Layaknya cerita hebat lainnya, kisah yang dituturkan dalam novel ini bukanlah kisah tentang keglamoran, kecanggihan teknologi, kemodernan, atau kisah fiksi ilmiah yang rumit. Kisah bersahaja yang diceritakan secara menyentuh, bijak, dan unik dapat menjadi kisah hebat nan memukau.
Gara-gara buku ini, 'The Hour'-nya Cunningham harus terdepak dalam daftar 100 buku favorit sy :). Duh, akhir-akhir ini daftar itu semakin membengkak. Saya harus semakin selektif dalam membuat daftar. Harus benar-benar yang saya suka yang layak masuk posisi. Dan "Secondhand Lions" telah berhasil mencuri perhatian saya ;)
Ok, sedikit bocoran cerita, kisah ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Walter yang oleh ibunya, Mae, karena 'kesibukannya' mencari pacar baru, harus dititipkan pada dua orang 'paman'. Tapi bukan sembarang paman. Paman-nya si Walter adalah paman yang eksentrik dan unik. Bayangkan, hobi mereka tiap hari adalah nongkrong di teras rumah untuk menunggu kedatangan para sales yang dengan bersemangat menawarkan dagangan. Tapi mereka menunggu bukan untuk membeli. tapi untuk menembaki hingga mereka lari tunggang langgang!
Sejak awal kedatangannya, Walter sudah tahu bahwa pamannya bukanlah paman2 yang 'normal' dan menyambut hangat kedatangan keponakan seperti paman lainnya. ketika dia datang, tidak ada pelukan 'selamat datang' atau basa-basi menanyakan kabar Bahkan keanehan mereka sudah tampak sejak jalan menuju rumah. Bayangkan, sepanjang jalan menuju rumah mereka terdapat ratusan papan pengumuman "Berbahaya, area kontaminasi radiasi nuklir", dsb. Alhasil, kedua paman Walter, yang bernama Hub dan Grath, tinggal sendirian terpencil di pedalaman sana. Si kecil Walter harus bergidik sepanjang jalan dan semakin merinding saat melihat tampang paman-pamannya.
Tapi Walter juga sekaligus merasa ada yang aneh dengan kedua pamannya sejak hari pertamanya dia datang. bayangkan, jika ada para sales yang datang ke rumah itu ditembaki hingga mereka lari terbirit-birit, mengapa para sales yang datang justru semakin semangat? dan jumlahnya malah meningkat tiap harinya?
Keheranan si Walter makin bertambah saat pamannya ternyata mendatangkan..... jerapah dari Afrika! Lengkap dengan singa! Konyolnya, karena tidak ada tempat bebas untuk sang singa, maka sang singa dilepas di sepetak kebun jagung yang menurut mereka 'paling mendekati habitat hutan' di Afrika.
Keheranannya semakin bertambah tiap harinya karena ada-ada saja tingkah aneh kedua pamannya terutama paman yang bernama Hub. Walter melihat Hub berjalan sambil tidur dan bertingkah seolah-olah dia sedang bermain pedang dengan penjahat.
Semua 'keeksentrikan' sang paman diceritakan secara kocak bahkan mendekati konyol. Pada bagian ini, mau tak mau kita harus rela otot abnomen sakit menahan tawa.
Namun, keanehan kedua pamannya itu sedikit demi sedikit mulai terkuak saat Walter mendengar cerita dari Grath bahwa dulu Hub pernah berkelana ke Afrika bahkan menyelamatkan seorang Putri (yang bernama Jasmine) dari tawanan penjahat. Walter tentu saja tidak percaya. Belum habis keheranannya, secara tak sengaja Walter melihat segunung uang yang memenuhi gudang mereka. Mungkin ini menjelaskan mengapa ada sales yang ngotot datang menawarkan barang dan kemampuan paman mereka dalam mendatangkan hewan langsung dari Afrika padahal rumah yang mereka tempati sangat bobrok dan jelas jauh dari kata kaya dan mewah. Tapi itu juga menimbulkan teka-teki lain, dari mana uang itu berasal?
Ide ceritanya kelihatan bersahaja dan sepele. Tapi, Whitman, sang penulis, secara sukses mengemas ide itu dalam alur cerita yang mengalir, penuh humor, tapi sarat akan pesan moral. Saya jadi teringat kisah Nashrudin Hoja atu Abu Nawas yang mengingatkan kita bahwa kebijakan tidak hanya berasal dari para pemikir serius dan mesti disampaikan secara serius menggunakan bahasa formal dan ilmiah. Tapi kebijakan dan moral bisa ditemui dan disampaikan melalui kisah humor dan jenaka.
Sepanjang cerita kita terpaksa (bukan dipaksa) untuk terus tertawa sekaligus menebak-nebak, sebenarnya siapa paman Walter sesungguhnya?Tapi buku ini bukan buku lawak, selagi tertawa, kita juga terpakasa harus merenungkan pesan moral yang disampaikan tanpa terkesan menggurui. benar-benar jenius
Well, diantara sekian banyak pesan moral yang disampaikan, buku ini secara gamblang menguji kita akan pertanyaan, sebenarnya, sudah seberapa objektif kita dalam menilai orang lain? karena, penampilan luar tidak selalu mencerminkan siapa orang tersebut. Di balik 'keanehan' dan 'kegalakan' orang, yang ditampilkan dalam sosok duo paman, mereka masih memiliki hati yang hangat, dan hasrat hidup yang dinamis. Bahkan kita belum tentu (jangankan lebih baik) sebaik mereka.
Ramuan sempurna dari bahan humor, tragedi, dan pesan kemanusiaan