.
Bila kita membaca cerita orang lain, kita belajar menumpang dalam dunia mereka.
Dan dari situlah lahir pemahaman bahawa dunia kita tidak sesempit itu itu sahaja.
Saya suka cara buku ni menghubungkan tiga hal yang nampak berbeza: perpustakaan, membaca, dan mengelamun.
Semuanya saling berkait.
Perpustakaan ialah rumah kepada buku-buku.
Membaca membawa kita ke dunia imaginasi.
Mengelamun ialah benih kepada idea-idea besar.
Dalam dunia yang serba laju dan bising, mengelamun jadi satu bentuk keberanian dan perlawanan. Kita memilih untuk berhenti sekejap dan berfikir (atau termenung)
2 lagi esei pula berbicara tentang ebook vs buku dan buku vs buku audio, apakah buku jika tidak berbentuk tradisionalnya berkertas dan berhalaman, tidak lagi dianggap buku?
Kedua-duanya mengingatkan bahawa yang penting bukan bentuknya, tapi pengalaman membaca itu sendiri.
Kumpulan esai dari 3 penulis ini sangat menarik. Karena soal membaca, buku, ebook, audiobook hingga perpustakaan bisa menjadi topik yang tak ada habisnya.
Neil Gaiman menulis dengan apik soal kebiasaan membaca, perpustakaan dan melamun, dilanjutkan oleh Julian Baggini yang menulis tentang ebook lalu terakhir Maggie Gram soal audiobook. Penutup Ageng Indra menuturkan hal yang saya setuju sekali soal keberagaman cara membaca.
Sembari menunggu handphone fully charge ambil bacaan ini karena tipis dan ringan dibaca, nyatanya buku ini berisi pesan mendalam untuk pembaca dari tiga tokoh yang berbeda, seorang penulis,editor dan desainer.
Bagiku pribadi tentu saja bab pertama merupakan pilihan favorit dari penulis kecintaan (neil gaiman) yang banyak membicarakan mengenai novel fiksi, perpustakaan, membaca dan melamun.
Berberapa hari lalu aku berdiskusi dengan temanku dan mengungkapkan kecintaanku pada novel fiksi fantasi dari kecil hingga sekarang sudah masuk umur QLC. Bagaiaman sebuah cerita dongeng, misteri, fantasi dan mitologi berada sangat dekat denganku dan memberitahuku bahwa hiburan yang menyenangkan aku dapatkan dari kegiatan membaca.
Bab satu oleh Neil Gaiman bisa kuaikui disampaikan dengan"nailed it"
Aku harap teman-teman juga bisa punya kesempatan untuk membaca buku ini yang tak disadari membukakan mata kita akan segala jenis perbedaan dalam menikmati kegiatan membaca.
Buku yang isinya adalah tiga esai singkat tentang buku dari Neil Gaiman (pengarang), Julian Baggini (editor) dan Maggie Gram (design lead di Google) ini cukup menginspirasi. Meski di buku yang diterjemahkan oleh Ageng Indra ini ada beberapa terjemahan yang rumit, tapi secara umum, bukunya enak dibaca.
Saya paling suka esai dari Neil Gaiman, yang juga menjadi judul dari bukunya. Terasa paling bersemangat saja sih. Esai dari Maggie Gram tentang audiobook agak sulit saya cerna. Selain karena beberapa referensi buku yang digambarkan oleh Maggie tidak saya ketahui, saya juga termasuk orang yang sangat-sangat jarang mendengarkan audiobook. Mungkin belum cocok saja.
Untuk esai dari Julian Baggini tentang ebook atau buku cetak, ini juga menarik. ebook--yang menurut saya sempat jadi solusi untuk mengatasi kendala ketimpangan distribusi buku--ternyata memang tidak bisa menggantikan posisi buku cetak (saya sendiri lebih suka dengan buku cetak karena tidak pusing di mata).
Epilog dari Ageng Indra cukup meringkas ketiga esai tersebut dengan mudah, dan saya sepakat. Dunia yang kita hidupi saat ini, adalah hasil dari imajinasi. Sekarang, tugas kita untuk mengembangkan imajinasi yang sudah kita hidupi ini ke arah yang lebih baik.
KENAPA MASA DEPAN KITA BERGANTUNG PADA PERPUSTAKAAN, MEMBACA, DAN MELAMUN, merupakan buku nonfiksi yang terdiri dari tiga esai dari tiga penulis, yaitu Neil Gaiman, Julian Baggini, dan Maghie Gram, kemudian terbit versi Indonesia oleh Penerbit Tanda Baca/Pojok Cerpen dan diterjemahkan oleh Ageng Indra. Terbit di tahun 2022 dengan tebal 58 halaman.
