Tutur Dedes: Doa dan Kutukan dibuka dengan mistis dan ditutup pula dengan itu. Penokohan Ken Dedes di buku ini tentu saja menarik jika dibandingkan dengan sumbernya, Pararaton. Layaknya Helen di Perang Troya, Ken Dedes menjadi tokoh menarik dengan moral yang agak abu-abu. Penggambaran Ken Dedes sebagai perempuan yang tidak hanya kuat, cerdas, dan mandiri tetapi juga feminin terasa segar karena tidak biasanya perempuan diizinkan kuat dan feminin di dalam sejarah. Namunn, aneh rasanya ketika kecerdasan itu tidak dimanfaatkan dalam beberapa momen penting. Misalnya, ketika Ken Dedes harus menyembunyikan keris Mpu Gandring tetapi yang dipilihnya malah ujung sudut kamar, atau ketika Anusapati meminta pendapat Dedes mengenai hak warisannya, hingga ketika Anusapati meracuninya. Selain itu, Ken Dedes juga terkesan hipokrit ketika menceritakan tentang nasib Ayu Aryanti, sehingga narasi pemberdayaan perempuan yang dibangun di awal buku lewat karakter perempuan kuat seperti Ken Dedes, Ken Umang, dan Anjani, terkesan sia-sia ketika Ken Dedes, salah seorang perempuan kuat itu, menepiskan penderitaan perempuan lain. Padahal di bab sebelumnya Ken Dedes sudah disadarkan akan privilise yang Ia miliki.
Selain itu, buku ini memiliki pacing yang aneh. Halaman satu kita berencana membunuh, halaman selanjutnya sudah terbunuh. Halaman satu Prabu Dandang Gendis tewas, halaman selanjutnya kembali ke narasi hari pertama Perang Ganter. Hal ini terlihat makin jelas setelah kematian Ken Angrok, narasi terasa semakin diburu-buru. Ken Angrok tewas, Anusapati naik takhta, Anusapati tewas, Tohjaya naik takhta. Pilihan penulisan narasi di beberapa bab terakhir ini membuat fokus buku bukan lagi tentang sudut pandang Ken Dedes, tetapi bagaimana imajinasi penulis tentang kejadian Pararaton. Namun, mungkin saja penggunaan pacing yang terburu-buru ini memang keinginan penulis untuk menggambarkan power vacuum yang terjadi sepeninggal Ken Angrok. Jika iya, maka pilihan tersebut menarik secara konsep tetapi melelahkan untuk diikuti.
Secara keseluruhan, Tutur Dedes: Doa dan Kutukan adalah buku yang asyik dan lumayan menggugah pikiran. Tidak satu dua kali aku temukan diriku, ketika membaca buku ini, tertarik mencari lebih dalam tentang sejarah Singhasari dan kebudayaan Jawa yang belum benar-benar aku kuasai kecuali ketika di kelas sejarah waktu SMP dulu. Ken Dedes, yang diceritakan kepadaku sebagai seorang dewi, digambarkan sebagai manusia yang tidak sempurna di buku ini dengan pilihan hidup yang baik serta buruk sehingga walaupun agak bertentangan dengan pesan pemberdayaan perempuan, penokohoan Ken Dedes tetap terasa manusiawi dan dekat di hati. Meskipun memiliki penokohan yang inkonsisten dan pacing yang agak berantakan, Tutur Dedes: Doa dan Kutukan menjadi buku bacaan yang wajib dibaca untuk penggemar fiksi sejarah terutama untuk kalian yang menginginkan perspektif perempuan di zaman ketika suara perempuan tidak dituliskan di prasasti-prasasti sejarah.