Jump to ratings and reviews

Pararaton

Pararaton adalah kitab kuno yang pertama ditulis pada tahun 1535. Isinya bukan hanya kisah yang sarat intrik, tetapi juga gagasan tentang bagaimana kekuasaan direbut, dikelola, dan dipertahankan. Lebih dari itu, Pararaton memuat nilai-nilai kebenaran klasik mengenai perbuatan manusia dan segala akibat yang ditimbulkannya. Karena itu, legenda Ken Arok tetap relevan sepanjang jaman.
-Narasi-

87 pages, Paperback

First published January 1, 2008

Loading...
Loading...

About the author

Gamal Komandoko

18 books10 followers

Ratings & Reviews

What do you think?

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
15 (31%)
4 stars
8 (17%)
3 stars
14 (29%)
2 stars
6 (12%)
1 star
4 (8%)
Displaying 1 - 7 of 7 reviews
Profile Image for Muhsin Ibnu Zuhri.
23 reviews
October 20, 2025
Kesan saya setelah membaca Kitab Pararaton tak lain dan tak bukan adalah ketakjuban begitu lihainya politik Jawa dalam meraih kekuasaan. Sebenarnya saya hendak mengulas keseluruhan isi, namun seperti tidak perlu. Kisah tentang Ken Angrok sudah cukup menarik perhatian untuk diulas. Pada bab lain setelah kewafatannya hanya keterangan bagaimana pertarungan perebutan kekuasaan terjadi silih berganti dari keturunan Ken Angrok dan Tunggul Ametung. Mungkin kisah lain bisa diulas di lain waktu.
Kitab Pararaton: Kitab Para Datu atau Kisah Ken Angrok yang saya baca terbitan Narasi dan ditulis ulang oleh Gamal Komandoko. Kitab ini merupakan kita kuno yang pertama ditulis tahun 1535, artinya jauh selepas Ken Angrok memimpin Singasari 1222.

Pertama saya berkenalan dengan sosok Ken Angrok (Arok) lewat buku roman karya Premoedya Ananta Toer berjudul Arok Dedes. Kemudian saya melihat juga sebuah konten dari Muhidin M. Dahlan saat ditanya rekomendasi buku apa yang menggambarkan politik kita. Dia menjawab buku Arok Dedes adalah satu contoh bagaimana politik Jawa itu berlangsung. Dari sanalah muncul keinginan untuk membaca terjemahan kitab Pararaton.

Bagaimanakah bisa dikatakan kitab ini masih relevan dibaca sampai hari ini? Jawaban inilah yang juga ingin saya tulis di sini.

Karakteristik kuat dari Kitab Pararaton dalam menggambarkan Ken Angrok adalah bahwa ia merupakan titisan dari Dewa Brahma. Dia anak berandal dari anak seorang janda di Jiput yang kemudian pergi ke daerah Bulalak bertemu Mpu Tapawangkeng yang tengah kebingungan. Mpu Tapawangkeng yang saat itu galau saat membangun pintu dan dimintai pengorbanan kambing merah oleh roh pintu bertemu Arok. Di sanalah Arok mengorbankan dirinya untuk roh pintu, nyawanya melayang masuk ke dalam surga Dewa Wisnu, lalu meminta reinkarnasi kembali di daerah timur Gunung Kawi. Kemudian dia lahir kembali dari rahim Ken Endok, istri dari Gajahpara.

Memberikan legitimasi kekuatan adikodrati pada seseorang membuat satu persepsi bahwa setiap kejahatan yang dilakukan oleh orang seperti ini akan selalu dilindungi. Narasi ini seolah memberikan satu bentuk ketakutan bagi siapapun yang hendak mengkritisi orang-orang seperti ini. Bahkan saat orang ini melakukan kejahatan, orang akan memakluminya sebagai pribadi maksum kesalahan. Kita bisa lihat bagaimana politik kita hari ini. Setiap kali pemilu datang, selalu saja muncul narasi Ratu Adil yang terus menerus dimanfaatkan elit politik untuk mendulang suara. Ratu Adil abal-abal ini kini makin banyak meskipun pada kenyataan sejarah politik kita, banyak Ratu Adil yang muncul dalam kancah lingkup yang sempit.

Lihat saja bagaimana kelakuan Arok sebelum ia menguasai Tumapel. Pola yang disajikan dalam kitab ini adalah pembenaran kejahatan yang dilakukan Arok. Jadi selalu Arok diselamatkan dari satu kondisi kauasiltas atas tindakannya dengan memasukkan unsur-unsur kekuatan adikodrati dari Dewa Brahma.
Ia menghabiskan harta Ken Endok untuk judi. Bahkan saat dia diminta menggembala kerbau, dia menjualnya. Tapi kemudian Ken Endok hanya bisa pasrah, bahkan bilang bahwa ia rela menanggung akibat semuanya yang ditimbulkan oleh anaknya. Ibunya masih kuat percaya bahwa Arok adalah titisan.

