Sebenarnya sih untuk ceritanya cuma 3 bintang, tapi covernya yang cantik dan sisi halamannya yang sparkling blue selalu jadi alasan saya untuk memberi bonus 1 bintang :D
Sayang, untuk buku ketiga ini, sisi halaman sparkling blue-nya memudar karena bukunya selalu saya bawa saat pergi ke kantor, berharap dapat mencuri-curi waktu untuk membaca saat bos tidak melihat.*eh*.
Tapi ujung-ujungnya saya tetap hanya bisa membaca saat weekend dan selesai sekali duduk. Tahu begini bukunya saya tinggal saja di rumah :D
Kembali ke keluarga Bliss. Rose yang dua minggu lalu memenangkan kontes masak terkeren mulai merasakan bagaimana tidak enaknya jadi orang terkenal. Saking kesalnya, Rose berharap dia tidak perlu membuat roti lagi. Dan jleb...harapannya terkabul. Tiba-tiba pemerintah mengeluarkan aturan bahwa toko roti kecil tidak boleh lagi beroperasi untuk mendapatkan keuntungan.
Jadi toko roti Bliss pun tidak bisa lagi beroperasi. Dan itu artinya, Calamity Falls terancam kacau lagi. Untung ibu Rose menemukan ide untuk tetap membuat roti, tapi membagikannya secara gratis, setidaknya untuk sementara, karena kalau begitu terus lama-lama mereka bisa bangkrut.
Seakan belum cukup direpotkan oleh undang-undang, Rose juga direpotkan oleh Tn. Butter, pemilik perusahaan Mostess, perusahaan kue besar dengan ribuan karyawan, yang menculik Rose dan memaksanya untuk menyempurnakan resep kue ajaib dengan maksud jahat. Nah, berhasilkah Rose dan keluarganya menghentikan rencana jahat Tn. Butter?
Pasti berhasil dong. Caranya? Silakan baca sendiri bukunya :D Yang pasti buku ini lumayan kocak dengan kehadiran Ty, Sage, serta Gus dan Jacques. Sayang Leigh sudah sembuh dari mantra Lily, padahal Leigh lucu sekali di buku sebelumnya.
Dan saya masih kurang suka dengan Rose. Walaupun dia berhasil menyempurnakan kudapan yang bahkan Lily pun tak bisa melakukannya, tapi penyakit kurang percaya diri Rose kadang-kadang masih kumat. Saya jadi gregetan dibuatnya. Untunglah tidak separah buku-buku sebelumnya. Dan sebagai hadiahnya, Rose mendapatkan sesuatu yang begitu berharga di akhir kisah.
Yang paling saya suka dari kisah ini adalah bagaimana cara para tokoh protagonisnya melawan tokoh antagonis. Mereka mengajarkan kalau kejahatan hanya bisa dikalahkan dengan cinta.*eaaaaaa*. Jadi, alih-alih melawan orang jahat dengan kejahatan, lebih baik memberikan mereka limpahan kasih sayang sehingga mereka sadar. Ah, seandainya saja kue yang mengandung bahan "Kasih Ibu" itu benar-benar ada.