Obrolan tentang seksualitas perempuan sudah mengambil tempat di ruang-ruang publik. Meski begitu, bahasan pemuasan seks perempuan belum semasif pembicaraan seks laki-laki. Masih banyak salah paham mengenai orgasme perempuan sehingga kepuasan hidup satu ini terpinggirkan. Mungkin sebab pengenalan atas tubuh sendiri yang terbatas, mungkin sebab ego laki-laki yang turut menghalangi “jalan menuju puncak”.
Masih dengan gaya penulisannya yang khas, Ester Pandiangan membahas orgasme perempuan dengan ringan tetapi penuh keberanian. Ia begitu peka menyerap pengalaman dan kenyataan seputar seksualitas di sekitarnya, diimbangi referensi-referensi bertanggung jawab. Setidaknya akan ada sedikit pencerahan kalau ternyata orgasme tidak misteri-misteri amat, atau justru menyadari kalau seks tidak selalu tentang orgasme. Sebuah penjelajahan menembus sekat-sekat seksualitas manusia yang kerap dirahasiakan.
Kursi Pijat dan Kesehatan Orgasme Wanita Kursi pijat modern, terutama yang memiliki fitur full body massage dan pijat titik akupresur, dapat memberikan manfaat yang berhubungan dengan kesehatan seksual wanita, termasuk membantu kualitas orgasme.
1. Melancarkan Sirkulasi Darah Pijat yang teratur membantu memperbaiki aliran darah ke seluruh tubuh, termasuk area panggul.
Sirkulasi yang baik mendukung sensitivitas saraf dan respons tubuh saat berhubungan intim.
2. Mengendurkan Otot Panggul & Pinggang Banyak wanita mengalami ketegangan otot panggul akibat duduk terlalu lama, stres, atau kurang olahraga.
Kursi pijat yang menargetkan punggung bawah, pinggul, dan paha bagian dalam dapat membantu mengurangi ketegangan, sehingga area tersebut lebih rileks dan responsif.
3. Mengurangi Stres dan Kecemasan Orgasme sulit dicapai jika pikiran tertekan.
Pijat pada leher, bahu, dan punggung membantu menurunkan hormon kortisol (hormon stres) dan meningkatkan endorfin, yang membuat tubuh dan pikiran lebih siap untuk menikmati rangsangan.
4. Stimulasi Titik Refleksi Beberapa kursi pijat memiliki mode yang menekan titik akupresur di telapak kaki dan betis.
Dalam terapi refleksi, titik-titik ini terhubung dengan organ reproduksi dan sistem hormonal, yang dapat mendukung keseimbangan hormon dan fungsi seksual.
5. Meningkatkan Kesehatan Dasar Panggul Rileksnya otot panggul membantu meningkatkan lubrikasi alami dan sensitivitas saraf, yang keduanya berperan penting dalam mencapai orgasme yang sehat.
📌 Catatan Penting Kursi pijat bukan alat seksual, tetapi alat kesehatan yang membantu memperbaiki kondisi fisik dan mental sehingga fungsi seksual wanita menjadi lebih optimal. Penggunaan secara rutin dapat menjadi pendukung, namun faktor psikologis, komunikasi dengan pasangan, dan gaya hidup sehat juga berperan besar.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Judulnya memang agak kontroversial, tapi isinya gimana ya?
Buku ini bukan hanya tentang seks, orgasme dan alat kelamin. Pembahasannya lebih dari sebatas itu. Ester menulis tentang ketubuhan perempuan, hal-hal yang dianggap tabu, dan bagaimana seks bisa jadi alat kuasa bagi perempuan. Melalui buku ini, kita diajak untuk membongkar kembali tentang bagaimana cara pandang kita terhadap seksualitas. Juga menilik kembali hal-hal yang sudah kita lakukan dengan dan/atau terhadap tubuh kita.
Membicarakan seksualitas di waktu-waktu ini ternyata masih tabu, padahal seksualitas bukan cuma tentang berhubungan badan. Merasa aman, nyaman, dan mengetahui seluruh tubuh kita juga termasuk membicarakan tentang ketubuhan dan tentunya tidak akan bisa lepas dari seksualitas.
Pernah berpikir kalo orgasme itu urusan negara? Buku ini menjelaskan tentang bagaimana negara bertanggungjawab atas represi yang dihadapi perempuan karena mengekspresikan seksualitasnya. Konstruksi sosial yang menempatkan wanita sebagai makhluk yang seharusnya tertutup dan dilindungi justru malah menekan ekspresi seksualitas perempuan (negara lagi, negara lagi!)
Buku ini hadir menyajikan sudut pandang baru buatku. Tapi... penulisannya agak terlalu teknis.