Sebenarnya ketika membaca judul dari buku ini, seketika langsung sumringah, mengapa? Tepat sekali, tidak jauh-jauh dari melamun. Haha. Tapi, ternyata yang ada dibuku dijelaskan, melamun di sini berkaitan dengan buku dan imajinasi. Hmm, betul juga. Buku tipis dengan tiga esai berbeda tema cukup menarik, dari Gaiman yang membahas perpustakaan, Baggini dengan ebook, dan Gram lewat audiobook. Bukankah ketiga hal ini sangat ramai diperbincangkan?
Neil Gaiman menulis esai sesuai judul buku ini. Bagian pembuka, Gaiman sudah mengajak kita untuk membaca, memperkenalkan membaca pada anak-anak, ada di halaman 4, "Cara paling sederhana untuk memastikan kita membesarkan anak-anak yang liteter adalah dengan mengajari mereka membaca, dan menunjukkan kepada mereka bahwa membaca adalah aktivitas menyenangkan." dan termasuk dalam membaca buku fiksi. Aku menggarisbawahi bagian di halaman 5, "Fiksi yang kalian tidak sukai mungkin justru menjadi pintu gerbang menuju buku lain yang ingin mereka membacanya."
Julian Baggini dalam esai ebook vs kertas menyebut di halaman 29, "Salah satu kekhawatiran berulang di era internet adalah anak-anak jadi kurang membaca. Namun ada berbagai bukti bahwa, kalau digunakan dengan bijak, e-reader dapat mendorong lebih banyak membaca." Bukan persoalan tentang cetak atau digital yang lebih, tapi, lebih pada kegunaan bagi setiap diri/pembaca. Pembaca bebas memilih.
Dan Maggie Gram dalam esai Mendengarkan Buku membahas tentang audiobook. Jujur saja, cara membaca ini belum kulakukan. Bukan karena apa, tetapi, audiobook menjadi pengertian paling baru dalam kamus membacaku. Audiobook sendiri sudah diperkenalkan sejak 1935 dengan sebutan Talking Book.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Membahas 3 topik seputar buku di masa sekarang. Topik yang pertama adalah pentingnya kemampuan membaca untuk generasi mendatang. Kemampuan membaca sangat diperlukan karena tantangan kedepan adalah bukan lagi minim informasi, namun masifnya informasi, sehingga muncul resiko banyaknya informasi palsu.
Hal ini dapat dilatih dengan cara membuat anak menyenangi kegiatan membaca terlebih dahulu, contoh dengan buku fiksi. Selain memberikan cerita ringan yang menyenangkan, buku fiksi juga dapat melatih empati.
Topik kedua dan ketiga hanya membahas media membaca seperti buku sebagai media yang membuat kita memiliki kesadaran spasial dengan membolak-balikkan buku, ebook yang memudahkan untuk mencari kata kunci, serta audio book yang dapat didengarkan sembari melakukan pekerjaan yang lain.
Buku ini menjelaskan bahwa tidak perlu terlalu memperdebatkan mana media yang paling baik karena semua memiliki kelebihan masing-masing. Juga tidak perlu kita melarang membaca fiksi karena dianggap tidak berguna. Karena buku fiksi bisa membuat pembaca senang lalu menjadi jembatan untuk membaca buku-buku yang lain.
Suka dengan topik pertama, karena setelah membaca buku ini, pandanganku terhadap buku fiksi berubah drastis. Apalagi kalau buku fiksinnya adalah karya Orwell. Bukan hanya memberikan empati dan kesenangan, bisa meningkatkan awareness dengan kondisi sekitar.
Buku tipis yang dapat dihabiskan sekali baca ini juga menguatkan aku pribadi untuk menyimpan buku fisik. Ya memang butuh perawatan dan memakan space, namun karena sudah sering melihat media elektronik yang kadang berubah maupun dihapus, memiliki bacaan offline sangat berharga.
Pesan yang aku tangkap dari buku ini adalah “stop yapping and read your books, have fun with it. You will thank yourself later”.
Terjemahan Ageng Indra soal-soal buku ini sangat layak dibaca sekaligus didiskusikan. Buku ini berisikan tiga artikel dari penulis yang berbeda-beda.
Artikel pertama ditulis oleh Neil Gaiman yang bercerita soal pentingnya membaca buku. Hal ini mengingatkan kembali pengalaman masa kecil ketika ibu memarahi saya karena membaca buku cerita (bukan buku pelajaran sekolah). Saya sepakat soal pendapatnya bahwa fiksi adalah pintu gerbang menuju buku-buku lain. Yang lebih penting, membantu kita menumbuhkan rasa empati.
Julian Baggini pada artikel kedua membahas ebook vs buku fisik. Dikatakan bahwa ebook mengatasi rasa kekhawatiran orang-orang yang takut dianggap pencitraan ketika membaca di tempat umum. Ini mengingatkan saya pada fenomena yang belakangan terjadi di media sosial— pembaca yang dianggap aneh ketika membaca buku di transportasi umum/kafe, bahkan di bar.
