Buku ini tuh bilang kalau kemampuan berpikir itu secara umum dibagi 3, yaitu kemampuan berpikir secara analitis, secara kreatif, dan secara praktis. Nah kalau cuma analitis aja itu kebanyakan ended up as scientists (book smart), kalau bisa secara kreatif dan praktis itu malah yang bisa kita survive dan thrive dalam kehidupan (street smart or life smart).
Di sini dijelaskan juga kalau latar belakang budaya dan tempat itu memengaruhi bagaimana kita berpikir dan merasa. Makanya, orang-orang dengan latar WEIRD (Western, Educated, Industrialised, Rich, and Democratic) itu lebih self centered dibanding sama Asia Timur.
Terus untuk bisa berpikir secara bijak dan menyeluruh, kita jangan men-deny perasaan and gut feelings kita. Justru perasaan kita tu sebuah data yang harus dideferensiasi supaya bisa diregulasi dengan tepat. Kita bisa merespons dengan baik. Ga cuma reaktif atau malah menekan/mematikan perasaan itu.
Woow! What I loved most about this book is how it blends psychology, neuroscience, and real-world examples to show that being “smart” isn’t always the same as being wise. Robson challenges the traditional idea of intelligence as purely IQ or raw brainpower, and instead makes a compelling case for the importance of rational thinking, humility, emotional regulation, and open-mindedness. I found his examples—from scientists who made catastrophic errors to everyday biases we all fall prey to—both surprising and relatable.
کتابی عالی که در مورد خطاهای شناختی صحبت میکنه، خطاهایی که هر انسانی رو میتونه گرفتار خودش بکنه. فرقی هم نداده که شما باهوشترین آدم زمین باشید یا خیر. بعد از خوندن این کتاب میتونید نگاه بهتر و وسیعتری نسبت به تفکرات و تصمیماتتون پیدا بکنید.