Arok kemudian diambil anak oleh seorang penjudi di daerah Karuman bernama Bango Samparan. Pertemuan mereka bermula dari kekalahan Bango Samparan berjudi. Dia mendapat bisikan gaib bahwa ia bisa memenangkan judi apabila menemui seorang anak bernama Ken Arok. Sayangnya dia tidak bisa akrab dengan anak-anak dari Bango Samparan, maka dia pun pergi ke Kapundungan lalu Sagenggeng.

Dalam hal ini muncul sebuah interpretasi pertanyaan. Kenapa anak-anak Bango Samparan tidak mendapatkan kecaman gaib seperti Ken Endok dan Bango Samparan? Apakah karena anak-anak Bango Samparan belum begitu memahami tentang dunia dewa atau bagaimana? Atau bisa jadi kelakuan Arok yang bejat tidak bisa diterima oleh kepolosan pikiran anak-anak Bango Samparan? Terbukti bahwa Arok tidak diceritakan melawan namun menyingkir. Bisa jadikah anak-anak ini tidak bisa dihasut?

Pola yang sama berlanjut sampai Arok tinggal di Sagenggeng, berguru. Di sini kejadian magis terjadi saat Arok berhadapan dengan guru (orang yang sudah tua dan memiliki pengetahuan tertentu). Di sana ada suatu kejadian disebut kejadian jambu. Guru menanam pohon jambu namun seringkali habis dimakan kelelawar. Maka pada satu waktu ia melakukan investigasi. Ternyata kelelawar yang menghabiskan jambu itu keluar dari kepala Arok. Maka ia pun diusir. Baru kemudian setelah Arok pergi, sang guru menyaksikan ada cahaya putih di kajauhan. Ternyata itu adalah Ken Arok yang tengah tidur. Maka ia pun diminta kembali lagi ke Sagenggeng.

Di sini adegan magis dipertunjukkan seolah-olah menggambarkan bahwa Arok adalah orang yang spesial. Lagi-lagi yang dihadapi adalah seorang guru. Arok tidak digambarkan juga berbakti atau benar-benar menjalani kehidupannya dengan baik-baik. Justru yang ditunjukkannya adalah kebejatan saja. Tapi sekali lagi, karena dia titisan, maka kejahatan pun bukanlah menjadi kejahatan lagi.

Arok kemudian menjadi perampok di hutan Kapundungan. Dia mengambil barang siapa saja yang lewat sana. Berita ini kemudian menyebar sampai Daha, tempat di mana Tunggul Ametung berkuasa sebagai akuwu.

Arok pun terus melancarkan aksi perampokannya. Dia pergi dari satu daerah ke daerah lain. Ia merampok dari Rabut Gorontol, Wayang Sukamanggala, Rabut Katu, Jun-Watu, Lulumbang, sampai kembali lagi ke Kapundungan. Di desa inilah dia ketahuan dan dikejar masa. Saat-saat terjepit, lagi-lagi bisikan gaib muncul untuk mengeluarkannya dari kejaran warga. Keterlibatan kekuatan adikodrati berulang dapat menimbulkan persepsi baru tentang kebenaran. Di sinilah mungkin kemudian beberapa orang bisa beranggapan bahwa ia benar-benar dilindungi, meskipun untuk berkelakuan jahat.

Manuver politik selanjutnya adalah berkamuflase. Arok bertemu dengan Mpu Palot, ketua lingkungan Turyantapada, di perjalanan. Mpu Palot ini khawatir apabila kepulangannya dari Kabalon akan dicegat oleh Arok. Mengingat apalagi Mpu Palot ini pandai membuat barang-barang emas. Di dalam perjalanan bertemulah keduanya, dan Arok berkamuflase akan melindunginya dari serangan Ken Arok. Kebaikan Arok di sini bukan sekadar kebaikan murni. Lagi-lagi ia berlaku baik karena memiliki tujuan tertentu. Dia diaku anak oleh Mpu Palot namun kemudian pada akhirnya dia membuat kerusuhan. Saat dia dikirim untuk belajar lebih soal olah emas ke Kabalon, dia marah karena tidak dipercaya orang sana. Maka dia menikam salah seorang di antaranya. Kini makin banyaklah orang dari berbagai macam daerah mengetahui namanya, termasuk Daha.