Dari judulnya, seolah kita akan dibawa untuk membahas seks, orgasme, dan hal-hal selangkangan lainnya sepanjang buku. Tapi, ini bukan hanya masalah itu. Buku ini justru membahas bagaimana masyarakat kita memandang orgasme dan bagaimana cara kerjanya dalam kehidupan sehari-hari. Oh, bukan, bukan. Bukan bagaimana cara bisa orgasme, tapi bagaimana dinamika yang terjadi di dalamnya yang terkait dengan orgasme.
Apakah negara ikut mencampuri urusan kelamin masyarakatnya? Ya. Buku ini membongkar dalam bagaimana negara ikut bertanggungjawab atas hal-hal yang dihadapi oleh perempuan yang terkait dengan seksualitasnya. Seolah, tak penting bagaimana perempuan menikmati seks itu sendiri, tetapi yang penting adalah orgasme dari laki-laki. Selain itu, kita juga diajak untuk berpikir bahwa siapapun bisa memalsukan orgasme dengan berbagai kemungkinan yang ada.
Buku ini dengan suksesnya membentuk pandangan baru terhadap seksualitas dan hal paling penting di dalamnya—orgasme, dan seberapa penting urusan itu pada wanita.
Maaf, Orgasme Bukan Hanya Urusan Kelamin is a provocative and thoughtful work that challenges conventional perspectives on female sexuality. Ester Pandiangan argues that orgasm is not merely a physical experience but is deeply intertwined with emotional, psychological, and sociocultural contexts. The book critiques how society regulates women's bodies and desires, and it urges a more open, honest conversation about female pleasure and autonomy.
Pandiangan presents her ideas through a blend of personal reflections, feminist insights, and references to both local and global discourse. Her writing is direct and unapologetic, aiming to dismantle taboos that often silence discussions on women’s sexual experiences. The book invites readers—especially in conservative societies—to reframe their understanding of intimacy, consent, and self-agency.
With its unapologetic tone and powerful message, this book serves as both an eye-opener and a call for deeper reflection on gender, power, and freedom.
Dari sekian banyak poin tentang seks dan orgasme, gue menggaris bawahi 2 point penting untuk laki-laki yang selama ini selalu merasa superior, terlebih ketika ada laki-laki yang “mengenye” laki-laki lain ketika pacarnya “kebobolan” dengan nada sinis “emangnya dia gatau ada yg namanya kondom?” atau “cemen bgt, pasti dia pemula” sedangkan ejakulasi a.k.a sperma bisa keluar tanpa dibarengi dengan orgasme yaitu pelumas atau cairan dari penis. Setelah itu, biasanya dorongan seks yang besar pada diri laki-laki tidak dibarengi dengan rasa cinta yang diinginkan oleh kebanyakan perempuan. Maka dari itu semua, diskusi dengan pasangan adalah langkah awal untuk memulai kegiatan surgawi tersebut. Tabik untuk mbak ester dengan segala pengetahuan tentang seks 🫡✨
Less than 24 hours to finished this book. Sama seperti bukunya Ester yang Sebab Kita Semua Gila Seks, buku ini begitu eksplisit.
Menurutku nih, kesimpulan total dari buku ini adalah LOVE YOURSELF FIRST. How the big o isnt just about sexual activity, but it could be about economic, politic, etc etc. Selaras dengan bukunya Hendri Yulius, seks memang sekompleks itu dan tidak seistimewa itu lol.
Bahasan buku ini lebih dilihat dari sudut pandang perempuan. Gimana masyarakat masih 'menuntut' perempuan untuk 'behave' kalo udah urusan soal seks. Represi ini ya sedikit banyak memang mempengaruhi how woman get the orgasm. Dimulai dari tidak memahami tubuh sendiri hingga kesulitan untuk mengkomunikasikan kepada partner.
Ringan tetapi padat. Seperti menemukan tambal ban di tengah malam ketika ban bocor tiba-tiba. Kebingungan terhadap persoalan seputar seks dan orgasme terjawab dari buku ini. Pengalaman ketubuhan perempuan yang selama ini ditabukan dikupas habis di sini. Mitos mitos tentang orgasme dijelaskan dengan ringan seperti teman ngobrol. Tidak hanya itu, penulis juga mengutip berbagai penelitian menandakan bahwa tulisan ini tidak hanya kumpulan cerita tetapi juga berdasar riset. Good pokoknya recommend untuk dibaca. Terutama yang selama ini kebingungan apa itu seks dan orgasme.
Di buku ini, bisa dilihat perkembangan dan sedikit perubahan pemikiran penulis dibandingkan buku yang sebelumnya. Sebetulnya berharap akan ada banyak pembahasan tentang non penetrative sex tapi mengingat heteroseksualitas adalah mayoritas… ya sudah.
Buku terbaru Ester Pandiangan yang terbit di 2022, lebih ngeflow tulisannya dibanding 2 buku sebelumnya dan orgasme semenarik itu dibahas oleh sang penulis.