What do you think?
Rate this book


556 pages, Paperback
Published April 27, 2022
Entah kenapa saya tidak terlalu bisa menikmati Anak Bajang Mengayun Bulan. Tidak seperti sewaktu saya menamatkan Anak Bajang Menggiring Angin empat tahun yang lalu. Saya suka buku itu dan sangat menikmatinya. Apakah karena selera saya sekarang berubah? Ataukah karena ada alasan lain?
Entahlah, tetapi saya akan mencoba untuk menguraikan apa yang mengganggu saya ketika membaca buku ini dalam satu ulasan yang utuh.
Secara singkat, buku ini berkisah tentang Sukrosono, raksasa kecil yang dibuang oleh orangtuanya sejak ia lahir. Ayahnya tidak bisa menerima kalau Sukrosono terlahir sebagai raksasa buruk rupa. Sementara kakaknya yang juga kembarannya, Sumantri, terlahir sangat tampan. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa bertemu lagi. Ayahnya sangat menyesali keputusannya dan menyambut Sukrosono dengan tangan terbuka. Namun, hubungan antara Sukrosono dan Sumantri akan diuji berkali-kali.
Kekuatan Romo Sindhu memang dalam merangkai kata. Lembut dan indah. Itu yang menjadi kekuatan utama dari buku ini. Namun, sejujurnya, meski kata-kata yang digunakan dan dirangkai sangat lembut dan indah untuk mendeskripsikan peristiwa, situasi, tempat, dan lain-lain, saya merasa it's a little bit too much apalagi untuk buku setebal 556 halaman. Apalagi yang dideskripsikan itu-itu saja. Jadi, rasanya seperti membaca suatu hal yang sama, dengan gaya yang sama, sehingga terasa membosankan. Saya mencoba memahami bisa saja pendeskripsian berulang ini karena Anak Bajang Mengayun Bulan merupakan cerita bersambung di Harian Kompas pada September 2021 - Maret 2022.
Bagian blurb yang ada di sampul belakang buku menjelaskan kalau buku ini tentang kisah sebuah keluarga menjalani sukacita dan tragedi dalam kehidupan. Lebih lanjut:Melalui para tokohnya, kita diajak kembali memaknai cinta, nafsu, kesempurnaan, kegagalan, yang baik, dan yang buruk. Sebuah kisah yang menampilkan perjuangan sejati dan keikhlasan untuk mencintai sampai habis.
Saya mencoba memahami, memaknai, dan meresapi kisah keluarga dalam buku ini. Sayang, saya tidak bisa mendapati nilai-nilai yang dimaksud. Malah saya merasa keluarga Sukrosono penuh dengan racun. Dimulai dari ayahnya yang tidak mau menerima kondisi Sukrosono, padahal ayahnya seorang begawan. Lalu, Sumantri, yang katanya sangat mencintai Sukrosono, tapi tidak diwujudkan dalam tindakan. Dia malu mengakui di depan orang banyak kalau Sukrosono adalah adiknya. Sementara Sukrosono yang sangat haus akan kasih sayang kakaknya akan melakukan apa saja, literally apa saja, agar kakaknya mau menerimanya dan menyayanginya sepenuh hati. Alhasil, Sumantri memanfaatkan adiknya untuk mendapatkan apa yang dia inginkan.