Cara personal branding Arok di sini memang menarik. Dia tidak dikenal karena kebaikannya tapi justru karena keburukannya. Tapi baik keduanya sama-sama memberikan hasil yang sama: terkenal. Kesadaran pengenalan publik adalah modal penting dalam politik. Di sini Arok melakukan tindakan kontroversial. Apakah car aini begitu akrab dengan kita akhir-akhir ini? Tidakkah kita banyak melihat banyak politisi berebut tindakan kontroversial untuk mendapatkan perhatian publik? Mulai dari gorong-gorong sampai gang-gang.

Arok yang dikejar banyak orang akhirnya bersembunyi di Rabut Gunung Panitikan. Di sinilah dia mendapatkan petunjuk Dewa. Dia disuruh ke Gunung Lejar. Di sana ia bertemu dengan nenek kebayan dan diminta untuk bersembunyi agar tidak ketahuan saat pertemua para Dewa berlangsung. Dari sanalah Arok mendengar para Dewa bermusyawarah. Terdengar dalam musyawarah tersebut para dewa tengah membahas siapakah yang akan memperkokoh Tanah Jawa. Maka Dewa Guru pun menjawab bahwa anaknyalah dari desa Pangkur yang akan memimin Jawa. Anak itu tidak lain dan tidak bukan Ken Arok.

Di sinilah kesadaran politik Arok muncul. Dewa-dewa yang ia curi dengar menunjukkan sebuah kesadaran politik bahwa Arok dengan jalur takdirnya harus mengikuti itu. Hal ini seperti terjadi pada banyak kasus politik kita. banyak dari kita sudah memiliki public awareness tapi tidak memiliki orientasi politik. Hanya saja, kadang kesadaran politik kekuasaan itu muncul dikarenakan sebuah mandat. Mandat di sini mungkin bukan sebab disuruh, tapi mandat di sini adalah dorongan kerakusan. Arok pun muncul dari persembunyiannya dan disambut meriah. Tidak hanya itu, dia dinobatkan menjadi Nobatan Batara Guru.

Setelah kesadaran politik kekuasan itu muncul, maka disusullah langkah berikutnya. Menggandeng seorang brahmana, atau orang yang memikirkan kemanusiaan, penanggung jawab moral, dan sebagainya. Arok pun bertemu dengan Dang Hyang Lohgawe. Keduanya bersama pergi ke Tumapel untuk menghamba pada Akuwu Tunggul Ametung. Di sini bisa kita rasakan bahwa manuver politik Arok adalah mendampingi brahmana. Hal ini dilakukan agar dia bisa masuk dalam wilayah target kekuasaan dengan perlindungan kehormatan. Seorang brahmana seperti Dang Hyang Lohgawe pastilah dihormati di mata manusia: termasuk oleh Tunggul Ametung.

Setelah itu apa yang terjadi? Arok meyakinkan dirinya hendak menguasai Tumapel karena melihat rahasia istri Tunggul Ametung, Ken Dedes. Lantas ia pun berencana membunuh Tunggul Ametung dan merebut Ken Dedes. Di sini Dang Hyang Lohgawe tidak bisa menyetujui dan menolak sekaligus. Katanya pembunuhan dan perebutan kekuasaan bukan ranah Brahmana. Di sinilah kita melihat bahwa orang brahmana yang berkecimpung dalam kesucian pikiran dan hati saja tidak bisa menolak niat kudeta Arok.

Lantas Arok kemudian pergi meminta izin ke Bango Samparan. Meminta izin dari orang yang sudah begundal. Kepada seseorang yang pasti akan merestui segala tindak laku yang menguntungkan. Mulai dari izin inilah Arok memulai langkah-langkah politik kudeta.

Ia pergi ke teman Bango Samparan untuk membuatkannya keris. Nama teman itu adalah Mpu Gandring. Di sana Arok meminta agar keris bisa jadi dalam 5 bulan, namun Mpu Gandring menyanggupi waktu satu tahun untuk membuat keris dengan tempaan yang bagus. Pada saatnya lima bulan tiba, Arok menyesal dan marah karena kerisnya belum lagi selesai. Dibunuhlah Mpu Gandring. Di saat inilah Mpu Gandring mengutuk bagaimana keris itu nantilah yang akan menimbulkan pertumpahan darah pada Arok sampai keturunannya.

Di sini kita bisa melihat bahwa selain pikiran, kudeta juga memerlukan peralatan yang memadai. Keris di sini bisa kita analogikan sebagai segala bentuk instrumen penting untuk menggulingkan pemerintah yang berkuasa.

