Hanya kualitas sorang Nabi yang sanggup menampung wahyu, dan Allah memang hanya berkenan memberikan wahyu kepada beliau-beliau yang terpilih. Sampai akhirnya Muhammad si Pamungkas. Selebihnya hanya ada wahyu kraton: suatu tema drama politik.
Maka anak-anak suka bersenda gurau bahwa Jibril sejak abad VII Masehi itu jadi penganggur. Pensiun abadi. Ada yang membantah dengan mengemukakan bahwa Jibril tetap being employed karena para wali atau orang-orang dengan ‘radar suci’ setingkat mereka tetap menerima karomah, sementara orang-orang biasa kayak kita tetap juga memperoleh ilham.
Tidak, kata yang lain. Untuk takaran di bawah wahyu tak diperlukan Jibril. Untuk pekerjaan-pekerjaan kecil begitu Allah tak memerlukan organisasi birokrasi, tukang-tukang pos atau agen penyalur. Allah bisa cukup bilang Kun (fa-yakuun) untuk kepentingan apa pun saja.
Budayawan Emha Ainun Nadjib, kelahiran Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953, ini seorang pelayan. Suami Novia Kolopaking dan pimpinan Grup Musik KiaiKanjeng, yang dipanggil akrab Cak Nun, itu memang dalam berbagai kegiatannya, lebih bersifat melayani yang merangkum dan memadukan dinamika kesenian, agama, pendidikan politik dan sinergi ekonomi. Semua kegiatan pelayannya ingin menumbuhkan potensialitas rakyat.
Bersama Grup Musik KiaiKanjeng, Cak Nun rata-rata 10-15 kali per bulan berkeliling ke berbagai wilayah nusantara, dengan acara massal yang umumnya dilakukan di area luar gedung. Di samping itu, secara rutin (bulanan) bersama komunitas Masyarakat Padang Bulan, aktif mengadakan pertemuan sosial melakukan berbagai dekonstruksi pemahaman atas nilai-nilai, pola-pola komunikasi, metoda perhubungan kultural, pendidikan cara berpikir, serta pengupayaan solusi-solusi masalah masyarakat.
Dia selalu berusaha meluruskan berbagai salah paham mengenai suatu hal, baik kesalahan makna etimologi maupun makna kontekstual. Salah satunya mengenai dakwah, dunia yang ia anggap sudah terpolusi. Menurutnya, sudah tidak ada parameter siapa yang pantas dan tidak untuk berdakwah. “Dakwah yang utama bukan dengan kata-kata, melainkan dengan perilaku. Orang yang berbuat baik sudah berdakwah,” katanya.
Karena itulah ia lebih senang bila kehadirannya bersama istri dan kelompok musik KiaiKanjeng di taman budaya, masjid, dan berbagai komunitas warga tak disebut sebagai kegiatan dakwah. “Itu hanya bentuk pelayanan. Pelayanan adalah ibadah dan harus dilakukan bukan hanya secara vertikal, tapi horizontal,” ujarnya.
Perihal pluralisme, sering muncul dalam diskusi Cak Nun bersama komunitasnya. “Ada apa dengan pluralisme?” katanya. Menurut dia, sejak zaman kerajaan Majapahit tidak pernah ada masalah dengan pluralisme. “Sejak zaman nenek moyang, bangsa ini sudah plural dan bisa hidup rukun. Mungkin sekarang ada intervensi dari negara luar,” ujar Emha. Dia dengan tegas menyatakan mendukung pluralisme. Menurutnya, pluralisme bukan menganggap semua agama itu sama. Islam beda dengan Kristen, dengan Buddha, dengan Katolik, dengan Hindu. “Tidak bisa disamakan, yang beda biar berbeda. Kita harus menghargai itu semua,” tutur budayawan intelektual itu.