Artikel ketiga berbicara soal audio books yang ditulis oleh Maggie Gram. Saya baru tahu ada banyak perdebatan soal nyeni atau tidak nyeni ketika orang menggunakan audio books. Meskipun di satu sisi audio books sangat membantu orang tunanetra bahkan tentara yang buta karena Perang Dunia Pertama untuk membaca buku.
Dari lika-liku soal literasi ini, justru meyakinkan saya bahwa membaca adalah aktivitas personal dan seharusnya menyenangkan bagi setiap orang. Kita berhak menentukan bagaimana teknik yang digunakan; buku cetak, ebook, atau audio books. Jauh dari itu, ragam teknik membaca seharusnya semakin menyebarkan semangat masyarakat kita untuk giat membaca, bukan mengkotak-kotakkan. Sebab benar esensi dari membaca adalah memperoleh informasi untuk kemajuan dan perkembangan diri.
Menjengkelkan sekali. Lagi seru-serunya baca, ternyata sudah habis. Terlalu tipis.
Well, buku ini cuma berisi tiga tulisan yang agak panjang dari tiga penulis (oh, ya, dan ditambah satu epilog si penerjemah). Isinya ngomongin pentingnya buku, aktivitas membaca, dan pro-kontra media bacaan (cetak, e-book, dan audiobook). Ketiganya relate denganku. Pertama, dari Neil Gaiman, ngomongin pentingnya baca buku (sekaligus ruang dan medianya), berimajinasi, serta tanggungjawab setiap generasi. Kedua, dari Julian Baggini, ngomongin buku cetak dan digital. Dan terakhir, tulisan Maggie Gram yang nggak kurang data ngomongin fenomena audiobook. Jika ada satu kalimat yang bisa meringkus pembahasan di buku ini, sudah diwakili penerjemah di epilognya: "buku, apa pun bentuknya, pantas dirayakan!"
Terjemahannya bagus. Ada beberapa typo, tapi tidak fatal. Besok-besok, nerjemahin yang lebih tebal, Ageng!
Buku tipis yang diterjemah dari beberapa pidato hebat, yang isi dalamnya sungguh membuka banyak sudut pikiran.
Pada judul yang menarik dan menggugah rasa penasaran ini. Aku menemukan jawaban bahwa buku dalam bentuk apa saja itu tetap pantas dirayakan. Entah ia audio atau buku digital. Membaca sungguh ialah kegiatan yang personal, setiap pembaca pasti punya karakter untuk memilih bacaan dan cara untuk “membacanya”.
Keberagaman bentuk buku yang akan terus hadir dimasa depan justru akan membuat perpustakaan dimasa depan jauh lebih bermanfaat, Semoga.
Karna pada akhirnya, bagaimana kondisi dunia dimasa depan adalah tentang bagaimana kita mengimajinasikan-nya.
Buku ini terdiri dari 3 judul yang masing-masing ditulis oleh Neil Gaiman, Julian Baggini, Maggie Gram, dan diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia dengan tambahan epilog dari penerjemah. Tulisan mereka membahas eksistensi ruang literasi, perpustakaan yang ideal di masa depan, hingga perdebatan medium bacaan (fisik, digital, audio) mana yang paling unggul.
Layak dibaca, karena buku ini mampu membuka pikiran kita tentang pemahaman terhadap peran perpustakaan, membaca, dan melamun yang lebih luas.
Seukuran kumpulan sajak, 57 halaman buku ini memuat banyak hal yang saya akui penting. Saat membuka halaman pertama, pidato Neil Geiman membuat saya takjub. Beliau menciptakan perumpamaan sekaligus teori yang konkret. Dan 'esai' inilah yang menjadi favorit saya.
Masih ada 2 esai tentang perdebatan e-book dan audio book. Ancaman terhadap buku cetak serta eksistensi perpustakaan pastilah menjadi kegelisahan bagi yang bersangkutan. Bacaan ini membuka kesadaran kita untuk (minimal) memahaminya.
Buku yang berisi tiga esai dari penulis berbeda dan tambahan satu epilog dari penerjemah. Halamannya tipis, bisa dibaca cepat, namun menikmati setiap kata yang diutarakan penulis dengan perlahan juga bisa. Setelah baca buku ini aku mencoba merefleksikan apa yang ditulis oleh para penulis dibuku ini soal masa depan literasi lewat perpustakaan yang kian berkembang, pilihan media buku yang beragam tak hanya sekadar buku fisik tapi juga e-reader dan audiobook. Menarik sih buku ini.
Meski hanya terdiri dari tiga esai dan satu catatan (epilog) dari penerjemah, buku ini mampu mengubah pandanganku tentang hakikat perpustakaan, buku elektronik, dan Buku audio.
buku wajib yang perlu dibaca oleh semua oknum yang masih memperdebatkan fiksi vs nonfiksi, buku cetak vs ebook, dan apakah audio-book layak disebut buku apa tidak.