Dalam manuver politik berikutnya, fitnah diluncurkan untuk memperhalus proses kudeta. Arok butuh tumbal, dan tumbal itu adalah Kebo Ijo. Kebo Ijo adalah teman Arok di Tumapel. Ia sangat suka dengan keris Arok. Maka dia berniat meminjamnya. Kemana juga dia pergi, dia selalu menyelipkan keris itu di pinggangnya sehingga masyarakat Tumapel mengira keris itu milik Arok. Di saat yang dinanti, Arok mencuri keris itu dan menancapkannya ke Tunggul Ametung. Keris yang tertinggal di sana membuat publik akhirnya mengecam Kebo Ijo dan menghukumnya dengan hukuman mati.

Setelah itu apa yang terjadi? Pernikahan politik terjadi. Apakah cukup sampai di sana? Tidak. Politik hutang budi terjadi. Arok memberikan hadiah untuk semua tokoh dalam cerita ini sebelumnya yang sudah berbuat baik padanya dan membantunya agar sampai pada puncak kekuasaannya sekarang.

Begitulah kira-kira alur politik penuh intrik dalam Kitab Pararaton. Menurut saya pribadi, beberapa dari cerita ini telah hidup dan berkembang dalam psikologi politik masyarakat Jawa. Tidak heran jika satu dekade terakhir kita dipimpin oleh pemimpin yang penuh dengan drama dan kebohongan. Sayangnya mayoritas kita mempercayai itu. Dan sekarang apa yang terjadi? Dinasti pun terbangun. Seperti dari Singasari bergulir sampai Majapahit.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Damuhbening.
22 reviews3 followers
January 5, 2009
Buku terjemahan kitab Serat Pararaton, kitab yang menceritakan cukup rinci perjalanan seorang Ken Arok dari seorang buangan sampai menjadi Raja besar yang bergelar Sri Rajasa Batara Sang Amurwabumi.

Bukan hanya itu, kitab yang juga menceritakan pasang-surut kerajaan-kerajaan nusantara dari sebuah pakuwon Tumapel sampai berdirinya kerajaan besar Singasari, bahkan sampai pada keruntuhannya. Bagimana kemudian mulai timbulnya kerajaan Majapahit sampai pada titik keruntuhannya.


salam damai,
damuhbening
1 review
January 26, 2025
Mengisahkan cerita legendaris Ken Angrok (Arok) dan Ken Dedes yang mengawali lahirnya Wangsa Rajasa dan menjadi embrio mandala nusantara yang kelak digaungkan Kertanegara di era Singasari dan Hayam Wuruk di era Majapahit. Salah satu hal yang menarik di buku ini adalah bahwa dalam sejarah nusantara, agama tidak pernah menjadi ranah privat. Ia dihidupkan sebagai alat dan falsafah bernegara. Arok dikisahkan sebagai putra Brahma, saat dewasa dianggap titisan Wisnu, saat wafat dicandikan dalam bangunan Siwa-Budha. Sinkretisme agama ini bisa jadi merupakan maujud paripurna dari toleransi beragama.

Karena merupakan karya terjemahan dari karya anonim yang selesai ditulis di paruh abad ke-16. Tentu saja, membaca buku ringkas ini tak mudah. Saya harus beberapa kali memadankan apa yang ditulis dengan referensi lain yang relevan agar bisa mengelaborasinya.

Overall, bacaan yang menarik dan memperkaya wawasan sejarah klasik nusantara.
Profile Image for Zumrotul Mufidah.
13 reviews2 followers
March 2, 2013
Selesai membaca ini, saya malah kagum dengan Arya Wiraraja (Banyak Wide), seorang hamba Kertanegara. handal sangat tokoh satu ini. Konseptor sekaligus negosiator ulung. Kemudian, hal yang sama sekali belum pernah terbayangkan adalah kontribusi orang Sungeneb (Sumenep, Madura. Dibawah pemerintahan Wiraraja, orang Sungeneb diperintahkan untuk membantu membangun perkampungan Trik yang nantinya menjadi kampung cikal bakal Majapahit.

Akhirnya, rasanya ingin sekali mengunjungi semua tempat peninggalan (Candi) Daha, Singhasari dan Majapahit, pasti akan sangat keren, macam napak tilas, yuhuuuu ... :D
Profile Image for Bunda.
4 reviews13 followers
December 25, 2012
Terjemahan Kitab Pararaton yang singkat, padat, dan jelas
Yang saya sayangkan, sengkalan-sengkalan dalam kitab tersebut di bahasa indonesiakan. Saya rasa sengkalan-sengkalan tsb lebih bagus jika disajikan dalam bahasa aslinya.
Salam,
Profile Image for Rizal Firmansyah.
6 reviews
Read
February 23, 2016
Menambah referensi sejarah singasari dan majapahit. Tapi tetap saja kebenaran kisahnya masih belum nyata pada bagian ken arok adalah keturunan dewa
Displaying 1 - 7 of 7 reviews