Are Walter’s “uncles” really ex-bank robbers? He’s about to spend a summer with them and find out!
Poor Walter! His mom, Mae, an irresponsible beauty past her prime and down on her luck, has dumped him off with his two eccentric old “uncles,” Hub and Garth. Mae’s convinced that the old men have millions stashed away from bank robberies—and she’s determined that she and Walter deserve a piece of the pie. So while Mae’s off trying to find a husband, Walter tries to make himself at home in the company of these older, grumpier men—and some other relatives that are equally determined to get their share of the family assets.
Soon Walter is transfixed and transformed by the stories Garth tells of his and Hub’s dashing younger years: how they were in the French Foreign Legion and how Hub won the love of the Sultan’s daughter and evaded the jealous Sheik’s assassins. Are Hub and Garth sitting on a fortune, or is that a story too? And who’s going to get it if they are?
Layaknya cerita hebat lainnya, kisah yang dituturkan dalam novel ini bukanlah kisah tentang keglamoran, kecanggihan teknologi, kemodernan, atau kisah fiksi ilmiah yang rumit. Kisah bersahaja yang diceritakan secara menyentuh, bijak, dan unik dapat menjadi kisah hebat nan memukau.
Gara-gara buku ini, 'The Hour'-nya Cunningham harus terdepak dalam daftar 100 buku favorit sy :). Duh, akhir-akhir ini daftar itu semakin membengkak. Saya harus semakin selektif dalam membuat daftar. Harus benar-benar yang saya suka yang layak masuk posisi. Dan "Secondhand Lions" telah berhasil mencuri perhatian saya ;)
Ok, sedikit bocoran cerita, kisah ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Walter yang oleh ibunya, Mae, karena 'kesibukannya' mencari pacar baru, harus dititipkan pada dua orang 'paman'. Tapi bukan sembarang paman. Paman-nya si Walter adalah paman yang eksentrik dan unik. Bayangkan, hobi mereka tiap hari adalah nongkrong di teras rumah untuk menunggu kedatangan para sales yang dengan bersemangat menawarkan dagangan. Tapi mereka menunggu bukan untuk membeli. tapi untuk menembaki hingga mereka lari tunggang langgang!
Sejak awal kedatangannya, Walter sudah tahu bahwa pamannya bukanlah paman2 yang 'normal' dan menyambut hangat kedatangan keponakan seperti paman lainnya. ketika dia datang, tidak ada pelukan 'selamat datang' atau basa-basi menanyakan kabar Bahkan keanehan mereka sudah tampak sejak jalan menuju rumah. Bayangkan, sepanjang jalan menuju rumah mereka terdapat ratusan papan pengumuman "Berbahaya, area kontaminasi radiasi nuklir", dsb. Alhasil, kedua paman Walter, yang bernama Hub dan Grath, tinggal sendirian terpencil di pedalaman sana. Si kecil Walter harus bergidik sepanjang jalan dan semakin merinding saat melihat tampang paman-pamannya.
Tapi Walter juga sekaligus merasa ada yang aneh dengan kedua pamannya sejak hari pertamanya dia datang. bayangkan, jika ada para sales yang datang ke rumah itu ditembaki hingga mereka lari terbirit-birit, mengapa para sales yang datang justru semakin semangat? dan jumlahnya malah meningkat tiap harinya?
Keheranan si Walter makin bertambah saat pamannya ternyata mendatangkan..... jerapah dari Afrika! Lengkap dengan singa! Konyolnya, karena tidak ada tempat bebas untuk sang singa, maka sang singa dilepas di sepetak kebun jagung yang menurut mereka 'paling mendekati habitat hutan' di Afrika.
Keheranannya semakin bertambah tiap harinya karena ada-ada saja tingkah aneh kedua pamannya terutama paman yang bernama Hub. Walter melihat Hub berjalan sambil tidur dan bertingkah seolah-olah dia sedang bermain pedang dengan penjahat.