Cak Nun benar sosok mengagumkan. Buku yang berisi kumpulan esai ini barangkali adalah hasil kontemplasi beliau. Seperti biasa, Emha selalu berhasil mengeksplor dalam-dalam tetek bengek agama dan kehidupan, baik yang cuma dipahami para intelektual maupun yang paling dekat dengan sehari-hari. Judul ini buku sendiri diambil dari salah satu esainya di bab pertama yang berisi cerita jenaka seorang anak TPA yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada gurunya, dan berujung orasi dan pemberian ceramah pada kawan-kawannya. Makna dari esai itu adalah - kalau tidak salah tangkap oleh nalar saya yang masih tiarap- bagaimana kita menutup diri atas wahyu dan percikan hidayah. Kita merasa tahu padahal sejatinya tak pernah mencari. Buku ini buat bingung -kalau harus jujur-, butuh waktu buat mencerna tulisan-tulisan Emha. Memang, hal itu mungkin yang buat ini buku kalah pamor dibanding buku Cak Nun lainnya. Topik-topik yang diangkatnya dengan akurat menyoroti permasalahan kontemporer agama. Dengan penerjemahan yang lebih "merakyat", mungkin tulisan-tulisan ini bisa memberi cara pandang baru umat terhadap islam.
"Anak-anak sering berkelakar, selepas kepergian nabi terakhir Rasulullah Saw., Jibril pun ikut pensiun. Tak ada lagi nabi yang perlu ia datangi untuk menyampaikan wahyu dari Allah Swt. Segala pengetahuan dasar yang perlu diketahui manusia telah ditanam benihnya di dalam Al-Quran.
Lalu, lama-kelamaan kita mengamini serta meyakininya dengan cara yang kebablasan: tak akan ada lagi wahyu yang datang. Manusia modern kemudian menutup rapat-rapat hatinya ketika merasakan sepercik hidayah. Mengunci jiwanya dari beberapa petunjuk rahasia keilahian. Orang-orang yang merasa tahu padahal sejatinya tak pernah mencari."
-
I've had a hard time comprehending some parts of this book, not merely because of the complexity of the language written but also the complexity of the message conveyed itself. That's why it took me quite longer to finish the book, and and it became quite lecek since I brought this book with me almost everywhere I go. However, I'd say that this book is one of my best read by far this year. Hands down.
Bukan buku yang ilmiah memang karena ditulis oleh seniman ya. Sangat direkomendasikan untuk orang-orang yang perlu "wisata" rohani. Cak nun mungkin mencoba dalam buku ini untuk membuat kita terhibur dengan kontemplasi-kontemplasi yang sebenarnya remeh, tapi harus dilakukan.
Saya terkena clickbait karena awalnya kukira buku ini akan membahas utuh tentang Malaikat Jibril. Ternyata tidak. Ada satu subbab mengenai hal tersebut, namun secara keseluruhan tema yang diangkat bervariasi. Bahan bacaan yang sedikit berat untuk dibaca atau dipahami, namun pesan moralnya sangat bagus.
Baca buku cak Nun kosakata kita jadi bertambah. Yang aku suka dari buku ini adalah bagian akhir tentang Mereka Mencari Rumus Tuhan. Perspektif yang ditawarkan beragam.
Delapan esai terakhir adalah pamungkas dengan judul "Mereka Mencari Rumus Tuhan" yang pertama sampai kedelapan. Menitipkan asal usul atheis dalam garis garis besar pengertian, kemultitafsiran, indikasi penyebab, dan kecenderungan apa yang menjadikan ia sebagai akibat.
Cak Nun sangat piawai dalam menyajikan gagasan-gagasannya. Bukan memberitahu atau menebar dogma, beliau berhasil menuntun pembaca untuk berpikir lebih dalam lagi. Sehingga penentuan benar dan salah ditentukan oleh masing-masing pembaca.
Melihat generasi kekinian yang semakin rela metanarasi dijatuhkan, Cak Nun memberi perlawanan dengan cerdas dan gemilang. Ini bukan buku ceramah. Ini adalah buku berpikir. Dan entah sebagai pemeluk agama yang taat atau yang sakit hati karnanya, sama-sama bisa menikmati buku ini. Asalkan dibaca dengan antusias untuk berpikir.