Semua 'keeksentrikan' sang paman diceritakan secara kocak bahkan mendekati konyol. Pada bagian ini, mau tak mau kita harus rela otot abnomen sakit menahan tawa.
Namun, keanehan kedua pamannya itu sedikit demi sedikit mulai terkuak saat Walter mendengar cerita dari Grath bahwa dulu Hub pernah berkelana ke Afrika bahkan menyelamatkan seorang Putri (yang bernama Jasmine) dari tawanan penjahat. Walter tentu saja tidak percaya. Belum habis keheranannya, secara tak sengaja Walter melihat segunung uang yang memenuhi gudang mereka. Mungkin ini menjelaskan mengapa ada sales yang ngotot datang menawarkan barang dan kemampuan paman mereka dalam mendatangkan hewan langsung dari Afrika padahal rumah yang mereka tempati sangat bobrok dan jelas jauh dari kata kaya dan mewah. Tapi itu juga menimbulkan teka-teki lain, dari mana uang itu berasal?
Ide ceritanya kelihatan bersahaja dan sepele. Tapi, Whitman, sang penulis, secara sukses mengemas ide itu dalam alur cerita yang mengalir, penuh humor, tapi sarat akan pesan moral. Saya jadi teringat kisah Nashrudin Hoja atu Abu Nawas yang mengingatkan kita bahwa kebijakan tidak hanya berasal dari para pemikir serius dan mesti disampaikan secara serius menggunakan bahasa formal dan ilmiah. Tapi kebijakan dan moral bisa ditemui dan disampaikan melalui kisah humor dan jenaka.
Sepanjang cerita kita terpaksa (bukan dipaksa) untuk terus tertawa sekaligus menebak-nebak, sebenarnya siapa paman Walter sesungguhnya?Tapi buku ini bukan buku lawak, selagi tertawa, kita juga terpakasa harus merenungkan pesan moral yang disampaikan tanpa terkesan menggurui. benar-benar jenius
Well, diantara sekian banyak pesan moral yang disampaikan, buku ini secara gamblang menguji kita akan pertanyaan, sebenarnya, sudah seberapa objektif kita dalam menilai orang lain? karena, penampilan luar tidak selalu mencerminkan siapa orang tersebut. Di balik 'keanehan' dan 'kegalakan' orang, yang ditampilkan dalam sosok duo paman, mereka masih memiliki hati yang hangat, dan hasrat hidup yang dinamis. Bahkan kita belum tentu (jangankan lebih baik) sebaik mereka.
Ramuan sempurna dari bahan humor, tragedi, dan pesan kemanusiaan
This was a cute book about a young boy who got dropped off by his irresponsible mother with his two great uncles. They are old and crazy, and have no idea how to take care of a boy. The uncles are rich, some say by robbing banks, but they have a different story about fighting an African shiek. This story is quirky and funny. I really enjoyed it!
I finished this book which my husband had ordered secretly and given me by surprise. I gave the story 5 out of 5 stars. I loved it and it's been a little while since I last read books heartwarming and soul-stirring.
Read this out loud to my 7 and 9 year old girls and we all really enjoyed it. I did have to edit some language out. After we were done, we watched the movie with some friends who had also read the book. It's just a fun story with great characters.
Best book I seen in 7th grade from the teacher Mrs.Coleman, one of my favorite books I've readied since 5th grade. I would recommended this to teens because there is some profanity but not to much profanity.
Cute novelization based on the screenplay by Tim McCanlies. Fun reading for ages 8 and up. Hard to find though--I had to buy a used copy through Amazon for this book club pick.
Loved the movie for so long then discovered there was a novelization. I had to get the book. Loved the book there is a few things that are a little different but not much love love love both movie and book!
I absolutely adored the movie but, unfortunately, this novelisation seemed to lack depth throughout. It read more like a slightly embellished screenplay rather than a novel.